Love My Fan

Love My Fan
Chapter 17


__ADS_3

Arga sudah akan melayangkan kepalan tanganya ke wajah tampan dan arogant itu namun hal itu terhenti saat pekikan Ratih memenuhi indra mendengaran mereka.


"Arga.!!"


"Berhenti, jangan lukai adikmu," Ratih mencoba menurunkan lengan Arga yang masih menggantung di udara.


"Kenapa Ma? Kenapa kita tidak boleh melukainya sedangkan dia setiap waktu terus melukai kita," ujar Arga menarik kasar tanganya dari kerah kemeja Rully.


"Arga hentikan semua ini," perintah Bram tegas yang sudah berdiri di antara kedua putranya, menyudahi perselisihan saudara itu, "Pergilah ke rumah sakit, beberapa jam lagi operasimu akan di mulai."


Satu hal yang menjadi kelemahan Arga, yaitu ia tidak bisa membantah perintah Ayahnya dan juga melukai ibunya, walaupun di sudut hati yang paling dalam ia sangat kecewa pada kedua manusia itu karna selalu lebih memperdulikan Rully dari pada dirinya.


Arga mendekati Rully tapi tidak menyentuh sedikitpun tubuh adiknya dan menatap pria itu tajam. "Kau lihat Danuarta, semua orang yang kau lukai di rumah ini sangat khawatir saat mengetahui bahwa kau terluka."


Rully masih terdiam mematung dengan wajah datar dan tatapan kosong. "Aku tak perduli sebenci apa kau pada kami tapi ingatlah bahwa kau akan sangat menyesal saat tau semua kebenaranya nanti."


Arga berjalan melewati Rully dan dengan sengaja menyenggol kasar ujung pundak pria itu, jujur ia tidak perna membeci adiknya bahkan selama ini ia selalu menutup mata dengan semua makian dan sikap kasar Rully, namun kali ini ia tidak bisa menekan kemarahanya lagi saat melihat adik yang sangat ia cintai terpukul dan menangis.


"Kau tidak apa-apa?" Ratih menyentuh pela punda Rully menatap cemas pria itu.


"Tidak," balas Rully menepis kasar tangan Ratih dan berlalu pergi dengan perasaan yang tidak jelas serta pemikiranya yang sangat kacau saat ini.


"Susul dia," perintah Bram pada Dania yang sedari tadi hanya mematung menonton setiap adegan dan drama yang terjadi di keluarga itu.


"Baik tuan."


Dania berlari menyusul Rully yang berjalan keluar dari rumah mencoba mensejajarkan langkah mereka, Dania dapat melihat jelas raut kekacauan yang coba di tutupi ekspresi datar oleh pria tampan itu.


"Tuan," Rully langsung mengangkat tanganya pertanda agar Dania tidak berkata apapun untuk saat ini padanya.


Saat ini ia sedang kacau, dan Rully takut kalau dia akan mengatakan hal yang akan menyakiti seorang gadis lagi, jadi ada baiknya kalau ia menghindari pembicaraan dengan Dania. Sedangkan gadis itu hanya kembali diam mengikuti kemana Rully pergi, bahkan masuk ke dalam mobil dan duduk dengan manis di sebelah Rully membiarkan mobil BMW Dark blue itu melaju di kendarai pemiliknya.


Hanya diam Dania kali ini benar-benar menuruti Rully dengan tidak bicara sepatah kata pun atau bertanya apapun, bahkan ia tidak menanyakan Rully ingin ke mana, mengingat saat ini jalan yang mereka tempuh berbeda dari jalan menuju kantor. Beberapa jam berlalu begitu cepat dan saat ini Dania benar-benar merasa sangat lapar karna tadi ia tidak sempat sarapan dan beberapa kali ia menatap wajah Rully yang masih datar, ada rasa takut di hatinya namun rasa lapar sudah menguasa tubuh dan pikiranya membuat Dania pun berujar.


"Tu.. Tuan," panggil Dania pelan sedikit tergagap.


