Love My Fan

Love My Fan
Chapter 21.Part I


__ADS_3

Rully menatap pantulan cermin yang menampakan sosok pria tampan dengan balutan jas lengkapnya tampak terlihat sangat berbeda dari biasanya, saat Rully asik dengan cermin di hadapannya tiba-tiba terasa sebuah tangan halus menggenggam pelan tangan kirinya yang bebas di udara, dan tak lama tampak wanita dengan balutan gaun putihnya dari balik tubuh Rully. Wanita yang sangat tak asing dengan sebuah senyuman manis di bibirnya wanita yang bersamanya di masa sekarang namun mengingatkannya ke masa lalu.


"I love you."


Rully tersentak dari tidurnya saat merasa beberapa tamparan halus di pipinya, perlahan ia membuka matanya yang terasa berat dan menatap wajah kesal seorang gadis yang menatapnya.


"Akhirnya Anda bangun," kata Dania yang beranjak dari ranjang Rully, "Saya pikir Anda mati."


"Pukul berapa sekarang?" tanya Rully mengabaikan perkataan Dania.


"Pukul 7 pagi tuan," jawab Dania yang sudah berjalan ke arah pintu meninggalkan Rully menuju kamarnya.


Di sisi lain setelah pintu tertutup Rully kembali memikirkan mengenai mimpinya itu, mimpi aneh namun sangat indah menurutnya dan siapa gadis yang menggunakan gaun putih itu.


Saat Rully sibuk merenungi nasibnya tak berapa lama pintu kamarnya kembali terbuka menampilkan sosok gadis, namun kali ini gadis yang berbeda yang tak lain adalah adik yang kemaren kembali menjadi adik kesayangannya.


"Pagi kak," gadis itu mengerutkan dahinya imut saat melihat Rully masih duduk manis di ranjang, "Kakak belum bersiap-siap?"


Taya berjalan ke arah ranjang Rully yang menyentuh dahi pria itu khawatir, "Apa kakak sakit?"


"Tidak, kakak baik-baik saja," jawab Rully menggenggam tangan Taya yang tadi berada di dahinya, "Bagaimana keadaanmu?"


"Sudah membaik," kata Taya yang beberapa saat menatap kakinya, "Tapi kenapa kakak belum bersiap? Apa kakak baru bangun tidur?" rentetan pertanyan khawatir dari adiknya membuat Rully menatap gadis itu gemas.


"Cerewet," kata Rully mengelus kepala Taya sedikit kasar sebelum beranjak menuju kamar mandi.


"Kakak," keluh gadis itu pada Rully yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


Pagi ini adalah pagi yang paling membahagiakan bagi Taya karna pagi ini untuk pertama kalinya Rully mengantarkan ia ke kampus, tadinya ia ingin pergi sendiri namun Rully mengatakan akan mengantarnya karna kakinya yang belum sembuh benar, namun bagi Taya apapun alasan yang di berikan Rully itu tetap bermakna bahwa pria itu menyayanginya.


Sekarang mereka bertiga sudah berada di dalam satu mobil yang sama, Rully yang menyetir, Taya di sebelahnya, dan Dania yang setia duduk di jok belakang kursi penumpang setia berbicara dengan gadis itu.


"Nona..—"


"Taya saja kak, kan tidak ada siapa-siapa disini, hanya ada aku, kakak dan Kaly," kata Taya cepat memotong ucapan Dania.


Dania sedikit tersenyum malu yang terlihat sangat aneh di wajah cantiknya itu," Ah iya Taya, kamu kan masih sakit kenapa tidak masuk saja pagi ini?"


Taya sedikit memiringkan tubuhnya agar lebih leluasa berbicara dengan Dania, "Ya karna hari ini ada kuis dan sedikit motivasi dari insinyur muda berbakat kak, dan kakak tau menurut kabar yang beredar dia adalah  perancang salah satu menara tinggi di Uni Emirat Arab," terang Taya ber api-api membuat Dania mengangguk-angguk paham.


"Oh jadi ceritanya kamu ingin menjadi seorang Arsitek?" tanya Dania, sesaat Taya tampak melirik ke arah Rully yang fokus menyetir sebelum mengangguk pelan.


"Kenapa?" tanya Dania yang terpancing gelagat gadis muda itu.


