Love Secret

Love Secret
#12 memilih umpan


__ADS_3

Rain dan Lova sudah tiba di rumah Zaki. setelah mobil terparkir rapi di area garasi, mereka langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu atau memencet bel terlebih dahulu. Rain yang sudah biasa keluar masuk rumah sahabatnya itu tidak ragu lagi untuk masuk kedalam rumah, menganggapnya seperti rumah sendiri.


Lova menggenggam erat jemari Rain, sambil terus mengikuti kemana langkah kaki Rain melangkah. masuk kedalam rumah tanpa permisi mungkin membuatnya sedikit cemas, kalau-kalau si empunya kediaman besar itu tiba-tiba datang dan memarahi mereka berdua.


"apa disini enggak ada orang Rain ?" tanya Lova sambil celingukan mengamati sekitar.


di depan pintu masuk langsung terlihat ruang duduk dengan sofa berderet rapi, terlihat seperti loby di hotel bintang lima. sedangkan dibelakang sofa yang berjejer rapi itu terdapat anak tangga cukup lebar yang melingkar indah seperti cangkang siput.


"ada Zaki sama Haikal, mereka udah nunggu di belakang" sahut Rain sambil terus menggandeng Lova melewati beberapa ruangan dan lorong yang cukup panjang di dalam rumah Zaki.


"mancingnya dimana ?" tanya Lova yang masih terlalu bingung untuk menebak seperti apakah tempat yang akan dijadikan arena memancing Rain bersama dua sahabatnya.


Lova sempat berpikir kalau Rain akan memancing setidaknya di laut, tapi itu tidak mungkin. karna rumah Zaki di perkotaan yang jauh dari laut. tapi kalau bukan di laut dimana lagi ? sangat tidak mungkin kalau mancing di dalam kolam buatan sendiri kan ? lalu mereka akan memancing dimana ? apa Zaki membuka arena tempat pemancingan umum ? pikirnya. tapi diluar tidak banyak kendaraan yang terparkir, tidak juga memasang iklan pemancingan umum, "ah.. sudahlah" batinnya berteriak masabodoh.


Rain melihat Lova menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri pun bertanya ada apa, tapi Lova hanya menjawab "tidak ada" sambil tersenyum sipu, pipinya merona karna malu.


*****


di rumah Rain.


pesta belum usai, tapi ibunya Rain memilih untuk pulang bersama mayya. ia merasa badmood setelah Rain pulang tanpa berpamitan kepada keluarganya terlebih dahulu.


setibanya di rumah, ibu Rain meminta mayya untuk bicara sebentar di ruang duduk.


"apa kamu lihat tadi, Rain benar-benar keterlaluan. pergi dan datang sesuka hati di acara penting seperti ini, buat malu saja" Mrs. yulia menumpahkan kekesalan yang sedari tadi ia tahan. dadanya naik turun menahan amarah yang bergejolak dalam hatinya.


mayya memanggil asisten rumah tangga untuk mengambilkan minuman dingin, ia rasa ibunya butuh mendinginkan pikiran.


tak lama minumanpun datang, ART yang melihat nyonya besar sedang berwajah masam itu buru-buru pergi setelah menyajikan minuman manis berwarna merah di dalam gelas dengan bongkahan es batu. ia takut kemurkaan Mrs. yulia merambat kmana-mana.


"jika tidak ada yang diperlukan lagi saya permisi, nyonya" katanya sambil menundukkan pandangan ketika berbicara.


"pergilah" kata Mrs. yulia singkat, sambil membuang muka dan mengibaskan tangan seperti mengusir.


mayya mengambil gelas yang berisi sirup manis itu, kemudian memberikan kepada ibunya dengan sopan. "minumlah dulu Bu"


Mrs. yulia mengambil minuman pemberian mayya lalu meneguk dengan cepat dan menghabiskannya tak bersisa. "hah dasar, apa bagusnya sih gadis itu. apa Rain sudah kehilangan standar, bisa-bisanya pacaran dengan gadis ingusan" dengus Mrs. yulia, nafasnya menderu tak beraturan.


"sudah Bu, tenang lah. mungkin Rain hanya main-main saja" mayya menanggapinya dengan santai. ia sebenarnya mendukung apa saja yang Rain kehendaki. mayya tipikal kakak yang support terhadap apapun kebaikan untuk adik-adiknya, termasuk urusan percintaan.


"Bu, biarkan saja Rain memilih pasangan hidupnya. lagipula, Lova kan gadis yang baik. ia juga berasal dari keluarga yang jelas" mayya mengutarakan pendapat nya, namun tak di indahkan oleh sang ibu.


