Love For Emelly

Love For Emelly
Bab 8. Morgan Menyetujui?


__ADS_3

"Bagus! Kau memang bisa diandalkan!"


Emelly tersenyum mendengar pujian dari sang Sutradara. Pria paruh baya itu terus tertawa senang, seakan dirinya sudah menyelamatkannya dari kehancuran.


"Rencanamu, bagus sekali! Sampai Bryan Wio saja, membatalkan keputusannya! Dia akan turut serta dalam film ini!"


"APA!" seru Emelly yang tak sadar, beberapa orang memandangnya dengan tatapan aneh. Sang Sutradara juga sampai terkejut, pria paruh baya itu mengelus dadanya sabar.


Emelly menelan salivanya, ini sangat memalukan. Bagaimana jika ada yang memidiokannya dan menyebarkannya di media sosial? Ini akan membuatnya dalam masalah.


"Maafkan, saya Pak. Saya tidak sengaja berteriak dan membuat Bapak terkejut."


Pak Sutradara memincingkan matanya, Emelly terlihat berbeda. Perkataannya seperti bukan Emelly Carolyn yang dikenal dengan wanita dingin dan sedikit angkuh. Namun sekarang ada apa dengannya?


"Jika Pak Aldi sudah selesai. Saya izin pamit."


Pak Sutradara hanya mengangguk keheranan, hari ini memang tidak ada jadwal syuting karena beberapa kendala. Emelly tersenyum tipis dan pergi untuk menemui managernya.


"Kau, sudah siap kan? Sekarang juga kita harus ke tempat pemotretan! Aku, tak mau kau bolos kerja lagi!"


Baru saja datang, sudah mendapatkan peringatan. Kenapa, dengan hari ini? Kenapa rasanya tubuhnya lelah dan malas beraktifitas? Rasanya, ingin sekali membaringkan tubuhnya di kasur empuk sambil menonton, atau membaca novel. Memang jiwa pemalasnya, tak akan pernah pudar.


Violet, menghela nafas berat. Dirinya harus bisa, bersabar lagi. "Ada, apa denganmu? Kenapa wajahmu terlihat murung?" tanyanya sedikit khawatir.


Bibir Emelly cemberut. Dia terlihat tak bersemangat. "Aku lelah, aku ingin tidur. Semalam aku tidak tidur karena harus membalas pesan para fans yang terus berdebat tentang hubungan asmaraku. Aku tak suka jika mereka membahas Bryan Wio! Pria konyol itu, selalu saja merusak citra namaku!"


Violet juga tahu, alasan Emelly melakukan itu. Dikaitkan dengan Bryan Wio, tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Aktor itu memiliki banyak fans yang fanatik.


"Tapi, Bynxi tidak mengganggumu kan? Mereka, tidak melakukan hal gila seperti tahun lalu?" tanya Violet khawatir, mengingat kejadian itu membuatnya takut, takut jika Emelly harus mengalami hal yang sama.


Bynxi juga adalah sebutan fans Bryan Wio.


Emelly menggelngkan kepalanya. Tangan kanannya menyentuh pipinya sendiri, seperti berfose. "Apa, hari ini aku boleh bolos?"


Melihat wajah Emelly yang sengaja  dibuat seimut mungkin, membuat Violet menghela nafas. "Terserah saja. Tapi sebelum itu, kau harus izin dulu pada Pak Wiliam," jawab Violet yang pasrah.


Emelly tersenyum manis. Meluluhkan Ceo dari agensinya adalah keahliannya. Pria itu akan selalu luluh jika Emelly meminta sesuatu. Ini akan sangat mudah. Namun sebuah pesan membuatnya harus memeriksa ponsel.


["Kita harus bertemu!"]


Emelly menyeringitkan alisnya, siapa yang mengirimkan pesan ini? Nomornya tidak dikenal.


["Saya Morgan."]


Mengapa, lelaki ini mengirimkannya pesan? Apa, ada sesuatu?


***


Seorang pria dengan stelan santainya, berjalan ke arah pintu, ini hari liburnya, tetapi masih saja ada yang datang menggangu.


"Si Ular, yang selalu kau ceritakan, apa dia Emelly Carolyn?!"

__ADS_1


Pria yang masih mengenakan pakaian tidur itu menguap, dia sangat mengantuk, kesadarannya pun masih belum terkumpul. "Apa, yang kau maksud? Ular? Ular, apa? Di Apartemenmu, ada ular?"


Morgan menghela nafas berat, tanpa meminta persetujuan, Morgan masuk ke dalam, menabrak bahu Bryan yang masih belum sepenuhnya sadar.


Brak!


Tabrakan Morgan, cukup kencang sampai membuatnya terjungkal ke belakang.


"Ah! Menyebalkan!" umpatnya kesal. Bryan berjalan ke ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


"Apa, maksudmu?" tanya Bryan yang sudah kembali dari kamar mandi, pria itu duduk di sebrang Morgan yang sedang menatapnya tajam.


"Apa, hubunganmu dengan Emelly?!"


Byan, terkekeh kecil. "Seharusnya, aku yang bertanya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba aku mendengar kau berhubungan dengannya. Ini sangat lucu, selama ini aku menceritakan keburukan, kepada orang, yang tak lain adalah pacarnya sendiri."


Morgan, menghela nafas berat, ia menutup matanya sebentar. "Kau, tahu dari mana? Bahwa,aku pacarnya?!"


Bryan, memutar matanya malas. "Jadi maksudmu, berita itu bohong? Bahkan beberapa foto itu, juga palsu?!"


"Kau, jangan memikirkan yang jelas-jelas tak mungkin! Kau, tahu betul, tipeku seperti apa!"


