
Happy reading...😘😘
☀☀☀☀☀☀☀
"No baby, kau harus bertahan jangan menangis sayang," ujar seorang wanita muda pada anak laki laki yang sekarang sedang menangis di pelukannya.
"Mommy-Mommy, aku mau mommy jangan tinggalkan aku sendiri mom," jerit anak laki-laki itu dengan air mata yang menggenang di pipinya.
"Kakak jangan menangis, kakak tidak sendiri Aya akan selalu bersama kakak," pujuk gadis kecil tampak mengelus sayang pipi anak laki-laki itu.
"Adik mu benar sayang, kamu tidak sendiri kami akan selalu bersamamu," wanita itu menghapus air mata anak laki-laki yang masih sesegukan dipelukanya kemudian mengecup sayang ubun-ubunya.
"Benarkah?" tanya anak itu dengan jejak air mata di pipi cubbynya, menatap wanita yang tersenyum hangat itu.
"Of course baby, kami tidak akan perna meninggalkan mu sendiri," jawabnya menenangkan anak laki-laki itu seraya menghapus bekas air mata serta duka anak itu menggantikanya dengan sebuah senyuman.
"Ya, kami tidak akan meninggalkanmu sendiri."
Semua bayangan samar itu pun menghilang disusul Rully yang membuka matanya terbangun dari mimpi anehnya itu, ia bangun dengan keringat yang sudah menyucur deras di dahinya serta nafas yang tersengal-sengal, entah kenapa akhir-akhir ini mimpi itu terus saja menghantuinya, suara yang tidak asing dan wajah yang sulit di ingat saat kembali terbangun, Rully menghempaskan punggungnya kesandaran kursi kerjanya dan menghela nafas lelah, kemudian melihat ke jam yang sekarang melingkar di lengannya menunjukan waktu dini hari, pria bermata safir itu tiba-tiba mengerutkan dahinya dan beberapa kali membuang nafas kasar.
Ia mencoba mengingat apa yang menyebabkan dirinya sampai tertidur dan apa yang terjadi sebelum ia tertidur di ruang kerjanya itu yang merupakan hal yang sangat langkah dan hampir tak perna terjadi, tetapi bagaikan terformat memorinya tak dapat mengingat apapun ditambah lagi dengan mimpi yang belakangan ini sering menghantui tidurnya membuat Rully semakin tidak tenang.
"Anda sudah bangun tuan?" saat Rully sedang asik dengan pikiranya tiba-tiba saja terdengar sebuah suara yang langsung memecah lamunannya.
"Saya sudah masuk beberapa kali tadi dan melihat anda masih tertidur, ditambah lagi tidur anda yang beberapa waktu lalu sering terganggu, jadi saya tidak tega untuk membangunkan anda," jelas Dania saat melihat tatapan penuh tanya Rully.
"Aku sudah bangun jadi kau bisa keluar," jawab Rully dingin dan terdengar tidak bersahabat membuat gadis itu terdiam sejenak merasa heran dengan perubahan mood tuannya itu, sebelum akhirnya memilih mengalah dan mengagguk keluar dari ruang kerja Rully.
Setelah Dania keluar meninggalkan ruangannya, Rully kembali menyandarkan tubunya kesandaran kursi dan kembali menghela nafas lelah, entah kenapa semua keadaan yang ia alami sekarang membuat emosinya kembali tak stabil sehingga ia pun kembali tidak nyaman dengan hal sekitarnya.
Disisi lain Dania yang menjadi pelampiasa pertama atas perubahan mood pria itu tampak menautkan alisnya heran dengan perubahan sikap Rully dan beberapa kali menggerutu.
"Ada apa dengan pria itu kenapa dia terlihat aneh sekali?" tanya Dania yang lebih ia tujukan pada dirinya sendiri.
"Ah sudahlah bukanya setiap hari dia memang selalu bertingkah aneh," gumamnya lagi tak mau pusing-pusing dan kembali melanjutkan langkahnya.
☀☀☀☀☀☀☀
"Cristy hari apa ini?"
"Hari kamis Pak tepatnya penghujung bulan, Ada apa ya Pak?" jawab sang sekertaris saat mendapatkan pertanyaan singkat dari bosnya itu.
"Kosongkan jadwal ku, aku tidak akan ada dikantor hari ini."
