
☀☀☀☀☀☀
Dania duduk di meja makan dengan Rully yang sudah kembali dengan santai seperti biasa, menikmati makanan di atas meja yang tadi sempat di bawakan Mbok Min istrinya Pak Man, setelah Rully melepaskan segala kekacauannya yang membuat suasa menjadi sangat canggung sekarang pria itu malah makan dengan santainya membiarkan Dania merasakan kecanggungan dan kekakuan itu sendiri.
"Tuan," panggil Dania lebih terdengar gumaman namun mampu di dengar jelas oleh Rully karna ruangan yang di selimuti keheningan.
Rully menatap Dania seolah bertanya "Ada apa?" membuat Dania merutuki kebodohanya.
Gadis bodoh, kenapa kau memanggilnya?
Dania berusaha berfikir mencari topik pembicaraan. "Sampai kapan kita di sini tuan?"
"Sampai seseorang datang menjemput," jawab Rully singkat.
"Memangnya siapa yang akan menjemput kita tuan?" tanya Dania pada Rully yang hanya diam santai menyuapi makananya.
"Tuan."
Rully menegak habis segelas air putih menyudahi aktivitas makannya sebelum mejawa pertanyaan gadis itu. "Aku menyuruh Reza untuk datang kemari menjemput kita, sekaligus membawa beberapa pakaian untukmu."
Dania terdiam beberapa saat mencerna ucapan Rully sebelum rentetan pertanyaan kembali ia ucapkan. "Kenapa anda menyuruh beliau tuan? Apa beliau tidak sibuk? Lalu kenapa anda menyuruhnya membeli pakaian saya? Dan apa dia tau berapa ukuran size yang saya pakai?"
"Bisakah aku tidak menjawab semuanya?" Rully menatap Dania jengan dengan kebawelan gadis itu.
"Tapi tuan..—"
"Pertama hanya Reza orang kepercayaanku, kedua sibuk atau tidak aku tak peduli, ketiga kalau bukan dia siapa lagi yang harus membawa pakaian gantimu?, dan yang terakhir aku yakin pria itu cukup pintar untuk menerka-nerka size mu," Jelas Rully panjang lebar yang berhasil membungkam kebawelan gadis itu, sempat ada ketekejutan di wajah cantik itu namun segera Dania tutupi agar tidak membuat Rully canggung atas perubahan yang tak Rully sadari pada dirinya.
"Lalu dari mana anda mendapat pakaian itu?" Dania menatap Rully yang sekarang sudah mengenakan kaus polo berwarna putih, ya tadi pria itu sempat mengganti setelan jas lengkapnya menjadi pakaian yang lebih santai sekarang.
Rully sempat menghela nafas kasar sebelum kembali menjawab pertanyaan Dania. "Saat kemari aku selalu meninggalkan beberapa setelan di sini."
Dania hanya diam, mengangguk-ngangguk paham mendengarakan segala penjelasan yang di berikan oleh pria itu, sedangkan Rully setelah menyelesaikan kalimatnya ia pun memilih untuk beranjak.
"Anda mau kemana tuan?" tanya Dania yang sudah akan bangkit dari tempatnya.
"Aku tidak kemana-mana, kau makanlah."
--------
Rully duduk diam menatap ke arah balkon sendirian melihat langit yang berwarna jingga menandakan senja yang sudah menyapanya, sendirian ya saat ini Rully benar-benar sendirian tanpa siapapun termasuk Dania, saat ini ia butuh waktu menenangkan segala kerumitan yang terus mengahantui otaknya.
Rully benar-benar tidak tau, apa yang merasuki dirinya sehingga ia bisa percaya dengan orang asing yang hampir sebulan ini hadir dalam kehidupnya, dan untuk pertama kalinya Rully yang selalu meluapkan segala emosi serta sakit hatinya dengan menangis sendirian tanpa di ketahui siapapun, sekarang berani memperlihatkannya di depan seorang gadis asing yang mungkin saja berpihak pada musuh besarnya.
Dania menatap Rully yang hanya diam termenung, sedari tadi ia ingin menemani pria itu dan menjadi teman bicaranya atau setakat menjadi teman bertengkar seperti biasanya, namun kembali ia urungkan karna mungkin saat ini Rully benar-benar ingin sendiri.
Tak berapa lama saat sepasang makluk berbeda jenis itu di selimuti keheningan tiba-tiba bel di Villa mega itu menggema ke seluruh penjuru ruangan, pertanda ada seseorang dari luar yang minta di sambut dan di bukakan pintu.
