
Dania keluar dari ruangan bernuansa klasik itu dengan perasaan yang sangat gondok karna negosiasi yang di berikan pria tua itu benar-benar sangat tidak menguntungkan dirinya, bahkan Dania sangat ingat betul ucapan Danuarta satu itu.
"Hal yang harus kau lakukan adalah mengikuti kemana pun pria ini pergi dari ia bangun tidur sampai ia tertidur kembali, mengingatkanya, menegurnya, dan melaporkan semua yang ia lakuan setiap detiknya padaku."
"Intinya kau harus menjadi bayangan yang mengikuti dan melakukan apapun bersamanya."
Dania menghele nafas saat otaknya kembali mengingat jelas apa sangsi yang akan ia dapati apabila gagal menjalani tugasnya dan keuntungan yang ia dapatkan apa bila ia berhasil menjalani tugas itu.
"Kunci mu untuk lepas dari tugas ini saat dia sudah siap menjadi penerus ku, apabila kau berhasil apapun yang kau mau akan terpenuhi, hidup bahagia, fasilitas mewah, tempat tinggal nyaman, dan pekerjaan yang menjamin. "
"Tapi jika kau gagal menjalankan tugas ini maka kau akan selamanya menjadi asisten pribadinya, dan kalau kau memaksa untuk melarikan diri dari tugas ini maka kembali dengan senang hati harus bersedia tinggal di penjara dan menjadi gembel di jalanan."
Ucapan sadis pria tua itu terus terngiang-ngiang di kepalanya membuat Dania menjadi sangat kesal sehingga tanpa sengaja menabrak seseorang membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan terjungkal kelantai.
"Aduh.. kalau berjalan mata itu di gunakan," amuk Dania, karna kesal pada pria tua itu ia malah melampiaskan kemarahanya pada orang yang tanpa sengaja ia tabrak.
"Maaf aku tidak sengaja," ujar suara seorang pria mencoba membantu Dania berdiri.
"Terimakasih," kata Dania masih terdengar ketus seraya merapikan pakaiannya.
"Tunggu bukanya kau wanita tadi, apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria itu saat sudah berhasil membantu Dania berdiri.
"Tanya saja pada pada bos mu," ketus Dania kemudian berlalu pergi meninggalkan pria itu dengan tatapan bingung
☀☀☀☀☀
Rully berjalan memasuki rumah megah milik keluarga Danuarta seperti biasanya, sebenarnya ia sangat malas untuk menginjakkan kaki di rumah megah ini kalau bukan karna kenangan yang sangat berharga yang ada di rumah ini ia tidak akan mau memasuki rumah yang penuh siasat, dan penuh tipu muslihat yang di isi oleh orang-orang menjijikan menurutnya.
"Selamat malam tuan muda," sapa wanita paru baya yang biasa ia panggil Bik Surti.
"Malam," jawab Rully singkat memasuki rumah.
Saat Rully akan menginjak anak tangga pertama, matanya secara tidak sengaja menangkap sosok seorang gadis yang berdiri di anak tangga ke tiga dengan mata yang menatap lurus kearahnya.
"Siapa dia?" tanya Rully pada Bik Surti.
"Maaf tuan muda saya tidak tau, tuan besar yang membawanya kemari," ujar Bik Surti sopan.
"Dia Dania Aryasatya, dia akan bekerja mengawasi mu mulai sekarang," suara pria paru baya mengintrupsi kedua orang itu.
__ADS_1
"Mengawasi ku?" tanya Rully tak percaya dan pria paru baya yang di kenal sebagai Bramantio Danuarta yang merupakan ayahnya itu mengangguk.
"Ya benar, ia akan mengawasi mu dari kau bangun tidur sampai kau kembali tidur di malam hari."
"Aku tidak mau, kau pikir aku anak kecil. Bawak pekerja sialanmu ini jauh jauh dari ku," bantah Rully kasar dan garang.
Awalnya Dania terkejut mendengar cara bicara Rully pada ayahnya tapi mengingat sebelum ini ia juga perna berhadapan dengan pria tempramental itu di tempat kerja lamanya membuat keterkejutannya itu sedikit berkurang, ditambah lagi bosnya Bramantio Danuarta juga sudah menjelaskan bagaimana sikap dan prilaku pria itu sebelumnya, jadi Dania hanya memasang wajah santai dan biasa saja.
"Aku tidak menyuruhmu memilih," jawab Bram yang membuat Rully semakin emosi.
"Untuk apa kau melakukan semua ini?" tanya Rully emosi pada Bram tapi pria tua itu selalu mencoba tenang dalam menghadapi sikap kasar putranya.
"Untuk menjaga sikap dan prilakumu agar kau siap meneruskan bisnis keluarga," Rully tersenyum sinis mendengar penuturan Bram padanya.
"Aku tidak menginginkan perusahaan mu, dan lebih baik kau beri saja perusahaan itu kepada orang lain," sinis Rully berjalan menaiki tangga dan hal itu berhasil menaikan emosi sang ayah, tapi kembali Bram masih mencoba sabar dan meredam emosinya entah sampai kapan ia sanggup bersabar menghadapi sikap kasar dan tidak sopan Danuarta satu itu.
Saat melewati Dania tatapan Rully beralih pada gadis itu yang masih setia berdiri tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Dan kau gadis bodoh, berapa si tua ini membayar mu hingga kau mau berurusan dengan ku hah?" tunjuknya pada Dania.
