
Seorang pria parubaya duduk murung di sebuah kursi kayu tua dengan pandangan yang lurus menatap kolam ikan dengan hiasan pancuran air buatan yang terlihat indah bersinar terkena pancaran sinar bulan, memantulkan wajah duka sang pria.
"Apa lagi yang wanita itu mau sekarang?" ujarnya pelan dengan pandangan yang masih tetap sama.
"Melukaimu, dan membalaskan semua rasa sakit putrinya."
"Apa dengan menjadikan cucu yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri sebuah boneka, tidak cukupkah selama ini dia mencuci otak anak itu untuk membenci ku?" ujarnya penuh dengan rasa yang campur aduk, pria yang tak lain adalah Bramantio Danuarta itu berdiri dari duduknya dan menatap sang istri yang sedari tadi hanya diam mematung dengan tatapan penuh luka.
"Andai kamu tidak memulai semuanya mungkin anak malang itu tidak akan menjadi korban ke kejaman keluarga ibunya," tatapan dingin Ratih menyadarkan Bram dan membuatnya langsung tertunduk.
"Maaf, maafkan aku," lirihnya membuat setetes cairan bening mengalir di wajah Ratih yang mulai menunjukan keriputnya.
"Andai ucapan maaf mu bisa memperbaiki segalanya," Setelah mengatakan hal itu Ratih lagsung berlalu pergi seraya menyeka air matanya, sedangkan Bram malah terduduk lemas di kursi kayu yang tadi ia duduki.
Tanpa mereka berdua sadari dari dalam rumah di sudut ruangan kecil seorang gadis muda berdiri mematung dengan ekspresi yang sulit diartikan setelah tanpa sengaja mendengar semua pembicaraan mereka.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" ujar sebuah suara mengagetkan gadis yang tak lain adalah Dania.
"Tidak ada, saya hanya melihat-lihat," Jawab Dania gugup dan orang itu terlihat terdiam sejenak tampak berfikir.
Tak mau berlama-lama dan menambah ke curigaan pria itu Dania pun pamit dan berujar. "Hm baiklah kalau begitu, saya permisi dulu."
Setelah menyelesaikan kalimatnya Dania langsung ngacir meninggalkan Arga yang menatapnya bingung.
"Ada apa dengan gadis itu?"
Disisi lain Dania yang tadi berlari sekarang sudah menaiki tangga guna melarikan diri dari tatapan aneh Argan, awalnya ia tidak bermaksud ingin menguping pembicaraan siapapun tetapi sifat selalu ingin tau yang ia miliki membuatnya tanpa sadar berdiri di depan pintu dan mendengar rahasia besar keluarga itu yang sebenarnya masih sulit ia pahami dan tidak boleh ia ketahui, karna asiknya melarikan diri tanpa sengaja Dania menambrak seseorang membuat ia dengan tidak elit terperosok ke lantai.
"Apa kau tidak punya mata?" ujar sebuah suara membuat gadis itu mendadak menjadi merasa sangat kesal ditambah lagi rasa sakit yang sudah menjalar di bagian bokong dan lengannya, bahkan Dania sendiri tidak yakin kenapa menabrak manusia rasanya sesakit menabrak tembok.
"Tidak," jawab Dania ketus membuat orang yang tak lain adalah Rully itu menatapnya aneh.
"Menyedihkan," ujar Rully sinis, mendengar hal itu Dania langsung bangkit dari duduknya dan menatap pria itu sangar.
"Menyedihkan?" ulang Dania masih menatapnya galak dan dibalas anggukan remeh dari pria itu.
"Ya, kau tidak punya uang, harga diri, dan sekarang mata, itu menyedihkan bukan."
Dania hampir mengeluarkan bola matanya menatap pria di hadapannya ini tak percaya, bagaimana bisa pria itu dengan santainya mengatakan bahwa dirinya tidak punya harga diri, baiklah uang memang mungkin tidak ia miliki tetapi harga diri tentu saja semua orang punya itu, bahkan wanita malam saja punya harga untuk dirinya. Kalau tidak mana mungkin mereka dibayar.