"Siapa?" tanya Rully yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Dania membuat si gadi terperanjat.
"Tidak tau, mungkin teman anda Tuan," jawab Dania polos masih setia berdiri di tempatnya.
"Buka," titah Rully.
"Ah ya," jawab Dania segera berlalu ke arah pintu utama Villa itu.
Dania menatap sosok di hadapannya heran dengan alis yang berkerut, ia pikir yang di suruh Rully untuk datang adalah seseorang yang berjenis kelamin pria namun kenapa yang berdiri di hadapannya adalah seorang wanita dengan drees ketat.
"Kau mau terus berdiri di sana atau menyuruhku masuk?" ujar si wanita pada Dania yang masih menatapnya diam.
"Janne?" Rully datang dari balik tubuh ramping Dania menatap sosok yang masih sama dengan ekspresi yang tak kalah berbeda. "Sedang apa kau di sini?"
"Sedang menemani kekasihku," jawab Janne santai dengan sikap yang arogant tak berbeda jauh dari Rully.
"Han!!"
"Yes by," keterkejutan Dania semakin bertambah tak kalah melihat Reza yang sudah datang dengan senyumannya membawa beberapa kantong plastik berisi makanan dan dan tas yang mungkin berisi pakaian.
Dania menatap sepasang manusia itu heran kemudian beralih pada Rully yang sudah berdiri di hadapannya, sedangkan pria itu hanya menampilkan ekspresi santai tanpa ada keterkejutan sama sekali.
"Kekasih?" tanya Dania menatap Reza.
"Yes he is mine," Janne memeluk lengan Reza posesif menunjukan kepemilikannya atas pria berdarah Asia itu.
"Tapi..—"
"Baiklah simpan dulu rasa penasaranmu dan biarkan dua manusia ini masuk," potong Rully cepat menyuruh Reza dan Janne masuk sedangkan Dania ikut mengekor masuk walau masih menatap tak percaya akan hal yang baru saja ia lihat.
"Bagaimana bisa?" bisik Dania pada Rully yang berjalan di sebelahnya.
"Apa?"
__ADS_1
"Bagaimana bisa wanita yang merupakan calon tunangan anda tiba-tiba menjalin hubungan dengan teman anda," bisik Dania pada Rully namun mampu di dengar oleh Janne dan Reza.
"Tentu saja bisa," potong Janne tiba-tiba berbalik menghentikan langkah mereka.
"Karna merasa kecewa dengan penolakan sepihak R, aku memilih melupakannya dan mencari kekasih baru," jawab Janne dengan wajah kecewanya walau sangat terlihat di buat-buat, membuat Rully malah menatapnya jengah sedangkan Dania nampak melongo atas jawaban wanita Barat itu.
"Tapi apa harus dengan temannya?" tanya Dania lagi.
"Kenapa? Tidak boleh?" tanya Janne terlihat sangat arogant.
"Seorang Cassandra bisa melakukan apapun sesukanya tanpa ada pertanyaan," sambungnya lagi menyombongkan diri.
"Cukup J, berhenti membuatku ingin melemparmu dari sini," kesal Rully yang muak dengan drama Cassandra satu itu.
"Aku pikir kau tak cukup berani untuk melakukan hal itu," tantang Janne duduk dengan santai di kursi kayu jepara yang berada di sana.
"Sangat tidak empuk," komentarnya santai setelah mendaratkan bokongnya di kursi kayu itu.
Rully benar-benar tidak tau harus marah pada siapa sekarang, pada Janne karna memiliki mulut yang sangat pintar berkomentar namun otak yang bodoh, atau pada Reza yang sudah membawa bencana ke dalam hidupnya saat ini.
"Maaf Nona tapi itu kursi kayu bukan sofa," ralat Dania polos sedangkan Reza mencoba menahan kekehanya yang sudah akan meledak melihat bagaimana tingkah kekasihnya dan reaksi tuan rumah itu.
"Terserah apapun itu, Oh ya dimana pelayannya?" tanya Janne santai mencari-cari keberadaan sosok seseorang.
"Tidak ada pelayan di sini Nona," jawab Dania sopan sedangkan Rully sudah mendudukan diri di sebelah Reza dengan kesal.
"Oh kalau begitu kau," Janne menunjuk pada Dania dengan jari lentiknya kemudian berujar dengan gaya khasnya, "Buatkan aku minuman."
"Jangan sperti itu Han," tegur Reza membuat Janne balas menatapnya dengan senyuman sebelum mengedipkan sebelah matanya.
