
Emelly dan Claudia saling tatap, kedua perempuan itu berada di ruangan Claudia, sang sekretaris.
Emelly mengatupkan bibirnya, ia akan memulai pembicaraan. Namun, Cladia lebih dulu berbicara.
"Maafkan, saya karena waktu itu saya memperlakukan anda dengan tidak sopan."
"Tidak apa-apa. Aku juga yang salah karena tak memperkenalkan diri sebagai calon tunangan Morgan," jelas Emelly.
Raut wajah Claudia, sedikit berubah, Emelly bisa melihatnya, apa ada sesuatu yang wanita itu sembunyikan? Mengapa, seperti ada yang aneh?
"Aku ingin bertanya. Mungkin, ini terdengar tak sopan. Namun, aku hanya penasaran, ada keperluan apa, kamu datang ke lokasi pemotretan bersama Morgan?" Emelly langsung mengutarakan niatnya, dia tak mau basa-basi lagi.
Claudia mengkerutkan keningnya, merasa aneh dengan pertanyaan itu. Dengan anggun, Claudia menjawab.
"Saat itu, kami ada jadwal rapat, sebelum ke tempat rapat dengan klien, Pak Morgan meminta saya untuk menemaninya ke tempat yang ibu maksud."
Ibu? Mengapa, dia memanggilnya seperti itu? Apa dirinya terlihat lebih tua? Pikir Emelly. Alasan wanita itu sangat masuk akal, apalagi dirinya sudah tahu kalau wanita yang dihadapannya saat ini, adalah sekretaris Morgan, wajar saja jika selalu bersama. Tetapi, Emelly ingin bertanya tentang siapa orang yang ditemui Morgan, namun jika dia mengatakan itu, sama saja mempermalukan dirinya sendiri, masa calon tunangannya tak tahu apapun? Sangat memalukan bukan?
Emelly tersenyum tipis. "Maaf karena saya bertanya, maaf karena sudah menggangu waktu kamu." Claudia tersenyum lebar, Emelly melihatnya seperti senyuman yang sangat tulus.
"Tidak apa-apa. Saya mengerti."
Emelly tersenyum canggung, lalu berucap."Emm. Bisakah, kamu memanggilku, Emelly saja? Aku rasa umur kita tak begitu jauh," terang Emelly.
Claudia, terkekeh kecil. "Baiklah, aku kira. Kamu tak suka jika dipanggil nama saja."
"Aku sangat senang jika, kau memanggilku Emelly."
"Baiklah."
"Tetapi, aku ingin bertanya. Bagaimana menurutmu tentang sosok Morgan?" tanya Emelly dengan hati-hati, wajah yanh tadinya tersenyum berubah, wajah cantik itu terlihat tercengang mendengar pertanyaan yang Emelly lontarkan.
Emelly, dengan cepat, langsung menambahkan. "Maksudku. Bagaimana sikapnya kepada karyawannya, apa dia memperlakukanmu, dengan baik sebagai bos?"
Claudia tersenyum kembali. "Tentu saja. Beliau sangat baik dan bijaksana."
Emelly menganggukkan kepalanya, dia terkekeh. "Syukurlah. Aku takut, dengan hubungan kalian, seperti bos maupun karyawan, harus menjalani hubungan, dengan baik bukan? Harus, memisahkan antara pekerjaan dan masalah pribadi, benar bukan?"
"H-ha? Iyah?"
__ADS_1
Emelly, tersenyum lebar. "Maksudku. Jika ada kesalahan dalam pekerjaan, tak boleh sampai ke masalah pribadi. Misalnya, Morgan memarahimu karena salah dalam mengerjakan tugas. Namun, sebagai karyawan yang baik, kamu tak boleh marah kepadanya, karena itu masalah pekerjaan, kamu tak boleh balas dendam atau apapun. Apa kamu mengerti, maksudku?"
Claudia langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, aku mengerti."
"Baiklah, kalau begitu aku permisi. Aku akan menemui calon tunanganku," terang Emelly yang tersenyum malu-malu, pipinya yang mulus pun terlihat kemerahan.
"Y-ya. Selamat tinggal!" seru Cladia pada Emelly yang baru saja meninggalakan ruangan.
Setelah kepergian Emelly, Cladia terdiam. Ia penasaran akan sesuatu. Mengapa, Emelly bertanya seperti itu? Pertanyaan yang sangat membuatnya cemas. Apa Morgan benar-benar akan bertunangan dengan Emelly? Apa lelaki itu sudah melupakannya? Mengapa begitu cepat, sedangkan perasannya masih terombang-ambing.
"Apa, yang harus kulakukan?" lirihnya pelan. Apa, dirinya harus menyerah begitu saja? Atau memberitahukan perasaannya pada Morgan, namun jika benar, pria itu sudah melupakannya, dirinya harus bagaimana lagi.
