Love My Fan

Love My Fan
Chapter 20


__ADS_3

Dania membuka perlahan kelopak matanya, tersentak dari tidur lelapnya gadis cantik itu perlahan duduk dengan tegak melihat ke sekeliling, saat ini ia masih berada di dalam mobil yang sama yang beberapa saat lalu melaju membela jalanan kota namun kali ini mobil berwarna hitam itu tampak terparkir dengan cantik di parkiran sebuah caffe yang terletak di tepi jalan membuat gadis itu mencari keberadaan sosok pengemudi yang tiba-tiba menghilang dengan heran.


Dania dapat melihat kunci mobil yang masih berada di tempatnya dan di dashboard terdapat makanan tepat saji yang mungkin di tujukan untuknya di sana tertulis di sebuah kertas dengan huruf kapital.


Sorry


Itulah kata yang tertulis di sana membuat Dania kembali mencari-cari keberadaan sosok itu dan karna merasa tidak menemukannya Dania pun memilih keluar dari mobil dan masuk kedalam caffe, namun setelah masuk ke dalam tempat itu ia juga tidak menemukan keberadaan manusia yang ia cari membuat dirinya merasa heran akan kemana menghilangnya pria itu.


Dania melihat ke area-area yang tidak jauh dari tempat ia berdiri dan baru ia sadari area itu di penuhi oleh anak-anak muda, dan tak jauh dari caffe terdapat universitas di sana.


"Kemana pria itu?" gumam Dania dengan mata yang menatap fokus ke arah sebuah kampus besar dan tanpa ia sadari kakinya tiba-tiba merasa di tarik ke sana.


Di sisi lain Rully berdiri di sebrang jalan yang berhadapan dengan gerbang besar yang tertera tulisan Universitas Wicitra Mulya, ia berdiri cukup lama bergemelut dengan pemikiranya sebelum perlahan namun pasti Rully kembali melangkahkan kakinya menyebrang  jalan namun langkah itu kembali terhenti saat melihat sosok seorang gadis cantik dengan kulit mulus dan manis keluar dari gerbang kampus bersama teman-temannya namun tak di sangka ternyata manik mata bening itu menyadari akan ke hadirannya membuat tubuh Rully semakin kaku tak mampu bergerak.


"Kaly," gumam Taya yang menghentikan langkahnya menatap sosok Rully dari kejauhan beberapa meter.


"Siapa pria itu?" tanya teman Taya yang juga menemukan sosok Rully.


Tak memindahi pertanyaan dari temannya Taya langsung berlari dengan kencang ke arah Rully sambil berteriak.


"Kakak!!" Taya mendorong tubuh Rully kuat hingga tubuhnya pun ikut terpental membuat mobil yang tadinya melaju ke arah Rully kini bisa dengan leluasa melaju melewati mereka.


"Anda baik-baik saja tuan?" tanya Dania yang sudah datang dan menyaksikan hal yang terjadi beberapa saat lalu.


Rully mendongak kemudian mengangguk sebelum berdiri dari tempatnya walau dengan perasaan yang masih terkejut.


"Ah," ringis Taya membuat baik Rully maupun Dania langsung tersadar dan berlari ke arah gadis itu.


"Bodoh apa yang kamu lakukan," kesal Rully menatap lutut Taya yang tampak sobek dan mengeluarkan cukup banyak darah.


"Ah.. Sakit," ringis Taya mengabaikan ucapan Rully.


"Tuan kaki Nona terluka, kita harus segera membawanya ke rumah sakit," kata Dania yang ikut panik melihat keadaan gadis itu.


Dengan sigap Rully membopong tubuh adiknya langsung berlari menuju mobil di ikuti Dania yang setia mengekori mereka.


*****


"Apa masih sakit?" tanya Rully saat mereka sudah keluar dari ruangan tempat Taya di obati dengan tangan tak lepas memegang erat tangan adiknya.


"Sudah tidak, terima kasih," kata Taya seadanya, setelah kejadian itu serta segala ucapan Rully gadis cantik itu  sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan lagi mengganggu hidup Rully dan membebani kakaknya itu.


