Love My Fan

Love My Fan
Chapter 14


__ADS_3

Rully menatap Janne dengan tatapan tajam, mengabaikan ponselnya yang sedari tadi berbunyi.


"Apa semua ini J?"


Janne yang sudah kembali duduk di sofa pun balik menatap Rully santai seperti yang ia ciptakan bukanlah masalah besar untuk pria itu.


"Tidak ada. Aku hanya ingin pertunangan itu dibatalkan."


"Dengan cara mengatakan pada ibumu bahwa aku memiliki kekasih lain?" Rully berjalan ke arah gadis itu dan duduk di sana dengan wajah tak habis pikir, meninggalkan ponselnya yang sedari tadi terus berbunyi di atas meja kerjanya. "Kenapa kau tidak mengatakan pada ibumu bahwa kau yang sudah memiliki kekasih."


Janne tampak terdiam cukup lama setelah mendengar penuturan pria tampan di hadapanya itu sebelum kembali berujar dengan santai. "Kalau ibuku tau bahwa aku sudah memiliki kekasih lain dan ingin membatalkan pertunangan ini maka riwayatku akan tamat."


Rully menaikkan alisnya. "Lalu aku? Apa yang harus ku katakan pada Grandma. Apa aku harus mengatakan bahwa kebohongamu itu benar?"


"Ya apa susahnya mengatakan itu," ujar Janne yang berhasil membuat Rully sangat kesal padanya.


"Kenapa kau tidak berterus terang pada mereka, dan kenapa kau harus melibatkanku dalam sandiwara murahanmu?"


"R jangan lupakan satu hal, penyebab kita terjebak dalam perjodohan ini itu semua karna aku ingin membantumu keluar dari sangkar emas Grandma-mu. Jadi sekarang waktunya kau membalas budi, dan membantuku lepas dari perjodohan antar keluarga konglomerat ini."


Rully bungkam tidak tau lagi harus mengatakan apa. Yang Janne katakan benar, mereka terjebak dalam perjodohan ini karna Janne berniat membantunya keluar dari pengawasan Lexandra yang tak lain adalah Grandama-nya agar bisa leluasa membalas sakit hatinya. Dan sekarangpun ia bisa tinggal di rumah penuh kenangan bersama Mommy-nya dulu karna ia dan Janne menyetujui persayaratan yang di ajukan Lexandra, yaitu mereka harus setuju di jodohkan tanpa ada penolakan.


Dan selama ini baik Janne maupun Rully tidak benar-benar menjalani hubungan itu sebagaimana mestinya, mereka hanya akan berpura-pura menerima hubungan ini apabila berada di depan Lexandra dan keluarga Cassanova.


"Baiklah peranku sudah selesai.  Sekarang giliranmu R," Janne bangun dari duduknya dan memakai kaca mata yang tadi sempat ia gunakan.


"Ohya satu lagi," Janne berujar sebelum mencapai pintu keluar, "Semoga berhasil."


Blam


"Shit, I don't like Cassanova," umpat Rully pada Janne yang sudah menghilang di balik pintu.


Rully menghempaskan tubuhnya di sofa besar itu. Saat dirinya tenga sibuk meredam amarahnya tiba-tiba pintu di ketuk dari luar. Dan masuk Dania dengan plastik makanan di tanganya.


"Anda baik-baik saja tuan?" tanya Dania yang sekarang sudah berdiri di hadapan Rully.


Rully menatapnya sekilas sebelum kembali memijat pelipisnya, "Tidak."


"Apa yang terjadi tuan?" tanya Dania meletakkan plastik makanan yang ia bawa ke atas meja.


"Tidak penting," jawab Rully singkat sebelum matanya menyadari kehadiran paperbag yang Dania bawa. "Apa itu?"


"Makan siang anda tuan," jawab Dania duduk di sebelah pria itu dan mengeluarkan sekotak makanan.


"Dari mana kau mendapatkanya?" tanya Rully menautkan alisnya.


