
Dania melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, dan jarum jam sudah menunjukan angka 8 pertanda jam kantor sudah berakhir beberapa jam lalu, namum sampai saat ini belum ada pergerakan atau tanda-tanda bahwa Rully akan beranjak dari kursi kebesaranya membuat Dania menghela nafas tak sabar dan mencoba mengetuk pintu ruang CEO itu untuk menyadarkan penghuninya.
"Permisi tuan, anda tidak pulang?" tanya Dania menyumbul kan kepala dari balik pintu berwarna coklat tua itu.
Rully tampak masih sibuk dengan pekerjaanya dan terlihat mengabaikan kehadiran Dania.
"Tuan ini sudah pukul 8 malam, dan jam kerja sudah berakhir beberapa jam lalu," ujar Dania lagi masuk ke dalam ruangan masih berusaha membujuk Rully walaupun terus saja di abaikan oleh pria arogant itu.
"Tuan anda mendengar saya?" kata Dania saat pria itu terus saja mengabaikan kehadirannya.
"Ya aku tau, kalau kau ingin pulang maka pulanglah. Aku tidak melarang," ujarnya sinis membuat Dania menatapnya jengkel.
Apa dia masih marah karna kejadian tadi siang?
"Tuan anda marah pada saya?" tanya Dania ragu membuat seketika wajah tampan itu mendongak menatapnya.
"Marah? Kenapa?"
"Karna kejadian tadi siang?"
Rully tersenyum remeh dan menggeleng kecil kembali pada laptopnya. "Kalau kau mau pulang silahkan, aku tidak pulang malam ini," ujar Rully final membuat Dania hanya terdiam.
Dania terdiam di tempatnya untuk beberapa saat, sebelum berbalik dan pergi meninggalkan pria itu sendiri di ruanganya.
"Dia pergi?" diluar dugaan Rully, gadis itu benar-benar pergi dan meninggalkanya, tak seperti ekspektasinya
"Dasar makan gaji buta, perjanjianya dia akan mengikuti kemanapun aku pergi, tapi baru lembur saja dia sudah pergi dan meninggalkan tugasnya," maki Rully di sela-sela kesibukanya dengan berkas-berkas itu dan tatapan kesal yang masih terua ia arahkan ke pintu di mana Dania meninggalkanya.
Cukup lama Rully di sibukan dengan pekerjaanya sendirian serta rasa gondok di hatinya karna satu jam yang lalu gadis yang berprofesi sebagai mata-mata ayahnya sudah pulang meninggalkanya begitu saja.
"Anda masih di sana tuan?" Rully hampir terperanjat dengan kehadiran tiba-tiba Dania dengan bungkusan makanan di tanganya.
"Kau belum pulang?" tanya Rully heran akan kehadiran gadis itu.
Dania tersenyum dan meletakkan bungkusan yang ia bawa di atas meja sofa ruangan itu. "Anda lupa tuan, saya akan pulang saat anda pulang tuan."
"Saya hanya keluar sebentar membeli makanan untuk anda," ujar Dania berjalan ke arah Rully dan mengajak pria itu untu beranjak.
"Mari tuan," ajak Dania tapi pria itu masih tak begeming.
"Ayolah tuan," merasa tak sabar Dania langsung menarik tangan pria itu agar beranjak dari tempatnya.
"Aku bisa sendiri" ujar Rully menepis tangan Dania dan bangun dari duduknya.
Mereka duduk di sofa dan seperti sebelum-sebelumnya Dania akan duduk manis di sebelah pria itu, siap dengan makananya.
"Apa ini?" tanya Rully melihat ke arah kotak makan yang ia pegang.
"Itu nasi goreng tuan," ujar Dania yang sudah memegang kotak makan berisi nasi goreng miliknya.
"Dari mana kau mendapatkan uang?" tanya Rully yang waswas akan jawaban Dania.
"Dari anda," jawab Dania santai mulai membuka kota makanan Rully dan menyodorkan pada si empunya.
"Kapan aku memberimu uang?"
Dania memutar bola matanya jengah akan rentetan pertanyaan pria itu. "Apa anda lupa tuan, anda memberikan saya sepuluh lembar uang seratus ribu tadi siang," jelas Dania seraya mengaduk aduk makanannya, "Dan tentu saja saya tidak mungkin meminjam uang dari sekertaris anda sebanyak itu."
Rully terdiam mendengar segala penuturan Dania, sebelum menatap kotak makan di tanganya dengan tatapan tak minat.
"Makanlah tuan," titah Dania.
"Apa ini bisa di makan?" tanya Rully menatap nasi goreng itu tak yakin.
