Love My Fan

Love My Fan
Chapter 4


__ADS_3

                      ☀☀☀☀☀☀☀


Seorang pria paru baya berjalan memasuki sebuah ruangan megah disusul seorang gadis yang berjalan dengan setia di sebelahnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya pria yang tak lain adalah Marully palefi Danuarta saat melihat Dania dan Bramantio berada di ruanganya.


"Kenapa kau mengusirnya?" bukannya menjawab Bram malah balik mengajukan pertanyaan dengan intonasi tegas.


Sudah tidak ada kelembutan lagi atau kesabaran lagi untuk semua sikap Rully yang sangat sulit di kendalikan, apa susahnya menerima Dania yang hanya bertugas sebagai penjaganya bukan sebagai seorang istri yang dia nikahi.


"Karna aku tidak mau dia ada disini,"  jawab Rully tak kalah tegas masih setia duduk di kursinya.


"Baiklah kalau begitu aku juga tidak mau kau ada di Rumah ku," tegas Bram tak terbantahkan dan berhasil membungkam ego pria berwajah eropa itu kali ini.


Rully menaikan alisnya dan masih menuhankan egonya yang masih setinggi langit. "Kau mengancam ku?"


"Aku tidak mengancam siapapun, aku hanya ingin mengatakan bahwa yang boleh tinggal di rumah ku hanya yang bisa mengikuti aturanku," ujar Bram tak kalah angkuh membuat Rully untuk kali ini harus menelan egonya dalam-dalam.


Melihat putranya yang terdiam Bram pun merasa bahwa kemenangan sekarang ada di pihaknya "Ingat semua keputusan ada di tangan mu,"  pria parubaya itu keluar dari ruangan bernuansa Brown itu dengan senyum penuh kemenangan meninggalkan Rully yang terpaku dengan rasa benci yang semakin membunca di hatinya dan kekesalan akibat tidak mampu membalas ancaman sang Ayah.


Sebenarnya Bram juga tidak ingin mengungkit hal itu karna ia tau bahwa itu akan menambah rasa benci Rully terhadap dirinya, tetapi demi memperbaiki sikap Rully yang terlalu arogan Bram rela melakukan dan mengorbankan apapun termasuk dirinya.


Sekarang Rully berada dalam keadaan dimana ia harus menelan harga dirinya di depan wanita yang dengan santai berdiri di sebelah kursi kekuasaanya dengan wajah biasa saja tetapi ekspresi yang seolah-olah mengolok-olok dirinya.


"Baiklah tuan, jadilah anak baik dan ikuti perintanya," ujar Dania dengan posisi berdiri tegak dengan pandangan lurus kedepan. Sedangkan Rully hanya diam dengan rahang yang mengeras menahan amarah. Saat ini Dania sangat senang dan ingin tertawa melihat bagaimana ekspresi pria itu saat ia harus menerima kekalahanya di depan ayah nya.


Hampir setenga hari dan sekarang Dania sangat lelah berdiri selama berjam-jam, ia merasa bahwa dirinya sudah seperti security sekarang. Jam di dinding sudah menunjukan waktu makan siang tapi pria di sampingnya ini masih duduk dan fokus pada pekerjaanya, walaupun Dania sudah mengingatkanya ribuan kali tetapi pria itu hanya menjawab dengan gumaman seolah tidak berminat untuk beranjak.


Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan dari luar dan disusul dengan kedatangan dua orang pria berwajah tampan dengan ras yang berbeda jauh masuk kedalam ruangan itu. Mata Rully yang tadinya fokus pada berkas berkas sekarang beralih melihat sosok yang tidak asing lagi di hidupnya.


"Selamat siang tuan Danuarta," sapa pria berwajah arab denga lesung pipi menghiasi kedua pipinya.


Rully menaikan alisnya. "Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Rully to the poin dengan ekspresi kembali seperti biasa.


"Mengunjungi teman lama yang selalu sibuk dengan beberapa berkas cantik dengan map berwarna warni," canda pria yang memiliki ras Cina seraya duduk di sofa yang terletak di ruangan itu.


Rully hanya diam melihat gerak gerik para temanya itu sampai pria yang bermata sipit menyadari akan sesuatu.


"Wah.. siapa gadis cantik ini, aku tidak perna melihat dia sebelumnya," tannya pria cina yang bernama Ryu itu.


"Apa dia suruhan uncle Bram?" tanya pria berlesung pipi yang bernama Dirga.


