Love My Fan

Love My Fan
Chapter 6


__ADS_3

☀☀☀☀☀


Sekarang Dania dan Rully masih di kuasai oleh rasa gondok di diri mereka masing-masing, saat ini terlihat kedua manusia itu sudah siap untuk menerkam satu sama lain.


Dania duduk di sofa kamar Rully dengan bersila dan bersedekap dada, sedangkan Rully duduk di ranjang dengan memangku laptopnya.


Dania mendengus kesal menatap Rully tak suka. "Dasar pria arogan menyebalkan."


Sunggu baru kali ini ia merasa sekesal ini, rasanya ia ingin mencakar-cakar wajah tampan pria di hadapanya ini, dan berubah wujud menjadi kucing liar yang sebenarnya.


Rully tampak tersenyum miring. "Kucing liar heh."


Karna merasa kesal Dania pun bangun dari tempatnya dan berjalan keluar dari kamar Rully, sedangkan Rully hanya menatap Dania tak acuh.


Setelah Dania keluar dari kamarnya. Rully langsung menutup laptop menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, meluapkan segala kepenatan yang ia jalani  sepanjang hari. Sebenarnya sedari tadi ia menyibukan diri memeriksa berkas yang sudah ia periksa berulang kali. Entah mengapa tatapan kesal Dania sangat membuatnya bahagia  sehingga ia harus berpura-pura sibuk agar wanita itu berhenti merecoki hidupnya.


"Ah, bahkan tempat paling nyaman dalam hidup ku pun sekarang sudah di rusak tua bangka itu Mom,"  ujar Rully memejamkan matanya guna menghilangkan segala pikiran yang sempat menghantui otaknya.


☀☀☀☀☀


Di sisi lain Dania berjalan dengan kesal menuruni anak tangga sangkil kesalnya tanpa sengaja ia menabrak seseora membuatnya terhuyung. "Ah, maaf," kata Dania pada pria yang tak sengaja ia tabrak.


"Kau siapa?" tanya pria itu heran, Dania pun mendongakkan kepalanya sedikit untuk melihat lawan bicaranya.


Oh my lord


Dan untuk kesekian kalinya ia terkagum dengan semua koleksia pria tampan di sekeliling Bosnya itu. Sehingga membuat dirinya tak berkedip untuk beberapa saat.


"Nona."


"Ah ya, saya pelayan di sini," jawab Dania asal.


Pria itu tampak mengangguk dan langsung percaya dengan ucapan asal Dania. "Sekali lagi saya mintak maaf," ujar Dania tidak enak.


Pria itu membalas ucapan Dania dengan mengangguk singkat dan tersenyum yang menurut Dania sangat manis. 


Tampan sekali


"Ohya kenalkan aku Arga. Kau boleh memanggil ku Arga," pria tampan bernama Arga itu mengulurkan tangannya seraya tersenyum ramah.


"Ya, Saya Dania," ujar Dania balas tersenyum.


"Ya,  kalau begitu aku ke atas dulu," pamitnya dan langsung naik meninggalkan Dania yang masih terkagum-kagum.


Berbeda dengan Rully yang arogan, tempramen dan tampak tak bersahabat. Arga lebih terlihat ramah, sopan, dan sangat mudah mengumbar senyum serta semua ucapan yang keluar dari mulutnya sangat lembut.


"Ah kenapa hidupku sekarang di kelilingi pria tampan ya?" gumam Dania memegang pipinya yang memerah seraya tersenyum malu pada dirinya sendiri.


"Siapa yang tampan?" sentak sebuah suara mengagetkan Dania.

__ADS_1


"Ah nyonya,"  ujar Dania malu sedangkan wanita parubaya yang masih cantik itu hanya terkekeh  pelan.


"Jangan banyak melamun apalagi di tangga, itu tidak baik," tegur wanita parubaya yang tak lain adalah Nyonya Ratih istri dari bosnya itu.


"Maaf nyonya," ujar Dania seraya menuruni tangga.


Wanita parubaya itu mengangguk dan tersenyum. "Ohya apa kau sudah bertemu dengan Arga?" tanya Nyonya Ratih penguasa rumah itu, mengajak Dania berjalan menuju taman.


Terkadang Dania heran, apa yang membuat Rully begitu kasar pada semua orang, sedangkan semua keluarganya terlihat ramah dan baik, ya walaupun awalnya ia tidak suka dengan sikap Bram yang sangat bossy dan semena-mena, tapi sekarang ia sadar bahwa pria kaya itu sangat baik dan dermawan.


"Ya, saya sudah bertemu dengan beliau," ujar Dania yang masih setia mengikuti langkah wanita parubaya itu.


"Dia pria yang tampan bukan?" goda Ratih menaikan alisnya membuat pipi Dania kembali merona.


"Benar, beliau memang pria yang sangat tampan," jawab Dania terdengar seperti sebuah gumaman.


"Ya dia sangat tampan dan mapan, tapi sangat di sayangkan dia masih belum memiliki kekasih. Aku heran apa yang salah dari anak itu," ujar Ratih tersirat nada kecewa di setiap ucapanya


"Apakah ia putra tertua anda nyonya?"


"Ya dia putra Sulung ku, ah anak itu. Aku harap di usianya yang ketiga puluh nanti ia akan memilih untuk menikah," kekeh Ratih.


