Love My Fan

Love My Fan
Chapter 7


__ADS_3

                     ☀☀☀☀☀


Rully duduk di sofa ruang kerjanya menatap Dania yang duduk di hadapannya, terlihat sangat bernafsu dengan makanan yang beberapa menit lalu sempat di pesan Rully. Melihat bagaimana gadis itu sekarang, membuat Rully tidak meragukan lagi bahwa yang di hadapannya ini benar-benar seekor kucing liar.


"Anda tidak makan tuan?" tanya Dania pada Rully yang beberapa kali sempat menelan salivahnya.


"Tidak," tolak Rully. "Lagi pula kau yang terlihat sangat kelaparan saat ini."


Dania mengangguk sesaat dan kembali melanjutkan makannya, sedangkan Rully hanya bisa menatap heran dengan kerakusan Dania saat ini.


"Aku heran berapa hari kau sudah tak makan?" tanya Rully lebi tepatnya sindiran saat Dania sudah menyudahi makannnya dengan meminum segelas air putih.


"Baru hampir satu hari tuan," jawab Dania mengelap mulutnya.


"Tapi kau lebih terlihat seperti sudah tidak makan selama setahun," Rully menatap ke atas meja dimana terdapat banyak sekali sampah bekas makanan gadis itu. Dania mengikuti arah pandang Rully, dan sontak meringis melihat sebanyak apa ia makan tadi.


Setelah bangun dari pingsannya beberapa saat lalu, Dania langsung di suguhkan wajah khawatir Rully, dan bertepatan saat itu perutnya yang sudah sedari tadi demo mintak diisi sontak berbunyi. Rully yang menyadari bunyi dari perut Dania pun dengan segara menyuruh sekertarisnya untuk membelikan mereka sesuatu yang bisa di makan.


"Maaf sebelumnya tuan, saya memang orang yang miskin tetapi saya tidak perna menahan lapar selama sedetik pun. Seperti yang sering anda lakukan," ujar Dania membuat Rully menaikan alisnya.


"Kau menyindirku?"


"Bu.. Bukan begitu saya hanya berkata yang sebenarnya," jawab Dania merasa tidak enak. "Tapi satu hal yang saya heran kan, apakah anda tidak perna sakit tuan? mengingat pola makan anda yang tidak teratur."


"Kau pikir aku apa, tentu aku perna sakit," jawab Rully seperti biasa.


"Ah benarkah, saya tidak menyangka manusia seperti anda ternyata bisa sakit juga," Dania menatap Rully tak percaya sedangkan Rully hanya membalasnya tak acuh.


"Apa itu penting?" Rully sudah akan beranjak dari mejanya sebelum tangan Dania menahanya.


"Apa anda sudah makan tuan?" tanya Dania mendongakkan kepalanya menatap Rully yang berdiri.


Rully hanya diam tanpa jawaban. "Ah pasti anda belum makan bukan? Mengingat makan siang bersama Pak Airlangga yang di batalkan," tebak Dania.


"Ayo makan," Dania menarik tangan Rully paksa dan membuat pria itu terduduk di sebelahnya.


"Tidak, aku tidak mau," tolak Rully cepat.


Dania menggeleng dan mengambil beberapa makanan yang belum di buka. "Anda harus makan tuan."


"Buka mulut anda tuan," ujar Dania akan menyuapkan sendok yang berisi makanan kemulut Rully.


"Tidak," Bantah Rully keras kepala.


"Ayolah, apa anda ingin sakit," ujar Dania keras kepala.


"Baiklah, aku bisa makan sendiri," tolak Rully mencoba mengambil alih makanan itu dari tangan Dania.

__ADS_1


"Ah tidak, biar saya yang menyuapi, kata orang sebuah suapan itu bisa menabah napsu makan seseorang," pujuk Dania dengen kekehnya mengarahkan sendok berisi makanan yang sedari tadi ia pegang itu ke mulut Rully.


Dengan ragu Rully pun membuka mulut dan menerima suapan dari gadis di hadapannya itu dengan pasrah. "Apa tadi anda panik saat saya pingsan tuan?"


"Tidak," bohong Rully masih menerima setiap suapan dari gadis itu.


"Tapi saat saya membuka mata yang saya lihat adalah wajah panik anda?" selidik Dania lagi.


"Itu hanya perasaan mu saja," kelah Rully masih fokus menerima setiap suapan dari Dania.


Dania memberikan minum pada Rully dan dan disambut oleh pria itu."Padahal saya sangat berharap anda khawatir," ujarnya lagi membuat Rully hampir saja menyemburkan air yang sudah berada di tenggorokannya.


"Kenapa kau bicara begitu?" tanya Rully.


"Ya setidaknya anda sedikit merasa bersalah tuan, dan sedikit merubah kebiasaan buruk anda soal pola makan," terang Dania jujur membuat Rully menatapnya sejenak, bahkan Rully menahan sendok berisi makanan yang di sodorkan padanya.


"Kenapa kau sangat ingin mengubahku?" tanya Rully menatap Dania dengan mata elangnya.


"Karna saat anda berubah saat itu lah tugas saya selesai dan saya bisa pergi," terang Dania.


"Lalu apa yang terjadi kalau aku tidak akan perna berubah?" tanya Rully lagi.


"Maka selamanya saya akan selalu bersama anda dan menjadi benalu di hidup anda tuan," terang Dania lagi yang sudah akan kembali menyuapi Rully tetapi di balas gelengan dari pria itu


"Selamanya?" tanya Rully lagi.