"hey... kamu ini tahu apa huh ?" Mrs. yulia memukul pelan bahu anaknya, ia tak setuju dengan pendapat mayya.


"asal-usulnya memang jelas, Mayy. tapi masa lalunya ? ibu tidak akan pernah menyerahkan Rain kepada gadis seperti itu"


Mrs. yulia bersikeras dengan pendiriannya. ia sangat menyayangi Rain. dengan membiarkan Rain berhubungan dengan Lova semakin jauh, sama saja mengorbankan masa depan putranya. begitu pikirnya.


sedangkan mayya tidak mengerti apa yang sedang ibunya bicarakan, ia lebih memilih meninggalkan ruangan tempatnya duduk saat ini.


"aku ke kamar dulu ya, Bu" pamitnya, kemudian melangkah ke atas tangga menuju kamarnya untuk beristirahat.


sedangkan Mrs. yulia masih menggeram kesal, pandangannya menerawang jauh entah kemana, dan entah apa yang dipikirkan. senyum licik mengembang diwajahnya.


"yah.. aku tahu apa yang harus kulakukan" gumamnya dalam hati sambil mencengkram erat gelas yang masih dalam genggaman.


*****


Lova menutup mulutnya yang menganga, setengah terkejut dan terkesima melihat pemandangan alam yang indah di area rumah mewah milik Zaki.


"astaga... apa benar ini rumah Zaki ?" ia terkagum-kagum dengan keindahan danau yang berada di belakang rumah. disana sudah ada Haikal dan Zaki yang sedang memancing sambil sesekali sibuk memilih umpan yang cocok.


"pertanyaan macam apa itu ?" Rain menatap Lova sambil tersenyum gemas pada gadisnya.


Lova tersadar dari rasa kagum bercampur kagetnya, "bukan, maksudku... apa danau itu milik Zaki ? eh, tidak... maksudku, ini masih di area rumah Zaki kan ?" tanya Lova dengan wajah polosnya.


Rain menangkup wajah Lova dengan kedua tangannya, ia merasa gemas dengan reaksi Lova saat terkejut. lalu mengecup bibir Lova sekilas, kemudian berlalu menghampiri Zaki dan Haikal yang sudah menunggu di tepian danau.


Lova yang masih shock dengan tindakan Rain yang spontan mengecup bibirnya, ia masih berdiri mematung. saat sadar Rain telah menjauh darinya, Lova segera berlari kecil ke tempat dimana Rain, Zaki dan Haikal berada.


terlihat Rain sedang menyematkan umpan pada kail pancingnya, kemudian ia melempar kail ke tengah danau.


"udah lama ?" tanya Rain pada Zaki dan Haikal yang sedang menarik ulur joran.

__ADS_1


"baru mulai, belum strike nih kita" sahut Haikal.


Zaki melihat Lova yang berdiri memandangi keseluruhan pemandangan danau buatan itu, membuatnya beranjak dari kursi malasnya. kemudian membawakan sebuah kursi lipat untuk Lova duduk.


"duduklah cinta, berdiri terus gak pegal ?" goda Zaki dengan senyumnya yang menawan.


"Lo keterlaluan Rain, masa Lo duduk cewek Lo berdiri" sindir Haikal kepada Rain. Rain malah cuek dan melemparkan senyum smirk nya kepada dua sahabatnya itu.


"gue sengaja gak ngasih kursi, biar Lova duduk di sini" Rain menatap Zaki dan Haikal sambil menepuk-nepukkan tangan diatas pahanya.


"wah parah Lo" umpat Zaki, "kalo mau pangku-pangkuan sana deh masuk ke kamar. rumah kan sepi" timpalnya.


Haikal menyela, "udah Zak, lagian Lova gak mungkin mau duduk sama Rain" lalu beralih pandang bertanya pada Lova . "iya kan cinta ?" tanya Haikal.


Lova menduduki kursi yang tadi diberikan Zaki padanya, kemudian tersenyum pada tiga pria yang ada di sampingnya. mereka duduk sejajar berjarak satu meter. "terimakasih, aku duduk disini aja"


Lova yang dari tadi hanya memperhatikan kegiatan mereka bertiga, akhirnya mulai penasaran dengan benda-benda yang tak dikenalnya. ia beranjak dari kursi, kemudian berjongkok di dekat kotak yang berisikan berbagai macam alat pancing.


"kalian mancing pakai umpan yang mana ?" Lova menyentuh satu persatu benda yang ada dalam boks. ia mengangkat benda kecil tajam serupa dengan jarum, tapi berbentuk melengkung.


Haikal, Zaki dan Rain kompak melihat ke arah suara pertanyaan berasal.