Rully hanya diam, malas menanggapi pertanyaan sahabatnya yang selalu ingin tau akan semua hal walaupun hal itu tidak penting sekalipun, namun meskipun begitu hanya merekalah saudara yang Rully miliki dan hanya merekalah yang bisa mengerti bagaimana dirinya.


Hening beberapa saat, sampai Dirga kembali berdehem sebelum berujar. "Ekhm.. Bagaimana kalau kita keluar untuk makan siang," ajak Dirga


memecah keheningan di ruangan mahal itu.


"Ide bagus, aku rasa sekarang perutku sudah sangat lapar," ujar Ryu menimpali.

__ADS_1


Rully yang mendengar perkataan dua sahabatnya itu hanya memutar bola mata malas, sedangkan para sahabatnya hanya menampilkan cengiran tak berdosanya.


Merekalah adalah Dirga Al-Aksyan dan Ryu-ji Alexander seorang pembisnis dan arsitek berbakat dengan darah yang berbeda, Dirga Al-Aksyan keturunan Arab-Indonesia yang menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Indonesia dengan tinggal di rumah Kakek dan Neneknya yang berkebangsaan Indonesia, sedangkan kedua orang tuanya memilih tinggal di Negara super power yaitu Dubai dan menjadi salah satu pembisnis besar di sana.


Ryu-ji Alexander pria berwajah Asia ini lahir dan besar di Indonesia karna kedua orang tuanya yang memang asli berdarah Cina membuat wajah Asia yang sangat ketara dengan mata sipit kulit putih bersih dengan tubuh yang tinggi itu.


                      ☀☀☀☀☀☀


Rully duduk di sebuah caffe bersama para sahabatnya, sekarang bukan hanya Ryu dan Dirga tapi kini sudah ada seorang pria yang tidak asing di mata Dania dengan wajah tampan menggunakan kemeja biru muda yang di gulung lenganya serta celana bahan berwarna hitam,—tampak sangat tampan.


Dania baru tau bahwa sahabat Rully juga salah satu tangan kiri tuan Bramantio Danuarta yang tak lain adalah Ayahnya sendiri, agak sedikit rumit dan membingungkan sebenarnya.


"Apa Kabar uncle Bram?" tanya Ryu pada Reza yang menyeruput kopinya.


Reza menaikan alisnya. "Apa tidak salah?" tanya Reza pada Ryu yang tampak santai mengunyah makananya.


"Kenapa?" tanya Ryu tidak tau dengan yang dimaksud sahabatnya itu.


Reza menatap sekilas Rully sebelum kembali berujar. "Ayolah Ry. Anaknya itu Rully bukan aku," Rully langsung mendelik pada Reza sedangkan yang di tatap hanya mengunyah makananya santai.


Reza Ananda Putra, sahabat dekat Rully sejak kecil bahkan sejak bayi melebihi Ryu dan Dirga yang mengenal Rully sejak jaman Sekolah menenga. Hanya Reza yang berani mencela, marah, bahkan menyindir Rully, dan hanya Reza jugalah yang bisa bersikap santai menanggapi setiap amarah dan kebencian Rully.


Kalau di tanya kenapa Reza bisa bekerja dengan Bram sedangkan sahabatnya Rully sangat membenci pria itu ceritanya cukup rumit, intinya Reza bisa tunduk pada Bram karna pria itu yang sudah membesarkanya dan menyayanginya seperti anak sendiri, dan kenapa Rully tetap mau dekat dengan Reza walaupu Pria itu berpihak pada ayahnya, karna walau bagaimana pun Reza masih tetap anak kesayangan Mommy Rully,—selain Rully sendiri tentunya.


Rully beranjak dari mejanya membuat ke tiga pria tampan itu sontak melihat ke arahnya. "Kau mau kemana?" tanya Dirga.


"Toilet," jawabnya seperti biasa, singkat, dan padat.


Reza menahan lengan Dania membuat gadis itu menatapnya. "Biarkan saja, dia tidak akan kemana-mana," ujar Reza.


"Benar, tidak mungkin dia tega meninggalkan sahabatnya," timpal Dirga yang sibuk memakan makananya.


Ryu mengangguk setuju masih dengan mulut yang penuh. "Ah aku lihat kau sepeti sangat kelaparan, ayo makan bersama kami," Ryu bangun dan menarik Dania duduk di sebelah mereka.


Dania menatap tak enak pada ketiga pria tampan itu. "Apa tidak apa-apa?" tanya Dania.


"Tidak apa-apa," jawab Ryu.


