Love My Fan

Love My Fan
Chapter 8


__ADS_3

☀☀☀☀☀


Dania duduk di sofa sebelah ranjang Rully menatap kearah seorang pria yang saat ini sedang asik berkutat dengan laptopnya. Terkadang Dania berfikir bahwa pria dihadapannya ini memiliki paras yang sangat tampan, namun karna arogansi serta kesadisannyanlah menyebabkan ketampanannya itu menjadi ternodai.


"Kau belum tidur?" tanya Rully dengan mata masih fokus menatap layar laptopnya.


"Tugas saya selesai saat anda menutup mata anda tuan," Rully menghentikan aktivitasnya mendengarkan penuturan gadis cantik di hadapannya itu dengan alis yang terangkat.


"Apa kau mendoakan agar aku mati?"


"Eh, tidak maksud saya tidur tuan," ralat Dania.


Saat ini ada satu hal yang membuatnya takut untuk tidur. Ia takut saat tertidur ia kembali mengigau dan membuat gadis itu sadar akan insomnia nya, tapi Rully yakin kalau sejauh ini gadis itu tidak menyadari apapun, mengingat ia tidak melihat keberadaan gadis itu hingga pagi menjelang membuat dirinya sedikit merasa tenang.


Rully menutup laptopnya dan menaru benda persegi itu di atas nakas yang terletak di sebelah tempat tidur kemudian membaringkan tubuh besarnya di sana. Melihat Rully yang sudah akan tidur Dania pun mencoba menidurkan tubuh lelahnya dan menarik selimutnya hingga ke dada.


Setiap detik berjalan tetapi matanya masih tidak bisa di pejamkan, sedangkan Rully sudah tampak tertidur pulas dan terlihat sudah tenang dalam mimpinya. Dania menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 2 pagi, karna merasa bosan seperti malam-malam sebelumnya Dania pun memilih kembali beranjak dari kamar pria itu dan mencari udara segar.


Namun belum sempat Dania beranjak dari sofa tak sengaja ia melihat dahi Rully yang tampak berkerut, serta bulir-bulir keringat yang membasahi dahinya padahal suhu di ruangan ini di atur cukup dingin, karna merasa penasaran Dania pun berjalan mendekati Rully dan duduk di sebelah ranjang pria itu.


Disisi lain pria itu tampak semakin mengigau dengan beberapa kali bergumam dengan menyebutkan kata "mommy", dan beberapa kali bengucapkan hati-hati.


"Hati hati, Mom hati-hati, Mom.!!" teriak Rully sontak tersadar dan langsung terduduk membuat Dania yang sedari tadi duduk di sebelahnya menatap pria itu panik dan segera memberikannya segelas air.


Rully yang sudah sadar pun menatap Dania dengan ekspresi yang sulit di artikan sebelum dengan kasar menepis air yang tadi di sodorkan padanya hingga jatuh dan pecah menyentuh ubin lantai. Dania tampak terkejut dengan perlakuan spontan Rully dan menatap pria itu tidak percaya.


"Apa yang anda lakukan Tuan?" tanya Dania.


"Pergilah, aku tidak butuh bantuan siapapun," kata Rully membuat Dania tidak suka.


"Berhenti bersikap arogan dan manja seperti itu, itu bukan hanya menyusahkan diri Anda tetapi juga orang lain," ujar Dania emosi.


"Aku tidak memaksa siapa pun untuk peduli," bantah Rully tak mau kalah.


"Sikap anda yang memaksa kami untuk peduli tuan, bisakah anda berhenti bersikap kekanakan seperti ini," pujuk Dania mulai merendahkan suaranya.


Rully diam ia mengelap keringat yang membasahi dahinya dengan kasar dan menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, terdiam cukup lama.


"Apa anda bermimpi buruk tuan?" tanya Dania mulai melunak menatap wajah Rully yang masih berkeringat.


Rully masih bungkam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun sampai Dania memegang tangannya membuat Rully sontak menatap Dania. "Sebelumnya saya minta maaf karna sudah bersikap tidak sopan pada anda, percayalah pada saya tuan saya bisa menjaga rahasia."


Rully terdiam sejenak sebelum menghelah nafas dalam. "Aku mengalami gangguan saat tidur."


"Apa kemaren anda juga terbangun?" tanya Dania yang diangguki pria itu tanpa ekspresi.


"Pantas saat saya ke kamar anda setiap paginya, anda sudah bangun," ujar Dania. "Kalau terus seperti ini anda bisa sakit, ditambah lagi pola makan anda yang tidak teratur tuan."


"Aku sudah mencoba banyak cara aku sudah pergi ke psikiater, tetapi aku masih mengalami gangguan saat tidur," terang Rully lagi, sedangkan Dania hanya diam dan terlihat guratan berfikir di wajahnya.


