Love My Fan

Love My Fan
Chapter 3


__ADS_3

Rully keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana bahan, kaos polo dan rambut yang masih basah namun tidak ada handuk yang ia pegang atau menempel pada tubuhnya seperti kebanyakan orang, karna ia terbilang pria yang pembersih dan sangat rapih serta tidak menyukai sesuatu yang kotor.


Rully berjalan ke arah ranjangnya untuk segera membaringkan tubuh lelah yang sudah seharian beraktivitas. Tetapi hal itu terhenti saat matanya menangkap sosok gadis yang sama masih berada di kamarnya, namun kali ini sudah berganti paian menggunakan celana tidur dan kaos oblong.


"Kenapa kau masih di sini?" tanya Rully melihat kehadiran Dania.


"Apa anda lupa tuan?" Dania berjalan kearah Rully. "Baiklah akan saya ingatkan kembali, bahwa tugas saya di sini adalah mengawasi anda dari anda bangun tidur sampai anda tidur kembali di malam hari," terang Dania yang sekarang sudah berdiri di hadapan Rully.


"Boleh ku tanya sesuatu?" tanya Rully dengan nada yang lebih santai membuat Dania sontak bersemangat.


Dania memberikan anggukan antusiasnya. "Tentu saja," bagaimana tidak si beruang hutan mau berbicara padanya. itu sebuah pencapaian yang gemilang bukan?


"Berapa pria tua itu membayar mu?" tanya Rully dengan suara yang kembali seperti biasa denga bersedekap dada, membuat Dania menatapnya malas.


Dania berjalan gontai dan duduk di sofa besar sebelah ranjang Rully tanpa seijin tuanya dengan menyilangkan kedua kaki jenjangnya di sana.  "Selama misi ini belum selesai maka saya tidak akan di bayar sepeserpun oleh ayah anda tuan."


Rully menaikan alisnya tampak berfikir, "Begini, aku akan memberi mu bayaran dua kali lipat dari yang akan pria tua itu janjikan pada mu, tapi dengan syarat kau harus pergi dari sini dan jangan perna muncul di hadapan ku lagi, bagaimana?" tawar Rully yang membuat Dania menggeleng keras.


"Hm tawaran yang menarik tapi tidak bisa. Asalkan anda tau tuan, apabila saya pergi dari sini sudah bisa di pastikan bahwa anda tidak akan perna bisa melihat saya lagi walaupun anda sendiri yang menginginkanya," jelas Dania.


bRully tampak menaikan alisnya. "Apa pria tua itu mengancam mu?"tanya Rully curiga.


"Tidak juga," Dengan santai Dania membaringkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar Rully, dengan tuannya yang entah sejak kapan sudah duduk seraya memangku laptopnya menatap kesal Dania, sebelum kembali menatap benda persegi itu. Jujur walaupun Rully selelah apapun ia tetap tidak akan bisa tidur selama 8 jam seperti orang pada umumnya. Dan hal itu terjadi sejak kejadian yang menyakitkan di masa lalu yang membuat matanya sangat sulit untuk tertutup, bahkan ia tidak tau apa rasanya terlelap dan bangun kesiangan.


Mata Rully beberapa kali mencuri pandang pada Dania yang hanya fokus menatapnya tanpa berkedip.  Kadang Rully berfikir dari mana pria tua itu mendapatakan gadis seberani dan sekeras kepala Dania bahkan gadis satu ini sangat ganjil dari beberapa orang yang sempat di perintahkan untuk mengawasi dirinya sebelumnya. Saat Rully terlarut dalam pikiranya tiba-tiba saja sebuah ingatan beberapa hari lalu terlintas di otaknya yang membuatnya tersadar bahwa gadis ini lah yang kemaren mempermalukan dan merusak jas mahalnya waktu itu.


"Jangan menatap seorang gadis seperti itu tuan, itu tidak sopan," Rully langsung tersentak dan mengalihkan pandanganya saat mendengar ucapan Dania dan kembali fokus pada laptopnya tanpa berniat membalas ucapan pesuruh Bramantio itu.