Dania meletakan makanan berisi sendok tadi kembali ke kotaknya. "Ya,maka dari itu apa bila tuan tidak menyukai saya dan ingin saya segera pergi dari hidup anda maka anda harus bisa merubah semua kebiasaan buruk itu tuan."


"Baiklah kalau begitu. Bantu aku," ujar Rully membuat Dania menatapnya bingung.


"Apa?"


"Bantu aku berubah, dan setelah itu berhasil pergi dan jangan perna datang lagi," ujar Rully yang membuat Dania menatapnya senang.


"Benarkah?" Dania menatap Rully penuh binar. "Ah akhirnya semuanya menjadi mudah."


Gadis itu tersenyum senang,sebenarnya ia tau bahwa ada sesuatu di balik sikap Rully yang tiba-tiba ingin berubah, tetapi ia tidak perduli akan hal itu karna sebentar lagi hidupnya akan bebas dari pria arogan yang berwajah setampan malaikat itu serta segala kerumitan ini.


                            ☀☀☀☀☀☀


Sepasang manusia berjalan memasuki rumah megah bak istana seperti biasanya, tetapi malam ini akan di buat Dania sedikit lebih berbeda, karna kali ini pria yang bersamanya sekarang sudah bisa di ajak kerja sama.


"Rully, makan lah bersama kami," Ajak Bram saat Rully dan Dania melewati meja makan yang terdapat,Ratih, Bram, Arga, dan Taya disana.


"Aku sudah makan," jawab Rully seperti biasanya tanpa berniat berbalik atau menatap orang yang mengajaknya bicara.


"Tuan, kalau boleh saya mengingatkan Anda belum makan malam," ujar Dania membuat pria itu langsung menatapnya sengit yang malah dibalas senyuman.

__ADS_1


"Lalu?" Rully menaikan alisnya.


"Jadi mungkin ini bisa menjadi perubahan awal anda," kata Dania sedikit berbisik pada pria itu.


"Aku tidak mau," bantah Rully berniat melanjutkan langkahnya, membuat Dania kembali menahan lengan kokoh itu.


"Apa anda ingin saya di sini selamanya, dan terus-terusan mengacaukan hidup anda?" kata Dania yang lebih terdengar seperti sebuah ancaman untuk Rully.


"Huft.. Baiklah," jawab Rully pasrah berjalan ke arah meja makan dengan diiringi tatapan heran dari semua anggota keluarga kecuali Arga yang fokus pada makanannya.


Rully duduk dengan perasaan sangat canggung, tetapi semua perasaan itu mampu di tutupi dengan ekspresi datarnya dan mengabaikan tatapan heran mereka semua.


"Apa kau mau ku ambilkan sesuatu?" tawar Ratih lembut.


Takut apabila Rully mengeluarkan makian atau umpatannya lagi secara mendadak, dengan cepat Dania pun menghentikan Ratih.


"Maaf nyonya, saya saja yang mengambilkan makanan untuk tuan muda," ujar Dania mengambil makanan untuk Rully dan mencoba terseyum pada pria itu agar Rully lebih bersabar lagi.


"Aku senang kau mau makan bersama kami," ujar Bram tersenyum senang sedangkan Rully hanya diam tidak bereaksi, dalam hati Dania berharap Rully tidak mengeluarkan sepatah katapun, — lebih baik pria itu diam dari pada mengeluarkan makiaannya.


"Iya kak, sangat jarang kita bisa makan bersama seperti ini," ungkap Taya senang.


"Dania ikutlah makan bersama kami," ajak Ratih lembut.


Dania menatap Rully sejenak kemudian menggeleng cepat. "Ah tidak nyonya," tolaknya merasa tak enak.


"Makan lah, kau butuh makan agar tidak pingsan lagi," jawab Rully dengan tatapan fokus pada piringnya.


"Kau pingsan?" tanya Ratih tersirat raut khawatir di wajah cantiknya, bukan hanya Ratih, bahkan Taya, Arga, dan Bram pun terlihat khawatir walaupun kedua pria berbeda generasi itu tak terlalu menampakkannya. "Kenapa kau bisa sampai pingsan?"


"Ah tidak Nyonya, saya hanya sedikit pusing tadi, " kelah Dania membuat Rully menatapnya dengan raut wajah yang sulit di artikan.


"Ekhm... Ikutlah makan bersama kami Dania," ajak Bram sedikit berdehem.


"Tapi..-" ucapan Dania langsung terpotong saat secara tiba-tiba Rully menarik gadis itu duduk di kursi yang berada di sebelahnya.


"Makanlah," kata Rully singkat sebelum kembali fokus pada piringnya.


Dania memakan makanannya dengan hikmat dan sesekali mejawab ucapan beberapa anggota keluarga lain yang mengajukan pertanyaan padanya, keluarga ini terlihat lengkap dan hangat namun entah mengapa Dania dapat merasakan ada yang berbeda dari keluarga itu, seperti ada sebuah rahasia besar yang membuat Dania tertarik untuk mengetahuinnya.


"Apa sebenarnya yang di sembunyikan keluarga  ini?"


Sifat rahasia sama seperti misteri, hanya saja rahasia akan ada jika tidak di ketahui, tetapi akan hilang jika terkuak. Berbeda dengan misteri yang tidak akan perna di ketahui  selamanya...


Dan hal yang mereka rahasiakan nantinya pasti akan terkuak dan rahasia itu akan hilang.......


-----------------------------

__ADS_1


TBC.....


Jangan lupa vote and comennya love..😊😊


__ADS_2