"Tapi tunggu, apa alasan kau bisa terbangun di setiap malam?" tanya Rully pada Dania membuat gadis itu berfikir sejenak.


"Ah itu tidak penting, seorang gadis memang sangat suka terbangun di tengah malam," bohong Dania yang malah langsung dipercayai Rully.


"Baiklah, bagaiman kalau sekarang saya akan mencoba membantu anda agar bisa tertidur," kata Dania mengalihkan pembicaraan walaupun sebenarnya ia juga berniat membantu tuanya itu. Rully kembali menaikan alisnya mendengar penuturan aneh dari gadis cantik di hadapanya.


"Dengan cara?"

__ADS_1


"Anda tidur dan saya akan tetap duduk di sini untuk menemani anda," Dani menidurkan Rully dan masih setia duduk di sebelah pria itu.


"Tidak, aku tidak perlu bantuan siapapun," tolak Rully mulai kembali keras kepala.


Dania menjawab ucapan pria itu hanya dengan gelengan sebelum kembali berujar. "Tutup mata anda dan tenang lah, anggap semua itu sudah berlalu dan tidak akan datang lagi," kata Dania dan Rully pun mencoba menurut dan menutup matanya.


"Apa yang kau lakukan?" bantah Rully tidak suka saat Dania menyentuhnya.


"Bisakah anda diam tuan, ikuti saja apa yang saya suruh," ujar Dania kesal pada pria itu, dengan terpaksa pria tampan itu pun kembali menuruti ucapan Dania dan mulai menutup matanya.


Rully sudah menutup matanya tetapi Dania masih bisa melihat kerutan di dahi kokoh pria itu, Dania memberanikan diri mengelus dahi pria itu perlahan membuat kerutan itu perlahan menghilang. "Tenang dan nikmati setiap kenikmatan tidur tuan, dan rasakan setiap kelelahan aktivitas yang tuan jalani satu harian ini."


Dania masih setia mengelus dahi pria itu sampai terlihat Rully yang sudah kembali terlelap dan bernafas teratur,sehingga tanpa ia sadari rasa kantuk pula yang bergantian melandannya sampai ia tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya. Dania pun masuk kealam mimpinya, mimpi indah bersama pangerannya.


☀☀☀☀☀


Pagi ini suasana menjadi sangat canggung antara Rully dan Dania, hal itu terjadi sejak Rully terbangun dari tidurnya merasa ada yang sangat berat di dahinya dan ternyata kepala Dania yang bertengger di sana. Rully yang sok berniat baik bangun tanpa membangunkan wanita itupun mencoba memindahkan Dania dari atasnya, tapi Dania yang sudah terlebih dahulu bangun membuat adegan pagi romantis itu menjadi rusak dengan rasa canggung satu sama lain.


Rully turun dari tangga sudah akan melewati meja makan kalau saja suara Dania tak mengintrupsinya. " Sarapan Anda tuan."


Rully menatap Dania malas dan berjalan duduk di salah satu kursi kosong di meja makan yang sudah terdapat seluruh anggota keluarga kecuali Arga di sana.


"Pagi kak," sapa Taya pada Rully tapi tidak di acuhkan pria itu membuat gadis itu tersenyum miris.


"Pagi nona Taya," sapa Dania ramah tau akan kekecewaan di hati gadis remaja itu.


"Pagi kak," balas Taya tersenyum palsu, kalau dilihat-lihat terkadang Dania menyadari bahwa Taya memiliki sifat yang cukup mirip dengan Rully.


"Pagi Dania, ikut lah sarapan bersama kami," ajak Ratih seraya menyapa Dania tetapi dengan mata yang menatap ke arah Rully, Dania tau bahwa sebenarnya wanita itu ingin menyapa Rully tetapi karna ia tidak mau hal yang sama terjadi padanya, maka ia memilih penyapa Dania.


"Bagaiman pekerjaan mu?" tanya Bram basa basi membuat Rully tersenyum miring.


"Tidak penting," jawab Rully malas tetaplah arogan, walau bagaimana Dania mencoba untuk mempengaruhi pria itu.


Dania menyenggol tangan Rully yang berada di atas meja, mengkode atau memperingati pria itu agar tidak berkata kasar.


"Rully daddy mu hanya bertanya, apa salahnya?" ujar Ratih lembut tapi Rully sudah menatap Ratih tajam dengan mata elangnya.


Rully sudah akan mengeluarkan serapanya andai Dania tidak menggenggam tanganya, tanpa babibu dan permisi lagi pria itu langsung pergi neninggalkan semuanya termasuk Dania.


