
Sepasang pria dan wanita dengan ke adaan yang masih basah berdiri mematung menatap lurus ke arah pasangan lain yang dengan asyik berciuman dengan panas di sebuah ruang yang di luarnya di penuhi oleh rintik-rintik derasnya hujan.
Dania menatap Rully yang hanya diam mematung tanpa ekspresi sebelum berdehem beberapa saat guna menyadarkan kedua manusia itu dari aktivitas dewasa yang mereka lakukan, dan tentu saja kedua pria dan wanita itu langsung tersentak dan beranjak dari tempatnya saat menyadari ada orang lain selain mereka di sini.
"R kau sudah pulang?" ujar Janne merapikan dirinya yang sedikit berantakan dengan santai sedangkan Reza hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tuan anda tidak apa-apa?" Tanya Dania saat menyadari Rully yang sedari tadi hanya diam mematung.
Rully yang tersadarpun sempat berdehem beberapa saat sebelum kembali berkata. "Lanjutkan."
Setelah mengatakan hal itu Rully berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya yang berada di villa itu meninggalkan Dania yang menatap prihatin dengan tuannya itu.
Apa dia merasa sakit hati?
"By kita lanjutkan nanti, tapi sekarang kamu harus membantu Dania untuk mengganti pakaiannya," kata Reza pada Janne yang mencoba untuk kembali mendekatinya.
Janne mendecih manja berapa saat sebelum beralih pada Dania yang masih berdiri dengan keadaan baju yang masih basah kuyup.
"Ayo."
Dania mengekori langkah indah Janne yang masuk ke dalam kamar wanita itu dan melihat wanita itu tampak sibuk dengan tas yang tadi datang bersamanya, kemudian membukanya dan mengeluarkan beberapa helai pakaian wanita di sana.
"Hm.. Pakai ini," Setelah memilah-milah Janne menyodorkan sebuah setelan wanita yang ia keluarkan dari tas bawaannya.
Dengan ragu Dania meraih setelan itu dan menatapnya bingung. "Apa saya harus memakai ini?"
"Of course," jawab Janne mantap membuat Dania terdiam beberapa saat sebelum melangkah dengan ragu menuju Bathroom.
Kedua pria tampan tampak duduk di ruang tamu di selimuti keheningan untuk beberapa saat.
"Kau terlihat tak baik, ada apa sekarang?" tanya Reza pada Rully yang sedari tadi hanya terdiam larut dalam pikirannya sendiri.
"Tidak ada," jawab Rully singkat sebelum kembali terdiam.
"Cmon R, I know you not good."
Rully menatap lurus ke arah jendela yang masih menampilkan rintik hujan di luar sana. "Entahlah Re aku merasa lelah dengan hidupku yang ada di antara Danurta dan Cassandra."
"Kalau begitu berhenti ada di antara mereka, apa susahnya?"
"Sulit Re, bagaimanapun Oma yang membesarkanku dan memberiku kekuasaan untuk menentang Danurta," ujar Rully yang memang tak paham dengan dirinya.
"Ribuan kali sudah ku katakan, berhenti menentang keluargamu sendiri R, mereka keluargamu darah mereka ada pada dirimu," kata Reza masih tampak tenang.
"Tapi mereka telah membuangku, mereka membiarkan Cassandra membawaku," kesal Rully yang sudah berdiri dari duduknya.
"Kau salah paham R, tidak seperti itu kejadian yang sebenarnya," kata Reza ikut berdiri.
"Bagaimanapun kejadiannya tetap kesalah mereka, kalau mereka tidak membiarkan Cassandra membawaku aku tidak harus menjadi budak pemuas dendam wanita itu, aku tidak harus mengikuti semua perintahnya."
"Dan semua itu kesalahan mereka, karna mereka aku mengalami semua ketidak adilan ini, karna mereka aku kehilangan Mommy."
"Dan bahkan karna mereka selama bertahun tahun tanpa aku ketahui otakku telah di cuci!!" teriak Rully melampiaskan segala rasa sesak yang selama ini ia pendam tak mampu ia ungkapkan membuat pria yang mendengarkan semua hal itu menjadi terdiam kaku dan sempat merasa terkejut.
"Kau tau bahwa selama ini otakmu di cuci R?" tanya Reza tanpa ekspresi menatap lurus pada sahabatnya itu.
