Love My Fan

Love My Fan
Chapter 16


__ADS_3

Dania menatap Rully yang tebaring di atas ranjang dengan lekat, entahlah bagi Dania saat Rully dalam keadaan tidur seperti saat ini ia menjadi sosok yang berbeda, sosok yang sangat tidak asing di sudut hati Dania. Tapi Dania tidak tau sosok siapa dan sosok apa itu.


Cukup lama Dania menatap wajah tampan penuh garis arogant itu sampai manik hitam Dania menangkap ekspresi aneh dari wajah tampan itu, ekspresi sama saat dimana Rully terbangun dari tidurnya seperti biasa, namun kali ini nama yang di sebut Rully berbeda dari nama sebelumnya yang perna Dania dengar, kalau sebelumnya Rully menyebut kata "mommy" berulang kali tapi kali ini berbeda nama yang tidak perna masuk ke indra pendengaranya namun tidak asing bagi Dania.


"Dia...Dia.. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku Dia," gumam Rully tampak terusik dalam tidurnya.


Tanpa sadar Dania yang khawatir pun menggenggam erat tangan Rully dan mencoba menyadarkan pria itu.


"Tuan anda baik-baik saja, Tuan."


Di sisi lain dalam mimpinya Rully melihat kehadiran seorang gadis kecil yang menatapnya khawatir seraya menggenggam tanganya dengan tangan mungil itu dan mengatakan hal yang samar.


"Tenanglah cimol, aku tak akan pernah meninggalkanmu," gadis itu tersenyum menatap Rully dengan pipi gembulnya.


"Aku berjanji aku tidak akan meninggalkanmu walaupun kamu mengusirku."


"Dia!!" Rully langsung terjaga dari tidurnya saat sosok gadis manis itu lenyap dari mimpinya.


"Anda tidak apa-apa tuan?"


"Dia," Rully mengabaikan pertanyaan Dania dan langsung mengahambur memeluk Dania, membuat gadis itu keheranan.


"Tuan," bisik Dania setelah beberpa saat yang sontak menyadarkan Rully.


Rully spontan melepas pelukannya dan menatap Dania lekat tampak berfikir keras, dan setelah itu Dania dapat melihat Rully yang langsung salah tingkah.


"Anda baik-baik saja tuan," Dania mengabaikan sikap Rully dan menyentuh pelan dahi pria itu dengan punggung tangannya.


"Ah sepertinya anda sudah membaik," ujar Dania tersenyum manis, yang membuat Rully menatap heran gadis itu.


"Memangnya aku kenapa?"


"Anda sempat demam tadi, membuat saya sangat khwatir tapi sekarang sepertinya anda sudah membaik."


"Ah.. Apa AC-nya mati?" tanya Rully merasa gerah.


"Iya tuan, tadi nyonya berpesan kalau anda demam saya harus mematikan AC dan menyelimuti anda dengan selimut yang tebal."


Rully tampak kembali menautkan alisnya dan kali ini terlihat heran dan juga tidak suka.


"Nyonya?"


"Ya."


"Ah..!" ringis Rully tiba-tiba saat merasakan perih di lehernya yang sempat berkeringat.


"Anda baik-baik saja tuan?"


"Bisakah kau berhenti menanyakan hal yang sama berulang kali?" ketus Rully yang tak senang.


"Nyalakan AC-nya."


"Baik tuan."


Dania meraih remot AC dan kembali menyalakan pendingin ruangan itu sebelum duduk menatap Rully yang masih tampak kesakitan.


"Ohya tuan, oleskan ini mungkin ini dapat mengurangi perih di bagian leher anda," Dania menyodorkan salep yang tadi di berikan Ratih.


Rully meraih benda persegi itu dengan alis terangkat. "Apa ini?"


"Salep."


Dania beranjak keluar dari kamar Rully menuju kamarnya kemudian meraih kaca kecil di sebuah meja rias, dan kembali ke kamar pria itu. Sesampainya di kamar pria itu Dania kembali melihat Rully yang masih mematung menatap salep yang tadi ia berikan.


"Pakailah tuan."


Dania duduk di hadapan Rully dengan mengarahkan kaca pada wajah pria itu, namun Rully hanya diam dan kembali menyodorkan salep itu ke pada Dania.


"Tuan ini bisa..—"


"Pakaikan," potong Rully datar membuat Dania langsung terdiam.


"Ehm apa tidak apa?"


Melihat Rully yang hanya diam Dania pun meraih salep itu dan meletakan salep putuh itu ke jari telunjuknya sebelum menyentuh bagian leher Rully pelan.


"Ah.. " ringis Rully lebih terdengar seperti desahan saat Dania mulai menyapukan telunjuknya di permukaan kulit pria itu.