"Tentu saja," Jawab Dania seraya menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya, "Lihat bisakan?"
Dania terdiam beberapa saat setelah mencerna suapan pertamanya, kali ini rasa nasi goreng yang sering ia pesan terasa berbeda dari biasnya,sedangkan di sisi lain Rully yang melihat Dania mengunyah makanannya pun memberanikan diri memasukan sesendok nasi goreng itu kemulutnya.
"Better," ujar Rully merasakan bahwa nasi goreng yang ia makan sangat enak.
Dania menatap Rully yang sekarang berbalik memakan-makanannya dengan sangat lahap sedangkan dirinya malah menatap tak minat pada nasi goreng yang berada di tangannya.
"Apa enak tuan?" tanya Dania keheranan yang hanya di balas Rully denga anggukan.
"Biar saya coba."
Merasa penasaran Dania mengambil sedikit nasi goreng pria itu dengan sendok yang ada di tanganya. "Tidak sopan," bengabaikan protes Rully, ia pun mulai memasukan nasi goreng itu ke dalam mulutnya.
"Tertukar," teriak Dania spontan setelah beberapa menit mencerna makananya, yang membuat Rully langsung menghentikan aktivitas makannya.
"Makanan kita tertukar tuan, anda memakan nasi goreng spesial dengan ekstra udang milik saya, dan ini," Dania menunjuk kotak nasi gorengnya tak minat, " dan ini nasi goreng anda tuan."
Rully langsing terbatuk-batuk mendengar penuturan Dania dan dengan segera Dania pun menyodorkan segelas air padanya.
"Anda baik-baik saja tuan?" tanya Dania pada Rully setela pria itu meminun airnya.
__ADS_1
"Ya aku baik-baik saja," ujar Rully membuat Dania bernafas lega namun tak berapa lama Rully kembali merasa aneh pada tubuhnya, ia merasakan panas di sekujur tubuhnya serta sesak di dadanya yang membuat ia sulit untuk bernafas. Dania yang menyadari perubahan ekspresi serta warna kulit Rully yang mulai memerah pun kembali khawatir.
"Tuan anda baik-baik saja?" Dania mendekat ke arah Rully dan menatap pria itu dengan raut cemas.
Rully hanya menjawab pertanyaan Dania dengan anggukan, namun Dania yang yakin bahwa pria itu tidak dalam ke adaan baik-baik saja pun menjadi semakin panik.
Dania menyentuh pelan lekukan leher jenjang Rully yang tampak sudah mulai berubah warna menjadi kemerahan.
"Panas?" ujar Dania saat menyadari naiknya suhu tubuh Rully. "Anda alergi udang?" tanya Dania yang di balas Rully dengan anggukan samar.
"Astaga lalu kenapa anda berani memakannya?" ujar Dania kesal dan berusaha berfikir mencari cara menyelamatkan pria itu.
Dania menatap Rully dan dengan sigap melepas setelan jas lengkap yang selalu melekat pada tubuh seksi pria itu, serta membuka dua kancing kemeja atasnya guna memudahkan Rully menghirup udara agar mampu masuk ke dalam paru-parunya.
"Tunggu sebentar tuan, saya akan mencari bantuan," ujar Dania sebelum pergi keluar meninggalkan Rully yang tampak kesakitan.
Dan tak berapa lama setelah kepergian Dania. Tiba-tiba saja pandangan Rully berputar dan semua yang ia lihat tampak buram sebelum semuanya gelap tertutup, dan Rully kehilangan kesadaranya setelah itu.
*************
Cahaya terang menyadarkan Rully dari pingsannya dan perlahan pria bermata safir itu mulai membuka kelopak matanya, samar-samar ia dapat mendengar suara gadis yang terus memanggil namanya.
"Tuan anda sudah sadar?" tanya Dania yang menyadari adanya tanda-tanda bahwa Rully sudah sadar dari pingsannya.
"Dimana sekarang?" tanya Rully yang mulai membuka matanya kemudian melihat ke arah sekeliling mereka.
"Kita di rumah sakit tuan."
Ya, setelah mendapati Rully yang pingsan tak sadarkan diri tadi, Dania dengan di bantu petugas ke amanan serta supir yang masih berjaga segera membawa Rully kerumah sakit.
"Ah.." Rully berusaha bangun dari tempatnya, "Aku mau pulang."
"Tapi kata dokter anda tidak boleh pulang tuan," ujar Dania mencoba menahan Rully yang sudah akan turun dari ranjangnya.
"Aku mau pulang," ujar Rully tegas tak terbantahkan, dan untuk kali pertama Dania langsung terdiam dan merasa takut dengan sosok Rully saat ini yang sangat berbeda dan kasar, maksudnya kasar dalam artian yang lain dari biasanya.