__ADS_1
"Kenapa diam? benar bukan?"
Astaga sekarang Dania menatap pria di hadapannya ini dengan tatapan tak percayanya dan mencoba menyabarkan diri. "Ya terserah apa yang anda katakan tuan, tetapi satu hal yang harus anda ketahui bahwa saya memiliki hati yang mungkin tidak anda miliki."
Setelah Kalimat panjang nan ketusnyanya Dania langsung pergi meninggalkan Rully yang masih diam tertegun dengan apa yang wanita itu katakan. Hingga tanpa sadar membuat dirinya merasakan ketidak nyamanan.
"Tidak punya hati? Benarka ia tidak punya itu?" tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul di kepalanya.
"Kakak sedang apa?" ujar sebuah suara lembut nan manja denga eskrim rasa coklat ditanganya menatap Rully manis.
"Bukan urusanmu," balas pria itu ketus berlalu pergi membuat Taya si pemilik suara lembut itu menatap sedih penuh rindu kepadanya.
Taya menatap punggung Rully dengan ekspresi terluka, kadang ia selalu bertanya apa kesalahanya sehingga kakak yang sangat ia cintai melebihi Argan bisa begitu sangat membencinya.
☀☀☀☀☀☀☀☀
Hari minggu hari yang sangat Dania tunggu tunggu dalam setiap minggunya karna di setiap hari minggu ia akan terbebas dari segala macam pekerjaan dan tanggung jawab lainnya dan sekarang ia berencana meminta cuti untuk hari ini pada bosnya yaitu Bramantio Danuarta, berbeda dengan Dania yang semangat dengan minggunya di sisi lain seorang pria malah sudah duduk dengan tekun di ruang kerja menghabiskan hari minggu seperti hari-hari biasa yaitu dengan bekerja, tidak peduli apa yang orang orang lakukan di luar sana pada hari minggu, yang ia tau hanyalah bekerja.
"Pagi nyonya," sapa Dania saat menemukan Ratih sudah berada di dapur membuat sarapan bersama beberapa pelayan yang lain.
"Pagi Dania, kau sudah rapi ada rencana hari ini?" tanya Ratih ramah masih terfokus menyusun makanan yang sudah di masak di meja makan.
"Ya, tapi sebelum itu saya ingin menemui tuan. apa anda tau dimana beliau sekarang?" tanya Dania sopan sekarang ia memang sudah bisa di katakan rapi dengan celana bahan berwarna biru muda serta kemeja puti yang membungkus tubuh indahnya itu.
"Sepagi ini?" gumam Dania terdengar seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Ada lagi Dania?" tanya Ratih yang masih melihat Dania mematung di tempatnya dengan kening yang berkerut.
"Ya? Eh tidak ada nyonya," jawab Dania tersadar dari pikiranya,"Baiklah kalau begitu saya permisi untuk menemui tuan di ruanganya."
Tak menunggu lama Dania pun langsung pergi setelah menyelesaikan kalimatnya untuk mencari keberadaan si bos besar itu, tetapi pemikiran yang masih sama kembali menghantui kepala cantiknya. Kenapa nyonya besarnya selalu terkesan tidak peduli pada tuanya seperti tidak ada keharmonisan di sana ditambah lagi dengan pembicaraan antara Bram dan istrinya kemaren semakin membuat Dania penasaran sebenarnya apa yang terjadi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tukas sebuah suara berat yang sangat seksi menyadarakan Dania dari pemikiranya. Tapi seperti ada satu hal yang ganjil di sini, pikir Dania.
Dania menepuk pelan jidatnya saat menyadari ruang kerja siapa sekarang yang telah ia masuki, ia pun memberanikan diri menatap pria tampan nan seksi yang memiliki lidah setajam samurai itu sedang duduk angkuh di meja kebesaranya memberikan tatapan tajam serta menusuk pada Dania.
"Oh, eh Maaf tuan mungkin saya salah memasuki ruangan," ujar Dania buru-buru yang sudah beberbalik bersiap untuk ngacir meninggalkan beruang galak itu.