"Karna Taya ingin jadi seperti seseorang," jawabnya dengan senyum tulus.


"Seperti siapa?"


"Mommy."


Kedua gadis itu tampak melihat ke arah Rully menunggu reaksi pria itu, namun pria itu terlihat tidak bereaksi apapun dan terus terfokus mengemudi.


Hening beberapa saat sebelum Dania kembali bertanya, "Mommy? Kenapa Taya ingin seperti beliau?"


"Entahlah tapi bagi Taya Mommy adalah wanita cerdas, pintar, baik, lembut, perhatian, dan arsitek wanita muda terbaik pada masanya," puji Taya penuh senyum bangga.


"Kakak tau?" Taya menatap Dania penuh semangat akan ucapannya, "Mommy adalah arsitek yang sangat hebat bahkan ia perna mendapat penghargaan sebagai arsitek muda terbaik di Itali, tidak cuma itu, rumah, Villa, dan beberapa risort Daddy juga merupakan hasil rancangan mommy."


"Wah benarkah?" tanya Dania juga ikut bersemangat, "Aku jadi penasaran wanita seperti apa dia."


Saat kedua wanita itu sedang asik berbincang tiba-tiba mobil sudah berhenti dengan sangat mulus di depan gerbang Universitas itu dan menyadarkan keduanya.


"Sudah sampai?" Taya melihat keluar jendela sebelum kemudian berpamitan segera keluar dari mobil.


"Nanti pulang ingin kakak jemput?" tanya Rully dari kaca jendela mobil saat Taya sudah berada di luar.


"Tidak usah kak, Taya akan pulang bersama teman," jawab Taya yang langsung di angguki Rully.


"Ya sudah sana masuk," usir Rully sedikit tersenyum membuat gadis berpipi sedikit berisi itu menjadi cemberut.


"Iya sebentar lagi Taya juga akan masuk," katanya kemudian beralih pada Dania yang masih setia di kursi belakang, "Bye kak, Taya pergi dulu."


"Bye, semangat belajarnya calon arsitek," kata Dania dengan semangat empat limanya, yang di balas penuh semangat Taya.


"Siap kak," kata Taya.

__ADS_1


Setelah selesai melambai-lambai riah perhatian Dania kembali ke dalam mobil dan ia baru menyadari bahwa mobil itu belum berjalan juga membuat gadis itu langsung menegur si pengemudi.


"Ada apa tuan? Kenapa anda belum menjalankan mobilnya?" tanya Dania pada Rully.


"Maaf Nona bisakah anda duduk di sebelah saya agar saya bisa menjalankan mobilnya?" kata Rully penuh sindiran yang langsung menyadarkan Dania akan posisinya.


"Ups, sorry tuan saya lupa."


Dania langsung pindah ke sebelah Rully tanpa keluar dari mobil, dan tentu saja semua orang tau dan bisa membayangkan bagaimana gadis itu pindah ke kursi depan tanpa harus keluar dari mobil.


"Bisakah kau lebih sopan?" tanya Rully saat meliha kelakuan tidak elit Dania.


Dania menatap Rully polos dan bertanya, "Apa kesalahan saya tuan?"


Rully hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir sebelum kembali melajukan mobil.


"Oh iya tuan apa Mommy yang Taya maksud sama dengan Mommy yang selama ini anda sebut-sebut?" tanya Dania.


"Ya."


"Saya masih tidak paham siapa sosok Mommy itu?" ujar Dania yang memang tidak berharap pertanyaan itu akan di jawab oleh Rully.


"Mommy adalah ibuku, ibu kandungku, wanita yang melahirkanku."


Dania menatap ke arah Rully dan pria itu tampak santai seperti tidak ada beban apapun sama seperti saat dimana Dania dan Taya berbicara dengan topik pembahasan yang sama.


"Lalu nyonya Ratih itu bukan ibu anda?" tanya Dania lagi membuat Rully langsung menatapnya.


"Ku rasa kau sudah mengetahui hal itu," Dania terdiam, benar ia lupa bahwa sebelumnya ia perna menduga hal yang sama.


"Hm jadi itu alasan anda membenci nyonya Ratih?"


"Bukan, ada alasan lain," jawab Rully singkat.


"Alasan seperti apa?"