Rully hanya tersenyum miring, yang kali ini tak tampak arogant namun lebih terlihat tersenyum iba terhadap dirinya sendiri. "Kalau aku tidak tau mana mungkin aku bisa mengenalimu, Delila, dan Dia."
Reza bungkam menatap Rully yang sudah berbalik memunggunginya melihat keluar jendela.
"R." panggil sebuah suara membuat kedua pria itu tersentak dan berbalik menatap gadis yang menggunakan dress ketatnya.
"Ada apa ini?" tanya gadis itu yang melihat ketegangan antara keduanya.
Untuk beberapa saat suasana di selimuti keheningan, tak ada satu pun yang berujar sampai kedatang satu lagi gadis cantik membuat perhatian ke tiga orang di dalan ruangan itu teralihkan.
"By are you sure?" tanya Reza untuk pertama kali pada Janne saat melihat tampilan baru Dania.
Janne hanya tersenyum licik seperti biasanya, sedangkan disisi lain Rully menatap Dania tanpa kata membuat gadis itu merasa sangat malu dengan tampilannya sekarang.
Rully menatap Dania dalam diam tanpa ada sepatah katapun kemudian berjalan melewati Dania dengan tatapan yang tak lepas darinya.
Dania menatap kepergian Rully tak paham sebelum memilih berbalik menyusul pria itu yang menuju ruang makan.
__ADS_1
Di sisi lain Reza menatap Janne penuh curiga sedangkan Janne hanya menampakkan senyuman penuh cintanya.
"Aku tau benar bahwa aku menyuruhmu memesan setelan formal By," kata Reza curiga membuat Janne memutar bola matanya jengah.
"C'mon han, kamu saja tidak perna membelikan aku pakaian," rajuk Janne tak terima. "Jadi kenapa aku harus mengikuti perintahmu untuk membikan gadis itu pakaian?"
Reza menaikan alisnya curiga dan bersedekap dada. "Jangan berbohong By aku tahu bahwa kamu pasti memiliki rencana lain."
"Katakan apa rencananya?"
"Huft baiklah Han, siapa yang tidak bisa memlihat kimestri antara Tuan dan Pesuruh itu," kata Janne mendekati kekasihnya.
Janne merapat ke arah Reza dan menyentuh pelan dada Rmbidang pria itu kemudian berujar dengan manja. "Jadi aku berencana untuk membantu mereka mempercepat semuanya."
"Mempercepat? Mempercepat apa Nona?"
Kedua pasangan yang tampak sangat mesra itu menatap sosok yang tadi sempat meninggalkan mereka dan terlihat gadis itu melayangkan tatapan curiganya.
"Mempercepat? Tentu saja mempercepat pernikahan kami," jawab Janne santai dan kembali ke sisi arogantnya membuat Dania hanya diam.
"Lagi pula kenapa aku harus memberi tau mu, dan mengijinkanmu untuk merusak momen romantis kami?" tanya Janne tampak tak senang sedangkan Reza hanya diam di tempatnya melihat bagaimana ahlinya Cassanova satu itu dalam ber akting.
"Maaf Nona saya tidak berniat begitu, Tuan mengajak anda dan tuan Reza untuk makan malam," jawab Dania sopan.
"Kalau begitu katakan pada tuanmu bahwa kami akan makan di luar," jawab Janne santai.
"By," tegur Reza yang menang tidak ingat kalau mereka ada janji untuk makan di luar.
"Han apa kamu melupakan Dinner romantis kita?" tanya Janne yang membuat Reza hanya terdiam karna ia merasa bahwa mereka belum bicara mengenai dinner romantis itu.
"Ah apa kamu benar-benar melupakannya Han?" tanya Janne tampak merajuk.
Reza yang melihat hal itu pun langsung meng iya kan tentang dinner romantis yang tidak ia ketahui itu. "Tentu saja aku mengingatnya by."
"Bagus kalau begitu ayo kita pergi sekarang," Janne langsung memeluk posesif lengan Reza dengan gaya khasnya.
"Katakan pada tuanmu kalau kami akan makan di luar," kata Janne angkuh sebelum pergi bersama kekasihnya meninggalkan Dania yang tampak kebingungan.
"Mereka makan malam di luar tuan," jawab Dania berbalik menghadap Rully.
Rully menaikan alisnya mendengar penuturan Dania dan menyahut singkat. "Hm.."