"Kenapa tidak?" kata Janne kembali menatap Dania, "Bukannya dia pelayan."
"Hentikan Cassanova dia bukan pelayan," kata Rully berdiri dari duduknya tak tahan dengan gadis itu.
"Lalu siapa dia?" tanya Janne turut berdiri.
"Kenapa dia terus mengekorimu? Bahkan sampai ke tempat ini?" sambungnya lagi.
"Oh atau dia alasanmu memutuskan hubungan kita?" ujar Janne menunjukan Dania membuat gadis itu hanya diam tak paham.
"Stop J hentikan drama ini," ujar Rully mencoba tenang walau emosinya sudah berada di bun-ubun.
"Drama apa R, siapa yang tengah berdrama sekarang, kau atau aku?" kata Janne lagi tampak sangat baik dalam aktingnya.
"Jangan membuatku muak Cassanova," peringat Rully yang memang tau bahwa sedari tadi gadis cantik di hadapannya hanya bersandiwara.
"Atau dia gadis yang selama ini membuatmu menolak ku, menolak hubungan kita??" tanya Janne dengan suara yang lebih tinggi.
"Hentikan Cassanova, ya kau benar dia seorang pelayan!!" bentak Rully keras membuat senyum puas tersungging di wajah cantik itu, "Namun meskipun begitu tak berarti dia bebas melayani siapa saja, dia hanya pelayanku."
"Just me," kata Rully tegas dan penuh penekanan pada kalimatnya.
Dania terdiam menatap Rully, di sudut hati terasa terluka dengan ungkapan Rully membuat ia merasa benar-benar sangat rendah dan tak nyaman, merasa terusik dengan ucapan tuannya gadis bertubuh rata-rata itupun hanya diam mematung kemudian mundur perlahan dan berlari keluar dari villa meninggalkan mereka dengan drama yang mereka buat di sana.
"Bagus R, kau menciptakan masalah baru sekarang," ujar Janne dengan senyum miringnya membuat pria itu nenatap Janne bak singa yang siap menerkam mangsanya.
"Seharusnya sebelum mengatakan hal itu kau harus memastikan, apa gadis itu bagimu R?" kata Janne tersenyum puas.
"Kau...—"
"Ah aku sangat lelah, di mana kamar tamunya Han?" tanya Janne sudah berbalik menatap Reza sontak menghentikan umpatan yang tadinya siap di keluarkan Rully.
"Di sebelah kiri By," jawab Reza dengan senyum bangga yang ia tujukan pada kekasihnya sedangkan Janne membalas senyuman itu serta mengedipkan sebelah matanya.
"Drama yang bagus Re sangat bagus," geram Rully frustasi setelah kepergian Janne membuat Reza berjalan dengan senyum manis mendekati pria itu.
"Bukannya membantu menyelesaikan masalahku, kau malah membawa Cassanova itu untuk menambah masalahku."
Reza terkekeh mendengar penuturan sahabatnya itu dan kemudian menepuk pundak Rully pelan, "R sudah saatnya kau mencari seorang wanita yang benar-benar bisa menemanimu di masa buruk mu seperti sekarang, dan kupikir Dania adalah gadis yang tepat."
Rully menepis lengan Reza kasar, "Hentikan omong kosongmu, aku tidak butuh siapapun."
Reza mengerutkan dahinya, "Kau yakin? Kupikir tidak."
"Permisi Tuan," ujar seorang yang datang dari balik pintu mengalihkan perhatian kedua pria tampan itu.
"Saa melihat Nona pergi ke luar dari kawasan Villa saya khawatir terjadi sesuatu, sebentar lagi sepertinya akan turun hujan," kata Pak Man saat mendapat tatapan bertanya dari bosnya.
"Shit," umpat Rully langsung berlari keluar Villa tanpa berniat membalas ucapan pria tua itu.
"Ada apa ya Tuan?" tanya Pak Man tak paham dengan kondisi saat ini yang hanya di balas Reza dengan senyum puas.
"Ah tidak ada apa-apa pak, bapak bisa kembali bekerja," kata Reza sebelum pria tua itu mengangguk dan pamit berlalu pergi.
__ADS_1
Di sisi lain seorang gadis tampak berjalan santai dengan raut wajah melihat-lihat ke arah jalan setapak yang ia lalui, tampak tak ada rasa takut di sana di tambah lagi beberapa warga yang hilir mudik pulang dari aktivitas melelahkan mereka seperti, pulang berladang atau setakat mengambil rumput menghilangkan kesunyian jalanan itu.