Menyadari ringisan Rully, Dania pun meniup pelan lehernya membuat Rully merinding akibat sapuan lembut Dania pada kulitnya.


"Maaf tuan, sedikit lagi," bisik Dania yang hampir selesai memberikan salep pada bagian leher Rully.


Saat Dania hampir siap Dania menaikan alisnya dan kemudian berujar. "Lepas baju anda tuan."


"Apa?" tanya Rully yang terkejut dengan penuturan Dania.


"Lepas baju anda."


Melihat Rully yang masih mematung Dania pun dengan tak sabar segera melepas kancing kemeja pria itu satu persatu membuat Rully sempat memberontak beberapa saat.


"Astaga."


Dania menutup mulutnya tak percaya saat melihat bahwa bukan hanya bagian leher jenjang pria itu namun hampir seluruh tubuh depannya juga tampak memerah dan sudah terlihat lengket karna keringat.


Rully yang melihat wajah terkejut Dania pun menatap tubuhnya dan terdiam beberapa saat.


"Apakah perih tuan?"

__ADS_1


"Sedikit."


Dania kembali menyapukan salepnya ke dada Rully yang tampak buruk layaknya luka bakar ringan dan sesekali meniup luka itu saat mendengar ringisan dari empunya.


"Apa setiap kali alergi anda akan sepatah ini tuan," tanya Dania di sela-sela tugasnya.


"Ah.. Yaaah...," ringisnya lebih tampak seperti desahan di tambah lagi Dania yang terus saja menyentuh dan meniup area sensitifnya.


Rully semakin gelisa dengan setiap sentuhan Dania pada permukaan kulitnya dan bahkan bukan hanya tubunya tetapi adiknya di bawah sana sudah tampak tak tenang, di tambah lagi jarak mereka yang begitu dekat membuat jantung Rully berdetak tak karuan.


"Ah.. Sudah cukup aku akan melakukannya sendiri," Rully mendorong pelan tubuh Dania dan langsung berlalu ke kamar mandi meninggalkan gadis itu yang menatap dirinya penuh keheranan.


"Ada apa?" gumam Dania menatap pintu kamar mandi yang tertutup.


Disisi lain di balik pintu kamar mandi  berdiri Rully dengan nafas tak teratur, di tambah lagi wajahnya yang sudah memerah sama seperti tubuh bekas alerginya.


"Shit, ada apa denganku?"


Rully menatap cermin di hadapannya dan segera membasu wajahnya beberapa kali di wastafel.


"Tuan anda baik-baik saja?" terdengar teriakan Dania dari luar kamar mandi membuat wajah Rully kembali memerah.


"Pergilah!! aku baik-baik saja," balas Rully kesal dan tak menentu.


"Tapi salep anda tuan?"


"Persetan dengan salep itu!!"


Maki Rully yang membuat Dania kembali terdiam penuh tanya, ada apa dengan pria itu. Ia rasa kali ini dia tidak melakukan kesalahan apapun tapi kenapa Danurta itu marah-mara padanya.


"Salep anda saya letakkan di atas nakas tuan," teriak Dania terakhir kali sebelum berlalu keluar dari kamar itu dengan perasaan heran dan tidak paham kenapa emosi Rully menjadi tak stabil.


Tak berapa lama setelah ke pergian Dania, Rully pun membuka pintu kamar mandi dan mengintip sekeliling kamarnya mencari keberadaan gadis itu. Sungguh Rully sendiri tidak tau apa yang merasukinya tapi saat ini jantung berdetak kencang dan nafasnya tiba-tiba menjadi tak teratur.


"Aaa!!" Rully mengacak rambutnya frustasi dan kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, mengabaikan segala rasa perih yang sedari tadi membuatnya meringis.


Rully menatap langis-langit kamarnya kembali menenangkan dirinya dan tiba-tiba saja mimpi tentang gadis itu kembali terlintas di benaknya membuat raut wajah itu kembali berubah menjadi tak terbaca oleh siapapun, raut wajah kesedihan bercampur kekecewaan yang coba setiap saat dan setiap detik ia tutupi dengan wajah arogant.


"Dia," lirih Rully menutup dalam kelopak matanya memendam kerinduan yang dalam.


                             ☀☀☀☀☀


Semua keluarga duduk di meja makan tampak sibuk dengan sendok dan garpu mereka yang masing-masing sudah siap dengan aktivitas setelahnya.


"Bagaimana ke adaanya?" tanya Bram pada Ratih yang sibuk membuat sarapan.


"Keadaan siapa?" potong Arga mengintrupsi pasangan parubaya itu.


