Love My Fan

Love My Fan
Chapter 9


__ADS_3

☀☀☀☀☀


Malam ini Rully memilih makan di luar, karna sedari tadi Dania tidak henti-henti mengingatkannya untuk makan, di tambah lagi ia tidak ingin makan bersama keluarganya untu saat ini maka Rully memilih untuk makan di salah satu restoran terbaik milik salah satu temannya.


"Selamat malam, sudah lama aku tidak melihat kau makan di restoran kecil ku ini," ujar seorang pria dengan seragam chef putihnya.


"Kau tau kan bahwa aku tidak punya waktu."


Pria itu mengangguk dan matanya beralih pada Dania yang berada di sisi Rully. "Siapa Dia?"


"Tanyakan saja sendiri," jawab Rully tak peduli berjalan duduk di sebuah meja kosong yang sudah ia pesan membuat pria berwajah eropa itu menatap geleng-geleng padanya.


"Siapa namamu nona?" tanya pria itu tersenyum dan membuat Dania kembali berkata.


Sangat tampan


"Dania," jawab Dania tersenyum ramah.


"Nama yang bagus, perkenalkan aku Evan," Pria itu mengulurkan tanganya pada Dania yang langsung disambut oleh gadis itu.


"Apa kau kekasihnya?" tanya Evan jail membuat Dania bergidik ngeri menatap pria itu yang sedang memesan makanan. Jangankan untuk menjadi kekasihnya memikirkannya saja Dania takut, Dania menggeleng cepat menyangkal ucapan pria berambut pirang itu.


"Tentu saja tidak, lagi pula siapa yang ingin menjadi kekasih manusia keji seperti dia," balas Dania membuat Evan terkekeh.


"Tapi kalian terlihat sangat serasi," goda Evan sebelum pergi meninggalakan Dania yang memikirkan ucapan pria berwajah eropa itu.


"Mana mungkin aku serasi denganya,Waniat manis menawan seperti aku cocok dengan pria arogan seperti dia,itu tidak mungkin," gerutu Dania sebelum berjalan kearah meja pria arogan berwajah tampan itu dan duduk di hadapannya.


Dania duduk dihadapan Rully membuat Rully menatapnya. "Apa yang kau lakukan?"


"Duduk tuan," Dania memasang wajah tanpa dosa.


"Siapa yang menyuruh mu untuk duduk?" tanya Rully lagi dengan wajah sombong nan menawan.


"Tapi, Tapi saya..-" Dania kehabisan kata-katanya. Benar juga pria itu tidak mengatakan bawa ia akan makan bersama dirinya kan,-dengan pasrah Dania pun kembali berdiri dari kursi yang tadinya sempat ia duduki.


"Selain arogan ternyata dia juga pria yang pelit."


Rully mengulum senyumnya melihat bagaimana ekspresi Dania sekarang,dengan wajah cemberut serta sedikit semburat merah di pipinya entah karna kesal, atapun malu sangat memuaskan bagi Rully. Dania masih setia berdiri di tempatnya hanya menatap Rully penuh rasa gondok,sampai seorang pria yang terlihat tampak memukau kembali menghampiri mereka.


"Hey, Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Evan melihat Dania yang berdiri dengan wajah kesalnya sedangakan Rully mengangkat bahu acuh.


"Lihat betapa kasiannya gadis manis ini," kata Evan lagi menarik Dania kembali duduk di kursi yang sempat ia duduki tadi, "Aku harap Kau memaklumi tingkah sadisnya."

__ADS_1


"Ah tidak apa-apa," balas Dania menatap Rully, "Saya sudah biasa dengan semua perlakuan dan tingkah Mr. Arogant ini," katanya lagi mendelik pada Rully sedangkan yang di tatap malah terlihat biasa saja dan tidak peduli.


Sambil menunggu makanana datang,Dania dan Evan terlibat beberapa pembahasan kecil, seperti sejak kapan ia mengenal Rully dan hal itu juga tak sengaja membuat Dania tahu bahwa Evan adalah salah satu temen dekat Rully walau tidak sedekat Reza dan dua sahabatnya yang lain. Saat mereka sedang asik membicarakanya, yang di bicarakan hanya duduk manis tanpa bersuara dengan ekspresi congkak seperti biasanya.