"Aku, tak tahu tentang dirimu! Bagaimana, kau mengenalnya? Apa, hubunganmu? Dan, bagaimana dia bisa datang ke kantormu! Aku jelas, tak tahu apapun."


Morgan menarik rambutnya. Merasa lelah, berdebat seperti ini hanya membuang waktu saja. "Dia hanya masa lalu, yang tiba-tiba datang tanpa kumau. Kau tahu, aku hanya mencintai Claudia, tak ada satu orang pun yang bisa menggantikannya."


Bryan menyugarkan rambutnya ke belakang. "Kau, serius? Kau tidak memiliki hubungan spesial dengannya?!"


"HAHAHA!" Bryan tertawa kencang, saking kencangnya, perutnya terasa keram. "Oke. Aku anggap dia hanya penggangu. Kau tak masalah kan, jika aku memberinya sedikit pelajaran?"


Morgan membersihkan debu yang ada di jasnya. "Terserah. Aku tak peduli."


***


Emelly membuka makanan yang diberikan Violet, wanita itu memakannya dengan lahap. Violet melihat ke depan, dimana Violet makan di kursi depan bersama seseorang.


"Romantis, sekali. Makan sepiring berdua. Sedangkan aku, dua piring sendiri."


Violet dan Bima hanya tertawa. Apalagi wajah kesal Emelly terlihat bagus untuk dijadikan meme. "Aku iri, kau selalu makan banyak, tetapi berat tubuhmu tak bertambah."


Emelly ingin menjawab, namun sebuah pesan masuk menarik perhatiannya. "Bagaimana, ini Vio? Morgan ada di rumahku!"


Violet melototkan matanya, tak percaya. "Apa kau, serius?"


Emelly tak menjawab, wajahnya berubah menjadi murung, Violet melihatnya, ia pun berkata. "Jangan bilang, bahwa kau masih mencintainya, Em?"


Dengan cepat, Emelly menjawab. "Tidak, aku tidak mencintainya lagi!"


"Baiklah, ayo kita ke rumahmu!" Tanpa menanyakan terlebih dahulu, Violet langsung memerintahkan Bima untuk segera berangkat. Sedangkan Emelly pasrah saja, dirinya percaya diri kalau perasaannya sudah berbeda.


Tak terasa, perjalanan terasa singkat, mobil yang dinaiki Emelly sudah sampai di rumah megahnya.

__ADS_1


"Kenapa, sudah sampai saja?" lirihnya pelan, merasa kecewa.


Violet menggelengkan kepalanya pelan, tangannya menarik lengan Emelly untuk keluar dari mobil.


Violet menariknya sedikit kencang sampai masuk ke dalam rumah.


"Violet!" teriak Emelly dengan kesal, manager sekaligus sahabatnya itu tak mendengar, dia terus menarik Emelly hingga ruang tamu.


Tangan Violet, berhenti menariknya, Violet tersenyum ke arah Wilona dan tentu saja Morgan, manager Emelly ity berubah menjadi sosok kalem, seolah tak melakukan apa-apa.


Emelly berdecih melirik Violet, tangannya terasa perih dan kemerahan. Emelly beralih menatap ibunya, dengan santainya ia berkata.


"Emelly, pulang," ujarnya sambil tersenyum.


Wilona menggelengkan kepalanya, ia berdiri menghampiri mereka berdua.


"Emelly temani Morgan. Violet ikut Tante bikin minum, ya."


Violet tersenyum lebar. "Oke, Tante."


Wilona dan Violet pergi meninggalkan Emelly yang kebingungan. Wilona mengacuhkanya, dan Violet hanya memberinya senyuman, memang menyebalkan.


Emell hanya bisa tersenyum paksa, dia duduk di sofa tepat di sebrang Morgan. Sebenarnya apa yang akan dilakukan Morgan, sampai datang ke rumahnya, apa lelaki itu akan membatah perjodohan?


"Singkat saja. Apa, kau mencintaku?"


Emelly, menelan salivanya kuat-kuat, pertanyaan terlalu mendadak ini membuatnya tegang. "Y-ya. Tentu saja," jawab Emelly dengan gugup.


Morgan mengangguk singkat saja, lalu berdiri, membuat Emelly terheran-heran.


"Baiklah. Kita, lanjutkan saja."


"APA?!" seru Emelly. Wanita itu terlalu terkejut dengan ungkapan tiba-tiba ini. Ada, apa dengan Morgan? Apa pria itu salah makan atau bagaimana?


"Kita coba saja." Hanya itu yang keluar dari mulut Morgan. Pria itu langsung pergi ke dalam. Emelly langsung mengikutinya. Ternyata Morgan menemui ibunya.


"Tante. Saya izin pamit."


Wilona tersenyum sumringah. "Kenapa, sudah mau pulang? Padahal Emelly nya, masih ingin mengobati rasa rindu."


"APA-APAAN INI!" jerit Emelly dalam hatinya, ia merasa tak terima.


Morgan, hanya tersenyum. "Nggak papa kok, Tante. Nanti juga sering ketemu. Kalau begitu saya pamit."


"Iya. Hati-hati!"


Morgan melewati Emelly begitu saja, bahkan lelaki itu tak menoleh ke arahnya.


"Kamu, ngelakuin apa? Sampai Morgan terlihat tak betah?" tanya Wilona yang sedikit kesal karena calon menantu idamannya sudah pergi


"Aku tidak melakukan apapun," sahut Emelly, wanita itu pergi ke kamarnya, ia masih bingung, apa sebenarnya keinginan pria itu? Dia menyetujui perjodohan ini? Sangat mustahil jika, Morgan memang benar-benar menginginkannya.

__ADS_1


Emell menggelengkan kepalanya, ia harus bertanya pada Violet! Sang suhu Cinta! Pasti, wanita itu sedang berada di kamarnya.


__ADS_2