
Rully melangkah memasuki rumah megah bak istana dengan wajah tegas, dan arogan seperti biasanya yang berhasil membuat para pekerja di rumah itu hanya tertunduk patuh,bagaimana tidak memiliki tuan muda killer dan tempramental semacam Rully mereka harus ekstra hati-hati kalau tidak ingin di maki secara cuma-cuma. Rully berjalan memasuki rumah melewati pelayan yang menunduk sopan padanya tak hanya itu ia juga melewati meja makan yang di huni oleh para anggota keluarga lainya tanpa berniat menyapa ataupun sekedar melirik ia langsung berjalan menuju kamarnya.
"Marully Paleffi Danuarta," panggil seorang pria paru baya mengintrupsi Rully dari langkahnya
"Anything?" tanya Rully dingin dan datar tanpa berniat berbalik atau setakat menatap wajah pria paru baya yang tak lain adalah ayahnya sendiri.
"Duduk dan makanlah bersama kami?" bujuk pria paru baya itu lembut pada Rully.
"Aku sudah makan," jawabnya dingin dan terdengar sinis sebelum kembali melanjutkan langkahnya sampai saat suara wanita yang sangat ia benci masuk ke indra pendengaranya.
"Sopan lah sedikit kalau berbicara dengan Ayahmu," tegas seorang wanita Parubaya membuat Rully langsung memutar tubuhnya menghadap wanita itu garang.
"Ada masalah dengan mu?" tantang Rully dingin dan terkesan sangat tidak bersahabat.
Wanita parubaya itu berdiri dan menatap tidak suka pada Rully. "Tentu itu urusanku, aku tidak suka cara mu bicara dengan Ayahmu," Rully tersenyum miring penuh tatapan merendahkan pada wanita yang tak lain adalah Nyonya Ratih Anya Danuarta yang tak lain adalah istri dari Ayahnya Bramantio Danuarta.
Rully tersenyum sinis. "Apa peduliku
Kau suka ataupun tidak," jawab Rully singit membuat ruang makan itu semakin memanas.
"Dan satu lagi, itu urusanku bagaimana harus berbicara dengan tua bangka ini," tunjuk Rully pada Ayahnya yang hanya menatap putranya tanpa ekspresi, ia sudah sangat tau bagaiman keras dan kasarnya ucapan yang keluar dari mulut putranya itu.
"Jangan bicara seperti itu tentang Daddy kak," sentak seorang gadis yang selisih beberapa tahun dari Rully berdiri dari kursinya.
"Aku bukan kakakmu..!!" bentak Rully menggemah di seluru ruangan yang membuat siapa saja yang melihatnya bergidik ngeri, mata Rully berkilat marah bagaikan menyimpan banyak kemarahan dan kebencian yang siap ia luapkan kapan saja.
"Cukup Marully, kalau kau memang benci pada Daddy tolong jangan lampiaskan kebencianmu pada orang lain dan menyakiti hati mereka seperti yang selama ini kau lakukan," ujar pria paru baya itu menengahi.
Rully kembali menampilkan senyum miringnya. "Bahkan kalau aku membunuh mu pun kurasa belum cukup untuk melampiaskan semua dendam dan kebencianku selama ini tuan Bramantio Danuarta," ujarnya sinis.
Ayahnya terdiam merasa sangat tertohok dengan ucapan putra yang sangat ia sayangi itu, setelah meluapkan kemarahanya pada Ayahnya itu Rully dengan tidak peduli kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya.
Itulah sifat asli Marully Paleffi Danuarta, Danuarta muda tempramental yang selalu berkata kasar, bahkan tidak perna memikirkan bagaimana perasaan orang lain saat mendengar ucapan pedas dan makiannya itu persis seperti apa yang di katakan gadis tadi. Dan semua itu di akibatkan oleh penghianatan sang ayah yang membuat kasih sayang dan cinta tulusnya berubah menjadi kebencian dan rasa sakit mendalam yang sekarang sudah mendarah daging di hati dan jiwanya.
☀☀☀☀☀
Dania berjalan dengan langkah malasnya menghela nafas berat, karna suatu kejadian yang tak terduga membuat hidupnya berubah 180 drajat. Karna terlalu larut dalam pikiranya tanpa sengaja ia menendang sebuah mobil yang terbilang cukup mewah yang terparkir di depan sebuah kantor tempatnya melamar pekerjaan beberapa saat yang lalu dengan keras untuk menyalurkan kekesalanya yang kebetulan membuat lampu sen mobil itu menyala dan berbunyi.
Menyadari kebodohanya itu Dania pun langsung panik dan mencoba membuat mobil itu berhenti berbunyi. "Astaga, sekarang bagaimana?"
Karna terlalu panik Dania pun mencoba melarikan diri dari kawasan gedung, tapi sayangnya ia terlambat karna security penjaga gedung itu sudah berlarian kearahnya.
"Maaf saya tidak sengaja, saya tidak berniat melakukan apapun," elak Dania pada security yang menghadangnya.
__ADS_1
"Kita jelaskan nanti di kantor," ujar pria bekumis itu meraih tanganya membuat Dania semakin panik.
"Tapi demi Tuhan, saya tidak berniat untuk melakukan apapun," Dania masih mencoba untuk mengelak.
"Tidak usa membawa-bawa nama Tuhan nona, atau anda ingin kami telepon polisi saja," Dania sontak membulatkan mata mendengar ancaman para security itu padanya.
"Saya tidak bohong, saya tidak berniat melakukan hal jahat pada mobil ini," bantahnya lagi.