"Kakak," teriak seorang gadis membuat perhatian ketiga manusia itu langsung terarah pada asal suara dan di sana tamapak gadis menggunakan dress ketat berjalan ke arah mereka.


"Ada apa?" tanya Evan terlihat galak tapi tersirat nada sayang pada adiknya itu,- sangat berbeda sekalih dengan Rully tentunya.


"Aku sangat lapar," ujarnya cemberut dan langsung mendudukan diri di sebelah Rully.


Evan menghela nafas sejenak sebelum kembali berujar. "Hm, Angel jangan manja pesan lah makananmu sendiri," kata Evan menatap gadis yang bernama Angel itu.


"Dan kenapa kau duduk di sana," sambung Evan menatap Angel yang seenaknya duduk di sebelah Rully, "Pindah," titahnya.


Gadis bernama Angel itu menggeleng dengan memanyunkan bibirnya membuat Evan menatapnya galak. "Angle," panggilnya memperingati.


"Sudahlah biarkan dia makan di sini," bela Rully membuka suara karna tidak suka melihat perdebatan adik dan kakak itu, sedangkan yang di bela menampilkan senyum kemenanganya.


"Jangan terlalu memanjakan gadis bodoh ini," kata Evan memukul pelan kepala adiknya yang membuat gadis itu bedecih tidak suka.


Rully menatap Evan memperingati sedangkan Dania menatap heran akan sikap Rully yang begitu baik pada Angle yang tak lain adalah adik sahabatnya. "Jangan manjakan dia,masih ada aku yang akan memanjakan anak ini."


Dania bersorak ria membatin setuju akan pemikiran Evan bagaimana tidak prilaku nya pada Angle berbeda dengan prilakunya pada Taya, dan mengenai Angle menurut Dania sangat ketara ingin mencuri perhatian Rully. Dania yakin bahwa gadis di hadapannya sekarang seumuran dengan Taya, namun dandanan gadis itu terlihat lebih tua dari usianya.


Rully langsung menyantap makananya setelah pelayan membawa makanan ke meja mereka dan tidak ketinggalan Dania pun ikut serta menyantap makanan mewah itu untuk beberapa saat meja itu menjadi hening hanya dentingan sendok yang mendarat kepiring lah yang terdengar sampai tiba-tiba terdengar deringan ponsel yang di yakini Dania adalah ponsel Rully.


"Kita pulang sekarang," kata Rully tiba-tiba membuat Dania heran.


"Hah??" Dania tampak terkejut dengan ucapan tiba-tiba pria itu.


Tanpa memperdulikan keterkejutan Dania, Rully langsung merapikan jasnya serta berdiri dari meja mereka menarik Dania keluar dari restoran, tanpa sempat berpamitan pada Evan dan meninggalkan Angle yang menampilkan ekspresi bingung sekaligus kesal saat melihat Rully yang menarik tangan Dania membawa gadis itu meninggalkan restoran.


Dania berdiri menatap heran kepada kedua wanita beda usia yang saat ini sedang mendudukkan diri di sofa ruang tamu dengan tatapan yang membuat Dania heran, suasana rumah megah ini mendadak berubah menjadi rumah hantu dengan aura mencekam dari kedua wanita itu. Bagaimana tidak setelah Rully mengajaknya pulang secara mendadak tanpa sempat ia menghabiskan makanan yang tadi di pesan, Dan sekarang ia malah di suguhkan dengan sosok dua kuntilanak beda generasi yang entah kapan sudah berada di sini tapi yang jelas sekarang sudah bergabung dengan pria arogan keras kepala dengan wajah tampan di ruang tamu yang Dania yakini sangat jarang atau mungkin tidak perna di duduki pria itu sama sekali.


"Who is she?" wanita cantik dengan rambut pirangnya menatap Dania seperti menilai.


