
"Emelda! Dia, istri kedua ayahku! Berkat dia, hidupku menjadi lebih menderita!" teriaknya keras. Claudia maju satu langkah menatap tajam kedua mata Emelly. "Ibumu, sudah mengambil ayahku. Lalu, kau juga menginginkan Morgan. Baik! Akan kuserahkan semuanya! Aku, tak butuh siapapun lagi!"
Claudia membalikkan tubuhnya, dia meninggalkan Emelly yang terdiam di tempat.
"Ibuku, menikahi ayahnya?" lirih Emelly pelan. Apakah, ibunya memang sekejam itu? Mengapa semuanya semakin rumit? Emelly terduduk di tanah. Apa, dirinya juga wanita yang jahat seperti ibunya? Emelly hanya ingin dipedulikan, dia tak suka, jika ditinggalkan begitu saja.
"Apa, aku, terlalu egois?" Emelly kembali merenung, tentang masa putih abu-abunya. Saat itu, ia memanfaatkan kedua orangtua Morgan, untuk selalu dekat dengan lelaki itu. Dia juga sering melihat Morgan menangis, tetapi rasa egonya tinggi, dia tidak mengesampingkan keinginannya.
"Seharusnya, aku tak boleh seperti ini. Maafkan aku, telah memaksamu untuk selalu ada." Harusnya Emelly sadar sedari awal, jika dunia tak harus peduli tentang keadaannya. Ia sadar dengan kata-kata Morgan, bahwa dia hanya terobsesi untuk memiliki hidup yang sempurna.
Mengapa, baru sekarang? Mengapa, tidak sejak dulu saja ia sadar?
"Maafkan aku. Aku terlalu menyangimu. Hingga melakukan cara yang salah."
Emelly berdiri dari duduknya, wanita berjalan ke arah mobil. Emelly membuka mobilnya, terlihat di sana Violet yang sedang memejamkan matanya. Dengan cepat, Emelly memeluk perempuan itu dengan sesenggukkan. "Maafkan, aku. Aku selalu merepotkanmu, aku selalu bersikap tak baik padamu!"
Violet membuka matanya, dia terkejut dengan pelukan Emelly. "Ada apa, denganmu?"
Emelly semakin mengeratkan pelukannya. "Maaf, telah membuat harimu menyebalkan. Maaf, karena aku selalu mengandalkanmu!"
Violet semakin kebingungan. Bukankah, wanita itu berniat memberi pelajaran pada Claudia? Mengapa, sekarang dia malah menangis dan meminta maaf? Apa, Cladia telah memberinya sebuah nasihat?
"Aku, telah memaafkanmu, jauh sebelum kau meminta maaf. Aku sangat memaklumi dengan sikapmu itu," ungkap Violet, bercanda.
Tangisan Emelly, semakin pecah. Dia menangis sambil berteriak.
"Aku, hanya bercanda! Kau manusia, wajar jika melakukan kesalahan! Bahkan, dulu saat kuliah aku selalu menyontek padamu," ujar Violet. Dia mengusap punggung Emelly dengan sayang.
"Kau yakin, memaafkanku?"
"Sangat, yakin!"
__ADS_1
***
Setelah, begitu banyak drama. Violet mengantarkan Emelly.
"Kau yakin, bisa sendiri?"
Emelly menganggukkan kepalanya demgan bersemangat. "Aku sangat, yakin! Sana, pergi! Bima sudah menunggumu!"
Violet hanya cengengesan, ketika mendengar nama pacarnya disebutkan. Ia pun pergi, melajukan mobilnya yang meninggalkan area rumah yang megah ini. Emelly berbalik badan, ia berlari masuk ke dalam rumah.
"Emelly, ingin membatalkan pertunangan."
Maina terkejut, dia yang sudah menyambut kedatangan Emelly dan duduk disampingnya, terkejut medengar pernyataan yang dikatakan Emellym "Apa, maksudmu. Sayang?"
