
"Kenapa, kau meninggalkanku!"
Emelly yang sedang membaca naskah menoleh, wanita itu malah tersenyum lebar sebagai jawaban.
Violet duduk di sampingnya, menghembuskan nafas lelah, tadi pagi ia terkejut melihat Emelly yang sudah tidak ada, ia sudah mencarinya bahkan menanyakan pada orangtuanya, ternyata Emelly mengerjainya dan meninggalkannya yang sedang tidur lelap.
"Makin ke sini, kau semakin menyebalkan," lirih Violet, dengan mata yang terpejam.
Emelly, yang mendengarnya hanya tersenyum misterius. "Apa, kau bisa membantuku?"
Violet membuka matanya, melihat senyum Emelly yang misterius membuatnya menelan saliva. "Tidak! Aku tak bisa membantumu," sahutnya dengan was-was.
"Kau harus membantuku, Violet! Karena, kau adalah managerku!"
Sepertinya, Violet menyesali mengambil pekerjaan ini. Dengan berat hati, ia menjawab. "Baiklah!"
"Kau harus mencari identitas Claudia. Keluarganya, temannya, semuanya! Pokoknya tentang kehidupan pribadinya."
"Apa, kau serius?" tanya Violet tak percaya. Dirinya juga tak mengira bahwa Emelly akan bertindak seperti ini.
"Ya, aku serius."
Violet hanya bisa pasrah, wanita itu berbalik badan. Meninggalkan Emelly.
"Hei, pembuat onar!"
Emelly, menoleh. Matanya memutar malas, ternyata manusia menjengkelkan ini yang memanggilnya. Dengan kesal Emelly menjawab. "Kenapa, kau kemari?"
Bryan, tersenyum sinis. "Kau, memang hobi membuat orang lain sengsara. Karena postinganmu itu, aku mendapat banyak teror dari fansmu! Dan juga, mengapa kau mengunggah foto tanpa wajah itu! Apa kau sengaja, membuat opini bahwa aku yang ada dalam foto itu?!"
"Kau, salah besar! Aku, hanya ingin menunggahnya! Aku, tak berniat menyeretmu namamu yang semakin tak terkenal itu!"
Bryan berkacak pinggang, dia tak akan diam begitu saja. "Daripada kau, wanita menyedihkan, yang mengharapkan pria yang mencintai wanita lain!"
"KAU!" Emelly berdiri dari duduknya, dia menatap tajam ke arah Bryan.
"Apa?" tantangnya.
Sebelum perang terjadi, sang sutradara lebih dulu mencegahnya.
__ADS_1
Dengan kesal, Emelly pergi meninggalkan Bryan yang meleletkan lidah padanya.
Akhirnya syuting selesai, Emelly yang sudah berganti pakaian pun masuk ke dalam mobil. Ia akan mengunjungi kantor Morgan, semoga saja pria itu sedang tidak sibuk.
Setelah perjalanan yang cukup lama, Emelly keluar dari mobil. Dia berjalan dengan anggun, tak lupa senyuman manis yang ia pasang di wajah cantiknya. Beberapa karyawan menyapanya, tentu dibalas baik oleh Emelly.
"Pantas, Claudia kalah. Saingannya, juga seorang aktris terkenal," celetuk seorang karyawan yang memperhatikan Emelly.
"Dia baik, cantik, berprestasi, siapa yang akan menolak sosok yang hampir sempurna itu?" balas temannya.
"Tetapi, aku mendengar rumor. Jika semasa sekolahnya, Emelly adalah seorang perundung. Apa, rumor itu tidak benar?" tanya pria yang berada di tengah kedua perempuan itu.
"Zaman sekarang, banyak rumor yang mudah sekali membuat popularitas sang aktris menjadi anjlok. Kita tidak boleh percaya, sebelum faktanya terungkap."
"Iya, juga sih," sahut pria itu.
"Tapi, zaman sekarang juga, kalau kita cantik, pasti aman," sahut perempuan itu, yang membuat keduanya temannya terdiam.
Emelly mengetuk pintu, tak ada sahutan, wanita itupun kembali mengetuk pintu. Masih, tak ada jawaban.
Karena kesal, Emelly membukanya tanpa persetujuan pemilik. Mata Emelly tercengang. Wanita itu berjalan mendekat.
Emelly, duduk di kursi yang berada di sampingnya. Wanita itu menopang dagu menatap wajah Morgan. Hingga pria itu terbangun dari tidurnya.
Morgan mengusap matanya, ia memincingkan matanya menatap seseorang. Sepertinya, dia perempuan.
"Claudia?"
Senyuman Emelly luntur, beribu kali ia merasakan perasaan menyedihkan ini, tetapi dirinya belum terbiasa menerimanya, karena terlalu menyakitkan.