Mendengar pertanyaan wanita itu Dania yang sudah hampir menjawab pertanyaan wanita pirang ber drees ketat itu langsung di potong lugas oleh Rully. "Asisten pribadi."


Dania hampir melongo sebelum berubah gondok saat mendengar penuturan cuek Rully, mengingat ia yang tidak perna mencalonkan diri menjadi asisten pria itu.


Sejak kapan dirinya menjadi pembantu pria itu?


"Bisa kau suruh dia pergi R?" ujar wanita berambut pirang itu dalam bahasa bule yang masih Dania mengerti.

__ADS_1


"Dia perlu disini J."


Wanita itu langsung bungkam mendengar penuturan dengan kalimat lembut tetapi menusuk dari pria tampan itu.


Mata Safir Rully beralih pada wanita parubaya yang sedari tadi sibuk dengan ponsel di tanganya terlihat sangat sombong dan congkak persis seperti Rully, mungkin sekarang Dania tau darimana Rully mendapatkan sifat arogan yang sangat kental itu.


"Apa tujuan Oma ke mari?" wanita paru baya itu langsung mendongakkan wajah cantiknya yang terlihat sudah menua kearah sang cucu.


"Menurut mu untuk apa aku kesini R? apa kau tidak merindukanku?" Rully menatap biasa wajah wanita parubaya itu seolah tidak terkontamidasi dengan ucapan Oma nya itu, tak bebeda jauh juga dengan sang Oma yang juga hanya menampilkan wajah biasa seolah tidak tersirat kerinduan di dalamnya.


"Ayolah Oma, aku hanya belum menemuimu 6 bulan," ujar Rully dan sekarang wajah tampannya mulai menampilkan ekspresi jengah.


"6 bulan itu lama R," kata wanita muda itu menyela membuat Rully langsung menatapnya.


"Aku tida suka di sela J," Balas Rully kembali tajam membuat gadis seksi nan cantik itu langsung terdiam.


"Janne benar R, 6 bulan bukan waktu yang singkat untuk ku, memangnya apa yang membuatmu nyaman di tempat ini," Balas sang Oma, Dania dapat melihat kesinisan dari ucapan dan tatapannya tak terkecuali saat mata wanita parubaya itu tak sengaja menatapnya, terlihat sangat tidak suka.


"Oma," tegur Rully masih tenang tetapi Dania bisa merasakan ada aura permusuhan antara mereka dengan si pemilik rumah istana ini, mata Dania juga sempat menyusuri rumah ini tetapi tidak ada siapapun kecuali pelayan yang menyambut mereka.


"Pulang R, hari pertunanganmu dengan Janne sudah di tetapkan jadi jangan terus menghindar."


Dania langsung terkejut mendengar ucapan wanita paru baya itu mengenai pertunangan Rully dengan gadis yang Dania yakini sedang duduk berhadapan dengan pria itu dengan wajah yang merona nan ceria.


"Jangan bermain-main dengan ku R," ancam wanita itu dan kembali dengan ponsel pintarnya meninggalkan Rully yang menghela nafas kasar menatap gadis sempurna di hadapannya.


Kecantikan Janne memang tidak bisa di pungkiri lagi dengan wajah mulus,mata biru berkilat, bibir merah,dengan riasan indah tubuh tinggi dengan kulit putih mulus dan Oh shit sekarang mungkin Dania yakin bahwa dengkul wanita itu bakan lebih bagus dari wajahnya yang berminyak.


kalau sosok yang dijodohkan dengannya sesempurna itu lalu apa alasanya untuk menolak?


Semua wanita itu cantik, hanya saja


Yang membedakan bukan bentuk wajah tetapi bentuk hati.


Dan ia belum bisa melihat dengan jelas perbedaan itu..


-------------------------------


TO BE CONTINUE...


--------------------


Daku kembaliiiii....😁😁😁

__ADS_1


Yang masih stay reading jangan bosen-bosen ya...😘😘 love you all


Vote+koment selalu tinggalkan ya


__ADS_2