"itu bukan umpan cinta" sahut Zaki, "itu namanya kail, kamu kalau mau naruh umpan ya disitu nyangkutin umpannya" lanjutnya.


Lova mengangguk-anggukan kepalanya "ooh, berati kotak yang ini isinya kail semua ya ?" tanya Lova memandang ke arah Zaki sambil mengangkat kotak pipih berukuran sedang, disana tersimpan rapi aneka macam kail berbeda ukuran.


"iya" jawab Zaki singkat dibalas dengan senyuman.


"wah, yang ini mirip jangkar ya" Lova mengangkat satu kail yang ukurannya lebih besar diantara yang lainnya, mungkin untuk memancing ikan besar pikirnya.


Haikal yang melihat Lova sangat penasaran dan antusias dengan alat pancing yang ia pegang satu persatu pun bertanya kepada Lova, "kamu udah pernah mancing, Lov ?"


Lova menengok ke arah Haikal, "belum pernah, ini pertama kali lihat orang mancing secara live" jawab Lova, kemudian ia kembali mengotak Atik benda yang mirip dengan ikan.


"ini apa sih ? ikan mainan ya ?" tanya Lova kepada siapa saja yang mau menjawab pertanyaannya.


Rain terkikik geli, begitupun dengan Zaki dan Haikal. mereka menertawakan Lova yang sedang memainkan benda seperti ikan mainan, berwarna warni dan bermacam bentuknya.


sementara Lova hanya membulatkan bibirnya dengan kata "ooh"


"kamu mau mancing, Lov ?" tanya Zaki.


"emangnya boleh ?" tanya Lova dengan menaikkan alisnya, ia memang penasaran ingin mencoba rasanya mendapatkan ikan dengan cara dipancing.


"ya boleh dong" Zaki menyiapkan joran dengan senar tipis hampir tak terlihat, lalu mengambil umpan yang sudah di siapkan di dalam sebuah kotak makan.


Lova penasaran dengan umpan yang terlihat seperti makanan enak dan beraroma sedap. ia mendekati Zaki, kemudian duduk disebelahnya.


Zaki sibuk mengaitkan gumpalan bulat sebesar kelereng pada kail. Lova mengambil salah satu umpan dari kotak makan dan memperhatikan seksama, kemudian mendekatkan ke hidungnya serat mendengus dan mengamati aromanya.


"ini bukannya roti tawar yah, dicampur keju ?" tanya Lova dengan nada menebak.


Zaki, Rain dan Haikal tertawa bersamaan. mereka merasa lucu melihat Lova yang sama sekali tidak tahu apa-apa soal memancing.


"iya sayang, itu bahannya memang benar keju dan roti. cara buatnya di gulung-gulung, lalu di kukus. Lima menit sudah bisa diangkat, lalu tiriskan" tutur Rain panjang lebar menjelaskan.


"aku baru tau ikan makan roti, pakai keju lagi !" Lova kagum dengan pengetahuan barunya ini, ia akan menceritakan pengalaman memancing pertamanya kepada Genk high five nya di sekolah.


Zaki tersenyum, ia sudah selesai dengan umpan pada kail pancingnya. "ini, biasanya kalau pakai umpan ini yang dapat pasti ikan emas" ia menyerahkan pancingan kepada Lova.


Lova sangat antusias menerimanya. ia senang punya pengalaman baru, dan sepertinya memancing akan jadi hobi barunya juga.


....ssyyuuuutttt.....


Lova melempar umpan dengan mengangkat pancing sangat tinggi sampai pancing itu ke arah belakang, alhasil kail yang bergelayut manja itu malah tersangkut pohon rindang yang berdiri kokoh di belakangnya.


terdapat beberapa pohon di tepian danau yang menjadi tempat untuk memancing dibawahnya, karna teduh.


melihat Lova yang seperti akan mencambuk kuda, dengan mengangkat pancing sekuat tenaga. spontan Rain, Zaki, dan Haikal menepuk jidat, masing-masing dari mereka merasa kacau. harusny tadi Zaki saja yang melempar umpan, bukan Lova yang memang tidak berpengalaman dalam hal memancing.


"loh, ini nyangkut kak Zaki. gimana ini" tanya Lova kebingungan, ia merasa tidak enak hati karna takut merusak benda kesayangan milik Zaki, yaitu alat pancing.


Rain kemudian berdiri meraih senar yang tersangkut pada ranting pohon. perlahan ia menarik-narik senar berharap kail yang tersangkut bisa terlepas. sedangkan Lova masih beediri memegang Joran (pancingan).

__ADS_1


Zaki dan Haikal malah cekikikan melihat Rain yang terlihat seperti menarik benang pada layangan putus di atas pohon.


