Love For Emelly

Love For Emelly
Bab 18. Sebuah kejutan


__ADS_3

Emelly masuk ke dalam mobilnya, dengan keadaan mood yang sedang kacau. Wanita itu menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi meningalkan area sekolah.


Entah kemana tujuannya, kepalanya rasanya ingin meledak saja. Jika ke rumahnya, ibunya akan menanyainya, Emelly pun tak bisa berbohong. Tiba-tiba, terlintas sesuatu dipikirannya, ya tempat itu! Dengan cepat, Emelly melajukan mobilnya, jaraknya cukup jauh, jadi harus segera sampai agar, nanti pulang tak terlalu malam.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, Emelly sampai. Seorang Satpam menghampirinya, beliau tersenyum melihat Emelly. "Sudah lama sekali, Nona tidak kemari. Bagimana kabarnya?"


Emelly tersenyum cerah, moodnya langsung membaik. "Melly, baik-baik saja. Pak Tono, juga sehat-sehat saja kan?"


Pria paruh baya itu mengangguk, namun senyumannnya berubah menjadi raut khawatir. "Bapak, baik-baik saja, Non. Tapi, di dalam sedang ada kekacauan, apa Nona Emelly, akan tetap masuk?"


Emelly berfikir sebentar, lalu menganggukkan kepalanya, dengan yakin Emelly menjawab. "Iya, Melly yakin, Pak."


Pak Tono membukakan gerbangnya, mobil Emelly masuk ke halaman rumah megah itu. Dengan cepat, Emelly keluar dari mobil dan berlari ke arah pintu. Emelly membunyikan bell, namun sudah dua kali tak ada respon. Dengan ragu, Emelly masuk.


Tak ada siapapun, di ruang tamu, lantas ada kekacauan apa yang dimaksud Pak Tono?


Brak!


Suara benda jatuh itu, membuat Emelly terkejut, dengan cepat Emelly berlari ke sumber suara. Emelly, mencari dimana suara itu berasal. Hingga suara menangis pun mulai terdengar. Sepertinya suara itu berasal dari ruangan kerja. Emelly tak berani untuk ke sana, karena tak enak dengan sang pemilik ruangan kerja itu.


Emelly, menghela nafas berat. Wanita itu memilih, untuk kembali berjalan ke ruang tamu. Ia duduk di sofa, memikirkan sesuatu. Dirinya ingin ke sini untuk melepas pikiran yang melelahkan, namun sepertinya keadaan keluarga ini juga, sedang tidak baik-baik saja.


Emelly, duduk di sofa. Menunggu, sang pemilik rumah menghampirinya.


"Aaaa!"


Baru saja dua menit, ia duduk, suara jeritan membuatnya terkejut untuk kedua kalinya.


Emelly spontan menutup telinganya. Suara jeritan itu membuat telinganya sedikit sakit, beberapa bayangan hitam pun mulai menghantui di pikirannya.

__ADS_1


Emelly mencoba menenangkan diri, dirinya tak boleh terlarut dalam traumanya. Lima detik kemudian, Emelly bisa mengatasinya, wanita itu dengan cepat berdiri dan berlari ke ruang kerja.


Emelly membuka pintu, wanita itu


membulatkan matanya, tangannya menutup mulutnya yang terbuka.


Semua mata, tertuju padanya, Emelly menelan salivanya, ia merasa takut.


"Kamu tidak apa-apa, sayang?" Seorang wanita paruh baya, langsung memeluknya erat, Maina menangis, beliau mengelus punggung Emelly.


Lelaki, yang tak lain adalah Morgan tersenyum kecut. "Kau datang, di waktu yang tepat."


Mark, menghampiri Emelly dan Maina. "Aku, tak akan merestuimu dengan wanita itu! Hanya Emelly, yang berhak menjadi menantuku!"


Morgan menggenggam tangan Claudia, yang menangis sambil menunduk. Yah, Claudia kemari, atas suruhan Morgan.


