
Setelah kejadian memalukan itu, membuat Emelly menjadi pendiam, wanita itu berubah, dia bertindak biasa saja dan berbiacara seperlunya saja.
Seperti, saat ini. Orangtua mereka sudah berankat. Namun, ketiga anak ini masih terdiam dan fokus dengan sarapannya.
Theo menoleh sebentar ke arah Rion, cowok itu membalas dengan gelengan kepala. Theo menghela nafas sejenak, dia berpikir, akhir-akhir ini dirinya tidak melakukan kesalahan apapun, lantas apa penyebab dari diamnya Kakaknya ini? Tidak, biasanya Kakaknya diam seperti patung.
"Kak Melly?" tanya Theo dengan hati-hati.
Emelly meneguk airnya, hingga tuntas. Wanita itu menoleh ke arah Theo. "Ya? Bukankah, seharusnya kau berangkat, Theo? Ini sudah siang."
Theo, dengan cepat bergegas. Tanpa mengucapkan satu kata pun, cowok itu berlari begitu saja meninggalakan Rion yang masih sarapan.
Rion menatap sedikit ke arah Emelly, wanita itu terlihat acuh, sambil memakan buah. Apa Kakak tirinya ini, tidak akan menyuruhnya berangkat? Apa Emelly senang jika, dirinya terlambat datang?
Sudah selesai, Emelly bangkit dari duduknya, wanita itu membalikkan tubuhnya dan pergi begitu saja.
Rion sempat terdiam, dirinya berfikir, apakah dirinya terlalu keras, kemarin? Apa, Emelly marah, dan tak mau berbicara kepadanya? Rion terkekeh, dia tidak peduli jika Emelly tak mau berbicara lagi kepadanya, namun mengapa rasanya sungguh sesak? Dirinya merasa sunyi, seperi dahulu.
***
Emelly melakukan syuting dengan lancar, tak ada yang spesial, wanita itu beraktimg dengan propesional, bahkan wanita itu bersikap biasa saja, saat Bryan menatapnya.
"Mengapa, dia? Apa, dia marah padaku?" lirih Bryan pelan, kemudian dia menggelengkan kepalanya merasa tak setuju dengan pikirannya sendiri. "Tidak, mungkin! Seharusnya aku yang marah karena dia menuduhku yang macam-macam!"
Waktu, terasa begitu cepat, syuting hari ini selesai. Ketika ingin masuk ke dalam mobil, seseorang menarik tangannya, Emelly hanya bisa pasrah. Dia tak mau membuang sia-sia tenaganya, untuk sesuatu yang tak berguna.
"Hari ini, ada apa denganmu? Apa kau marah padaku, karena kemarin, aku membantu adikmu?"
Emelly melipatkan tangannya. Merasa jengkel dengan pemikiran Bryan yang menurutnya sangat sempit. "Tidak, aku tidak marah. Hanya saja, ketika melihat wajahmu, aku sadar, harusnya aku tak melihat sesuatu yang tak ingin kutatap."
Sepertinya, Bryan salah besar. Karena sudah berfikir jika Emelly berubah, ternyata wanita itu malah semakin menjadi.
"Tak, ada yang dibicarakan lagi kan?" tanya Emelly, yang dibalas gelengan oleh Bryan.
__ADS_1
"Baiklah, aku pergi. Aku sibuk, aku bukan ssseorang yang selau menggunakan waktunya, untuk menggangu orang lain," jelas Emelly dengan wajah yang santai, wanita itu pergi dengan langkah angkuhnya.
Bryan berkacak pinggang, dia menatap heran pada punggung Emely yang semakin menjauh. "Jika perasaanya sedang rapuh, dia mungkin akan bersikap lebih baik, namun sekarang malah sebaliknya."
***
Emelly langsung pergi ke butik, dia memakai pakaian dan berdandan di sana juga. Kemarin malam ia meminta Ibu Morgan untuk segera mempercepat tanggal pertunangannya, dan Ibu Morgan akan mendiskusikannya malam ini juga.
