
Lelaki itu tersenyum manis, dia menjulurkan tangannya untuk membantu Emelly.
Emelly sedikit linglung, ia dengan ragu menerima uluran tangan itu. Ketika sudah berdiripun, ia msih kebingungan. Emelly menatap wajah pria itu, dia memang tampak seperti Jevano, tetapi terlihat jauh berbeda dengan Jevano yang ia kenal.
Emelly, tersadar kembali. "Maafkan, saya. Saya tidak sengaja."
Lelaki itu tersenyum. "Tidak, apa-apa."
Emelly tersenyum canggung, melihat senyuman yang begitu manis membuatnya gugup setengah mati. Apakah, ia jatuh cinta lagi? Batinnya.
"Apa, anda Emelly Carolyn?" tanya pria itu, dia hanya ingin memastikkan.
Emelly terkejut. Dia menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Iya, aku Emelly Zoeyna Carolyn," jawabnya cepat. Dirinya tak sadar, sampai menyebutkan nama aslinya.
Pria itu tersenyum kembali. "Senang, bisa bertemu denganmu. Aku Jevano Adres. Apa kau masih mengingatku?"
Emelly hampir tak menyangka, jadi pria yang baru saja, ia tabrak adalah si cupu Jevano? Sekarang, pria itu berdiri di hadapannya dengan stelan yang keren, dasi kupu-kupu itu sudah tak terpasang lagi di stelannya. Jangan lupakan, wajahnya yang dulu pernah menjadi bahan bullyan, kini berubah menjadi rupawan.
"Mengapa, menatapku? Apa, aku terlihat mengerikkan?"
"Tentu, saja tidak!" sahut Emelly spontan. Sepertinya pria ini sedang merendah untuk meroket.
Jevano terkekeh, senyumannya yang manis membuat tubuh Emelly serasa tersetrum. Wanita itu, memegang jantungnya yang berdetak lebih kencang, ada apa dengan dirinya?
"Kamu, masih sama seperti dulu. Cantik dan anggun."
Rasanya, semua oksigen menghilang, dirinya seperti kehabisan nafas. Apa, Jevano mempunyai kekuatan sampai membuat perasaanya berubah-ubah.
Jevano melihat jam yang terpasang di tangannya. "Maaf, aku ada urusan. Semoga, kita bisa bertemu kembali."
Jevano pergi, sepertinya pria itu berjalan ke arah ruangan Morgan. Urusan apa, dia dengan lelaki itu? Emelly menghela nafas. Seharusnya, ia meminta nomornya sebelum Jevano pergi. Jika sudah begini, kapan lagi ia bisa bertemu dengan pria itu.
"Sudahlah, mengapa aku menjadi begini? Apa, ini karma?" tanyanya pada diri sendiri. Emelly menggelengkan kepalanya, wajah tampan Jevano, harus menghilang dari pikirannya.
Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Violet.
[ "Ayo, bertemu! Aku sudah, menyelesaikan perintahmu." ]
Emelly tersenyum, Violet memang bisa diandalkan. Semoga saja, Seyra tak mengetahuinya, jika perempuan itu tahu, semua akan semakin rumit.
Emelly memperhatikkan alamat yang dikirim Violet. Sepertinya, ia kenal dengan tempat itu.
***
"Karenamu kan?!" bentak Theo yang baru saja datang ke kamar Rion.
Cowok yang sedang memakai pakaian santai itu menegakkan alisnya. Dia bangkit dari aktifitas rebahannya, lalu menghampiri Theo yang sedang berapi-api.
"Apa, maksudmu?" tanya Rion dengan santai.
__ADS_1
"Kau, membentak Kak Melly saat hari acara rapat. Kau, mengatakan hal yang membuatnya sedih! Iya, kan?!"
Rion hanya memutar matanya malas, reaksi Theo sangat berlebihan.
"Kau, tahu? Karena dirimu, Kak Melly sampai tak pulang! Dan, sampai kapan juga, kau akan terus bersikap dingin, pada kami?!"
Rion, mengepalkan tangannya. Topik yang dibahas Theo, berhasil membuatnya kesal. "Lantas, aku harus bersikap bagaimana? Aku menerima kalian sebagai keluarga, dan berbahagai? Kurasa itu semua sangat mustahil!"
Theo, terkekeh sinis. Berbicara dengan Rion harus ekstra sabar. "Aku, tak pernah memintamu untuk menerima kami. Tapi, cobalah bersikap baik pada Kak Melly! Kau tak tahu, betapa dia sangat menyayangimu? Kau tak tahu, dia begitu peduli padamu, sampai membuatku iri."
Theo hanya menghembuskan nafas, menatap Rion yang tak kunjung berbicara. Theo berbalik badan, meninggalkan kamar Rion.
"Apa selama ini, sikapku terlalu kasar? Aku hanya membenci mereka, karena ibu lebih peduli pada mereka, dibanding aku, anak kandungnya."
***
Emelly dan Violet saling tatap. Mereka memperhatikkan rumah kontrakkan yang kecil.