Dania tersenyum manis pada pria itu sebelum berujar. "Beliau tidak membayar saya tuan, beliau hanya memberikan saya sedikit penawaran yang menyenangkan," jawab Dania sedikit berbisik sebelum kembali tersenyum.
Rully kembali menampilkan senyum sinis merendahkan yang perna ia tujukan pada Dania beberapa hari lalu. "Terserah kau mau apa, tapi ingat aku tidak ingin di awasi seperti anak kecil yang bodoh dan tidak tau apa apa, jadi menjaulah dari ku," Ujar Rully pada Dania.
Rully melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga melewati Dania tanpa melihat gadis itu sedikitpun, namun Dania tidak tinggal diam ia malah berjalan mengikuti Rully kemanapun pria itu pergi tepat seperti bayangan.
"Ah," ringis Dania mengelus dahinya yang terbentur dada bidang pria itu. Berbeda dengan Dania Rully tidak merasakan sakit sedikitpun dan malah menatap Dania garang.
"Aish, Kalau berhenti beritahu dulu jangan mendadak seperti itu," sungut Dania masih menggosok dahinya.
"Kenapa kau masih di sini?" tanya Rully dingin dan dengan berani gadis itu menatapnya dengan sedikit senyuman.
"Tentu saja untuk mengawasi anda tuan," jawab Dania enteng yang sontak membuat wajah tampan itu bertukar menjadi sangat garang, awalnya Dania takut tapi ia yakin pria ini tidak akan merusak pamornya dengan membunuh gadis biasa yang tak bersalah ini bukan.
"Sudah ku katakan bahwa aku tidak ingin di awasi atau semacamnya," cecar Rully masih dengan nada tingginya.
"Tapi saya tidak meminta persetujuan anda tuan," jawab Dania membuat Rully semakin kesal, baru kali ini ada orang yang berani menyulut emosinya selain penghuni rumah dimana ia tinggal sekarang.
"Aku bisa menuntut mu atas tindakan tak menyenangkan ini sekarang," ancam Rully dan Dania hanya memasang wajah santainya.
"Itu masalah mudah, kalau anda menuntut saya maka dengan senang hati Bramantio Danuarta akan membebantu saya dengan muda karna beliau adalah ayah Anda dan bos saya tuan," terang Dania panjang lebar.
__ADS_1
"Pergi atau aku akan membunuhmu sekarang," bentak Rully geram.
"Berani membunuh saya maka saya akan menghantui anda tuan," Dania membalas ucapan Rully dengan kalimat yang sama, dan sedikit bergurau.
Rully menghela nafas kasar, tidak habis pikir dengan gadis di hadapannya yang sangat berani membalas ucapannya dengan olokan semacam itu. "Dengar, pergilah dan batalkan negosiasi itu," ia menjedah ucapannya beberapa saat dan menarik nafasnya kembali sebelum berujar.
"Atau kau akan menyesal sudah berurusan dengan ku," Rully mengeluarkan tatapan dingin dan mengancamnya, yang dapat membuat nyali siapapun menciut, namun hal itu tidak berlaku sama sekali terhadap Dania.
Dania tersenyum kemudian berjalan mendahului Rully. "Maaf tapi sayangnya negosiasi itu tidak bisa saya batalkan tuan."
Dania berhenti di sebuah pintu berwarna coklat kemudian membukanya. "Silakan masuk tuan muda," Dania mempersilakan Rully untuk masuk tetapi pria tampan itu masih berdiri di tempatnya.
"Oh baiklah kalau begitu biar saya yang masuk terlebih dahulu," mendahului Rully, Dania melangkah memasuki kamar yang bernuansa brown itu dengan santai sampai sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Dari mana kau tau bahwa ini kamar ku?" tanya Rully yang sudah berada di depan pintu.
"Sangat mudah untuk seorang yang bertugas mengikuti dan mengawasi anda untuk mengetahui hal itu tuan," jawab Dania.
"Apa anda masih mau berdiri di situ tuan?" tanya Dania lagi.
Dengan kesal Rully masuk kedalam kamarnya dan menghadap Dania angkuh. "Sudah cukup, keluar sekarang dan jangan mencampuri kehidupanku lagi," usir Rully tetapi gadis itu malah menggeleng tegas.
Dania duduk menyilangkan kakinya di atas ranjang Rully. "Tidak bisa, saya akan keluar dan menjauh dari hidup anda saat tugas saya sudah selesai tuan," tolak Dania membuat Rully semakin kesal.
"Gadis bodoh keras kepala, berani sekali kau menyentuh milik ku," ujar Rully mulai geram yang dapat di dengar jelas oleh Dania.
"Jangan mengumpat dan marah-marah begitu tuan, itu tidak baik, " tegur Dania membuat Rully benar benar kalang kabut.
"Terserah apa mau mu, tapi aku mau saat aku selesai di kamar mandi kau sudah tidak ada di kamar ini," tegas Rully berjalan meninggalkan Dania yang masih diam di tempatnya menuju kamar mandi dengan rasa gondok yang mendalam.
Jangan lupakan ini
Tanpa kamu sadari pertemuan
Itu adalah salah satu takdir yang ditulis tuhan
Dan mungkin pertemuan yang sering kita alami juga merupakan salah satu takdir yang di tulis tuhan......
-----------------------
__ADS_1
TBC..
#Jangan lupa komen dan like nya ya😊😊