Namun Rully masih mengabaikannya dan pria itu malah mengeram dan menambah laju kecepatan mobil yang mereka kendarai bahkan kilatan amarah  terlihat jelas di mata berwarna safir itu.


"Tuan hati-hati, anda bisa membunuh kita berdua," ujar Dania yang sudah merasa takut, bagaimanapun ia juga tidak ingin mati konyol bersama pria arogant ini.


"Tuan tolong berhenti anda bisa membunuh kita berdua!!"


"Tuan tolong tuan stop!" Dania semakin ketakutan dan tiba-tiba saja matanya memanas, ia merasa seperti dejavu dan perna mengalami hal ini sebelumnya.


"Tuan saya takut tolong hentikan," Dania meraih lengan Rully memohon pada pria itu bahkan air mata sudah penuh membasahi pipinya.


Dania tidak tau, jalanan yang tadinya terang berubah menjadi gelap dan mobil yang mereka tumpangi berubah menjadi berbeda dari sebelumnya dan Rully yang mengemudi berubah menjadi pria matang yang menangis penuh air mata.


Dan tiba-tiba sebuah truk tampak melaju ke arah mereka dan menabrak sehingga mobil yang mereka tumpangin terbalik, Dania dapat melihat pria matang itu merangkak dengan berlumuran darah mencoba meraihnya serta beberapa kali mengucapkan kata maaf yang samar.


"Maafkan Ayah Di."


Dania tersentak, membuka matanya dengan nafas yang memburu saat menyadari sebuah sentuhan halus pada pipinya menyadarkannya dari pemikiran sepintas yang mengarahkan dirinya pada potonga-potongan kisa masa lalu yang sampai saat ini masih tak mampu ia ingat dengan jelas


Dania menatap wajah Rully yang berjarak beberapa senti darinya menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan namun dengan khawatir Dania malah menyentuh kedua sisi wajah pria itu dan bertanya.


"Anda baik-baik saja tuan?"


"Ya," jawab Rully yang malah bingung melihat reaksi Dania.


Memang benar tadi mobil mereka hampir menabrak sebuah truk tapi hanya hampir tidak sampai menabrak karna Rully yang sempat banting stir membuat mobil yang mereka kendarai harus terperosok ke dalam susunan jerigen yang berada di tepi jalan dan untungnya jerigen itu hanya berisi air.


Rully mematung dan menatap Dania dalam diam sebelum sebuah kata ajaib lolos dari bibir merahnya.

__ADS_1


"Maaf."


Dania mengerjapkan matanya beberapa kali meyankinkan bahwa saat ini indra pendengaranya berfungsi dengan benar, sangat sulit di percaya bahwa seorang Danuarta muda yang terkenal arogant dan kasar meminta maaf padanya, Dania hanya mematung tidak tau bagaimana merespon ucapan pria itu.


"Tuan anda...—"


Ketukan seseorang menyadarkan mereka dari sebuah ke bingungan, dengan segera Dania menarik tanganya pada wajah Rully kemudian beralih pada si pengetuk


"Maaf pak, bisa bapak keluar," ujar seorang pria paru baya saat Rully membuka kaca mobilnya.


Rully pun tak membantah ia keluar dari mobil di susul Dania.


"Ada apa ini pak?" tanya Dania pada pria paru baya itu mendahului pertanyaan Rully.


"Mohon maaf Non, tapi saya meminta pertanggung jawaban Tuan ini atas kerugian yang saya alami."


Dania melihat ke kap depan Mobil Rully yang sudah tampak hancur karna menabrak bongkahan jerigen berisi air, bahkan sekarang jerigen itu sudah hancur bertebaran kemana-mana dan air di dalamnya sudah menyembur membasahi sekitar mereka bak hujan.


"Kami minta maaf pak," kata Dania sopan pada pria paru baya itu dan beralih menatap Rully, "Dan tuan saya akan mengganti semua kerugian ini."


"Tuan," Dania beralih pada Rully dan berbisik, "Anda sudah membuat bapak ini rugi tuan, dan anda harus menggantinnya."


