
Hari ini, Emelly dengan bangga berjalan ditengah pusat perhatian, mereka memandangnya dan langsung membicarakannya. Pagi-pagi begini, Emelly sudah membuat onar, aktris itu sudah membuat banyak fans heboh dengan unggahannya pada pukul dua pagi.
Sang Sutradara menghampirinya, dia berkacak pinggang melihat Emelly yang bersikap santai. "Kenapa, kau bagitu santai, setelah membuat keributan?!"
Emelly melepaskan kaca mata hitamnya, dengan senyuman tipis ia menyahut. "Anda seharusnya bersyukur, karena aku telah membuat kehebohan."
Pak Sutradara memutar matanya malas, ia baru tahu jika bekerja sama dengan Emelly akan semelelahkan ini. "Siapa dia! Foto siapa, yang kau unggah ini?!"
Emelly menatap sekilas ke arah ponsel yang ditunjukkan sang Sutradara itu. "Dia, hanya lelaki manis yang memiliki peran penting dalam hidupku."
Pak Sutradara itu memijat keningnya pelan, kenapa rasanya seperti sedang mengobrol dengan Maudy. Tokoh yang diperankan Emelly. "Apa kau sakit? Mengapa kau bertingkah seperti tokoh yang kau perankan?"
"Tidak, aku baik-baik saja," sahut Emelly.
"Terserah, apa yang mau kau lakukan. Yang jelas, jangan sampai nama filmku tercemar. Aku juga ingin bilang, kau juga tahu ending film ini akan seperti apa. Kau pasti tak mau bukan, berakhir seperti Maudy, wanita egois yang akhirnya mati karena kelakuan dirinya sendiri."
Sang Sutradara pergi, meninggalkan Emelly yang diam penuh amarah. Sepanjang karirnya, tak pernah ia bertemu dengan seorang Sutradara seperti itu, dari banyaknya Sutradara yang bekerja sama dengannya, hanya dia yang berani mengatakan kalimat yang membuatnya terluka.
"Mengapa, dia begitu kasar? Bahkan ucapannya lebih buruk, dari pada Sutradara yang bekerja sama denganku di hari pertamaku menjadi aktris."
Emelly kembali memakai kaca matanya, dia datang terlalu pagi. Emelly juga meninggalkan managernya dan para bodyguardnya.
***
"Apa, ini kau?"
Pertanyaan itu, membuat tangan Morgan yang sedang menyantap langsung terhenti. Dia memincingkan matanya menatap layar ponsel yang ditunjukkan Bryan.
Setelah, menatapnya cukup lama, Morgan kembali menyantap makanannya.
Bryan menghela nafas, dia merasa prustasi. "Mengapa, kau tak menjawab? Apa pria yang sedang memakai jas Almamater ini, adalah kau, Morgan?" tanyanya yang sedikit yakin, Bryan juga tak tahu pasti bahwa foto yang diunggah Emelly adalah Morgan, lagi pula foto itu hanya sebatas leher saja.
Morgan melepaskan garpuh dan pisau yang tadi ia pegang. Pria itu menatap Bryan kesal, karena sudah menggangu waktu pagi dengan pertanyaan yang menurutnya sangat konyol. "Bagaimana, jika itu adalah dirimu? Bryan?"
Bryan terkekeh pelan. "Kau, bercanda? Mengapa, aku difoto memakai Almamater Garuda High School? Aku bahkan, bukan lulusan sekolah itu!"
__ADS_1
Morgan, menatap ke arah lain. Dia menggaruk tengkuknya. "Yasudah, jangan bertanya padaku."
"Itu, berbeda! Kau adalah Alumni Garuda High School, kau satu sekolah dengannya! Bahkan, orangtuamu sepertinya sangat menyanginya! Aku jadi berfikir, apakah kau memang sedekat itu dengan Emelly?"
"Aku bahkan, tak pernah satu kelas dengannya!" sentak Morgan. Mata elangnya berubah menjadi menyeramkan, Bryan menelan salivanya kuat-kuat. Dirinya tak boleh gegabah lagi.
"Dan mengapa, kau sangat penasaran siapa orang itu?" cecar Morgan.
"Aku sangat kesal. Saat aku membuka media sosial, banyak orang yang menanyakan siapa yang diunggah Emelly di akunnya. Mereka menanyaiku seperti 'apa itu kau Bryan apa kau memiliki hubungan khusus dengannya' aku sangat frustasi. Ribuan pesan juga menanyakan hal yang sama."
Morga tak menjawab, pria itu meminum air sambil mendengarkan Bryan.