"Apa, ini memang rumahnya?" tanya Emelly memastikkan. Apa anak kecil yang hampir ia takbrak itu adalah adik Cludia?
"Claudia Anita. Dia, anak dari direktur rumah sakit Permata. Dia memiliki sepasang adik. Mereka bernama, Clovi Anita dan Celvin Pramudia Anita."
"Jika, dia orang berada. Lalu mengapa, dia tinggal di sebuah kontrakkan? Apa dia, pura-pura miskin? Atau dia ingin menjadi Cinderella-nya Morgan?" terang Emelly.
Mendengar perkataan Emelly, yang semakin julid, membuat Violet berusaha diam, dirinya tak boleh menghujat atasan. "Aku tak tahu pasti, yang kudengar ayahnya menikah lagi, dan Claudia membawa kedua adiknya untuk pergi bersamanya."
"Mengapa, dia tidak pergi sendiri saja? Mengapa mengajak adik-adiknya untuk hidup di kontrakkan?" tanya Emelly dengan wajah polosnya.
"Ya, tentu. Siapa juga yang bilang, jika itu urusanku," sahut Emelly dengan cuek.
"Lalu mengapa, kau memintaku untuk mencari informasi kehidupannya?"
"Tadinya, aku ingin memberinya uang untuk menjauhi Morgan. Tetapi mendengar kekayaan ayahnya, membuatku mengurungkan niat."
Violet menganga dibuatnya. Sekarang Emelly seperti Maudy, sangat mirip.
"Mengapa, menatapku seperti itu? Kau tak menyangka, jika ada antagonis cantik sepertiku?"
"Kau, memang kerasukkan tokohmu sendiri!"
"Sudahlah! Maudy belum mati!" sahut Emelly yang kesal.
"Tapi pasti, kan?" tanya Violet dengan wajah yang pura-pura lugu.
Emelly hanya memutar matanya malas, namun ketika melihat ke depan. Ia melototkan matanya, dengan cepat ia keluar dari dalam mobil, ketika ingin menutup pintu, Emelly mengingatkan Violet untuk tidak mengejarnya.
"Claudia?"
Perempuan itu, menoleh. Dia terkejut melihat keberadaan Emelly di sekitar kontrakkannya. "Apa, yang kau lakukan di sini?!"
__ADS_1
Emelly tersenyum lebar. "Aku hanya ingin berkunjung. Tetapi mengapa, kau sudah pulang? Ini, masih jam kerja," terang Emelly kebingungan.
"Bukan, urusanmu!" Claudia berbalik badan, wanita itu melangkah cepat ke pintu, ketika ingin menutupnya, Emelly lebih dulu mencegahnya.
"Mengapa, kau membiarkanku? Aku adalah tamu!" seru Emelly yang berusaha menahan pintu.
"Aku, tak ada waktu! Cepat pergi!"
Emelly tak mendengar, wanita itu tetap berusaha membukanya.
Hingga, sebuah mobil hitam datang. Emelly dan Cludia sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
Beberapa pria berpakain serba hitam keluar dari mobil itu, mereka berjalan ke arah kontrakkan. Claudia langsung menutup pintu ketika Emelly lengah.
"Minggir!"
Emelly otomatis menyingkir, walaupun pernah mengambil peran yang pandai berkelahi, tetapi Emelly tak berani melawan. Emelly semakin terkejut saat mereka mendobrak paksa kontrakkan Claudia.
Apakah mereka renternir? Hanya itu yang ada dipikirannya. Beberapa warga keluar, mereka menyaksikkan apa yang terjadi.
Pintu terbuka. Mereka menerobos masuk, salah satu diantaranya mendorong Claudia yang menghalangi pintu.
"Kau, tak apa-apa?"
Cludia tak menjawab, dia hanya menangis. Tangisannya semakin kencang, saat kedua adiknya dibawa oleh mereka.
"Kakak!" teriak kedua adiknya. Mereka menangis, damfak bisa berbuat apa-apa.
Salah satu dari mereka berusaha menjelaskan pada warga, bahwa ini bukan penculikkan, ini adalah masalah keluarga.
"Mengapa, mereka membawa adik-adikmu?!" seru Emelly yang kebingungan.
Para warga hanya bisa terdiam, melihat kedua adik Cludia sudah dimasukkan ke dalam mobil.
"Mengapa, tidak ada yang menolong?!" teriak Emelly. Tetapi warga, malah bubar.
"Ini semua karenamu!"
Emelly menoleh ke samping.
"Jika, kau tak menghalangiku. Mungkin, aku sudah membawa mereka bersamaku!"
Emelly terdiam, dia menundukkan kepalanya. Emelly merasa bersalah.
"Kau sudah membuatku kehilangan kedua adikku! Sekarang, apa lagi yang kau inginkan? Morgan? Aku akan memberikannya!"
Emelly tak menjawab. Rasa bersalah, membuat Emelly fak mau menatap Claudia.
"Ibu dan anak sama saja. Sama-sama suka membuat orang lain menderita!"
__ADS_1
"Apa maksudmu?!"