Rully kembali ke ruang makan yang di susul dengan Dania di sisinya. "Ehmm tuan kapan kita akan pulang?"
"Besok." Jawab Rully singkat yang membuat Dania mengangguk diam.
Rully duduk di meja makan dengan Dania yang menghidangkan makanan yang tadi sempat di bawa oleh Reza bersamanya, Rully hanya diam menatap setiap gerak gerik Dania yang fokus menata meja. Entahlah bagi Rully ketertarikanya pada Dania sudah terjalin sejak pertama kali mereka bertemu namun ketertarikan yang Rully rasakan saat itu berbeda dengan yang Rully rasakan sekarang.
"Silahkan tuan," ujar Dania ikut bergabung dengan Rully setelah selesai dengan aktivitasnya.
Untuk sesaat ruangan megah itu kembali di selimuti keheningan tanpa ada satu pun dari mereka yang membuka pembicaraan.
Waktu terasa begitu lambat sedangkan jantung Rully berdetak begitu cepat, merasa semakin tak karuan, Rully bangkit dari duduknya membuat Dania langsung menatap pria itu.
"Anda mau kemana tuan?"
"Aku tidak kemana-mana kau makanlah," kata Rully mengulangi kalimat yang sama yang beberapa saat lalu sempat ia katakan.
Karna merasa khawatir Dania pun meraih tangan Rully yang melewatinya dan mendonga menatap pria itu.
"Anda baik-baik saja tuan?"
Rully menatap Dania dengan tatapan yang tidak karuan seperti beberapa saat lalu namun kali ini alasannya berbeda. Di tambah lagi tangan lembut Dania yang menyentuh permukaan kulitnya membuat kecepatan detakan jantung Rully semakin bertambah.
"Aku baik-baik saja," jawab Rully namun Dania yang tidak peka dan tidak pahampun menggeleng.
"Tuan anda bisa mengatakan pada saya kalau anda merasakan sesuatu, jangan memendamnya sendiri," kata Dania yang menatap pria itu dengan tatapan kepedulianya sedangkan Rully hanya menatapnya datar dengan hati yang masih berdetak kencang.
"Tuan?"
"Ya," jawab Rully singkat sebelum berlalu pergi.
Dania dalam diam menatap kepergian pria berdarah campuran itu sebelum memilih beranjak dan menyusul Rully.
__ADS_1
"Tuan apa anda masih sedih karna Nona Janne lebih memilih Tuan Reza dari pada anda?" tanya Dania saat menemukan Rully yang berdiri di depan jendela kaca besar diam tanpa sepatah kata.
Rully berbalik menatap Dania dengan alis tebalnya yang terangkat. "Apa aku terlihat seperti itu?"
"Ya, anda terlihat sangat gunda tuan, apa anda yakin baik-baik saja?" tanya Dania membuat Rully terdiam beberapa saat dengan manik mata yang lurus menatap ke wajah cantik natural itu.
"Apa yang membuatmu bersikap seperti ini?" tanya Rully mengalihkan pertanyaan yang tiba-tiba membuat Dania merasa tak paham.
"Maksud anda?"
"Apa karna pria tua itu?"
"Apa pria tua itu yang menyuruhmu untuk merasa iba padaku?" tanya Rully lagi.
"Apa maksud anda tuan, semuanya tidak seperti itu ya memang ayah anda meminta agar saya terus mengikuti anda selama 24 jam tapi beliau tidak perna mengatur tentang bagaimana saya harus bersikap pada anda tuan," terang Dania, ya ia benar selama ini Bramantio menugaskannya untuk menjadi bayangan dari putranya namun Bramantio tidak perna sekalipun mengatur bagaimana ia harus bersikap terhadap Rully apalagi merasa iba.
"Lalu apa yang membuatmu di sini sekarang? Kau bisa saja pergi tidak ada yang akan melarangmu." kata Rully berbalik menatap Dania penuh intimidasi.
"Tuan saya..-" Dania tak dapat meneruskan kalimatnya ia sendiri tidak tau apa alasannya hingga tetap bertahan disini sedangkan peluangnya melarikan diri atau bebas dari tuganya sangat besar.
Rully tersenyum miring menatap Dania sinis. "Kenapa diam?"