Dania mengejar Rully dan masuk ke dalam mobil pria itu sesudah berpamitan pada bosnya, sesampainya di mobil ia bisa melihat pria itu sudah duduk di jok supir dan menetralkan emosinya."Kenapa kau sedingin itu pada mereka, mereka itu keluarga mu kedua orang tua mu."


Tidak ada lagi bahasa formal dalam kalimat Dania, saat ini Dania juga sangat kesal dengan pria itu. Rully yang kemaren malam sangat berbeda dengan Rully yang bersamanya pagi ini. Dania pikir Rully akan mempertahankan sifat yang di lihatnya kemaren malam untuk keuntungan mereka bersama, tapi Dania salah, Rully kembali dengan sifat arogannya saat ini.


"Keluarga? orang tua?" ujar Rully,


Rully berdecih dengan rasa jijik. "Cih, kedua manusia itu lah yang merusak hidup ku dan menanamkan kebencian hingga sekarang."


"Tapi kenapa?"


"Kau tidak akan mengerti, selesaikan saja tugas mu dan segera pergi," ujar Rully dingin yang tanpa sengaja mampu menohok sudut hati Dania yang paling kecil.


Mobil mewah itu kembali melaju,memecah keramaian kota dengan dua manusia di dalamnya yang di selimuti keheningan, satu dengan egonya dan sifat arogannya dan satu lagi dengan sebuah rasa sakit yang menyadarkan akan posisinya saat ini.


☀☀☀☀☀


Dania duduk di sofa ruang kerja Rully dengan empunya yang pergi meninggalkan dirinya sendirian,sampai tiba-tiba pintu di buka asal menampilkan wajah lembut seorang pria yang tidak asing lagi di mata Dania.

__ADS_1


"Kau disini? Dimana dia?" tanya pria yang tak lain adalah Reza sahabat Rully.


"Manusia itu sedang mengadakan rapat penting, dan aku tidak boleh ikut," jawab Dania seraya bersedekap dada.


Setelah perdebatan panjang antara Rully dan Dania yang di menangi oleh Rully dengan Dania yang duduk di ruanganya sendiri sekarang.


"Kau tenang saja, dia tidak akan perna lari dari mu."


Dania menatap Reza yang terseyum membuat pria itu terlihat sangat tampan," aku tau, ngomong-ngomong kenapa kau datang kemari?"


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padanya," ujar Reza, "Ohya bagaiman pekerjaan mu?"


"Tidak muda menghadapi pria arogan dan segala kekeras kepalaanya itu, tapi apakah kau tau mengenai insomnianya?" tanya Dania.


Reza terdia sejenak sebelum kembali berujar, "Apa kau sudah mengetahui hal itu?" Dania mengangguk cepat.


"Apa penyebabnya?"


"Mungkin Hal itu terjadi karna ia selalu di hantui mimpi buruk 17 tahun lalu, Saat dimana kecelakaan yang menimpa Rully dan ibunya," terang Reza dan Dania tampak mengangguk paham.


"Apa nyonya Ratih?" tebak Dania ragu.


"Apa kau belum mengetahui itu?" tanya Reza lagi.


"Oh ternyata benar yang dikatakan pria itu bahwa nyonya Ratih bukan lah ibunya, apa penyebabnya nyonya Ratih dan tua Bram?" tanya Dania.


"Aku tidak yakin, tetapi begitulah menurut Rully," ujar Reza, "Aku harap kamu orang yang bisa membantunya keluar dari kesalah pahamannya itu,semuanya percaya pada mu."


Dania menaikan alisnya, "Semuanya?dan aku?" tunjuk Dania pada dirinya sendiri.


"Ya, semua percaya pada mu Dania,Keluarga Rully, dan kami sahabatnya," terang Reza.


"Tapi kenapa harus aku?"


"Entahlah mungkin Karna kau wanita yang bisa bertahan dengan setiap makian, umpatan, kekasaranya, serta kekeras kepalaannya itu mungkin."


"Tapi..-"


"Kami semua percaya pada mu Dania,tolong hanya kau harapan kami untuk merubah sikap buruk Rully," pujuk Reza menatap Dania.


Dania terdiam dan memikirkan setiap ucapan Reza, semua percaya dan yakin padanya, sangat aneh dirinya sendiri tidak yakin akan kemampuannya bertahan untuk merubah pria itu.


"Seberapa dalam jurang pria itu,dan Apakah aku mampu."


Lebih baik kita membentuk sifat di diri seseorang, dari pada harus merubah sifat di orang itu yang sudah mendarah daging....


Dan sekarang hal itulah tantangan untuk dirinya....


TO BE CONTINUE....


---------------


Kangen uda lama gak update😇😇


Jangan lupa tinggalkan jejak...


Comen+votenya love😘😘

__ADS_1


__ADS_2