"Alasan yang tidak bisa di terima siapapun, termasuk mereka," jawab Rully penuh teka teki membuat Dania jadi semakin ingin tau.


"Maksud anda tuan? Saya tidak mengerti."


"Tuan...Tapi mana mungkin..—"


"Mungkin saja, apa yang tidak mungkin di dunia ini?" Rully kembali fokus menyetir sedangkan Dania malah bergemelut dengan pemikirannya serta kenyataan yang ada.


"Tuan saya masih tidak mempercayainya," kata Dania setelah hening beberapa saat, "Mana mungkin Ayah anda membunuh Ibu anda sendiri."


"Kalau begitu tak usa percaya."


Mobil kembali di isi dengan keheningan tidak ada yang mau melanjutkan pembicaraan, baik Dania yang tidak mau meyakini, maupun Rully yang malas meyakinkan.


Tak berapa lama mobil jenis sport itu berhenti membuat Dania langsung menatap keluar kaca jendela mobil dari sana Dania dapat melihat sebuah pekarangan yang sangat cantik, dengan rumah yang bergaya lama namun tampak mewah.


"Ini rumah siapa tuan?"


"Ini rumah Delila?"


"Oh Delila gadis yang ada di foto anda, tuan Reza, dan gadis bernama Dia."


"Dari mana kau tau, aku merasa aku tidak perna menjelaskan apapun padamu?" tanya Rully heran.


"Entahlah, saya hanya menebak," kata Dania sambil membuka sabuk pengamannya, "Ayo tuan, apa anda tidak ingin turun."


Rully yang sedari tadi mematung melihat gerak gerik Dania pun tersadar dan mulai turun dari mobil.


Mereka berdua masuk ke dalam pekarangan rumah itu, sesampainya mereka di sana mereka langsung di sambut oleh asisten rumah tangga si pemilik rumah.


"Selamat datang, Nona ada di kamarnya."


"Terimakasih," jawab Dania sopan pada si pelayan sedangkan Rully malah melengos menuju kamar si gadis pemilik rumah.


Dania mengejar langkah besar Rully yang masuk dalam sebuah kamar yang tampak sederhana namun mewah.


"De apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?" Rully berjalan mendekati gadis yang tampak sedang duduk di ranjang dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja," jawab Delila dengan senyuman khasnya, "Kau tidak membawa sesuatu?" tanyanya lagi melihat ke arah tangan Rully.

__ADS_1


"Apa?" tanya Rully yang tak paham.


"Astaga aku sakit, setidaknya kau membawakan sesuatu saat menjengukku," kesal gadis itu yang mulai merajuk.


"Ah aku melupakan itu."


Rully menggaruk tengkuknya yang tak gatal sedangkan Delila menampilkan wajah pura-pura merajuk miliknya, saat asik dengan aktivitas mereka tanpa sadar mata Delila menangkap sosok seorang wanita yang masih berdiri di depan pintu, kemudian beralih kembali menatap Rully.


Ada sedikit keheranan di hatinya, tak biasa- biasanya Rully mengijinkan siapapun untuk ikut serta bersamanya, namun kali ini cukup mengejutkan pria itu tidak datang sendirian ia datang bersama seorang gadis.


"Cimol siapa gadis itu?" Rully beralih melihat ke arah Dania yang tanpa permisi melihat-lihat isi kamar Delila.


"Aa.. Aku tau, apa dia gadis yang kau ceritakan?" ujar Delila sedikit keras hingga mampu di dengar oleh Dania.


"Kapa aku perna menceritakan tentangnya?" tanya Rully yang merasa memang tidak perna menceritakan hal itu padanya.


Dania tersenyum hangat dan berjalan ke arah Delila bertujuan untuk memperkenalkan dirinya.


"Salam kenal Nona, Saya Dania asisten pribadinya Tuan Rully," kata Dania sedangkan Rully hanya menatap tanpa ekspresi gadis itu.


"Salam kenal, Aku Delila kau bisa memanggilku Delila," Delila mengulurkan tanganya yang segera di sambut ringan oleh Dania tak lupa senyuman hangat yang tak perna lepas dari bibirnya.


******


"Tuan selain cantik dia juga baik," Dania menatap sebuah buku kecil bersampul bunga rose yang ia pegang.