"Tuan saya tidak tau apa yang membuat saya masih bertahan sampai sekarang namun jujur semua yang saya lakukan itu semua dari diri saya sendiri tanpa ada campur tangan Ayah anda," kata Dania lagi mencoba memberi pemahaman terhadap Rully.
"Kalau begitu pergilah aku tidak butuh rasa iba dan belas kasihan dari siapapun termasuk belas kasihamu," tukas Rully memunggungi Dania membuat gadis itu menatap tak senang ke arahnya.
Dania hanya diam beberapa saat menatap lurus ke arah Rully sebelum. "Ya anda benar, anda tidak butuh rasa iba dan belas kasihan dari siapapun karna sikap arogant anda itu sudah cukup untuk anda."
Setelah menyelesaikan kalimatnya Dania berlalu meninggalkan Rully masuk ke dalam kamar yang tadi sempat ia tumpangi, dengan perasaan yang sangat kesal dan tidak senang dengan ucapan dan sikap pria itu, perna dengan istilah yang mengatakan bahwa sebagai manusia akan ada masa di mana seseorang akan merasa lelah dan menyerah saat di mana kebaikannya sudah tidak perna di hargai, maka itulah yang Dania rasakan saat ini.
☀☀☀☀☀
Setelah kejadian malam itu baik Rully maupun Dania tidak ada yang ingin memulai permbicaraan maupun perdebatan yang biasa mereka lakukan, baik keduanya di selimuti oleh kebungkaman membuat Reza dan Janne yang melihat hal itupun menjadi keheranan.
"R apa antara kau dan pelayanmu baik-baik saja?" tanya Janne pada Rully saat mereka hanya berdua karna Reza yang sibuk mengurus beberapa hal agar Rully dapat pulang dengan nyaman tanpa hambatan.
"Ya," jawab Rully singkat.
"Aku tidak melihat begitu," kata Janne yang tak percaya, siapapun yang melihatnya pasti tidak percaya mengingat mereka yang sangat sering berdebat tiba-tiba menjadi tidak peduli satu sama lain.
"Apa kau bertengkar denganya?"
"R jawab aku." kesal Janne yang tidak mendapat jawaban dari pria itu.
"Tuan semuanya sudah siap," ujar Dania yang datang dari balik tubuh pria itu membuat Janne yang sedari tadi sibuk mendesak Rully kini menaikan alinya heran.
"Ku pikir kalian bertengkar," ujar Janne menatap curiga pada kedua orang itu.
"Berhenti berfikir J itu membuatmu tampak sangat bodoh," kata Rully seperti biasa dan berjalan keluar dari villa di susul Dania yang membawa paper bag berisi pakaiannya.
"Ini," Reza memyerahkan kunci mobil ke tangan Rully, "Semuanya sudah ku periksa jadi jangan merusak mobilku dengan menabrak jerigen atau sejenisnya."
Seperti biasa Rully hanya mengabaikan ucapan Reza dan berjalan menuju mobil sedan putih milik pria pribumi itu.
"Terima kasih tuan," ujar Dania yang di angguki Reza sebelum memasuki mobil.
Mobil sedan putih itu melaju menyusuri hitamnya jalanan wilayah dataran tinggi itu dengan hawa dingin dari luar yang menyelimuti di tambah lagi keheningan setiap sudut mobil membuat kedinginan semakin berada pada titik beku.
Cukup lama di perjalanan membuat Dania di dera rasa kantuk yang tak tertahan hingga tanpa sadar entah sejak kapan ia pun tertidur di tempatnya meninggalkan Rully mengemudi sendiri.
Sedangkan di sisi lain Rully yang sedari tadi tak luput manatap Dania dari sepion mobil pun menyadari akan hal itu dan membuat ia kembali tenang mengendarai mobilnya, setelah malam itu ia merasa sangat tidak nyaman karna Dania yang tiba-tiba bersikap dingin dan enggan berbicara denganya, tidak biasanya Dania menjadi bersikap seperti ini hanya karna apa yang ia ucapkan mengingat ia yang selalu berkata jauh lebih kasar dari itu membuat Rully jadi sangat bingung harus melakukan apa dan bagaimana untuk mengembalikan semuanya menjadi seperti biasa.
"Apa ia harus minta maaf."
Maaf, mungkin itu obat paling ampuh untuk menyembuhkan luka....
-----——————-----
TBC.....
Author kembali....😊😊
Baca terus dan tinggalkan voment nya selalu😘😘😘
__ADS_1