"Kamu yakin Taya?" tanya Dania pada gadis itu khawatir yang di balas Taya dengan anggukan.


"Tuan, anda harus meminta maaf dan berterima kasih karna adik anda sudah menyelamatkan anda," kata Dania pada Rully membuat pria tampan itu langsung terdiam.


"Tidak apa-apa kak, aku baik-baik saja jadi Kak Rully tidak perlu meminta maaf ataupun berterima kasih," tolak Taya cepat, ia tidak ingin kembali membebani Rully atau menyusahkan pria itu dengan memaksanya untuk meminta maaf.


"Tapi...—"


"Maaf."


Kedua gadis cantik itu sontak menatap penuh terkejut pada sosok tampan di tenga-tenga mereka, bukan-bukan karna ketampanannya namun karna kata singkat penuh makna yang keluar dari mulutnya, hening beberapa saat sampai Dania mulai kembali berkata.


"Kalau begitu saya akan menunggu di mobil," setelah menyelesaikan kalimatnya Dania pun pergi meninggalkan kakak beradik itu.


Setelah kepergian Dania suasana kembali sepi dengan kedua manusia itu yang hanya mematung sampai Rully pun mulai berdehem. "Maaf karna Kakak kamu harus mengalami hal ini, dan terimakasih karna sudah mau mengorbankan dirimu untuk menyelamatkan kakak, kakak yang tidak perna menyayangimu, kakak yang tidak perna berlaku adil padamu, dan kakak yang selalu berkata kasar padamu," rilih Rully dengan sosoknya yang lembut bahkan sangat lembut membuat Taya sudah menatap berkaca-kaca sosok itu.


"Kakak tidak perlu meminta maaf, kakak tidak bersalah," Taya menggelengkan kepalanya berusaha menahan rasa sendu akan kerinduannya.

__ADS_1


"Tidak, seharusnya sejak awal kakak tidak memperlakukanmu sekasar itu, sekali lagi maafkan kakak, adik," ujar Rully menggenggam erat serta mengelus pelan pipi merona adiknya penuh sayang sampai tanpa aba-aba si pemilik pipi itupun menghambur ke pelukannya memeluknya erat dengan air mata yang sudah setia membasahi pipinya.


"Taya rindu kakak, sangat rindu." isaknya di pelukan Rully membuat Rully mencium rambutnya sayang dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf."


*****


Bagi Dania semuanya tampak membaik hubungan antara kakak beradik sudah tidak terdapat ketegangan apapun lagi, Rully yang selalu mengeluarkan kalimat kasarnya pada Taya kini tidak lagi, dan Taya tentu saja menjadi sangat manja pada kakaknya walau masih terdapat kekakuan pada sikap Rully. Tapi satu hal yang perlu di sadari bahwa hal itu tidak berarti sama dengan hubungan antara Rully dengan ayahnya.


Setelah makan siang bersama sebagai sebuah keluarga dan menghabiskan hari yang melelahkan kini Rully, dan Taya, serta Dania  yang setia mendampingi sepasang kakak beradik itu layaknya bagian dari mereka. Kini mereka semua sudah berada di kediaman Danuarta dan kebetulan rumah megah itu sepi layaknya tak berpenghuni sehingga tak ada satu orang pun yang menyadari kedekatan antara Rully maupum Taya saat ini membuat Dania merutuk dalam hati.


"Biarkan saya yang mengantar Nona ke kamarnya tuan," ujar Dania yang mencoba mengambil alih Taya dari Rully yang sedari tadi setia memapah gadis itu.


"Tidak, biar aku saja yang akan mengantarnya," tolak Rully membuat senyum yang sedari tadi terlukis semakin merekah indah di bibir mungil Taya.


"Kau istirahatlah," titah Rully pada Dania yang langsung di angguki patuh gadis itu sebelum berlalu ke kamarnya.


Setelah membersihkan dirinya dan berganti pakaian seperti biasa Dania akan pergi ke kamar Rully untuk memastikan bahwa tuanya bisa tidur dengan nyenyak di setiap malamnya , Dania menyempatkan diri mengetuk pintu coklat itu beberapa kali namun merasa tak ada jawaban Dania pun langsung masuk dan mencari keberadaan sosok pemilik dari kamar itu.


Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi pertanda ada seseorang di sana, membuat Dania mendudukkan dirinya di sofa biasa yang ia tempati dan menyempatkan diri bersuara guna menyadarkan Rully akan kehadirannya di kamar itu agar pria itu tidak keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada seperti beberapa hari yang lalu.


"Tuan saya ada di sini!!" teriak Dania cukup keras.


"Kau di sana?" terdengar teriakan samar dari kamar mandi membuat Dania beranjak dan sedikit mendekat ke arah pintu itu.


"Ya tuan saya di sini!!"


"Bagus, ambilkan aku handuk!!"


"Apa??" teriak Dania tidak paham.


Dania sempat merenggut kesal sebelum melangkah. "Pertama dia melupakan pakaiannya dan sekarang handuk?"


"Dimana letak handuk anda tuan?" teriak Dania lagi karna tidak menemukan apa yang ia cari.


"Kau pikir dimana? Tentu saja di lemari."


"Astaga manusia itu, apa dia tidak tau cara meminta bantuan dengan sopan," Cemooh Dania si sela langkahnya. "Aku sangat yakin kalau dia tidak akan perna bisa menjadi pengemis bahkan walau itu dalam drama sekalipun."


Masih dengan cemoohannya Dania membuka pintu lemari sedikit kasar dan menarik kain berwarna sedikit gelap dengan asal sehingga membuat sesuatu yang berada di atasnya terjatuh.


"Apa itu?" Dania mengutip beberapa helai kertas yang berisi foto-foto lama, di helai pertama terdapat foto seorang anak laki-laki bertubuh gempal yang tertawa lepas bersama seorang pria muda yang tampak sangat mirip dengan Rully hanya saja warna manik mata yang membedakakan mereka tampak sangat akrab, Dania beralih pada helai kedua di sana terdapat foto anak laki-laki yang sama tampak mencium gadis kecil penuh sayang dan menurut tebakan Dania gadis kecil itu adalah Taya, kemudian Dania melihat lembar foto terakhir dan di sana terdapat dua orang anak laki-laki yang satunya bertubuh gempali yang Dania yakini adalah Rully melihat dari manik.mata bocah itu yang berwarna biru dan yang satunya adalah Reza tampak sangat manis dan berpose sangat lucu dengan Reza yang tampak serius memegang pundak seorang gadis kecil cantik yang duduk di sebuah bangku yang Dania yakini adalah bangku taman sedangkan di bangku yang sama di sebelahnya tampak Rully yang cemberut di dalam pelukan seorang gadis kecil yang terlihat sederhana.


Dania menatap foto itu lama dalam diam, namun matanya hanya terfokus pada figur anak kecil yang bertubuh gempal dengan gadis yang memeluknya, ia merasa tak asing dengan wajah gadis yang tampak tertawa riang tampak tak ada beban apapun di dirinya dengan kedua tangan memeluk erat tubuh gempal Rully kecil dari belakang.


"Apa kau menemukannya?" teriak Rully membuat Dania langsung tersadar dari pemikirannya.


"Ya tuan sebentar," Dania buru-buru kembali meletakkan foto itu di lemari dengan rapi kemudian menutup lemari itu seperti semula dan segera mendekat ke arah pintu kamar mandi.


"Tuan. Ini handuknya tuan," ujar Dania berdiri di dekat pintu kamar mandi dan mengetuk pintu itu pelan.


"Mana?"


Dania langsung terperanjat dan segera menutup matanya saat menyadari pintu kamar mandi  yang terbuka sedikit secara tiba-tiba serta sebuah tangan kokoh yang menggamit ke arahnya.


"Tuan bisakah anda lebih sopan?" ketus Dania dengan mata masih setia ia pejamkan.


"Tidak," jawab Rully dari balik pintu, "Berikan handuknya." ujar Rully lagi.

__ADS_1


Dania segera memberikan handuk yang sedari tadi ia pegang kemudian langsung beranjak menjauhi pintu kamar mandi.


"Pria gila, kenapa tidak sekalian saja dia telanjang di hadapanku," kesal Dania sudah berdiri di dekat sofa.