"Baik Pak," jawab sang sekertaris sebelum di tinggal bosnya itu masuk kedalam lift.
"Memangnya kita mau kemana tuan?" tanya Dania yang sedari tadi hanya diam mengekori kemana pria itu pergi.
"Bukan kita, hanya aku," jawab Rully yang terus berjalan membuat Dania kesulitan mengimbangi langkah lebarnya.
__ADS_1
"Tapi tuan-,"
Belum sempat Dania menyelesaikan ucapanya Rully sudah masuk ke dalam mobilnya yang langsung ditutup oleh sang pemilik seperti tidak mengizikan Dania untuk masuk, tak tinggal diam Dania pun berusaha menahan pria itu untuk tidak pergi tanpanya tetapi dengan tega tuan berwajah tampannya itu malah melajukan mobilnya sehingga hampir saja mobil mewah itu melindas Dania andai saja gadis itu tidak menghindar.
"Shit.. Dasar pria arogan kurang ajar," hentak Dania mengeluarkan sumpah serapanya.
Dania pikir setelah malam yang mereka lewati pria itu akan mudah untuk ia kendalikan, tetapi nyatanya tidak. Pria itu tetap berbuat sesukanya yang berbeda hanyala ia berpura-pura patuh saat berada di depan ayahnya.
"Tuan, ia pergi dan kali ini bersikeras tidak mengizinkan saya untuk ikut," ujar Dania saat sambungan telefon di jawab oleh orang di sebrang sana.
"Biarkan ia hari ini, kau pulanglah," balas bosnya tenang membuat Dania kembali mengerutkan dahinya.
"Tapi kenapa? Memangnya dia mau kemana?" tanya Dania ingin tau.
"Sama sepertimu dia juga mempunya hari khusus yang bersifat pribadi, sekarang pulanglah Dania."
click
Panggilan itu terputus secara sepihak oleh Bram membuat Dania merenggut kesal.
"Tidak anak tidak ayah sama saja, sama-sama arogan dan semena-mena," makinya.
Dania sempat terdiam cukup lama setelah beberapa saat mengatur nafasnya Dania kemudian menaikan bahu acuh seraya memasukan ponselnya kedalam saku dan berujar. "Dari pada pusing memikirkan pria arogan itu lebih baik aku memanfaatkan kesempatan emas ini untuk bertemu Dion."
Disisi lain mobil dark blue itu berhenti di sebuah pekarangan rumah yang dipenuhi bunga-bunga berwarna warni yang menghiasi halaman depan rumah itu, mencerminkan keindahan si pemilik rumah yang rajin dan penyuka tanaman. Tak menunggu lama si pemilik mobil yang tak lain adalah Marully Paleffi Danuarta itu turun dari mobilnya dan berjalan ke arah taman dimana terlihat seorang gadis dengan kulit putih yang sangat bening duduk di sana.
"Sedang kesal, kenapa kau kemari?" ujar wanita itu tanpa mengalihkan pandanganya untuk sekedar melihat kearah pria tampan itu.
Rully menaikan sebelah alisnya sebelum mendudukan diri di sebelah gadis itu. "Kau marah? aku hanya terlambat menemuimu beberapa minggu dan kau sampai semarah ini."
"Ayolah Cimol berhenti berjanji menemuiku kalau kau tidak ingin, itu membuatku tampak menyedihkan," ujarnya terlihat kesal.
"Bukan begitu, aku hanya sibuk akhir-akhir ini," katanya membela diri.
"Ya sudah kalau begitu kau tidak perlu datang lagi, aku juga tak apa kalau kau tak datang," usir gadis yang bernama lengkap Delila Pramita Andini itu merajuk.
"Marah eh?" goda Rully memegang pundak wanita berkulit putih bersih itu.
"Sudah tau kenapa bertanya?" rajuk gadis itu menepis tangan Rully kasar, tetapi bukanya marah atau mengeluarkan kata-kata kasarnya seperti yang ia lakukan di kantor atau di rumah Rully malah terkekeh geli dan mengacak rambut wanita itu, hal yang jarang sekali terlihat.
"Jangan tertawa aku tidak suka," gadis yang sering dipanggil Delila itu menatap Rully galak seraya merapikan kembali rambutnya yang dirusak oleh Rully, sedangkan yang ditatap hanya menampilkan wajah tanpa dosa.
