Love My Fan

Love My Fan
Chapter 12


__ADS_3

☀☀☀☀☀


"Huaaa.... Dion," Dania berlari memeluk seorang lelaki yang duduk di atas karpet di sebuah taman terlihat sangat sibuk dengan kampasnya. Mendapat pelukan dari Dania membuat pemilik kampas langsung membalas pelukan gadis itu dengan ekspresi tak percaya.


"Dari mana saja? kau terlihat sangat sibuk akhir-akhir ini," ujar lelaki yang dikenal dengan nama Dion itu melepas pelukan mereka.


"Ya begitulah, bagaimana dengamu kau juga tampak sibuk dengan kampas dan kuas itu," balas Dania yang lebih terdengar seperti sindiran.


"Ya, cukup menyenangkan rasanya saat disibukan dengan Hobby," ujar lelaki itu menatap kearah kuas dan lukisannya.


Dania mengikuti tatapan Dion yang menatap pada lukisan itu. "Bagus tapi..-," pujinya terfokus menatap lukisan itu.


Dania melihat lukisan itu menggambarkan sebuah lorong gelap yang memiliki sedikit cahaya temaram dengan jejak hitam memenuhi lantai. "Lukisanmu terlihat aneh."


Dion menutup lukisannya sebelum berujar. "Ini belum selesai, nanti kalau sudah selesai akan ku tunjukan padamu."


Dania terdiam menatap pelukis itu. "Aku tidak perna melihat mu membuat lukisan seaneh ini, dari mana kau terinspirasi?"


"Entahlah aku hanya tertarik untuk membuat sebuah lukisan yang sedikit berbeda dari biasanya," jawab Dion.


Dania hanya diam dan menatap lelaki atau lebih tepatnya bocah berjenis kelamin lelaki itu kagum, bagaimana tidak bocah berusia 12 tahun itu berhasil membuat ribuan lukisan yang mampu mencengangkan dirinya yang sudah pasti menggambar bentuk hati saja terkadang berbeda antara sebelah kanan dan sebelah kiri, sedangkan boca itu bisa membuat lukisan yang mampu dilebel jutaaan dolar oleh parah kolektor pecinta seni.


"It's so amazing right?"


kalau tadi awalnya kalian berfikir bahwa bocah berusia 12 tahun ini adalah pria dewasa yang tampan, mempesona layaknya seniman seniman muda di cerita-cerita romansa berarti kalian salah ya walaupun ia juga memiliki paras yang tampan dengan kulit putih bersih, dan hidung mancung dan kaca mata yang bertengger disana serta lukisan yang mampu memukau siapa saja namun kenyataanya apapun kelebihan yang dimiliki bocah bernama Dion, ia ini tetaplah ia hanya seorang anak berusia 12 tahun.


"Kenapa kau kemari?" tanya Dion pada Dania yang sudah mengambil posisi duduk di sebelahnya.


"Kenapa? apa tidak boleh?" Dania terlihat menaikan alisnya menatap anak itu.


"Tidak, hanya saja ku kira kau sibuk dengan pria itu," jawab anak itu kembali fokus mencelupkan kuas pada cat nya.


"Aku bebas tugas hari ini," jawab Dania menekuk lututnya dengan menopang dagu.


"Kenapa kau terlihat tidak senang?"


"Ntahlah Di, aku hanya merasa ada yang aneh pada keluarga itu," curhat Dania menekuk wajahnya, sangat tertekan dengan semua hal yang sulit untuk ia pahami.


"Kau harus mencari tau, kalau hanya diam kau bisa mati penasaran," ujar anak itu membuat Dania langsung menatapnya kesal. Merasa tak habis pikir bagaimana anak itu bisa mengeluarkan kalimat sindiran dengan santainya.


"Hey, kau menyindirku?" Dania menatap bocah itu tajam dengan raut wajah kesal.


"Apa? Aku hanya membermu solusi," tegasnya dan kembali menorehkan kuas itu di atas kampas yang sudah berisikan separuh hasil lukisannya.