"Tunggu," kata Rully mengintrupsi pergerakan Dania, bangun dari duduknya dan dengan gaya cool ala konglomerat yang ia miliki, ia berjalan menuju Dania yang masih mematung meremas tali handbag yang ia kenakan.
__ADS_1
"Memangnya ruangan siapa yang ingin kau masuki kucing liar?" Dania menahan nafas saat hangatnya nafas Rully menyapu tengkuknya membuat ia mendadak meremang.
Dania langsung berdehem sesaat guna menghilangkan kegugupanya sebelum berbalik untuk menghadap Rully yang sudah berdiri menjulang dihadapannya. "Maaf tuan tetapi ini bersifat sedikit pribadi, permisi."
Seperti sebelum-sebelumnya Dania langsung ngacir setelah menyeselesaikan kalimat tidak jelasnya yang selalu berhasil membuat Rully tercengang dan merasa tidak nyaman.
"Kucing liar kurang ajar, sepribadi apa urusanya itu," gumam Rully kesal sebelum kembali pada pekerjaanya.
Salah satu hal yang ia benci adalah saat pertannyaannya tidak mendapatkan jawaban sebagaimana jawaban yang ia inginkan, dan baru kali ini ada gadis yang dengan berani melakukan hal itu padanya.
Disisi lain sedari tadi orang yang dicari-cari Dania, Sedang duduk diam sibuk dengan lamunanya menatap sebuah bingkai kecil berisikan potret dirinya yang masih tampak muda dengan menggendong anak laki-laki di punggungnya sambil tersenyum, Terlihat keharmonisan, kasih sayang, serta cinta antara keduannya, jauh berbeda dengan apa yang telah terjadi sekarang. Mungkin hal pertama yang sangat ingin Bram lakukan sekarang ialah dapat mengembalikan senyum putranya itu dan memeluknya mengatakan beribu kali maaf atas semua kesalahan yang telah ia perbuat dimasa lalu hingga mengorbankan kebahagiaan putra yang sangat ia sayangi.
Tok... tok.... tok...
Bram langsung tersadar dari lamunanya saat mendengar ketukan pintu beberapa kali dari luar dan disusul masuknya sesosok gadis yang tidak asing. "Permisi tuan, ada hal yang ingin saya bicarakan."
"Anything?" tanya Bram menatap Dania yang sesaat juga terheran dengan penampilan rapi gadis itu, ditambah lagi ia paham betul jadwal putranya di setiap minggu tidak keluar rumah bahkan keluar dari ruang kerjanya.
"Saya ingin meminta izin untuk tidak bekerja hari ini," Bram terlihat menaikkan sebelah alisnya seperti yang biasa Rully lakukan. Bram terlihat berfikir keras dengan permintaan Dania yang membuat gadis itu ragu, tetapi anggukan tiba-tiba dari Bram berhasil mematahkan keraguannya dan membuat senyum sumringah di wajahnya kembali terbit.
"Benarkah, ah terimakasih tuan," ujar Dania sumringah sebelum berlalu keluar dari ruangan bos besarnya itu.
Sedangkan Bram setelah kepergian Dania, sekarang ia sudah menampilkan senyum yang sedari tadi coba ia sembunyikan. Walaupun selama ini perlakuannya pada Dania kejam dan terkesan tidak adil namun mau bagaimana pun itu hanya bentuk kecintaan seorang anak kepada putranya tidak lebih, ya walaupun demi hal itu ia harus merelakan kemerdekaan gadis lain.
Hidup itu tentang memberi dan menerima bukan tentang siapa yang di korbankan karna berkorban tidak akan perna mendapat balasan.
Aneh tapi itulah kenyataannya......
TO BE CONTINUE...
---------------------------------------
sorry update yang kelamaan guys.😊😊
Authornya lagi galau😁😁
Jangan bosen bosen nunggu ya..
Jangan lupa vote+coment nya
__ADS_1
Love you
Mr.Arogant