
Keributan
Malam ini, Emelly sedang menunggu di ruang tamu. Kata Ibunya, orangtua dari calon tunangannya, akan datang mengunjungi rumah mereka. Emelly tentu saja gugup, tetapi dirinya harus tetap tenang.
Suara bell dari luar terdengar, Emelly ingin berdiri dan pergi untuk membukannya, namun ibunya lebih dulu mencegahnya. "Biar, Ibu buka. Kamu duduk manis saja, oke?" tanya Wilona.
Emelly mengangguk, mengiyakan. Ibunya pergi meninggalkan dirinya. Jika ayahnya tak pergi bekerja, mungkin sekarang ia tak akan segugup ini. Bagaimana, jika mereka tak menyukai dirinya? Apa mereka tahu, jika dirinya adalah aktris yang baru saja terkena berita miring? Emelly tidak bisa berfikir tenang lagi.
Suara obrolan mulai terdengar, sepertinya mereka menuju kemari. Emelly tersenyum tipis, merapihkan tempat duduknya, agar terlihat lebih anggun.
"Emelly?"
Suara itu! Sepertinya, ia mengenalnya! Dengan cepat Emelly menoleh, senyumannya sedikit luntur, ia merasa kedua matanya mulai memanas, rasa sesak di dada mulai menghamtamnya. Kenapa ini bisa terjadi?
"Bagaimana, kabar kamu?" sapa seorang wanita paruh baya, ia memeluk Emelly yang baru saja berdiri, wanita itu memeluknya sangat erat, seolah tak mau kehilangan.
Emelly membalas pelukannya, sudah lama sekali ia tak merasakan pelukan dari wanita yang selalu ia anggap seperti ibu kandung, dirinya tentu, merasa senang bisa bertemu mereka, tetapi satu hal yang membuatnya takut.
"Apa, kamu benar-benar menerima perjodohan ini? Kamu, masih mencintai Morgan?"
Pertanyaan itu, seketika membuatnya sedikit lemas. Pertanyaan yang dirinya sendiri tidak tahu jawabannya, apa Emelly masih mencintai pria itu? Apa dirinya masih mengharapkan perhatian dari lelaki yang jelas-jelas tak akan membalas cintanya.
"Ya ampun, Mark. Kalian baru saja datang, kalian duduk dulu, baru nanti kita membahasnya."
Maina tersadar, dia tersenyum sambil melepaskan pelukannya, wajahnya sedikit memerah, mungkin habis menangis. "Aku sangat merindukan putri kecilku. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya, rasanya sangat damai ketika melihat Emelly berdiri di hadapanku."
Hati Emelly tersentuh. Ia merasa senang mendengarnya.
Wilona tersenyum. "Kalian mengobrol saja dulu, aku akan kembali."
Melihat kepergian Wilona, membuat Emelly sedikit gugup, ia takut membuat kesalahan.
"Melly, kamu belum menjawab pertanyaanku, apa kamu masih mencintai Morgan?" tanya Mark yang duduk di sebrang Emelly.
"Tentu saja, Emelly akan selalu mencintai Morgan, kenapa kau bertanya seperti itu?!" sahut Maina yang sedikit tak suka dengan pertanyaan dari suaminya.
Mark menghela nafas, istrinya ini memang sedikit menyebalkan. "Aku hanya ingin memastikkan. Bisa saja, perasaannya sudah berbeda dari belasan tahun yang lalu."
Maina sedikit kesal, ia menoleh pada Emelly yang sedari tadi tak berbicara. Tangan Maina menggenggam tangan Emelly, Maina memandangnya dengan sayang, seolah dirinya sangat berharga. "Kamu, masih mencintainya kan? Mimpimu yang dulu, akan segera terwujud. Aku sangat menyayangimu. Sudah lama aku bersabar menunggu, kali ini kamu tidak akan sendiri lagi."
__ADS_1
Mata Emelly berkaca-kaca, mulutnya ingin berteriak, mengatakan betapa bahagianya dirinya, ia ingin menceritkaan segala luka yang selalu membuatnya terpuruk, namun Emelly tak bisa mengatakannya secara lisan. Maina langsung memeluknya, mengusap punggung Emelly dengan sayang.
***
Morgan melepaskan kaca matanya, pria itu berdiri dari duduknya untuk pergi ke gorden yang terbuka. Mata elangnya menatap ke bawah, dimana mobil-mobil berlaju kencang, orang-orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing.
Sekarang ia berada di Apartemen, menatap kosong ke arah jalanan, sejujurnya tak ada sesuatu hal yang membuatnya bangga, hidupnya yang didambakkan semua orang terasa kosong baginya. Dia seperti tak punya kebebasan apapun, mengutarakan perasaanya pun sangat sulit.
Terdengar pintu Apartemen terbuka, Morgan menghela nafas, seorang perusuh itu selalu menggangunya ketika sendiri.
"Hai kawan!" sapa pria itu. Namun Morgan mengacuhkanya, ia terlalu malas untuk menjawab satu kata pun.
"Kau tahu, sebuah film akan hancur." Morgan yang baru saja duduk di sofa, langsung menoleh.
Pria itu tersenyum. "Film yang beberapa minggu lalu kutandatangani, akan hancur dan tak akan sukses karena aku telah membatalkan kontraknya," jelasnya dengan bangga, ia duduk di sofa yang bersebrangan dengan Morgan.
