
Terluka, yang seperti apa? Tidak ada manusia, yang hidup tanpa luka.
"Apa, maksudmu?!" tanya Emelly yang mulai tak suka dengan ekspresi gadis ini. Wajahnya terlihat songong, seperti menantangnya.
Gadis itu memegang sehelai rambutnya. Dia tersenyum remeh ke arah Emelly. "Semoga, sukses."
Pintu lift terbuka, gadis itu keluar, Emelly mengikutinya, ia juga yakin gadis itu pasti sadar sedang diikuti. Emelly terus mengikuti, wanita itu berhenti berjalan saat tepat di depan pintu, ia ragu untuk masuk.
Namun jika tak masuk, jiwa penasarannya, terus berkobar-kobar. Emelly dengan santai membuka pintu. Baru terbuka saja, ia sudah merasa hawa tak mengenakan, Emelly menoleh, rupanya gadis itu menatapnya dengan aura pemusuhan.
"Mengapa, kau kembali lagi?" tanya Morgan kehenranan melihat kedatangan Emelly.
Emelly menatapnya cuek, wanita itu dengan santai berjalan ke arah mereka berdua, gadis itu melototkan matanya melihat Emelly duduk di samping Morgan. Emelly mengangkat sebelah alisnya, ke arah gadis itu, tak lupa dengan senyuman meremehkan.
Morgan, hanya menghela nafas, dua perempuan ini, seperti mengurungnya dalam perangkap.
"Kenapa, Kakak menggangu kami?" tanya gadis itu, dengan wajah yang polos.
Emelly berdecih, merasa kesal. Gadis ini menyebalkan. Namun dia, bukanlah tandingannya. "Aku, hanya ingin menemui calon tunanganku, apa itu mengganggumu?"
Morgan memijat keningnya, jika mereka berdua beradu mulut, tidak akan ada yang mengalah.
Gadis itu tersenyum kecil, matanya sedikit menajam ke arah Emelly. "Ya, itu sedikit mengganguku. Kak Emelly seperti, tidak membiarkan kami privasi."
Emelly melongo, apa yang dibicarakannya, memangnya dia siapa, sampai membutuhkan privasi bersama Morgan?
Emelly menyilangkan lengannya, dia menatap gadis itu dengan tatapan santai. "Memangnya, kamu siapanya, Morgan? Ada urusan apa? Sampai harus mengobrol berdua bersama calon tunangangku?"
__ADS_1
Nadanya memang tenang, namun itu sangat menusuk hati gadis itu. Dia mengepalkan tangannya di bawah meja. Menahan amarah, dia tidak mau, dicap aneh oleh Morgan.
Morgan menyentuh pundak Emelly, supaya wanita itu tenang dan tidak mengeluarkan kata-kata yang bisa menyakiti gadis itu. "Sudahlah. Aku hanya ingin makan siang dengannya, untuk ucapan terimakasihku."
Emelly menghentakkan tangan Morgan, dia menatap sengit ke arah lelaki yang pernah membuatnya hilang kendali. "Terimaksih, untuk apa?!"
Morgan terlihat kesal, tanpa sebab. Dia menjawab tanpa melihat ke arah Emelly. "Aku hanya mengucapkan terimakasih karena dia sudah memberiku payung saat hujan," terangnya dengan nada yang cuek.
Gadis itu tersenyum, mengingat kejadian itu. Namun senyumannya luntur , saat mengingat ciuman pertamanya hilang tanpa ia minta.
Emelly memutar matannya malas, dia merasa jengkel. "Seperti, drama saja."
"Iya, seperti drama. Suatu saat, Aku akan menceritakannya pada anakku, bahwa ibu dan ayahnya bertemu untuk pertama kalinya, digelapnya malam dan dinginnya air hujan."
"Huh." Emelly menghembuskan nafasnya, telinganya rasanya panas mendengar kalimat yang seharusnya tak ia dengar. Wanita itu ingin kembali bicara, namun Morgan lebih dulu memotongnya. "Emelly, kau pergi saja, aku masih ada urusan dengan Glory.
Emelly berdiri dengan angkuh, dia memperhatikan Glory dari atas sampai bawah. "Baiklah, aku akan pergi. Aku, bukan tipe wanita yang menggangu orang lain yang sedang bekerja!" Glory yang mendengarnya, menghela nafas panjang, dia jadi merasa tersindir.
"Aku, juga bukan wanita yang selalu mengejar pria. Aku adalah sebaliknya."
Morgan menahan senyumnya, dia tak boleh tertawa. Pria itu menatap datar ke arah Emelly. "Sampai kapan, kau akan terus berbicara?"
Emelly menatap sinis ke arah Morgan, lalu beralih menatap Glory dengan dalam. "Jangan terlalu banyak, membuang energi untuk mengejar seseorang, karena dia hanya akan membuat kekecewaan yang selalu membekas."
Setelah mengucapkan itu, Emelly pergi dengan sebuah senyuman.
Glory menggaruk rambutnya yang tak gatal, ia sedikit linglung, ia tak mengerti apa yang dikatakan Emelly dan tak mau berusaha untuk mengerti karena hanya membuang waktu saja.
__ADS_1
Glory menggelengkan kepalanya, lalu menatap ke arah Morgan. "Kak, kita akan makan dimana? Apa sebaiknya, kita makan di sini saja?" usul Glory dengan semangat 45. Namun Morgan tak menjawabnya, pria itu malah melamun.
"Kak?" Glory kembali memanggilnya, namun Morgan masih tak menjawab. Gadis itu sedikit kecewa, badannya tak sekecil semut, tapi masih tak dianggap? Sungguh menyakitkan.
"Kak Morgan!" Glory memanggil dengan merengek, gadis itu tak suka diabaikan, dia tidak suka dianggap tak ada.
Morgan tersadar. "I-iya?" tanyanya yang kebingungan.
Glory, memajukkan bibirnya kesal. Matanya sedikit berkaca-kaca. Dengan nada rendah, ia berucap pada pria itu. "Sebenarnya, Kakak memang berniat mengajakku makan siang bersama, atau cuman karena merasa bersalah?!"
Morgan menggaruk hidung mancungnya, matanya menatap ke arah lain. Merasa sedikit lelah. Mengapa terasa dejavu begini.
"Aku memang benar-benar, berniat mengajakmu makan bersama. Aku meminta maaf karena telah mengabaikanmu. Maaf membuatmu kecewa."
Senyuman lebar, seperti bulan sabit, terukir indah di bibir Glory. Gadis itu merasa terharu, dia bisa merasakan ketulusan Morgan.
"Oke, kita makan di Restoran dekat sini saja ya?"
Glory menganggukkan kepalanya, merasa semangat. Mau dibawa ke ujung dunia, pun tak apa-apa, jika Morgan yang membawanya. Memang sebucin itu.
Morgan berdiri dari duduknya, lalu keluar dari ruangan. Glory mengikutinya di belakang, yang terlihat sangat senang, bahkan Emelly bisa melihat kupu-kupu bertebrangan di kepalanya.
Yap. Emelly tidak pergi. Wanita itu terus memantau. Dia dari tadi bersembunyi di belakang lemari, yang ditaruh di dekat ruangan Morgan.
'Gadis picik' dua kata untuk Glory dari Emelly.
"Sang penggangu bertambah satu. Awas saja, aku akan membuatmu mundur. Lihat saja, alumni antagonis dilawan."
__ADS_1