Reza dan Dira mengangguk setuju. "Ya tidak apa-apa," jawab mereka membuat Dania akhirnya menghela nafas.


"Haa... Akhirnya," Dania langsung memakan makanan yang ada di atas meja dan memakan semua dengan lahap membuat ketiga pria tampan itu menatapnya cengoh.


"Apa kau sangat lapar," tanya Ryu yang menelan salivahnya melihat bagaimana nafsunya Dania makan.


Dania mengangguk "Ya sangat," jawab Dania.


Dania meminum jus yang berada di atas meja tanpa tau jus itu punya siapa. " Mr.arogant dan ayahnya itu benar-benar menyusahkan ku, rasanya aku ingin sekali membunuh mereka berdua," keluh Dania kesal dan untuk kedua kalinya ketiga pria itu masih tidak percaya dengan ucapan gadis imut di hadapan mereka saat ini.


"Bayangkan saja, aku disuruh untuk mengawasi manusia yang keji itu membuat ku harus menahan lapar seharian, mungkin aku akan mati dalam waktu tiga hari bekerja dengan mereka," cerocos Dania dengan mulutnya yang masih berisi.

__ADS_1


"Aku pikir kau berpihak pada Uncle," ujar Ryu yang masih tidak percaya.


Dania mendengus. "Hah.. Aku tidak berpihak pada siapapun, aku ini hanyalah korban yang harus terjebak dengan permasalahan Ayah dan Anak yang sama sekali tidak ku mengerti."


"Lalu kenapa kau bisa terjebak dalam permasalahan mereka?" tanya Ryu lagi.


Dania menggeleng pelan. "Kalau itu ceritanya panjang dan aku tidak bisa menceritakanya, itu rahasia," ujar Dania dengan sedikit berbisik di kalimat terakhirnya, Ryu dan Dirga pun ber-oh-ria mendengar penuturan gadis itu sebelum mengangguk.


Reza tersenyum melihat Dania, di hati kecilnya Reza yakin bahwa Dania akan mampu membawa sebuah perubahan dan warna baru dalam hidup Rully nantinya.


"Apa yang dia lakukan di sini?" tanya Rully yang sudah kembali, saat melihat Dania masih duduk di kursi sebelah kursi yang ia duduki tadi seraya memakan makanan yang ada di depanya.


Ketiga temanya hanya menggeleng dengan cengiran khas mereka. "Tidak ada kami hanya bertukar cerita."


"Kembali ketempat mu," usir Rully yang langsung di angguki Dania.


Sebelum beranjak Dania menyempatkan diri menyeruput jus yang  ternyata milik Rully sebelum kembali keposisinya berdiri tadi."Kurang ajar, kau mau di pecat," amuk Rully melihat jus dan makananya yang sudah habis di makan oleh Dania.


Dania sedikit bersendawa sebelum menjawab membuat Rully meringis jijik sedangkan ketiga sahabatnya itu malah terkekeh. "Maaf tuan tapi bukan anda yang memperkerjakan saya," ujar Dania polos.


Rully terdiam dan merasa sangat gondok. Sedangkan ketiga temanya itu berusaha mati-matian agar tidak meledakkan tawanya, bagaimana tidak seorang pria arogan, dan kasar seperti Rully bisa dibantah dengan mudah oleh gadis itu.


"Dasar kucing liar," umpat Rully kesal bahkan tidak ada yang bisa membayangkan betapa kesalnya Rully sekarang.


"Jangan mengumpat tuan itu tidak baik," ujar Dania membuat ketiga sahabat Rully terkekeh geli melihat bagaimana Dania menguji kesabaran pria arogan nan temprament itu.


Sedangkan Rully sudah memasang wajah tidak sukanya, ia bukan tidak suka atau membenci perempuan itu tapi ia tidak suka dengan sikap Dania yang mau saja menjadi pesuruh ayahnya untuk menjadi pengamat,bayangan atau apalah itu yang tidak ia mengerti.


Kadang kita harus sedikit mengalah


Bukan untuk kalah, tetapi untuk mendapatkan kemenangan yang lebih sempurna...


Dan ia berusaha untuk melakukanya sekarang....


---------------


Khusu buat kalian yang suka baca dapet salam dari tiga sahabatnya Rully..😂😂😂





Reza Ananda Putra





Ryu-ji Alexander





Dirga al-aksya

__ADS_1


TO BE CONTINUE....


Jangan lupa vote+comen nya love😘😘


__ADS_2