"Sudahlah nona tidak usa berdalih, ayo sekarang anda ikut kami," ujar Security berbadan tegap yang mulai kehilangan kesabaran.
"Tapi saya memang tidak ingin melakukan hal apapun pada mobil ini," Dania mencoba membantah semua yang dituduhkan padanya tapi Security itu masih tidak percaya dan terus saja menarik tanganya.
Dania berusaha memberontak dari pegangan kedua security itu tidak rela kalau harus dibawak ke kantor polisi, bahkan harus membusuk di penjara, ia bisa gila apabila hal itu benar-benar terjadi.
Gadis bodoh, lagi pula orang bodoh mana yang menendang sembarangan mobil mewah yang terparkir di kawasan khusus seperti sekarang.
Saat Dania sedang sibuk memberontak dari seretan para security itu, tiba-tiba saja datang beberapa pria dan wanita berpakaian jas resmi berjalan mendekat ke arah mereka.
"Ada apa ini? " suara pria muda yang cukup tampan mengintrupsi kedua Security itu untuk berhenti.
"Maaf Pak perempuan ini ingin melakukan sesuatu pada mobil tuan, tetapi kami segera menyadari hal ini saat secara tiba-tiba lampu sent nya berbunyi," jelas Security berkumis itu membuat mereka semua menatap Dania sedangkan Dania yang di tatap buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Tidak, ini semua tidak benar mereka salah paham," bantah Dania cepat.
"Saya tidak sengaja menabrak mobil itu, sebenarnya saya juga tidak berniat untuk lari, saya hanya takut di tuduh macam-macam seperti sekarang ini," jelas Dania sedikit berbohong untuk menyelamatkan dirinya.
"Kau pasti berbohong mobil itu tidak akan berbunyi kalau kau tidak menyentuhnya dengan keras," ucap laki-laki berjas tadi menyudutkan Dania.
"Cukup, Baiklah masalah ini akan segera saya selesaikan, kalian boleh kembali bekerja," ujar pria paru baya itu berwibawa yang membuat kedua security itu menganggu patuh dan pergi meninggalkan Dania bersama pria paru baya dan orang-orangnya.
☀☀☀☀☀☀
Sekarang Dania sedang di dudukkan di sebuah ruangan bernuansa klasik nan elegan di hadapan seorang pria paru baya yang tak lain adalah pemilik mobil yang tadi ia tendang di parkiran namun sekarang pria itu terlihat sedikit sibuk dengan ponselnya.
"Ah, selamat datang Nona Dania Aryasatya, maaf membuatmu menunggu," sapa pria itu setelah selesai dengan urusannya.
Dania yang mulai tak sabar pun menjawab ucapan pria parubaya itu to the point. "Bisa kita selesaikan sekarang tuan?"
Pria parubaya itu menampilkan senyum manisnya, "Baik, karna aku pikir kau juga tidak memiliki banyak waktu jadi langsung saja dengan negosiasinya," ujar pria parubaya itu dengan Dania yang mencerna setiap ucapannya.
Dania menaikan alisnya heran. "Tapi bukanya tadi saya sudah menjelaskan bahwa saya tidak sengaja menabrak mobil tuan, saya tidak ada niatan untuk melakukan hal tidak baik lainya."
Pria paru baya itu tersenyum aneh membuat Dania mengerutkan dahinya. "Jangan mencoba membodohi ku Nona, aku melihat jelas di kamera CCTV bahwa kau tidak terlihat menabrak mobil itu secara tidak sengaja," seringai licik tercekat di wajah tampan yang sudah mulai keriput itu membuat Dania langsung terdiam.
__ADS_1
Dania sangat kesal dengan ucapan pria tua di hadapannya ini serta kebodohannya sendiri,"Lalu apa yang anda inginkan dari saya sekarang tuan, apa anda juga ingin memasukan saya kedalam sel seperti yang akan security anda lakukan barusan?" tanya Dania kesal.
Pria itu terkekeh kecil membuat wajah tua itu terlihat tampan.
Dania mengernyitkan dahinya dan membatin. "Apa ada yang lucu disini?
"Tergantung," jawab pria itu mulai serius,"Tetapi sebelum itu aku ingin memberi mu sebuah penawaran yang sedikit menguntungkan."
"Penawaran?"
"Ya, penawaran," angguk pria tua itu.
"Bekerjalah dengan ku dan aku akan melupakan kasus ini," kata pria tua itu menatap Dania serius.
"Tapi tak apa kalau kau tidak mau, dengan senang hati aku juga akan mengizinkanmu keluar dari ruangan ini dengan di jemput secara khusus," Dania menghela nafas kasar dan menatap pria parubaya di hadapannya itu tak percaya.
Apa sekarang dirinya sedang diancam?
"Kenapa tuan memberikan saya tawaran ini? "
Pria itu kembali tersenyum. "Entahlah aku hanya ingin berbaik hati kali ini," jawab pria itu terlihat santai.
Dan kali ini Dania benar-benar merasa bahwa pria tua dihadapanya ini henar-benar tidak waras, bagaimana tidak sudah jelas-jelas bahwa pria itu mengancamnya.
"Huft.. Baiklah saya setuju," jawab Dania akhirnya dan senyum kemenangan merekah di wajah keriput pria parubaya itu, membuat perasaan Dania mendadak menjadi tidak enak.
*Apa yang kamu beri itulah
Yang akan kamu terima
Karna tuhan itu adil.
Dan mungkin sekarang ia sudah menerima apa yang ia beri*...
-------------------
TBC.....
Jangan lupa vote+comet ya love...
Coba memperbaiki kesalahan sedikit-sedikit😊😊
__ADS_1