Mengabaikan Dania Rully malah bertanya pada pria paru baya itu. "Apakah ada bengkel di sekitar sini?"


"Ada tuan tak jauh dari sini ada bengkel mobil kecil," jawab pria itu yang tampak tidak marah walaupun awalnya ia protes.


"Ini kunci mobil saya dan kartu nama saya," Rully menyodorkan kedua benda itu pada si bapak, "Setelah mobilnya selesai anda bisa temui saya di alamat itu sekaligus membawa catatan berapa kerugian yang harus saya bayar."


Rully memberikan kunci dan kartu namanya pada bapak itu yang masih menatapnya dengan kebingungan sebelum kembali beralih pada Dania yang juga menatapnya dengan tatapan yang sama lalu meraih tangan gadis itu untuk pergi.


"Apa yang anda laukan tuan?" tanya Dania pada Rully yang sibuk berjalan mencari taksi.


Rully kembali mengabaikan Dania dan menarik pergelangan tangan gadis itu untuk naik ke dalam taksi yang sudah ia hentikan.


"Villa? Untuk apa kita ke vila tuan?" tanya Dania yang sedari tadi tidak mendapat jawaban dari pria itu.


"Untuk beristirahat," jawab Rully singkat.


"Kalau begitu anda bisa beristirahat di rumah  anda tuan," ujar Dania lagi masih mencoba mendebat.


Rully menghela nafas dan menatap ke arah Dania. "Apa kita harus pulang setelah sampai di puncak?"


"Apa?? Puncak??"


☀☀☀☀☀☀☀


Rully berjalan memasuki sebuah kawasan daerah yang di selubungi beberapa pepohonan tinggi, sedari tadi di perjalanan Rully hanya diam mengabaikan Dania yang terus saja mengoceh membuat pria tampan berdarah campuran itu sangat pusing dan ingin sekali mencabut batrai yang ada pada gadis itu.


"Villa siapa ini tuan?" tanya Dania saat mereka memasuki pintu utama rumah yang terbuat dari kayu jati itu.


"Reza."


"Bagus sekali, saya tidak menyangka dia ternyata memiliki tempat sebagus ini," puji Dania terkagum-kagum melangkah masuk melihat arsitektur rumah megah itu.


"Tapi tuan, apa anda memberi tau beliau bahwa kita datang ke sini?" tanya Dania masih fokus melihat lihat seisi Villa itu.


"Tuan anda mendengar saya?" tanya Dania lagi saat tidak mendapat jawaban dari Rully.


"Tuan," Dania berbalik mencari keberadaan pria itu yang sudah pergi entah kemana.


Menyadari tidak adanya ke hadiran Rully di sana Dania pun segera kembali keluar dan mendapati pria itu tampak sedang berbicara dengan seseorang.


"Kenapa?" tanya Rully setelah selesai dengan orang itu.

__ADS_1


"Siapa itu tuan?" tanya Dania mengabaikan pertanyaan tak penting Rully.


"Pak Mat dia pengurus Villa ini," jawab Rully berlalu melewati Dania kembali masuk ke dalam Villa.


Rully berjalan memasuki rumah megah itu dan membuka sebuah pintu besar yang langsung menampilkan sebuah view yang sangat, Dania sendiri tidak tau harus berkata apa untuk menjelaskan bagaimana indahnya pemandangan yang ia lihat saat ini.


Rully berjalan melewati pintu itu yang mengarahkannya pada balkon langsung menampilkan pemandangan pepohonan puncak yang lembab dan berkabut serta bunyi burung-burung yang berkicau dengan indah. Namun kekagumananya itu harus di sudah dengan rasa lapar yang sedari tadi mengganggu perutnya.


"Tuan, bisakah kita makan sesuatu?" tanya Dania pada Rully yang masih menopang tanganya di pagar balkon menatap tanpa ekspresi pemandangan indah itu.


"Tuan."


Dania mendekat pada Rully dan menyentuh bahu pria itu yang tampak mengeras. "Anda baik-baik saja tuan?"