"Hm.. Sepertinya kau benar, tapi bagaimana caranya?"


Dion menatap wanita yang selisih 14 tahun darinya itu tak percaya bagimana mungkin seorang wanita dewasa bisa memiliki fikiran sedangkal itu, "Kau bisa mecari tau dari semua alasan yang membuatmu merasakan keanehan selama ini."


"Ah aku bingung, lagipula itu urusan pribadi mereka."


Dania kembali menopang wajah di lutunya merasa sulit dengan semua situasi itu, sedangkan Dion hanya menaikan bahu acuh sebelum kembali pada lukisanya.


Hmm..anak itu


Terkadang Dania heran seberuntung apa orang tua dari bocah ini sehingga di beri anugrah memiliki anak secerdas dan sedewasa Dion. Bahkan terkadang malah anak itu yang berfikir jauh lebih dewasa dari dirinya yang hampir berusia 26 tahun namun masih memiliki pikiran kekanak-kanakan. Contohnya saja sekarang saat dirinya merasa bingung malah anak itu yang memberikan solusi dan balik menceramahinya.


☀☀☀☀☀☀


Setelah bertemu bocah cerdas di siang hari dan ditengah malam di kediaman Danuarta. Dania berjalan menyusuri lorong rumah megah itu menggunakan piamanya, saat melewati ruang utama menuju dapur tanpa sadar langkahnya terhenti saat melihat sesosok makhluk yang ia yakini masih bernafas duduk di sana di sudut ruangan gelap. Ya walaupun Dania sendiri yakin bahwa seluruh ruangan ini gelap karna lampu utama yang sudah di matikan.


"Sedang apa?"


Dania hampir saja terperanjat saat mendengar suara bariton yang langsung ia kenali, sedangkan pria itu masih diam tanpa berniat berbalik atau setakat melihat kearahnya.


"Aneh harusnya aku yang bertanya begitu."


"Saya ingin mengambil air, sedangkan anda. Apa yang anda lakukan disini tuan?" tanya Dania berjalan mendekat kearahnya.


"Nothing."


"Tidak ada, tetapi anda duduk di tempat gelap merenung sendirian seperti ini?" tanya Dania menatap wajah pria itu.

__ADS_1


"Apa tidak boleh?" balas pria itu membuat Dania merasa tidak enak.


"Eh.. Saya tidak bermaksud begitu tuan."


Mendengar jawaban Dania pria itu menampilkan senyumannya membuat Dania yang melihat hal itu jadi merasa aneh.


"Hm.. Duduklah dan temani aku, sudah lama aku tidak di temani oleh wanita cantik," ujarnya menepuk sisi sofa sebelahnya yang membuat Dania merasa malu dan tidak enak karna di puji oleh anak bosnya itu.


"Ayolah aku tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak padamu," ujarnya lagi membuat Dania langsung duduk di kursi yang berbeda namun cukup dekat dengan pria itu.


"Apa yang anda pikirkan? Dan duduk sendirian di tengah malam seperti ini?"


Dania menatap pria itu lekat, ia tidak tau kenapa dunia masih menyisahkan pria lajang, mapan, baik hati, nan tampan ini, kemana perginya para gadis yang mengincar pria langkah seperti ini.


"Tidak ada, hanya duduk sendirian di kegelapan seperti ini dapat menghilangkan penat karna bekerja seharian," jawabnya yang membuat gadis di sebelahnya itu langsung mengangguk dan ber oh ria.


"Tuan boleh saya bertanya satu hal?" ujar Dania ragu.


"Tentu, apa yang ingin kau tanyakan?"


Dania terdiam cukup lama sampai sebuah pertanyan keluar dari bibinya,"Apa penyakit Amnesia itu ada?"


Pria yang tak lain adalah Arga itu menampilkan ekspresi terkejutnya akan pertanyaan aneh Dania sedangkan Dania langsung gelagapan bingung bagaimana ia menjelaskanya.