Dania tampak tersenyum seraya membuka makan siang yang ia bawa, "Saya keluar membeli makanan saat tadi anda sibuk bersama kekasih anda."


"Janne bukan kekasihku," balasnya santai membuat Dania terhenti dari aktivitasnya.

__ADS_1


"Tapi kemaren Nenek anda mengatakan bahwa anda dan perempaun tadi akan segera bertunangan?" tanya Dania tampak berfikir.


Rully kembali menaikan alisnya,— yang sudah menjadi kebiasaan pria itu. "Kau menguping?"


Dania hampir menganga menatap Rully tak percaya. Saat Rully dan neneknya membicarakan hal itu ia tepat berdiri di sebelah pria itu jadi bagaimana mungkin dia tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Apa anda bercanda tuan. Bagaimana mungkin saya tidak mendengar pembicaraan anda waktu itu sedangkan saya berdiri tepat di samping anda."


"Ah begitukah? Tapi aku hanya mengijinkanmu untuk berada di sana waktu itu, bukan untuk menguping pembicaraanku," ujar Rully membuat Dania langsung terdiam, tidak tau harus berkata apa.


"Hm kalau begitu maafkan saya tuan," ujar Dania memilih untuk mengalah karna tidak mungkin ia beradu argumen dalam keadaan perut lapar.


Dania tersenyum menyodorkan makanan pada Rully yang sedari tadi menatapnya dengan alis yang terangkat. "Makan siang anda tuan."


Rully mengambil makanan yang di sodorkan Dania dengan tatapan curiga sedangkan Dania malah mengabaikan tatapan Rully dan mulai fokus pada kotak makan siangnya.


"Dari mana kau mendapatkan uang?" tanya Rully di sela-sela kegiatan mereka.


Dania tampak menelan makanan yang berada di dalam mulutnya sebelum menjawab, "Oh itu. Saya meminjam uang dari sekertaris anda."


"Dan Cristy memberikanya?" tanya Rully tak percaya karna Rully yakin bahwa Cristy  tidak terlalu menyukai ke hadiran Dania.


Rully tampak mengangguk. "Ya."


"Ku kira dia tidak menyukaimu," ujar Rully acuh kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Dia memang tidak menyukai saya, tapi sepertinya dia sangat menyukai anda tuan," jawab Dania masih menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Begini kalau saya meminjam uang atas nama saya sudah dapat dipastikan bahwa sekertaris anda tidak akan memberikan pinjaman sepeserpun," Dania tampak menarik nafas mencoba menyelesaikan kalimatnya dengan sangat hati-hati, "Tetapi kalau saya meminjam uang itu atas nama anda...—"


"Sudah pasti dengan suka rela dia akan memberikanya," sambung Rully yang memahami alur pembicaraan Dania membuatnya langsung mengeluarkan tatapan tajamnya.


Dania tersenyum tanpa dosa dan mengangguki ucapan Rully. "Tepat sekali."


"Shit, oh lord apa lagi sekarang?" umpat Rully frustasi yang membuat Dania menatapnya heran.


"Bisakah kau mempermalukanku lebih dari ini wild cat?" tanya Rully menatap Dania kesal.


"Kenapa anda marah tuan, saya hanya meminjam atas nama anda. Dan saya akan mengembalikan uang itu dengan menggunakan uang saya sendiri," jelas Dania membuat Rully benar-benar menatap gadis itu tak habis pikir.


"Astaga sekarang aku yakin, selain tidak punya uang, harga diri, dan mata, sekarang kau juga tida mempunyai otak," cecar Rully kesal membuat Dania hanya menatap pria itu malas, lagi-lagi pria itu menghinanya.


"Kau tau, apa yang kau lakukan sekarang bisa menjatuhkan ku?" ujarnya lagi membuat Dania menatapnya menilai.


Benar-benar pria arogant.


"Saya hanya meminjam uang atas nama anda tuan, saya tidak melakukan kejahatan apapun yang dapat menjatuhkan pamor anda," kata Dania membela diri membuat Rully sudah ingin menerkamnya.