Setelah menyelesaikan pekerjaanya hampir tengah malam Rully meletakan laptopnya dan mulai kembali mencoba membaringkan tubuh lelahnya di ranjang, namun sebelum itu ia menyempatkan diri menatap Dania sekilas yang sudah menutup mata nya. Tak menunggu lama pria bermata biru itu membalikan tubuhnya memunggungi Dania dan mulai menutup mata mencoba untuk masuk ke dalam dunia mimpi, dan semua gerak gerik itu tak luput dari pengelihatan Dania yang tanpa Rully sadari mengintip dari balik bulu matanya. Sebenarnya Dania sedari tadi tidak tidur dan menunggu kapan tuan mudanya itu akan tidur. Bukankah itu tugasnya?


Jam 2 pagi Rully terbangun dari tidurnya, seperti malam malam sebelumnya mimpi itu selalu menghantuinya menggerogoti pikiranya hingga mengganggu tidurnya disetiap malam yang membuat dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak selama 8 jam seperti apa yang sebelumnya di anjurkan Dokter.


Pria tampan dengan surai coklat itu menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur dengan keringat yang sudah membasahi dahi mulusnya, tak berapa lama pria berdarah Indonesia-Spanyol itu pun bangun dari tempat tidurnya berjalan menuju kamar mandi dan langsung membasuh wajah lelahnya yang bercucuran keringat seperti sehabis lari maraton, ia melihat bayanganya di cermin wastafel yang berada di hadapanya. Setelah selesai membasuh dan mengelap wajah basahnya dengan handuk kecil, Rully kembali berjalan keluar dari kamar mandi dan kembali menuju ranjangnya.

__ADS_1


Tetapi langkahnya terhenti saat menyadari sofa yang tadi di isi sesosok makhluk yang beberapa jam lalu sempat mengganggu hidupnya kini tidak terlihat lagi di sana, heran tetapi karna malas memikirkan hal itu ia pun kembali menghempaskan tubunya di ranjang king size miliknya dan kembali menutup mata walaupun ia sendiri yakin seperti malam-malam sebelumnya ia tetap tidak akan bisa kembali terlelap.


                    ☀☀☀☀☀☀


Di sisi lain seorang gadis duduk di pinggir kolam dengan kaki jenjangnya yang ia celupkan di kolam tersebut seraya menikmati sunyi dan dinginya malam seorang diri, namun aktivitasnya terhenti saat ia menyadari kehadiran sesosok makluk yang berdiri di sebelahnya.


"Apa yang anda lakukan di sini nona?" tanya Dania pada gadis yang masih duduk di pinggir kolam itu.


"Hanya menenangkan pikiran dan hati yang sedang kalut," jawab gadis itu tampak tak terkejut dengan kehadiran Dania.


"Sedangkan kakak, apa yang kakak lakukan di sini?" tanya gadis itu balik, Dania menaikan bahunya acuh kemudian ikut bergabung bersama putri semata wayang keluarga Danuarta itu untuk duduk di sebelah gadis cantik dengan wajah baby face itu.


"Dan bukankah seharusnya kakak berada di kamar Kaly," sambungnya lagi.


'Kaly' itulah panggilan kesayangan gadis remaja itu untuk sang kakak yang sangat ia sayangi, yang bahkan tidak perna memperlakukanya dengan baik atau pun memperdulikanya.


Dania tersenyum memang sebelum Dania di kenalkan pada Rully, Dania sempat di kenalkan Bramantio atau Bram pada seluruh anggota keluarga lainya terlebih dahulu, sehingga sekarang ia tau bahwah gadis ini adalah adik dari pria arogan yang akan mulai menyusahkan hidupnya, begitu pula dengan gadis ini bahka mereka sudah terlihat akrab walaupun usianya hanya berselisih beberapa tahun denga putri sulung bosnya itu.


"Pria arogan itu sedang tidur, lagi pula saya juga tidak harus menjaganya seperti bayikan?" ujar Dania malas, gadis bernama lengkap Adettaya Danuarta itu mengangguk diiringi senyum gelinya.


"Jangan kaku begitu kak, aku tidak suka bahasa yang terlalu formal," ujar gadis itu santai pada Dania. "Terlalu membosankan, panggil aku Taya saja," sambungnya lagi.


"Ya kamu benar Taya," Balas Dania tersenyum.