Ini, memang tak sopan. Tetapi, dirinya takut berubah pikiran jika menhndanya. Memang sulit, tapi ia harus melakukannya. "Emelly meminta maaf. Sejak dulu, Emelly selalu merepotkan Tante. Maaf, karena Emelly, keluarga Tante menjadi berantakkan."
Maina langsung memeluk Emelly. Menurutnya Emelly tak bersalah. Kasih sayangnya pada Emelly sungguh besar, hingga membuatnya lupa dengan keinginan Morgan.
Dulu, ia yang menjodohkan Agra dan Emelda. Maina merasa terpukul, saat Agra dan Emelda bercerai, ia selalu merasa bersalah, saat melihat Emelly kesepian, jadi dia menyuruh Morgan agar terus bersama Emelly, dirinya tak mau Emelly merasa sendiri dan tak disayangi.
Namun, masih ada satu alasan yang membuatnya selalu mengesampingkan Morgan.
"Apa, kamu akan bahagia, jika tak bersama Morgan?"
Emelly memeluk Maina. Dirinya sangat menyayangi wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandung.
"Emelly, akan selalu bahagia. Emelly, tidak mau membuat kebahagian Morgan, hancur untuk kesekian kalinya."
Maina menghembuskan nafasnya. Dia harus ikhlas untuk melepaskan Emelly.
***
__ADS_1
"Kapan, kau kemari?"
Pria itu tersenyum tipis. "Minggu, kemarin."
"Apa, kau kemari karena merindukkan Emelly?"
Seutas senyuman kecil terukir di bibirnya, pria itu menatap ke arah lain. "Apa, aku harus menjawab pertanyaanmu?"
"Tidak usah. Aku sudah mengetahuinya."
Jevano hanya menganggukkan kepalanya, dia tak hentinya tersenyum mengingat kejadian saat bertemu dengan Emelly.
"Tetapi, sepertinya, dia masih menyukai orang lain, apa kau akan mundur seperti dulu?"
"Kau tahu, aku bukan lagi Jevano si pengecut itu. Aku tak mau berhenti, sebelum berusaha untuk mendapatkannya."
***
Emelly keluar dari taxi. Tadi, dia menolak tawaran Maina yang akan mengantarnya pulang, namun Maina tak menyerah, beliau memesankan taxi untuk mengantarkan Emelly.
Namun sekarang, Emelly malah menyuruh taxi itu agar berhenti. Saat ini, ia ingin sendiri. Dirinya hanya ingin merenungkan semuanya, walaupun mengingat masa SMA, sama saja membuka luka lama.
Emelly menghirup angin malam yang dingin, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Ia menyesal telah membuat semua orang terluka. Dirinya baru sadar, jika hidupnya lebih beruntung dari oranglain.
Saat itu, ia hanya ingin dipedulikan. Dan saat melihat Morgan bersama Ana, entah kenapa ia tak rela. Emelly tak mau seseorang yang ia sayangi peduli pada oranglain. Dirinya memang terlalu serakah.
"Ucapanmu memang benar. Aku seharusnya tidak ada. Aku tak pantas untuk bahagia. Bahkan setelah kematianmu pun, aku masih iri padamu." Emelly menundukkan kepalanya, ia memang sangat jahat.
Emelly masih berjalan di tepi jalan, wanita itu masih butuh waktu untuk memikikan semua kesalahannya.
Namun langkahnya terhenti, ketika mendengar sebuah teriakkan. Emelly langsung menoleh, matanya membulat sempurna melihat sebuah mobil yang melaju semakin kencang.
__ADS_1
Emelly berlari secepat mungkin. Wanita itu memeluk seseorang hingga terapung ke samping. Orang itu selamat, namun berbeda dengan nasib Emelly, benda merah pun mulai keluar dari kepalanya, membuat orang itu panik bukan kepalang.
"Apakah, aku harus meminta maaf padamu secara langsung, Ana?" lirih Emelly sebelum akhirnya menutup mata.