"Biar ku perjelas nona. Aku punya jutaan, ratusan, bahkan milyaran rupiah di kantongku," tegasnya memperjelas hal yang menurut Dania tidak perlu di jelaska lagi, "Jadi kenapa kau harus mengemis atas namaku hanya untuk membeli makan siang?"

__ADS_1


Sekarang Dania sangat ingin menampar wajah arogant pria yang sekarang sudah berdiri di hadapanya. Namun ia masih mencoba tenang agar ia tidak memperburuk ke adaan.


"Apa masalah anda tuan? Kenapa anda sangat marah hanya karna masalah kecil ini?" Dania tampak menatap Rully tak percaya.


"Bagaiman aku tidak marah, seumur hidup aku tidak perna mengemis atau meminta apapun pada orang lain," ujarnya terlihat sangat merasa tak senang, Sekarang Dania dapat melihat jelas bagaimana sifat arogant Rully yang sebenarnya.


"Tenanglah tuan anda tidak perlu semarah ini, saya akan segera mengembalikan uang itu dan menjelaskan semuanya," ujar Dania menenangkan Rully walau dalam hati ia ingin sekali menendang pria itu bersama dengan egonya.


"Sekarang," ujar Rully final.


"Tapi saya tidak punya uang tuan."


Rully terlihat merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu di sana. "Kembalikan sekarang," ujar Rully menyodorkan kartu kredit pada Dania.


Dania tampak mendengus sebelum.berujar, "Tuan, saya meminjam uang pada manusia bukan pada mesin ATM."


"Berapa uang yang kau pinjam?" tanya Rully yang memasukan kembali kartu itu kedalam dompetnya dan merogoh sejumlah uang di dompetnya.


Dania menatap pria itu dengan perasaan yang sangat kesal, kali ini pria itu benar-benar menyombongkan semua yang ia miliki membuat Dania merasa sangat muak.


"Tuan. Bisakah anda tidak berprilaku sombong seperti itu," ujar Dania pada akhirnya, "Itu membuat anda terlihat buruk."


Rully mendengus mengabaikan ucapan Dania dan memberikan sejumlah uang pada Dania, "Aku harap itu cukup."


Karna merasa jengkel dengan sikap Rully, Dania pun langsung menerima uang yang di sodorkan oleh pria itu dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pria itu.


"Dasar pria arogant, sombong, egois, tidak beradab," umpat Dania yang sudah berada di luar ruangan CEO itu, seraya menghentakkan kakinta kesal, "Danuarta kurang ajar."


Di sisi lain, di balik ruangan megah itu Rully fokus menatap pada ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Karna merasa risih dengan panggilan tersebut Rully pun segera mengangkat panggilan dari Lexandra yang tak lain adalah Grandma-nya.


"Hallo," ujar Rully pada si penelepon.


"Kau menantangku R?" tanya perempuan paru baya itu tajam.


"What?" jawab Rully pura-pura tak tahu.


"Ku peringatkan, jangan bermain-main denganku Danuarta," Lexandra mengeluarkan ancamannya tidak terlihat seperti seorang nenek yang berbicara pada cucunya, "Siapapun gadis itu, jauhi dia."


Setelah menyelesaikan kalimat penuh ancamanya Lexandra langsung memutuskan sambungan telepon membuat Rully hanya menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang sulit di artikan. Begitulah Lexandra, wanita yang sangat bossy dan tak terbantahkan walaupun orang yang mencoba untuk membantahnya adalah  cucunya sendiri.


Rully menghempaskan dirinya di sofa dan menyandarkan punggunya di sana sebelum menghela nafas lelah.


Terkadang perasaan seseorang bisa terlihat dari perlakuanya, namun perlakuan seseorang belum tentu bisa di nilai dari perasaanya.


Begitulah beberapa orang yang punya hati dalam bertindak..


-----———---————


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


Jangan lupa vomen nya ya love...😘😘


__ADS_2