Emelly sudah siap, wanita itu masuk ke dalam mobil dan menyetir sendiri, Emelly sengaja meliburkan para pekerjanya, termasuk Violet, managernya.
Emelly, masuk ke dalam Restaurant, Emelly melihat sebuah tempat VIP yang sudah terisi, di sana sudah ada keluarganya dan keluarga Morgan. Namun pertanyaannya, dimana lelaki itu?
"Kenapa, baru sampai?" sapa Maina sambil memeluk Emelly.
"Maaf, Tan. Emelly terjebak kemacetan."
Emelly langsung duduk, kedua orangtuanya menatapnya dengan tatapan bertanya, sepertinya mereka belum tahu inti pertemuan dari dua keluarga ini.
Wilon tersenyum. "Ya, tidak apa-apa."
"Namun, apa ada masalah?" tanya Ayah Emelly.
Mark tersenyum. "Tidak ada, hanya saja. Kami, ingin mempercepat pertunangannya."
"Apa, Morgan tak keberatan?" tanya Maina, memastikkan. Dia kurang yakin, karena Morgan sendiri pun tak kemari.
"Morgan setuju, Morgan tidak bisa datang karena pekerjaannya."
"Baikalah, terserah kalian saja. Asal Emelly bahagia, kami pun akan bahagia," sahut Ayah Emelly.
Sepulang dari acara itu, Emelly izin kepada orangtuanya untuk menginap di Apartemen Violet. Wanita itu menyetir dengan serangkaian masalah yang memutar di otaknya.
Karena tak terlalu fokus menyetir, Emelly sampai menabrak seseorang. Untung saja, Emelly dengan cepat mengeremnya. Wanita itu keluar, memeriksa seseorang yang hampir ia tabrak.
__ADS_1
Seorang, anak kecil!
"Kamu, baik-baik saja?" tanya Emelly yang berjongkok, wanita itu mengelus kepala anak laki-laki itu, sepertinya, dia masih ketakutan sampai tak berani untuk mendongakkan kepalanya.
"Kamu, baik-baik saja. Kakak ada di sini."
Akhirnya, anak lelaki itu mau menatap wajahnya.
"Mengapa, masih berkelian di tengah malam? Rumah kamu dimana?"
Anak laki-laki itu menjawab. "Rumahku dekat Kak, tapi jika Kakak ingin mengantarku, aku tak keberatan." Emelly tersenyum, anak ini unik sekali pikirnya. Emelly, langsung membawanya ke dalam mobil dan mengantarnya.
Beberapa saat kemudian, Emelly sampai di sebuah kontrakkan, Emelly dan anak lelaki itu langsung turun dari mobil. Anak lelaki itu menunjukkan dimana tempat tinggalnya.
Saat sampai di pintu, Emelly mengetuk pintu beberapa kali, ketukkan dua dan tiga, tak ada yang menyahut. Hingga ketukan kelima, pintu dibuka, oleh seseorang perempuan.
Perempuan itu terlihat kaget. Dia menyuruh adiknya untuk segera masuk.
"Kakak, siapa ya? Mengapa Kakak datang bersama adik saya?"
Emelly tersenyum canggung. "Saya bertemu dengannya dijalan. Karena, malam semakin larut, saya berniat mengantarnya pulang."
Perempuan itu menganggukkan kepalanya paham, dia menoleh ke belakang. "Kak Claudia! Bisakah Kakak kemari?!"
Emelly melototkan matanya, Claudia? Apa Claudia yang dimaksud adalah seseorang yang ia kenal?
Dengan cepat, Emelly berucap. "Maaf, saya tak bisa lama-lama. Permisi, selamat malam." Tanpa menunggu jawaban, Emelly langsung pergi.
Seorang wanita itu pun datang. Dia bertanya pada adiknya. "Ada, apa?"
"Nanti aku ceritakan, Kak." Perempuan itu masuk meninggalkan wanita yang ia panggil Kakak.
"Sepertinya, tadi ada seseorang," lirihnya pelan.
__ADS_1