Langkah Dania tehenti saat tiba-tiba langit berbunyi dengan lantangnya menunjukan kekuasaan sang pencipta dan di tambah lagi cuaca yang tadinya sedikit mendung berubah menjadi sangat gelap membuat gadis itu langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke atas langit.
"Apa mau hujan?" gumam Dania, "Tapi aku masih kesal padanya," cemberut gadis itu dan kembali melanjutkan langkah.
Bagaimana tidak, saat di mana seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya atau ia di berikan sebuah pengharapan namun malah kembali di hempas itu pasti akan menimbulkan kekecewaan dan rasa sakit di hatinya, begitu pula dengan Dania selama ini ia berfikir bahwa Rully sudah bisa menerima keberadaanya sebagai seorang teman perlu di garis bawahi, seorang teman. Namun Rully tetaplah Rully pria aorgant, egois, keras kepala ia malah mengatakan dengan tegas apa Dania baginya, yaitu seorang pelayan, pelayannya Danuarta.
Dania semakin menghentakkan kakinya kesal sangat kesal bahkan sangkil kesalnya andai saja bertemu Rully gadis cantik itu ingin sekali menendang wajah arogant itu dengan kakinya.
"Pria kurang ajar, sejak kapan aku menjadi pelayannya," maki Dania di tengah perjalanannya.
"Enak saja dia mengatakan aku pelayan, aku ini bukan pelayan."
"Lalu apa?"
Dania langsung tersentak saat mendengar suara besar dari belakangnya dan sontak berbalik, ia mendapati seorang pria dengan sedikit keringat di pelipisnya serta nafas yang tak teratur sepersi habis...
Berlari?
"Tuan apa yang anda lakukan di sini?" tanya Dania tampak terkejut dengan kehadiran Rully.
"Menurutmu?" ujar Rully.
"Ayo pulang," perintah Rully sudah akan berbalik.
"Tidak mau."
Rully menaikan alisnya menatap Dania yang memang masih merasa kesal denganya. "Apa masalahmu?"
"Masalah saya anda tuan," jawab Dania menatap pria itu dengan wajah kesalnya.
"Kenapa dengaku?" Rully tampak menaikan alisnya.
"Kenapa dengan anda? Anda menghina saya di depan wanita sejenis anda itu dan anda masih bertanya?"
Rully kembali menaikan alisnya, "Sejenisku? Dalam hal?"
"Anda masih bertanya tuan?" Dania berbalik memunggungi Rully dan kembali melanjutkan ucapannya, "Dalam hal ke aroganat, keeogoisan, kekerasan kepalaan dan..—"
"Dan apa?"
Dania kembali berbalik mengahadap Rully. "Dan saya pikir anda dan wanita itu adalah pasangan yang serasi," kata Dania.
"Ohya?" Rully menatap Dania dengan alisnya yang terangkat memperlihatkan ekspresi arogant yang sangat sesuai dengan garis rahang si pemilik wajah itu.
"Ya, tapi satu hal yang tidak saya mengerti?"
"Apa..—"
Dania mengenghentikan ucapannya saat menyadari sebuah cairan bening membasahi hidung mancungnya serta di susul umpatan keras dari Rully.
"Double shit."
"Ayo pulang."
Menyadari rintik rintik air hujan yang mulai turun Rully pun dengan segera meraih pergelangan tangan Dania dan menarik gadis itu untuk kembali ke Villa.
"Tuan saya tidak mau pulang," tolak Dania walaupun ia tetapi mengikuti langkah Rully yang terus mencengkram lengannya.
Rully tak memindahi ucapan Dania dan terus menarik gadis itu berlari menyusuri jalan setapak bersamanya.
Merasa tak di mindahi Dania pun sontak menghentikan langkahnya dan menarik tanganya dari cengkraman Rully membuat pria itu menatapnya kesal, "Tuan saya tidak mau pulang."
"Lalu kau mau apa?"
"Saya mau anda minta maaf dulu pada saya," kata Dania membuat Rully terdiam di tempatnya.
"Maaf."
Setelah menyelesaikan kata tak jelasnya itu tanpa penolakan, Rully pun kembali menarik pergelangan tangan Dania segera memasuki kawasan Villa.
Hal yang semakin memperumit masalah adalah rasa yang membelenggu jiwa manusia..
----------------
TO BE CONTINUE..
Yeaaayy setelah sekian lama daku Kembali update..😀😀
Terus di tunggu dan,
Jangan lupa vote+coment nya selalu...😊😊
__ADS_1
Salam
Loveyou Mr.arogant😘😘