Mata Emelly berkaca-kaca, ia tak menyangka akan dicampakkan seperti ini. Sebenci itukah Morgan kepadanya?


Emelly, beralih menatap Claudia. Wanita itu, masih menundukkan kepalanya disaat keluarga ini menangis karena kehadirannya. Pantas, akhir-akhir ini wanita itu tak mengganggunya, ternyata ia mempunyai kejutan yang membuat Emelly tak mampu berkata-kata lagi.


Morgan, juga! Di sini, dialah yang paling menyakitinya! Dia yang membuat perjanjian, dia juga yang mengingkari!


Maina melototkan matanya, ia semakin memeluk Emelly dengan erat. "Jangan, membuat putriku menangis! Kau, tak boleh membuatnya kecewa untuk kesekian kalinya!"


Morgan tersenyum sinis, mengapa semuanya semakin rumit setelah Emelly kembali? Wanita itu seperti senang sekali membuatnya tak berdaya. Morgan menarik tangan Claudia untuk pergi, lelaki itu berjalan keluar dari ruangan.


"Mau, kemana kau!" teriak Mark yang sangat marah, pria paruh baya itu mengikuti mereka berdua. Emelly dan Maina pun ikut keluar.


"Morgan! Kenapa, kau sangat keras kepala?!"

__ADS_1


Lelaki itu berhenti di tempat, dia berhenti melangkah saat Ayahnya berteriak seperti itu. Perlahan, Morgan membalikkan tubuhnya, dia menatap dalam ke arah Ayahnya.


"Apa, maumu? Aku sudah menurutimu untuk membawa calon menantu, tapi mengapa kau malah memperlakukan kami dengan tidak adil!" ungkapnya. Tak ada air mata pun, ia tak bisa menangis di situasi seperti ini.


"Kau malah, memperlakukannya dengan spesial dibanding aku, yang jelas-jelas anak kandungmu!" lanjut Morgan dengan wajah murkanya.


Emelly yang ditunjuk seperti itu oleh Morgan, semakin terpuruk. Kedua tangannya semakin erat memeluk Maina.


Dengan marah, Maina mengusap pipi yang terus basah karena air matanya yang tak berhenti mengeluarkan air mata. Dengan kecewa, wanita itu menjawab. "Dia, juga putriku!"


"Putrimu, sudah mati!"


Plak!


Maina, Emelly bahkan Claudia spontan menjerit, mereka kaget dengan apa yang dilakukan Mark.


Satu tamparan, mendarat di pipi kanan Morgan. Lelaki itu menoleh ke samping, memegang pipinya yang merah. Tamparan ini tak begitu menyakitkan, menurutnya sudah biasa, tak ada yang lebih menyakitkan dari melihat, orangtua kita lebih menyayangi anak orang lain, dibandingkan kita yang sudah jelas anak kandung.


Morgan melepaskan genggaman pada tangan Claudia, lelaki itu maju dua langkah ke hadapan Emelly. Maina tentu saja langsung melindunginya dari Morgan.


Lelaki itu, tersenyum kecut. Ia menatap mata Emelly dengan penuh kebencian. "Kau, sudah puas? Kau tentu saja memiliki keluarga yang lengkap dan bahagia. Lalu, mengapa kau ingin keluarga orang lain juga?" tanyanya dengan wajah yang meremehkan. "Oh, aku lupa. Kau ingin menjadi tuan putri kan? Kau, selalu ingin menjadi paling utama?"


"Jangan membuat Emelly ketakutan, Morgan!"


"Oh, maaf, karena sudah membuat putrimu menangis."


Morgan dengan cepat, membalikkan badannya, ia kembali menggenggam tangan Claudia lalu pergi dari sana.


Emelly menatap mereka tajam, tangannya mengepal kuat. Ia tak terima diperlakukan seperti ini. "Kau ingin, aku seperi dulu kan? Baik, aku akan melakukannya, aku akan tunjukkan bagaimana, cara tuan putri bermain," batin Emelly.

__ADS_1


__ADS_2