Adettaya Danuarta lebih dikenal dengan nama Taya, putri sulung keluarga Danuarta. Gadis remaja yang duduk di bangku perguruan tinggi yang akan menyelesaikan pendidikan perguruan tingginya nya tahun depan, Taya memiliki wajah yang sangat mirip dengan Rully bahkan sangking miripnya menurut Dania Taya adalah Rully versi perempuan dan versi imut, tetapi Taya harus kehilangan kecerianya karna sikap dingin dan kasar sang kakak yang sangat ia sayangi, bahkan Dania dapat melihat bahwa Taya sangat menyayangi Rully dan selalu membanggakan Rully padanya dan mengatakan bahwa kalau kakaknya itu bukan hanya tampan tetapi sebenarnya juga baik.


                        ☀☀☀☀☀


Seperti pagi-pagi biasanya Rully memasuki kantor dengan ekspresi datar, tegas, dan arogannya, tetapi sedikit berbeda pagi ini karna sekarang sudah ada Dania yang sudah siap mengekorinya kemana pun ia pergi tak perduli seberapa sering ia membentak maupun memarahi gadis itu.


"Christy jadwalku hari ini," ujar Rully singkat, dan karna sudah hafal dengan hal itu Christy pun langsung menyebutkan semua hal yang akan Rully lakukan hari ini.


Dania hanya mendengar dan menyimpan setiap hal yang akan di lakukan Rully di otaknya. Sedangkan Rully tidak memindahi Dania yang terus saja mengikutinya walaupun ia sudah menghadiahi Dania dengan seribu makian tapi wanita itu masih saja kekeuh mengikutinya.

__ADS_1


Karna merasa Dania tidak akan berhenti dan akan terus mengekorinya, Rully pun berhenti tepat di depan lift yang biasa ia naiki kemudian berbalik menghadap gadis itu dengan menghela nafas kasar, sedangkan yang di tatap hanya menaikan alisnya.


"Kenapa berhenti tuan?" tanya Dania tanpa rasa bersalah.


"Begini, kau sebut saja berapa yang kau mau dan setelah itu pergilah,"  tawar Rully sudah tak sabar lagi, tapi Dania malah menggeleng tegas membuat rasanya emosi Rully sudah mencapai ubun-ubun dan sebentar lagi akan meledak.


"Baiklah kalau kau tidak mau ku usir dengan cara halus, Maka akan ku lakukan dengan cara yang kau inginkan," ujar Rully dengan seringai membuat Dania bingung, dan merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi sebentar lagi.


"SECURITY..!! " teriak Rully emosi membuat para kariwan yang sedang berlalu lalang di sana langsung terdiam dan menatap wajah Rully yang terlihat santai walaupun ia hampir saja membuat kariawanya terkena serangan jantung dengan suara basnya yang menggema di lobby kantor.


Tak berapa lama datang dua orang security berbadan tegap dengan wajah yang sangar menghadap Rully dengan patuh dan hormat.


"Bawak gadis ini pergi dan jangan ijinkan dia masuk tanpa seijinku, dan kalau sampai ia berhasil masuk kalian ku pecat," perintah Rully tanpa aba-aba dan langsung masuk kedalam lift.


Di sisi lain setelah kepergian Rully. Dania menatap kedua orang berbadan besar itu dengan tatapan memelas, walaupun Dania bisa beladiri tetapi ia juga bukan seperti kebanyakan wanita di film-film action yang bisa menang melawan pria berbadan besar seperti dua security di hadapanya sekarang.


"Nona, Anda mau kami seret atau berjalan sendiri ke luar," tawar security yang bertubuh gelap pada Dania.


Dania menampilkan senyum terpaksanya kemudian berkata. "Saya bisa jalan sendiri, permisi," Dania langsung ngacir keluar dari gedung megah itu kemudian dan merogoh benda persegi berukuran pipi dari saku celananya.


"Ya," sapa seseorang dari sebrang sana saat telefon telah tersambung.


"Maaf tuan keadaan tidak terkendali." ujar Dania to the poin dan terdengar gumaman dari seberang sana.


"Sudah ku duga,"


Terkadang lebih mudah mengendalikan seekor kucing dari pada mengendalikan seorang manusia yang sudah berakal.


Dan itu adalah hal yang harus ia hadapi.....


-----------------------------------------------------------


TBC....

__ADS_1


Maaf kalau ada typo yang tidak bisa di kendalikan...😊😊


__ADS_2