"Hm maksud saya... Sebagai dokter mungkin anda tau," ralatnya lagi sedangkan pria itu masih diam dengan alis yang terangkat.


"Kenapa kau menanyakan itu?"


"Tidak saya hanya ingin tau saja," jawab Dania cepat yang membuat pria yang bergelar Dokter spesialis bedah itu kembali terdiam.


"Ada, penyakit Amnesia itu ada dan beberapa orang yang ku tangani perna mengalaminya," jelas Arga setelah cukup lama terdiam.


"Kalau saya boleh tau apa-apa saja penyebab penyakit itu tuan?"


"Baiklah Nona Dania, Sepertinya kau harus mengganti panggilan 'Tuan' mu menjadi 'Dokter' sekarang," canda Arga terkekeh.


"Ah maaf," ujar Dania menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Amnesia itu kondisi dimana terganggunya daya ingat pada manusia, dan penyebabnya itu bisa bermacam-macam seperti terkena benturan keras, stres, koma panjang, trauma, dan beberapa penyebab lain," jelas Arga.


"Ya, tapi kenapa kau tiba-tiba ingin tahu tentang penyakit itu?"


"Tidak, saya hanya penasaran apakah penyakit itu benar-benar ada dan kalau memang ada, saya ingin tau penyebabnya."


"Aneh sekali, tentu saja penyakit itu ada hanya saja penyakit itu sangat jarang di temukan," jelas Arga lagi.


"Ah.. Saya pikir itu hanya ada di drama-drama yang selalu saya tonton," kekehnya terlihat sangat dipaksakan.


"Baiklah, sepertinya sudah sangat larut kalau begitu saya akan kembali kekamar," ujar Dania bangun dari duduknya.


"Ohya sebaiknya anda juga beristirahat tuan, tidak baik dokter yang sibuk seperti anda sampai terjaga semalaman," sambungnya lagi sebelum berlalu pergi.


Setelah meninggalkan Arga sendiri, Dania kembali berjalan menyusuri beberapa lorong gelap rumah itu menuju kamarnya sampai bertemu dengan Arga membuatnya melupakan apa tujuanya tadi keluar dari kamar. Di perjalan Dania larut dalam pikiranya mengenai Arga yang suka sekali duduk sendirian di malam hari,sebenarnya bukan hanya baru kali ini Dania melihat pria itu duduk sediri di kegelapan tetapi sempat beberapa kali semenjak kepulangan pria itu ke rumah mega ini.


"Dari mana?"


"Astaga... " reflek Dania berjengkit karna terkejut dengan sosok yang tiba-tiba berdiri menjulang di depan pintu kamar yang berhadapan dengan kamarnya.


"Huft.. Mengejutkan saja," keluh Dania mengelus dadanya menatap kesal pada sosok pria yang malah menampilkan ekspresi menyebalkanya.


"Kenapa Anda belum tidur tuan?" tanya Dania, "Apa anda masih bekerja selarut ini?


"Apa aku harus menjawab semua pertanyaanmu?" Rully menaikan alisnya dan melipat kedua tanganya di depan dada bersandar pada pintu kamarnya.


"Ah tidak perlu tuan, pertanyaan saya tidak penting," jawab Dania berlalu akan masuk kekamarnya.


"Tugasmu akan selesai saat aku tidur,begitu kalau tidak salah."


Dania langsung menghentikan langkahnya saat mendengar penuturan lebih tepatnya sindiran dari pria arogant itu, dan tampak menghela nafas sejenak sebelum kembali membalikkan tubuhnya menghadap pria arogant itu.


"Oh begitukah?" tanya Dania dengan ekspresi menahan kekesalanya yang dibalas pria itu dengan menaik turunkan kepalanya seperti mengangguk. "Ah.... baiklah kalau begitu bagaimana kalau anda tidur sekarang agar tugas saya selesai."