"Astaga, apa usianya sudah menginjak tiga puluh tahun?" tanya Dania tidak percaya, pasalnya wajah tuan Arganya itu terlihat sangat muda.


"Ya mungkin beberapa bulan lagi," jawab Ratih dengan senyum yang tak lepas dari wajah cantinya.


Dania tampak mengangguk-ngangguk dan sekarang otaknya kembali tersadar pada tugasnya, "Astaga, aku melupakan pria arogan itu," ujar Dania menepuk jidatnya.


"Ah, maksud saya Tuan muda Danuarta nyoya," ralat Dania merutuki kebodohannya.


Ratih menggelengkan kepalanya melihat ke arah gadis mudah itu.  "Sana, pergilah temani tuan arogan mu itu," suruh Ratih lembut.


Dania mengangguk dan langsung ngacir menuju tangga meninggalkan Ratih yang masih menatap kosong pada seorang pria paru baya yang tiba-tiba datang dengan senyum yang terlukis indah di bibirnya. Pria itu sudah akan memeluk hangat dirinya tapi segera ditepis Ratih pelan. "Ada rasa rindu di hati ku, tapi maaf kebencian yang kamu tanamkan jauh lebih besar dari rasa rindu itu," ujar Ratih sebelum pergi meninggalkan suaminya yang hanya bisa terdiam dengan perasaan sedih dan kecewa.


☀☀☀☀☀


Pagi ini seperti biasa Rully sudah siap dengan setelan jas lengakapnya, dan begitu juga Dania yang sudah berdiri setia di samping Rully bagaikan seorang asisten pribadi. Sepertinya Rully sudah mulai bisa beradaptasi dengan kehadiran Dania, bahkan saat di mobil pun Dania sudah duduk manis di sebelah Rully walaupun masih ada ekspresi tidak suka dari pria berwajah tampan nan maskulin itu.


"Berikan jadwalku hari ini?" tanya Rully pada sekertris cantik dan menggodanya.


Sekertaris itu tersenyum manis membuat Dania menjadi sangat iri dengan kecantikan wanita itu. "Hari ini pihak dari Indrajaya Group akan datang untuk menemui Anda."


Rully mengangguk. "Baiklah, ada lagi?"


Sekertaris itu kembali melihat mapnya, "Dan rapat pemegang saham pukul 2 siang, setelah itu janji makan dengan Pak Airlangga di hotelnya," ujar sekertaris itu lagi.


Rully mengangguk dan langsung masuk keruanganya di ikuti Dania yang mengejar langkah besar pria itu.


Seperti yang dikatakan sang sekertaris, hari ini aktivitas Rully sangat padat tetapi Rully tidak terlihat lelah atau mengeluh sedikitpun, sedangkan Dania sudah ingin sekarat rasanya mengikuti kemana langkah pria itu pergi.

__ADS_1


Bahkan sekarang Rully masih sanggup memeriksa berkas-berkasnya. Hingga tanpa di sadari sudah hampir satu jam Rully berkutat dengan pekerjaanya tapi matanya terus saja tertuju pada gadis yang sekarang masih berdiri di sebelahnya selama 1 jam dengan keringat yang sudah membanjiri daerah di sekitar wajah cantik milik gadis itu.


"Duduklah," perintah Rully dengan nada datarnya masih fokus pada tumpukan berkas yang ada di meja.


"Apa tuan?" tanya Dania yang tidak yakin dengan pendengaranya sendiri.


"Duduk," ujar Rully penuh penekanan.


"Ah tidak," bantahnya.


Rully menaikan alisnya. "Kau membantah ku?"


"Bukan begitu, tapi saya berdiri saja," tolak Dania masih keras kepala.


"Apa kau..-"


Bruk


Belum sepat Rully menyelesaikan kalimatnya tubuh Dania sudah terlebih dahulu ambruk ke lantai membuat ekspresi panik tercetak jelas di wajah tampan itu.


"Oh shit."


"Hey, bangun Kucing liar," Rully berjongkok di dekat Dania dan menepuk pelan pipi gadis itu namun tidak ada reaksi apapun di sana.


Karna panik Rully langsung menggendong Dania dan membawa gadis itu kesofa di ruangannya.


"Kucing liar bangun," ujar Rully dengan berlutut di sebelah sofa masih menepuk pelan pipi Dania.


"Christy keruangan ku sekarang," jawab Rully menekan intercom berbicara pada sekertarisnya.


Sebelum tatapannya kembali pada gadis yang masih pucat di hadapannya ini, matanya beralih pada jam dinding yang menunjukan pukul 4 sore.


"Apa gadis ini sudah makan?" batin Rully.


Ia mengingat bahwa dirinya tidak belum sarapan dan makan siang bahkan ia tidak perna memperdulikan hal itu, dan sudah beberapa kali pula Dania mengingatkannya untuk sarapan dan makan siang agar tidak sakit, namun dengan galak dirinya malah mengabaikan semua ucapan gadis itu.


Sekarang betapa bodoh dirinya, karna ego yang ia miliki membuatnya hampir membahayakan nyawa orang lain seperti ini.


"Stupid."


Ego itu sifat manusia, siapa saja bisa memilikinya


tetapi tidak harus semua orang terkena dampaknya.


Dan sekarang gadis itu harus terkena dampak dari ego si pria....


----------------------


Akhirnya...

__ADS_1


Jangan lupa vote and comen ya readers😊😊😊


__ADS_2