"Baiklah kalau begitu katakan apa yang kau suka?" tanya Rully mencoba untuk bernegosiasi seraya menatap gadis itu manis bahkan sangat manis, ekspresi yang belum perna ia tunjukan pada siapapun termasuk neneknya sendiri.
"Jangan menunjukan wajah seperti itu, kau tau kelemahanku," jawab Delila membuat Rully kembali menampilkan senyumnya.
"Oh iya sedari tadi aku tak melihatnya, dimana dia? apa dia rutin datang menemuimu?" tanya Rully dengan mata liar memperhatikan sekitaran rumah itu.
"Tidak, dia sangat sibuk akhir-akhir ini jadi aku memakluminya," jawab Delila santai sebelum kembali pada buku di tanganya.
__ADS_1
"Kau memakluminya saat ia tidak bisa menemuimu, sedangkan aku?"
Delila kembali menutup bukunya dan menatap Rully malas. "Jangan memulai lagi Cimol."
Rully menaikan bahunya tak acuh dan kembali menatap Delila yang terlihat sangat fokus pada bukunya. "Apa kau tidak bosan? kau sudah membaca buku yang sama sebanyak ratusan kali, aku yang melihatnya saja merasa bosan."
"Tidak. Aku suka buku ini," jawab Delila menutup bukunya, yang kali ini ia benar-benar menutup bukunya dan fokus pada Rully.

"Aku heran kenapa kau sangat menyukai buku aneh ini?" tanya Rully yang sekarang sudah memegang buku bersampul bunga rose itu, "Tidak ada yang menarik, hanya berisi kata-kata aneh."
"Jangan menghina sesuatu yang tidak kau mengerti Cimol, ini buku yang memiliki arti yang sangat menakjubkan kalau kau tau maksud dari setiap katanya," jelas Delila merebut buku kesayangannya dari tangan Rully.
"Dan bukan hanya isinya yang membuat aku menyukai buku ini, tetapi orang yang memberikan buku ini pun membuatku sangat menyayangi buku ini," sambungnya lagi dengan pikiran yang menerawang dimasa lalu, sehinggat tanpa ia sadari bukan hanya dirinya yang kembali teringat tetapi pria yang duduk di sampingnya pun kembali teringat pada kisah lalu.
"Cimol are you okay? maaf aku tidak bermaksud," Delila mengelus lengan Rully yang terlihat terdiam beberapla saat.
"It's okay By, Hm..cuacanya cerah bagaimana kalau kita jalan-jalan hari ini?" tawar Rully mengalihkan pembicaraan, membuat Delila yang mengetahui hal itu pun mengangguk.
"Ide bagus, aku juga bosan kalau seharian disini."
"Baiklah kalau begitu ayo aku bantu," ujar Rully bangun dari duduknya dan mengangkat tubuh ramping Delila kemudian memindahkannya di kursi roda yang terletak di sebelah gadis itu.
"Terimakasih Cimol, memangnya kita mau kemana?" tanya Delila yang sudah duduk di kursi rodanya.
"Kemana pun yang kau mau Lady," ujar Rully membuat gadis menggunakan rok bermotif bunga-bunga dan atasan kemeja itu terkekeh kecil.
"Baiklah Lord, bawa aku ke kedai es-krim terbaik di kota ini," balas Delila dengan gaya ala seorang bangsawan yang dibuat-buat.
"Apapun untukmu Lady," ujar Rully seolah memberi hormat pada gadis itu sebelum mereka berduapun terkekeh dengan apa yang sudah mereka lakukan.
Rully membantu mendorong kursi roda Delila kearah dimana mobilnya terparkir, sesekali mengeluarkan candaannya yang membuat gadis itu tertawa, benar-benar terlihat berbeda dari ia biasanya. Rully yang dikenal dengan sosok yang arogan, sombong, egois, bermulut tajam, sekarang terlihat sangat baik, lucu, penyayang, saat bersama denga seorang gadis cacat yang untuk berdiri saja tidak bisa.
Seseorang akan terlihat memiliki kepribadian ganda dalam hidupnya karna dua alasan
Yang pertama karna orang yang ia sayang
Yang kedua karna rasa sakit
Dan mungkin dia mengalami keduanya....
-------------------------------
To be continue...
Jangan lupa vote+komentnya ya love😊😊
Sorry kelamaan update authornya labil😁😁
__ADS_1