__ADS_1


"Menarik, tetapi sepertinya aku malas tidur malam ini," balasnya santai yang berhasil membuat Dania menganga tak percaya.


Malas?


Baru kali ini Dania mendengar ada seseorang yang malas untuk tidur, biasanya orang tidak tidur karna sibuk, tidak bisa tidur, tetapi pria dihadapanya sekarang ini mengatakan alasan yang sangat sulit di percaya yaitu, Malas.


He is joking??


"Jangan bercanda tuan, anda harus tidur sekarang kalau tidak anda bisa jatuh sakit," ujar Dania berjalan membuka pintu kamar pria itu dan menyuruh si empunya masuk kesana.


"Ah aku rasa ingin meminum secangkir kopi malam ini," bukannya masuk kemarnya pria itu malah berlalu meninggalkan Dania yang menatapnya tak percaya.


"Kopi? Di tengah malam seperti ini?" gumamnya menatap punggung tegap pria itu.


"Kenapa sekarang manusia itu menjadi sangat aneh," kesalnya sebelum berlari menyusul Rully yang ia yakini menuju dapur.


"Ini sudah larut tuan, kafein akan mempersulit anda tidur nanti," pujuk Dania berusaha mengimbangi langkah lebar pria itu.


Sedangkan Rully hanya berjalan santai tidak memperdulikan gadis yang sedari tadi berbicara di sampingnya.


"Bagaimana kalau susu, itu lebih baik," kata Dania masih berusaha membujuk pria itu.


"Ah benar kopi dengan susu terlihat bagus," ujarnya duduk di pantri mengabaikan segala ucapan Dania.


Keras kepala


"Ayolah tuan, anda akan sulit tidur bila meminum kopi."


"Apa aku harus meminta ijin untuk meminum apa yang aku mau?" baiklah kali ini pria itu kembali dengan wataknya arogant, keras kepala, dan sangat menyebalkan menurut Dania.


"Baiklah," ujar Dania pasrah duduk di hadapan pria itu.


Rully yang melihat Dania duduk di hadapanya pun menaikan alis. "Apa yang kau lakukan?"


"Duduk," jawab Dania polos.


"Kalau kau duduk disini, lalu siapa yang akan membuatkan kopi?"


"Jadi maksud tuan saya yang membuat kopinya?" tanya Dania tak percaya.


"Ayolah kucing liar, Apakah kopi itu akan tersaji sendiri di atas meja tanpa kau buat?"


Dania menatap kesal pada pria itu sebelum turun dari kursinya dan masuk ke area dapur untuk membuatkan kopi yang di inginkan pria itu.


"Jangan ada gula," ujarnya di sela-sela aktifitas Dania.


"Kenapa?"


"Aku tidak suka."


"Pantas prilakunya tidak manis sedikitpun, hobbynya meminum kopi pahit ternyata," gumam Dania yang mampu di dengar pria itu.


"Kalau ingin mengatakan sesuatu langsung saja pada orangnya," ujar Rully dari pantri.


Dania yang sudah datang membawa kopi dan segelas air putih untuk dirinya pun menatap pria itu penuh rasa gondok.


"Kopi anda tuan," ujarnya dengan senyum terpaksa menyodorkan secangkir kopi pada pria arogant itu.


"With milk? Lumayan," komentarnya yang menyeruput kopi itu.


"Kenapa anda tidak tidur, bukankah anda bekerja besok?" tanya Dania lagi yang sudah kembali duduk dan meminum air putihnya.


"Aku bos jadi mau bekerja atau tidak aku rasa tak ada yang akan mempermasalahkanya," sombongnya membuat Dania menatapnya horor.


"Oh ya baik bos."


Kenapa dia sangat menyebalkan? ada apa denganya malam ini?


Ada dua alasan yang membuat perlakuan seseorang berubah yaitu rasa sayang yang mulai tumbuh atau rasa bosan yang sudah datang.


TBC......

__ADS_1


----------------------------------------------------


Jangan lupa vote+coment nya


__ADS_2