"Rully, alerginya kembali kumat kemaren malam," terang Ratih menyodorkan segelas teh pada anak laki-lakinya itu.


"Aku akan mengecek keadaanya."


"Ga," Ratih menggelengkan kepalanya saat putra tertuanya akan melakukan tugas sebagai seorang dokter. "Dia akan baik-baik saja."


"Tapi Ma..—"


"Mamamu benar, dia akan baik-baik saja," sela Bram saat Arga mencoba akan kembali membantah.


"Apa Daddy yakin?" tanya Taya yang memang sedari kemaren malam tampak sangat khawatir dengan kondisi kakak kesayanganya itu.


Bram hanya membalas pertanyaan putrinya itu dengan anggukan membuat semuanya kembali terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Selamat pagi semua," sapa Dania sopan yang sudah rapi dengan setelannya seperti biasa.


"Kakak sudah rapi?"


"Apa Rully baik-baik saja?"


"Tuan sudah baik-baik saja nyonya, beliau bahkan akan masuk berkeja hari ini," terang Dania dengan senyumnya.


"Tidak, kaly masih sakit bagamana dia bisa bekerja," bantah Taya membuat Dania menatap gadis muda itu.


"Tapi tuan..—"


Belum sempat Dania menyelesaikan ucapannya, Taya sudah duluan berlari naik ke lantai atas menuju kamar Rully membuat Dania langsung buru mengejar Danuarta satu itu.


Di sisi lain Rully yang sudah rapi keluar dari kamarnya langsung terkejut dengan kehadiran gadis muda kecil yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Kakak mau kemana?"


"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?" ketus Rully yang di abaikan Taya.


"Kakak masih sakit seharusnya kakak beristirahat," Taya meraih lengan Rully yang langsung di tepis kasar pria itu.


"Jangan menyentuhku!!"


"Kakak."


"Sudah berapa kali aku katakan, aku bukan kakakmu!!" bentak Rully membuat Taya langsung terdiam.


"Harus bagaimana lagi aku menjelaskan hal itu," sambungnya lagi.


Rully berlalu melewati Taya namun tak menyerah gadis cantik itu masih mencoba berujar pada kakaknya.


"Lalu bagaimana lagi Taya harus menjelaskan pada kakak bahwa kakak adalah kakak Taya, dan karna kakak adalah kakak Taya, Taya ingin kakak beristirahat," ujar Taya membuat Rully menghentikan langkahnya berusaha menekan semua rasa rindu bahkan perasaan tersentuh karna mendengar penuturan gadis itu.


"Gadis bodoh, apa kau tidak mengerti bahasa ku," Rully berbalik menatap Taya tajam.

__ADS_1


"Apa kesalahan Taya kak, kenapa kakak begitu membenci Taya?"


Taya berjalan mendekati Rully dan dengan polos Danuarta remaja itu memeluk erat Rully menyandarkan kepalanya pada tubuh tinggi kakanya itu.


"Jawab Taya kak, apa kesalahan Taya sampai kakak membenci Taya?" ujar Taya di sela-sela pelukanya seraya menangis.


"Jawab Taya kak."


Rully melunak, air mata gadis itu mengembalikannya pada sosok yang dulu, tanganya terangkat sudah akan membalas pelukan adik kecilnya itu namun sebuah kalimat sederhana berhasil melempar Rully kembali pada ego dan dendamnya.


"Apa karna kepergia Mommy?"


Rully langsung mengeram dan mendorong kasar tubuh Taya, membuat gadis itu hampir saja terjatuh andai saja Dania tidak dengan sigap menangkap gadis itu.


"Tuan anda menyakiti Nona," tegur Dania.


Rully melangkah mendekati mereka dengan tatapan penuh rasa benci dan amarah yang tak lepas pada Taya.


"Ya benar, aku membecimu karna hal itu. Tapi kau tau apa yang membuatku jauh lebih membencimu?"


"Karna kau adalah seorang Danurta, dan karna kau adalah seorang Danuarya maka darah menjijikan itu juga mengalir di setiap tubuhmu," tunjuk Rully ber api-api.


Rully kembali berlalu setelah menyelesaikan kalimat yang menohok Taya.


"Tunggu."


Taya menegakkan tubuhnya menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Apa kakak tidak menyadari bahwa darah yang kakak sebut-sebut menjijikan itu juga mengalir di tubuh kakak."


"Apa kakak tidak menyadari bahwa kakak juga adalah Danuarta!!" teriak Taya menggebu-gebu.


"Taya pikir kakak akan kembali seperti dulu, Taya pikir semua sifat kakak selama ini palsu," gadis itu melangkah pelan ke arah Rully.