"Bisa kau bayangkan, betapa kesalnya aku? Mengapa juga, aku terus dikaitkan dengannya? Dia bahkan tak selevel denganku. Dia jauh, di bawahku!" ungkapnya yang merasa kesal. Dari sekian banyaknya pesan horor, hanya ini yang paling menganggunya.
"Jangan lupa, tahun kemarin dia berhasil mengalahkanmu, dari nominasi artis paling populer," sahutnya dengan santai.
Bryan menatap tajam pada Morgan. Namun ia baru ingat sesuatu untuk ditanyakan. "Apa, ini rencananya? Dia bersikap seperti ini, pasti untuk cari perhatianmu!"
"Sudah kubilang, pria di foto itu, bukan aku!"
Morgan mengatupkan bibirnya, ia juga menjadi sedikit gelisah. "Ya, kau benar. Ini, tidak seperti dugaanku."
"Kau, harus fokus pada Claudia, aku takut, akan terjadi sesuatu hal buruk dengannya."
Morgan terdiam, tubuhnya tak bergerak, tatapannya pun menjadi kosong, pikirannya terputar pada suatu kejadian.
Saat itu, Morgan yang sedang membaca buku di perpus, tiba-tiba ada murid yang memberitahunya jika rekannya bertengkar dengan murid lain. Morgan, pun langsung datang ke tempat kejadian, lelaki itu langsung terkejut ketika melihat hidung rekannya yang terluka dan rambut Emelly yang berantakkan.
"Apa, yang kau lakukan pada Ana?!" tanya Morgan pada Emelly, lelaki itu langsung membantu rekannya, mengacuhkan Emelly yang memandanginya.
"Aku hanya, tak suka dengan tingkahnya! Dia, ketua OSIS yang tak berguna!"
"Jaga, ucapanmu!" sentak Morgan, lelaki itu menyuruh beberapa murid untuk membawa Ana ke UKS. "Sekarang, kau ikut denganku ke ruang guru!"
Emelly, langsung mengehentakkan tarikan Morgan. Gadis itu menatapnya tajam, dengan kencang, Emelly berteriak. "Mengapa, kau selalu membelanya?!"
__ADS_1
Beberapa murid menatap sinis ke arah Emelly. Emelly memang dikenal sebagai siswa pembuat onar, dia selalu bermasalah dengan sang Ketua OSIS, Roana Hervi.
"Kau, yang selalu membuat masalah! Mengapa, menyalahkan orang lain?!"
Emelly memutar matanya malas, menurutnya, sejak Morgan menjadi Wakil Ketua OSIS, lelaki itu tak pernah mendukungnya lagi.
Beberapa murid berbisik, mereka mencela Emelly yang tak mau mengakui kesalahannya.
"Dia, memang selalu begini. Tak mau mengakui kesalahan."
"Kudengar, dia menyukai Morgan, apa dia melakukan itu, karena cemburu pada Ana?"
"Ana juga, menjadi ketua eskul teater. Apa Emelly juga iri padanya? Apakah dia pikir, dia lebih berprestasi dari Ana, sampai membuatnya terluka?"
"Wah, aku tak menyangka dia seegois itu!"
Emelly berusaha tak memperdulikannya, dia berjalan satu langkah, membisikkan sesuatu pada Morgan. "Kau lebih paham, tentang keegoisanku. Kau juga tahu, Aku tak akan membiarkan, siapapun mencuri posisiku."
"Hei!"
Morgan tersadar dari lamunannya.
"Mengapa, kau malah melamun?"
Morgan tak menjawab, pria itu mengambil gelas yang berisi air, meminumnya hingga tuntas.
"Ada apa, denganmu? Mengapa, kau berkeringat seperti ini? Apa, kau teringat kejadian yang panas?" tanya Bryan yang memasang wajah mesum.
"Sampai kapan, kau mau di sini? Cepat, berangkatlah!" jawab Morgan, sambil mendorong Bryan menuju pintu.
"Jadilah aktor yang rajin, agar kau tak kehilangan pialamu untuk kedua kalinya!" lanjut Morgan.
Bryan berdecih sebal, namun pria itu tetap menurut. Dia membuka pintu, dan langsung berlari ke Apartemennya.
Morgan, berdiri di balik pintu. Pria itu menghembuskan nafas berat. Apa yang harus, ia lakukan jika Emelly kembali seperti dulu lagi, apa wanita itu akan membuatnya menderita lagi seperti masa SMA?
__ADS_1
Morgan berharap. Seseorang yang selalu dipanggil Sang Antagonis itu, tak akan pernah kembali lagi.