Morgan tersenyum simpul. "Memang seberapa pentingnya, dirimu? Sampai film itu tak akan sukses jika kau tak ada?!" ujar Morgan. Bibir indahnya tak mau diam saja, saat teman kuliahnya ini sudah bersikap sombong, rasanya jiwa menghujatnya meronta-ronta ingin menyerang Bryan.
Bryan memutar matanya, Morgan seperti senang membuatnya kesal. Dengan sinis Bryan berkata. "Kau tidak tahu, betapa besarnya pengaruhku di dunia Entertainment. Kucing yang baru lahir saja, akan langsung mengenaliku dan tahu drajatku."
Morgan, menggelengkan kepalanya, merasa lelah. Sepertinya saat pembagian sifat sombong, Bryan berada paling depan. "Baiklah, terserah."
Bryan memainkan poninya, merasa menang. "Kau, tahu tidak? Mengapa aku memutuskan kontrak?"
Morgan, hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Si ular yang tahun kemarin mengalahkanmu di awards?" ejek Morgan sambil tertawa kecil.
Bryan menatapnya kesal. Ia jadi teringat hari dimana dirinya merasa dipermalukan. "Sudahlah. Kau memang menyebalkan. Kau tak tahu betapa buruknya dia. Dia itu egois. Dia selalu ingin jadi yang terbaik!" cecar Bryan. Pria itu merebahkan tubuhnya di sofa. Merasa lelah.
Morgan pun sama, dia merebahkan tubuhnya di sofa, meletakkan tangannya di kening dan menutup mata.
"Bagaimana kabar Claudia?"
Pertanyaan itu membuat Morgan membuka matanya, otaknya jadi memikirkan wajah wanita itu.
Bryan langsung merubah posisinya menjadi duduk. "Apa kau masih mencintainya?!"
Bryan melongo di tempat. "Kau memang masih mencintainya," ucap Bryan lalu merebahkan kembali tubuhnya.
Morgan terdiam. Ia tak tahu tentang keinginannya sendiri.
***
__ADS_1
"Aku ingin masuk!"
"Nona, tak boleh masuk! Pak Morgan tak mengizinkan siapapun untuk masuk! Beliau tidak mau diganggu!"
Wanita yang tak lain Emelly, dia membuka masker hitamnya yang sedari tadi menutupi wajahnya.
"Aku, Emelly Carolyn! Morgan tak akan marah jika aku masuk! Dia pasti mengizinkannya!" seru Emelly yang tak mau kalah.
Sang Satpam melongo di tempat, ia merasa tersihir dalam beberapa detik. Namun dirinya cepat tersadar tentang tugasnya. "Anda, tetap tidak boleh masuk."
"Permisi? Ada apa ini?"
"Maaf Bu, wanita ini ingin menerobos masuk. Namun kata Pak Morgan beliau tidak ingin digangu."
Claudia. Wanita itu tersenyum manis, dia berusaha seramah mungkin. "Maaf atas ketidak nyamannya. Tetapi saat ini Pak Morgan sedang tidak ingin diganggu."
Emelly tersenyum kecut, ia merasa direndahkan. Bagaimana bisa mereka memerlakukannya seperti ini. "Cepat panggil dia!"
"Kami--"
"Panggil dia!" teriak Emelly yang kesal, dia tidak sengaja memotong perkataan Claudia.
***
Pagi ini, Morgan sudah sibuk dengan laptopnya, ditambah tadi malam Bryan mabuk di Apartemennya, ketika mabuk Bryan terus saja mengumpati seseorang yang tak lain wanita yang selalu ia panggil si ular.
Morgan dengan susah payah mengantar Bryan ke Apartemennya yang tepat di sebrang. Sekarang ia kesusahan mengerjakan tugas semalam yang masih tertunda. Tiba-tiba, sebuah suara menggangu aktifitasnya, sepertinya ada keributan di depan pintu masuk. Dengan malas, Morgan pergi ke arah pintu.
"Ada apa ini?" tanya Morgan. Dia menyeringit bingung melihat tiga orang ini.
"Begini Pak. Wanita ini bersikeras ingin menemui Bapak yang sedang tak mau diganggu."
Emelly mendelik kesal.
"Kenapa malah membuat keributan? Seharunya hubungi saya jika ada tamu."
Emelly tersenyum. Namun ia masih canggung. Matanya tak berhenti menatap sosok Morgan.
Morgan tersenyum ke arahnya. "Dan anda. Jika, ingin menemui saya, konfirmasikan terlebih dahulu pada sekretaris saya. Saya tidak akan menemui anda, tanpa pemberitahuan."
Setelah mengucapkan itu, Morgan dengan santainya masuk kembali ke ruangannya.
"Kenapa, dia masuk kembali?" ujar Emelly, Emelly menatap Pak Satpam dan Claudia secara bergantian, ini waktu yang pas. Emelly berlari masuk ke dalam. Setelah masuk, Emelly langsung mengunci pintu agar dua orang itu tak bisa masuk.
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan?!"
Emelly tersenyum paksa, nyalinya semakin ciut saat Morgan menatapnya tajam. Sekarang ia harus bagaimana? Apa yang harus ia katakan pada Morgan?