"Kau yakin?" merasa terkejut Dania pun berbalik dan langsung di kejutkan dengan kehadiran tiba-tiba Rully di balik tubuhnya dengan keadaan tak berbeda jauh dari kemaren yaitu bertelanjang dada dengan sehelai handuk yang melilit area bawahnya.


"Tuan bisakah anda berpakaian terlebih dahulu seperti sebelumnya?" kesal Dania menatap lurus pada Rully.


"Tidak."


Mengabaikan Dania, Rully berjalan dengan santai menuju lemarinya mengambil setelan santainya dan kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Di sisi lain setelah kepergian Rully otak Dania kembali di hantui dengan berbagai pertanyaan salah satunya pertanyaan mengenai gadis di foto itu yang tampak sangat tak asing baginya.


Dengan pikiran yang masih bertanya tanya Dania mendudukan dirinya kembali di atas sofa dan menggigit jari tampak berfikir sangat keras. Tak berapa lama Dania terlarut dalam pemikirinnya, tiba-tiba keluar Rully dengan sweater putih dan celana bahan hitam membalut tubuh jangkungnya yang membuat dirinya tampak sangat manis.


"Tuan," panggil Dania pelan berhasil menghentikan aktivitas Rully yang sudah akan menaiki ranjang.


"Tadi saya tidak sengaja menemukan beberapa lembar foto di lemari anda," Dania menjedah ucapannya beberapa saat mencoba untuk melihat reaksi Rully terlebih dahulu, "Dan saya juga menemukan foto anda yang di peluk seorang anak perempuan."


"Tuan siapa anak perempuan itu?"


Dania menatap Rully yang hanya berekspresi datar membuat dirinya menjadi merasa tak enak, awalnya Dania pikir Rully akan merasa tersinggung dengan pertanyaanya namun pria itu tiba-tiba berjalan dengan wajah arogant penuh kejahilan ke arahnya kemudian membungkuk sehingga wajah mereka hanya berjarak beberpa senti saja.


"Siapa yang menyuruhmu untuk menyentu benda pribadiku nona?" ujar Rully dengan alis yang terangkat membuat Dania langsung gelagapan.


"Sa..saya tidak sengaja tuan, foto itu jatuh saat saya mengambil handuk anda," kata Dania membela diri, ia memang tidak berniat menyentuh apapun.


"Kalau begitu lupakan tentang foto itu," ujar Rully kemudian berbalik sudah akan kembali keranjangnya namun tarikan tiba-tiba pada lengannya membuat niat untuk kembali ke ranjang menghilang.


Karna merasa tidak puas dengan jawaban Rully, Dania menarik lengan pria itu cukup keras hingga membuat Rully kehilangan keseimbangan dan tidak sengaja menindihnya.


Hening, untuk beberapa saat mereka saling bertatapan sampai Dania yang duluan tersadar kembali mendorong tubuh Rully kasar membuat pria itu sontak terjungkal kelantai.


"Maaf tuan saya tidak sengaja."


Dania buru-buru membantu Rully dengan mengulurkan tangannya, dan dengan cepat Rully menarik pergelangan Dania sehingga menindihnya dan berbisik pelan.


"Ku pikir itu adalah hal yang di sengaja."


Kemudian Rully mendorong tubuh Dania yang masih mematung sehingga terhempas dengan sangat tidak elit di lantai membuat si korban mendesah kesakitan.


"Tuan.." pekik Dania tak terima.


Rully bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan, Dania sudah akan meraih uluran tangan itu kalau saja Rully tidak tiba-tiba menarik kembali tanganya dengan sombong dan berkata.


"Maaf Nona aku tidak sengaja."


Rully berjalan melewati Dania membuat gadis itu hanya bisa menganga menatapnya penuh kekesalan dan kemudian mengumpat.


"Shit. I hate you Danuarta stupid."


Bukan manusia yang menentukan jalan kisahnya namun tuhan, manusia hanya pemeran utama yang harus memerankan watak apapun yang sudah ada di naskah..


To Be Continue...


------------


I love it every time every day...

__ADS_1


Jangan lupa vote and coment ya love...😘😘


__ADS_2