"Tapi mungkin Taya salah, inilah sifat asli kakak!!" teriak Taya lagi dengan air mata yang terus mengalir mengiringi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Dan apakah kakak menyadari satu hal?"


"Bahwa kakak adalah gambaran Danuarta yang sebenarnya, apakah kakak menyadari hal itu?" teriak Taya dengan suara yang mulai serak.


"Sudah Nona," Dania mencoba menenangkan Taya dengan menyentuh pundak gadis itu.


"Kakak tau apa yang paling kami sesali selama ini?" Rully masih bungkam enggan membalas ucapan Taya dan membiarkan gadis itu mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini.


"Yang kami sesali adalah membiarkan kakak kembali dan membunuh Rully kami yang dulu perna pergi."


Setelah menyelesaikan ucapannya Taya langsung berlalu pergi dengan perasaan sedih dan kecewa, meninggalkan Rully yang hanya mematung di tempatnya.


"Tuan," Dania beralih mendekati Rully menyentuh pelan pundak pria itu, awalnya Dania takut bahwa pria itu akan memakinya atau melampiaskan kekesalanya pada dirinya namun jauh berbeda Rully malah memeluk tubuhnya membuat ia sangat terkejut.


"Gadis itu benar, akulah Danuarta yang sebenarnya. Akulah penjahat yang sebenarnya. Aku yang menyakiti gadis itu tanpa tau apa kesalahnnya. Akulah yang bersalah," sesal Rully yang mulai melunak membuat Dania tak tega dan membiarkan Rully memelekunya mungkin saat ini dukungan yang pria itu butuhkan.


"Tuan anda tidak bersalah, ini mungkin hanyalah kesalah pahaman."


"Tapi aku terus menyakitinya walaupun aku tau bahwa dia sangat menyayangiku," bisik Rully penuh penyesalan membuat Dania mengurai pelukan mereka.


"Anda tau bahwa selama ini Nona sangat menyayangi anda?" tanya Dania heran.


"Aku pikir itu palsu, aku pikir dia berpura-pura, aku pikir..."


"Minta maaflah pada dia tuan, dia adik anda. Bahkan walaupun semarah apapun dia tidak perna melupakan fakta bahwa anda adalah kakaknya anda lihat bagaimana dia terus memanggil anda kakak di setiap teriakannya," kata Dania menyentuh kedua lengan Rully.


Entah kenapa beberapa waktu terakhir, Rully sangat berbeda dari biasanya, bahkan kali ini Dania tidak tau kemana pergi sifat arogant pria itu.


"Kau apakan adikku Danuarta."


Dania dan Rully menatap pada sebuah suara yang tak asing, terlihat tidak senang bahkan sekarang sosok itu tampak mengepalkan kedua tangannya penuh amarah sampai buku-buku jari itu memutih.


"Tuan..—" Dania langsung menghentikan ucapanya saat Arga mengangkat tanganya menyuruh Dania untuk tidak ikut campur.


"Maaf Dania kali ini biarkan aku bicara pada adikku dan biar ku kembalikan otaknya yang sudah di cuci Lexadra itu," Dania tersentak saat mendengar kalimat dingin yang keluar dari bibir Arga.


"Selama ini aku masih bersabar padamu karna aku masih menghormati Papa dan Mama, tapi kali ini aku sudah tidak bisa menahanya lagi saat kau membuat adik yang sangat ku sayangi menangis," ujar Arga tampak tegas namun kali ini Rully hanya diam, mungkin karna masih menyesali sikapnya pada gadis itu.


"Apa yang ada di pikiramu Danuarta? Kau membuat adik yang lebih menyayangimu dari pada aku menangis."


"Kau dengan tega membentaknya dan memperjelas bahwa kau bukan kakaknya!!."


"Kakak semacam apa kau Danuarta? Kakak semacam apa kau?" teriak Arga yang sudah sangat emosi.


Arga menarik kera kemeja Rully dan berteriak pada Rully yang masih diam mematung di tempatnya.


"Apa kesalahan gadis itu sehingga kau membencinya?"


"Apa karna kematian ibumu," Teriak Arga yang membuat tubuh Rully kembali menegang seperti saat Taya mengeluarkan kalimat yang sama.


Jangan hanya terkurung dalam lembah masa lalu sampai kamu mengabaikan indahnya samudra masa depan....



Adettaya Danuarta


Butuh pendapat, cocok gak Dinda Kirana jadi kast Taya gadis lugu imut dengan wajah baby face yang selalu di dzolimi Mr.arogant..😅😅


--------------------------------------------------


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


Jangan lupa vote and comentnya ya love😊😊😊😘


__ADS_2