"Bantu aku," ujar Rully mengulurkan lenganya yang dengan sigap di sambut Dania.
Tanpa banyak komentar Dania pun membantu Rully, memapah pria itu keluar dari rumah sakit sampai ke parkiran.
"Setelanku?" ujar Rully saat mereka sudah berada di jok penumpang di dalam mobil yang tadi mereka tumpangi.
Dania yang mendengar titah tuannya itu pun langsung menyodorkan setelan jas Rully yang tadi sempat di gantikan dengan pakaian rumah sakit.
Dania mendengus menatap Rully jengah dan dengan kasar menyodorkan kemeja putih itu pada empunya. Sedangkan si empunya hanya menampilkan ekspresi congkak dan arogantnya seperti biasa.
"Apa yang anda lakukan tuan," Dania sontak menutup matanya saat melihat Rully yang sudah melepas atasan yang tadi sempat melekat di tubuh indahnya.
"Menurutmu?"
Rully menatap Dania acuh dan meraih kemeja yang sedari tadi di sodorkan Dania tak lupa tatapan singit yang ia tuju,- tentu saja pada gadis yang sedari tadi duduk di sebelahnya dengan menutup mata.
"Apa anda juga akan mengganti celana anda di depan saya tuan?" tanya Dania yang di balas pria itu cuek sudah bergerak akan membuka celananya.
Dania yang menyaksikan hal cabul itu pun segera keluar dari mobil namun sebelum itu Rully dapat mendengar jelas umpatan yang keluar dari bibir gadis cantik itu.
"Dasar Danuarta gila."
*********
Dania membantu membaringkan tubuh tegap Rully di atas kasur king size nya dengan perlahan, setelah acara bermesum ria di parkiran Rumah Sakit tadi, sekarang Rully dan Dania sudah berada di dalam kamar kediaman Danuarta dengan keadaan pria itu yang masih sama seperti sebelumnya.
"Pergilah, Aku akan istirahat."
Dania mengangguk dan berlalu keluar dari kamar berwarna putih dengan ranjang berwarna Dark blue itu setelah mendengar penuturan dari pemiliknya, sesampainya di luar Dania langsung di sambut dengan wajah khawatir Ratih yang tadi sempat melihat kepulangan mereka dengan Rully yang di papah masuk ke dalam rumah pada jam yang cukup larut bahkan bisa di bilang sangat larut.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Ratih tampak cemas.
"Tuan muda mengalami alergi nyonya," ujar Dania.
"Kenapa bisa?"
"Beliau tidak sengaja memakan sesuatu yang mengandung undang," jelas Dania membuat aib wajah Ratih berubah.
"Astaga. Anak itu tidak berubah sama sekali, kenapa ke biasaan payahnya itu tak bisa dia hilangkan sampai sekarang," Dania menganga seraya mengikuti nyonya rumahnya yang terus mengomel menjauhi kamar Rully.
"Memangnya kebiasaan payah apa itu nyonya?" tanya Dania yang masih setia mengekori Ratih.
"Ntahlah, yang pasti anak bodoh itu selalu menyukai sesuatu yang mengandung udang," ujar Ratih yang berhenti di sebuah lemari kecil di sudut ruangan.
"Maksud anda nyonya?" tanya Dania yang tampak tak paham.
Ratih berbalik menghadap Dania dengan benda putih kecil yang sudah berada di genggamannya. "Dia memiliki kebiasaan antusias pada sesuatu yang mengandung udang bahkan baginya makanan yang mengandung udang itu sangat enak."
"Tapi bukannya tuan alergi udang?" tanya Dania menaikan alisnya.
__ADS_1
"Ya itulah masalah anak itu, dia tidak bisa membedakan makanan yang mengandung udang atau yang tidak," terang Ratih seraya menyodorkan benda yang tadi ia pegang pada Dania.
Dania yang mendengar penuturan Ratih pun sempat ber oh ria sebelum meraih benda kecil yang di sodorkan Ratih dan menatap benda itu heran. "Apa ini nyonya?"
"Penghilang rasa sakit," kata Ratih. "Biasanya kulitnya akan memerah dan saat terkena air akan perih jadi berikan ini agar tidak terasa perih lagi," tita Ratih.
"Aneh?" gumam Dania merasa janggal.
"Kau mengatakan sesuatu Dania?"
"Ah tidak ada nyonya," ujar Dania menggeleng cepat merasa tak enak.
"Katakan Dania, apa yang mengganjal di pikiranmu?" tanya Ratih yang membuat Dania terdiam beberapa saat.