"Apa, kau sudah melupanku? Mengapa, begitu cepat? Pada akhirnya, hanya aku yang berharap, hubungan kita akan seperti dulu lagi. Aku hanya bisa berekpestasi, walaupun itu hanya di dalam mimpi."
***
"Mengapa, kau begitu lama?!"
Emelly tersenyum, menampakkan gigi putihnya, Morgan hanya bisa menatapnya jengah, wanita ini memang suka merepotkannya.
"Untuk apa, kau datang ke lokasi pemotretan?" tanya Emelly spontan. Ia tak biasa terus penasaran begini, Emell sudah tak tahan.
Emelly terdiam ditempat, apa katanya, Bryan? Apa ia tak salah dengar? Apa, Morgan mengenalnya? Emelly terkekeh tak percaya. Apa-apaan ini! Ini semua diluar dugaannya.
"Apa, si penjilat itu temanmu?!"
Perntanyaan yang tak mengenakkan, Morgan menatapnya tajam. Dia sedikit jengkel. "Dia, bukan penjilat! Kau, tak tahu apapun!"
Kaki Emelly terasa pegal, wanita itu segera duduk di sofa, ia mengabaikan tatapan tajam dari Morgan.
"Kalian, memang pantas berteman. Sama-sama menyebalkan," lirih Emelly. Semoga saja tak terdengar oleh Morgan.
Namun sang dewi keberuntungan tak berpihak padanya, Morgan berdiri dari kursi kebanggannya, berjalan ke arah Emelly yang sedang bersantai.
"Menyebalkan? Kau, tak tahu betapa menyebalkannya dirimu, saat zaman SMA?!"
Lagi dan lagi, Morgan terus mengungkit masa lalunya. Emelly menghela nafas, dirinya harus bisa mengontrol diri.
"KAU!" serunya kencang. Namun tiga detik kemudian, Morgan langsung kembali ke tempatnya. Pria itu kembali sibuk dengan laptopnya, bersikap seolah tak terjadi apapun.
__ADS_1
Emelly keheranan, dengan santainya, wanita itu berjalan ke arah Morgan.
Jari-jari Morgan berhenti mengetik, saat sebuah tangan menyentuh keningnya.
"Apa, kau tak sakit?" tanya Emelly yang memeriksa kening Morgan, namun tak panas, Emelly rasa, Morgan tak sedang sakit.
Pria itu menjauhkan lengan Emelly dari keningnya. Ia merasa tak nyaman. "Apa, yang kau lakukan?!"
"Aku, hanya memeriksa saja, tapi kau sepertinya memang tak sakit."
"Memangnya siapa yang bilang kalau aku sakit?!" seru Morgan yang tak santai.
Emelly kesal. Ia kesal karena Morgan terus berucap dengan nada yang tinggi. "Ketampananmu, tidak terlihat karena cara bicaramu itu. Kau pria namun, berteriak seperti wanita," keluh Emelly. Wanita itu langsung pergi, dengan wajah yang cemberut.
Morgan, mengedipkan matanya beberapa kali. Ia memiringkan kepalanya, merasa ada yang aneh.
"Ada apa dengannya?" tanyanya pada diri sendiri.
***
Emelly, terus mengumpati Morgan di dalam hatinya, lelaki itu selalu kasar, dari dulu hingga sekarang selalu bicara dengan nada tak santai.
Lift terbuka, baru saja ingin keluar, seorang gadis masuk ke dalam lift. Emelly pun mengurungkan niatnya untuk keluar. Gadis itu menekan tombol, Emelly menajamkan matanya, apa gadis itu baru saja menekan tombol 15? Lantai ruangan Morgan? Ada yang tak beres.
Emelly menulusuri setiap inci dari wajahnya, walaupun menunduk, Emelly terus mencoba mengingatnya.
"Kau? Haters yang menyamar menjadi penggemarku, bukan?"
Gadis itu menelan salivanya kuat-kuat, ia mendongakkan kepalanya 'saatnya menghadapi masalah' batin gadis itu.
"Benar kan? Kau memang gadis itu!" seru Emelly dengan wajah sedikit jengkel. Mengapa, gadis ini ke lantai ruangan Morgan? Apa urusannya.
Gadis, itu malah tersenyum lebar. Matanya menatap Emelly dengan tatapan tak mengenakkan. Hawa di sini pun menjadi tak enak, apalagi kedua mata semakin menajam, memberikan kesan permusuhan.
"Sepertinya, ini waktu yang tepat, untuk memberitah Kak Emelly tentang hubunganku dan Kak Morgan."
Emelly, tak mengerti. "Apa maksudmu?!" tanyanya yang sedikit meninggi.
Gadis itu tersenyum kembali, Emelly yang melihatnya menjadi ngeri, gadis ini seperti psychopath saja.
__ADS_1
"Aku, hanya ingin memberi saran. Sebaiknya Kakak mundur, sebelum terluka lebih dalam lagi."