Morgan mengusapkan matanya kembali. Ketika pandangannya sudah jelas, bukan sosok Claudia yang ia lihat, tetapi Emelly.
"Mengapa, kau ada di sini?!" ujar Morgan yang kaget. Ia terkejut melihat keberadaan Emelly disaat dirinya tertidur.
Emelly melipatkan tangannya. "Kenapa? Apa, aku tak boleh mengunjungi kantor calon suamiku sendiri? Apa kau juga, kecewa karena yang duduk di sampingmu bukan Claudia?" tanya Emelly beruntun.
Morgan memijat keningnya pelan, ia pusing, baru bangun dari tidur, sudah mendengarkan pertanyaan yang memancing emosi.
"Apa, maksudmu? Kita, akan menikah? Tentu saja, itu tidak akan terjadi. Itu tidak ada di perjanijan!"
__ADS_1
Emelly terkekeh, ia merasa Morgan sedang bercanda. "Mengapa, aku harus mengikuti perjanjian, disaat kau sendiri yang melanggarnya!"
Morgan menunduk, ini memang salahnya, ia juga tak tahu Emelly akan senekat ini. "Itu semua memang salahku. Maafkan, aku. Tetapi, aku mohon. Jangan ganggu Claudia. Dia tak ada kaitannya dengan rencanku."
"Justru, karena dialah kau melanggar perjanjian kita! Apa, kau pikir aku akan diam saja, saat seseorang berusaha menghancurkan keinginanku?"
"KENAPA KAU MENJADI SEPERTI INI?!" Morgan berteriak kencang, perasaannya sedang tidak baik-baik saja, dan Emelly malah membuatnya semakin rumit. "Kau, bukan Emelly yang kukenal. Kau, bukan lagi gadis polos yang selalu ingin kulindungi. Kau telah berubah!"
Emelly melihat ke arah lain, ia berusaha tak perduli.
"Mengapa, kita menjadi seperti ini? Mengapa juga, kau bertindak seperti duri yang perlahan membuat hidupku hancur? Dimana, Emelly yang selalu menangis, saat melihatku menderita? Dimana, Emelly yang memelukku disaat aku sedang kesepian?"
Emelly terdiam. Wanita itu masih tak berani menatap Morgan.
"Sejujurnya, aku sangat merindukanmu. Sejak, aku menolongmu saat dikejar para fansmu. Aku ingin sekali menanyakan kabarmu, bagaimana keadaanmu, apa kau baik-baik saja, apa kau makan dengan baik. Semuanya! Aku ingin tahu tentang keadaanmu. Tetapi, aku hanya bisa diam. Aku tak mau, kau kembali tertarik padaku dan berubah menjadi sosok yang paling kubenci."
"Yah, disaat itu!" teriak Emelly. Wanita berdiri dari duduknya, menatap tajam ke arah Morgan. "Aku berubah, disaat kau menganggapku seperti monster. Apa, kau tahu rasanya dipandang buruk, oleh orang yang paling kita sayangi? Apa, kau tahu rasanya sendiri, disaat kau meninggalkanku?"
"Apa, maksudmu?!"
Emelly, terkekeh. "Yah, wajah seperti ini yang paling kubenci. Kau seperti tak tahu apa-apa. Kau seperti kebingungan, tentang luka yang kurasakan. Oleh sebab itu, kau harus menjadi milikku! Aku tak mau yang lain! Entah dulu atau sekarang, kau tetap orang yang paling kubutuhkan."
"Itu, hanya obsesi!" teriak Morgan yang berdiri dari duduknya. "Kau tak benar-benar mencintaiku. Kau hanya takut kalah. Seperti dulu, kau takut kalah dari Ana. Dan sekarang, kau takut kalah dari Claudia. Mengapa, kau tak hentikkan obsesimu itu? Kenapa, kau belum sadar setelah kecelakaan yang menimpa Ana?!"
"Kenapa, aku harus sadar?! Aku, tak ada sangkut pautnya dengan kematiannya!"
"Kau, adalah pelakunya!" teriak Morgan. Pria itu hilang kendali, sampai mengucapkan hal yang pastinya menyakiti Emelly.
Emelly, tersenyum tipis. "Kau, juga tak berubah. Kau masih menganggap aku yang bersalah."
Emelly berbalik badan, ia berlari keluar dari ruangan Morgan.
Kenapa, rasanya tetap menyakitkan? Kenapa ia belum terbiasa dengan rasa sakit ini? Emelly berlari sambil menangis, sampai tak sengaja menabrak seseorang.
Emelly terjatuh ke lantai, ia seperti sudah menabrak dinding yang keras hingga membuat tubuhnya terpental.
"Anda, baik-baik saja?"
Emelly menoleh ke samping, seseorang yang ia tabrak, sekarang berjongkok di depannya.
__ADS_1
Emelly melototkan matanya, tangannya menutup mulutnya yang menganga. "J-jevano?"