"Beristirahatlah, istri Pak Mat akan menyiapkan makanan," ujar Rully dengan datar dan dingin sedingin udara puncak.


"Tuan."


"Pergilah, tinggalkan aku." Rully mendorong tubuh Dania menjauh darinya membuat tubuh ramping itu mundur beberapa langkah.


"Anda kenapa tuan? Katakan pada saya," Dania masih kekeuh dan kembali mendekati Rully.


"Ada apa dengamu? Apa kau tidak mengeti ucapanku?" Rully menatap Dania frustasi dan kali ini semua yang pria itu coba sembunyikan di balik topengnya selama ini dapat Dania lihat dengan jelas.


"Pergilah, Pergi sekarang." Rully mencengkram kuat kedua bahu Dania dan mengatakan semuanya dengan emosi yang meluap, sebelum melepas kasar cengkraman itu.


Baiklah sekarang abaikan semua ketakutan Dania saat ini terhadap pria itu, abaikan kemungkinan bahwa pria itu akan melemparnya dari balkon yang cukup tinggi ini dan abaikan tentang hubungan tak jelas antar dia dan putra bosnya, yang terpenting sekarang adalah perasaan tak nyamannya saat melihat pria itu dalam ke adaan kacau seperti ini,—itu yang paling penting saat ini.


Rully menangis dengan tubuh yang sudah luruh ke lantai membenamkan wajahnyanya pada lekukan lututnya yang ia tekuk dan menyandarkan punggungnya pada pagar balkon itu membuat Dania yang tadinya masih mematung ikut mendudukan dirinya di atas lantai dan langsung memeluk tubuh lemah Rully.


"Di sini, Disini kami berlibur bersama, di sini aku bertemu Dia, dan di sini juga kali terakhir Mommy tersenyum," isak Rully di dalam pelukan Dania membuat tiba-tiba gadis itu merasakan sesak yang ia tidak tau apa alasannya.


"Itu semua karna para Danuarta itu!!" teriak Rully mengurai dekapan Dania pada tubuhnya.


"Kau tau itu semua karna Danuarta itu, dan kau tau kenapa aku membenci mereka itu semua karna mereka telah membunuh Mommy."


"Sss.. Sudah tuan hentikan, semakin anda membuka luka itu maka anda akan semakin merasakan sakitnya," Dania kembali meraih tubuh pria itu memeluknya dengan memberi ketenangan mengabaikan segala racauan pria itu yang awalnya sangat ingin ia dengar.


"Kau senang melihatku seperti ini? Kau senang bukan?" Rully kembali menegakan tubuhnya dan kembali mencengkran ke dua lengan mungil itu.


"Tidak tuan, kenapa saya harus senang?" kata Dania mengabaikan rasa sakit pada lenganya atas cengkraman kuat Rully.


"Karna kau memihak mereka!!"


"Kau memihak mereka semua, kau memihak para Danuarta itu!!"


"Hentikan tuan, saya tidak memihak siapapun!!" balas Dania berteriak.


"Lalu untuk apa selama ini kau tetap di sini, dan bertahan dengan semua sikapku?" tanya Rully mulai melonggarkan cengkramannya dan menangis.


"Itu karna tugas saya tuan, ayah anda menyuruh saya untuk selalu peduli pada anda."


Kedua tangan Rully luruh jatuh ke sisi tubuhnya dan dengan menunduk ia terus merancau tak jelas membuat Dania kembali menegakkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh tegap pria itu memberi ketenangan padanya,  dan Rully pun balas memeluk pinggang Dania erat meluapkan segala rasa sesak dan kecewanya selama ini di dada wanita itu.


Seberat dan seburuk apapun masalah kita, yang kita butuhkan hanyalah seorang yang bisa di jadikan tempat melepaskan kepenatan, bukan seorang kambing hitam..


TO BE COUNTINUE ...


--------------------------------


Love you all...😊😊


Jangan lupa vote and koment nya😊😊

__ADS_1


__ADS_2