"Apa tidak apa-apa nyonya?" tanya Dania ragu.
Ratih menampilkan senyum manisnya. "Tak apa, itu tugasmu."
"Em-mm.. Apa sebenarnya hubungan anda dengan tuan Rully nyonya?" tanya Dania membuat Ratih terdiam.
"Beliau mengatakan bahwa anda bukan ibunya, apakah itu benar?" tanya Dania lagi.
Ratih terdiam beberapa saat dan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan dari gadis cantik itu. "Aku memang bukan ibunya, tapi dia sama seperti Danuarta yang lain bagiku."
Dania menatap fokus pada Ratih, menatap wajah yang tampak kosong saat mengeluarkan kalimat penjelasannya.
"Tapi kenapa beliau terlihat sangat tidak menyukai anda, bukan hanya anda bahkan seluruh anggota keluarga yang lain?" tanya Dania membuat Ratih tersenyum simpul.
"Ceritanya panjang," jawab Ratih. "Pergilah temani Rully, dia sering demam saat mengalami alergi."
Dania hanya diam tidak mengangguk ataupun juga menggeleng. "Ah ya dan satu lagi, saat demam matikan pendingin ruangan dan selimuti dia dengan selimut yang tebal itu akan membuatnya merasa lebih baik," sambung Ratih lagi.
"Bagaimana anda bisa sepaham itu dalam mengatasi alergi tuan muda, nyonya?"
Ratih kembali menampilkan senyum sebelum kembali menjawab pertanyaan Dania. "Mungkin karna aku perawat Danuarta dan karna mungkin dia juga mungkin seorang Danuarta."
Dania sudah akan kembali mengajukan pertanyaan saat suara gadis remaja mengintrupsi pembicaraan mereka.
"Kenapa dengan kakak?" tanya Taya dengan piama melekat di tubuh langsingnya.
"Tidak ada, kakakmu hanya butuh istirahat," jawab Ratih yang menyadari guratan khawatir di wajah putrinya.
"Aku ingin melihat kakak," Taya sudah akan berlari ke kamar Rully kalau saja tidak segera di hentikan Dania.
"Beliau sedang tidur nona, anda bisa menemuinya nanti saat dia sudah bangun."
"Tapi kata Bi Surti dia sedang tidak baik kak," ujar Taya terlihat sangat khawatir.
"Beliau baik-baik saja nona seperti yang nyonya katakan," bujuk Dania lagi.
"Benarkah?" tanya Taya masih tampak bimbang.
Dania menganggu pasti dan menjawab pertanyaan gadis itu dengan semangat 45. "Tentu saja, saya pastikan besok beliau akan ikut sarapan bersama seluruh keluarga."
"Hm baiklah kalau begitu," jawab Taya yang pasrah, membuat Dania dapat kembali bernafas lega.
Dania yakin sekali Rully akan langsung sembuh dan sangat sehat untuk mengeluarkan cacian dan makiannya pada Taya saat melihat gadis itu berada di kamarnya, jadi dari pada mengambil resiko berbahaya itu maka lebih baik untuk menenangkan gadis manis itu dengan sedikit harapan palsu.
"Baiklah kalau begitu saya permisi untuk kembali ke kamar tuan muda," pamit Dania yang siap untuk berlalu pergi.
"Tunggu," Taya menahan lengan Dania dan menatap wanita itu. "Sampai kapan kakak akan terus berbicara kaku dan formal seperti itu padaku?" keluh Taya yang tampak tak suka.
Dania tersenyum dan berbisik pada gadis itu, "Maafkan aku Taya, kita akan bicara sebagai teman saat hanya ada kita berdua."
Setelah menyelesaikan kalimatmya Dania pun ijin untuk berlalu pergi tanpa ia sadari kalimat sederhananya itu berhasil menerbitkan sebuah senyuman di bibir manis Danuarta remaja itu.
"Apa yang Dania katakan?" tanya Ratih menggoda putrinya yang tampak masih tersenyum.
"Rahasia," ujar Taya seperti bisikan sebelum berlalu pergi dengan langakah ringan meninggalkan mamanya yang tampak tersenyum melihat senyum dan alasan sederhana sang putri.
Ada saatnya rasa yang tenggelam akan naik ke permukaan, dan saat itu hanya ada ribuan kerinduan dan rasa takut akan kehilangan....
Mungkin mereka saat ini juga tenga merasakan ribuan kerinduan serta ketakutan yang mendalam akan kehilangan..
-----------------------------------
TO BE CONTINUE...
Aku kembali..
Setelah sekian lama..😊😊😊
Jangan bosen-bosen ya love...
Dan jangan lupa VOMEN-nya.🙏🙏
__ADS_1