Mata Rully sempat menatap beberapa saat buku yang sedari tadi Dania pegang sebelum kembali fokus ke jalanan di depannya, "Dari mana kau mendapatkan buku itu?"


"Delila yang meminjamkan saya," Dania tersenyum mengingat bagaimana dengan sangat ringan dan senang hati gadis itu meminjamkan dirinya buku yang sangat ia sayangi dan menceritakan beberapa hal tentang masa kecilnya.


"Anda perna membaca buku ini tuan?" tanya Dania membuat sesaat Rully teringat akan masa lalu.


Bukan hanya perna tapi ia lah si pemilik buku itu, buku yang ia tujukan pada Dia buku yang sengaja dia tulis untuk dia, buku yang berisi coretan-coreta gambar ilustrasi dari setiap kisah mereka, yang berisi ungkapan penuh cinta dalam persahabatan mereka. Namun saat ini buku itu berubah menjadi ketakutan yang mendalam untuk dirinya, ketakutan uang membuat Rully takut kalau ia kembali membaca atau setakat menyentuh buku ini ia akan kembali tenggelam dalam kerinduannya pada Dia.


"Tuan," Dania menyentuh pelan pundak Rully menyadarkan pria itu dari lamunanya, "Anda baik-baik saja?"


"Ya."


Rully kembali mengarahkan mobil itu ke kediaman Danuarta setelah seharian menghabiskan waktu bersama Delila kini keduanya memilih untuk pulang dan beristirahat, terutama Dania yang tak sabar ingin membaca buku yang berisi semua kisah masa kecil Rully di masa lalu.


Keduanya sampai dan masuk ke kamarnya masing-masing, sesampai di kamarnya Rully memilih untuk membersihkan tubuhnya di dalam.kamar mandi, sedangkan Dania malah duduk di atas ranjang dan mulai membuka buku bersampul bunga mawar itu.


27 Juni 2003


Rully, Dia, dan sandwich


Di lukisan pertama terdapat sebuah gambar bocah kecil berbadan gendut tampak bersembunyi di bawah meja dengan sebuah roti isi di tangannya, dan di lain sisi juga terlihat gadis kecil yang ikut merunduk mengulurkan tangannya.


Dania menatap fokus gambar itu dan kemudian beralih membuka halaman kedua, sama seperti halaman pertama di sana terdapat tanggal yang menurut Dania adalah tanggal di mana terjadinya peristiwa di setiap gambar tersebut.


30 Juni 2003


Bermain bersama, Rully, Reza, Dia, dan tetangga baru.


Di gambar kedua tampak seorang anak laki-laki yang serius membaca buku, dengan boca laki-laki gendut di sebelahnya dengan mulut yang penuh seperti sehabis memakan roti isi, dan di gambar itu gadis yang di halaman sebelummya tampak memegang roti yang bocah lelaki gendut makan, dan si gadis yang Dania duga adalah Delila kecil tampak memberikan sebuah susu kotak pada boca lelaki gendut itu.


Dania terdiam beberapa saat, rasanya semua yang ada di gambar itu terasa tak asing baginya bahkan sempat beberapa kali masuk kedalam mimpinya. Dania dengan segera membuka halaman berikutnya dan mengamati halaman itu, kemudian beralih ke halaman selanjutnya begitu seterusnya sampai Dania tiba di halaman terakhir di sana terdapat gambar yang perna Dania jumpai di kamar Rully waktu itu. Foto dua orang orang anak laki-laki dan anak perempaun di kursi taman, Tampak anak perempuan yang Dania duga adalah Dia memeluk Rully kecil yang duduk di sebelah Reza dengan Delila kecil yang memegang pundaknya.


Semuanya terasa bagai film lama yang tak berwarna dan bahkan tak mampu Dania lihat, namun ia dapat merasa alur cerita yang menghantui pikirannya.


Ada apa sebenarnya?


Siapa dirinya sehingga di hantui bayangan masa lalu anak-anak yang ceria?


Kenapa kebahagian yang di selubungi duka untuk Dania terasa begitu menohok raganya?


Kebahagiaan di masa lalu adalah bumbu rahasia yang akan menjadi penyedap di masa depan...


----------


TBC...


Happy reading my lovee....


Jangan lupa vote dan comennya😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2