"udah Rain potong aja" Zaki memberi solusi seraya menyerahkan sebuah gunting kepada Lova. jaraknya memang lebih dekat dengan Lova, sedangkan Rain berada di radius lima meter dari tempat Lova berdiri.


Lova menyerahkan gunting kepada Rain, sambil terus memegangi jorannya.


"maaf ya kak Zaki, jadi rusak deh pancingannya" ucap Lova memelas.


"gak apa-apa sayang, ini sih bukan kerusakan namanya" sahut Rain tanpa beban.


Zaki tersenyum, "jangan dipikirin, itu sama sekali gak ngaruh kok. masih bisa di pakai, serius" ucap Zaki meyakinkan agar Lova tidak terbebani.


Lova masih menunduk, tapi sejurus kemudian ia bersemangat lagi ketika melihat Zaki mengganti kail yang sudah hilang tadi.


"nih masih mau mancing kan ?" tanya Zaki dengan menyarahkan joran kepada Lova.


"asiikk... umpannya aku yang pasang yah kak" kata Lova dengan sumringah.


Zaki mengangguk "iya, pilih aja disitu umpannya"


Lova mengambil kotak umpan, ia kebingungan ketika memilihnya. ia mau mencoba umpan yang baru, tidak mau memakai umpan roti keju yang tadi Zaki pasang.


terlihat beberapa jenis umpan yang Lova kenali dari tekstur dan bahannya. ada lumut hijau, ada telur semut rang-rang atau biasa disebut Kroto, ada umpan sintetis, ada pula cacing yang masih hidup, "eewwwhhh" Lova tidak bisa menyembunyikan ekspresi jijiknya ketika melihat cacing yang saling tumpang tindih didalam ember kecil berisi sedikit tanah, lebih banyak cacingnya.


Rain tertawa melihat Lova yang enggan menatap ember itu, "jangan pakai yang itu" kata Rain dengan mengusap lembut kepala Lova.


Lova hanya mengangguk pelan, kemudian ia membuka kotak yang lain.


"jangan dibuka" teriak Zaki, Lova yang kaget pun tak sempat menghentikan tangannya saat membuka kotak yang ia pegang,


"AAAAAAAAA..... KECOA.... " teriak Lova ketika banyak jangkrik yang keluar, ia mengibaskan tangannya sambil berdiri mundur menjauhi jangkrik-jangkrik yang berhamburan.


"telat Lo bilangnya" Rain memarahi Zaki yang kurang teliti karna membiarkan Lova membuka kotak berisi umpan yang masih hidup. "lain kali pisahin dong, jangan jadi satu begini" imbuhnya dengan nada sengit.


"itu jangkrik kok, bukan kecoa" kilah Zaki membela dirinya.


"ya sama aja, sama-sama seram tau" timpal Rain masih marah.


"udah lah Rain, biasanya juga disitu kok nyimpennya" ucap Haikal menengahi.


Zaki hanya bisa pasrah dan meminta maaf atas keteledorannya.


Rain menyuruh Lova duduk disampingnya, tanpa bantahan Lova langsung pindah ke samping sebelah kanan Rain.


saat Rain, Zaki dan Haikal masih berdebat membahas masalah jangkrik. tiba-tiba Lova menarik tangan Rain den berteriak.


"Rain... itu... pancingannya gerak-gerak. umpannya dimakan ikan.." Lova heboh sendiri, kegirangan saat akan mendapat ikan.


Rain menarik joran perlahan, menggulung senar hingga akhirnya strike. ikan pun didapat.


"wah boleh juga" Haikal dan Zaki iri dengan hasil tangkapan Rain.


"lagi... lagi..." Lova bersorak minta lagi, Rain bersiap lagi dengan memilih umpan baru setelah melepas ikan dari kail.


"RAIN JANGAN YANG ITU......" teriak Zaki ketika melihat Rain membuka salah satu kotak umpan, Zaki tau Rain sangat tidak menyukai ulat, atau lebih tepatnya TAKUT pada ulat atau sejenisnya.


tapi terlambat karna Rain sudah membukanya.


saat Zaki berteriak, rain menoleh sebentar ke arah Zaki, lalu kembali melihat kotaknya.


Rain terkejut saat melihat isinya.


"AAAAAAAAAAAAAA" saking terkejutnya, refleks ia melemparkan kotak yang berisi ulat ke sembarang arah, yang akhirnya jatuh tepat diatas pangkuan Lova.


Lova yang terkejut sontak berteriak histeris ketika ulat-ulat berjatuhan diatas pahanya.


"AAAAAAAAAAAAAAAA" Lova langsung berdiri mengibaskan pakaiannya, ia melompat-lompat kecil takut masih ada ulat yang tersisa di bajunya.


"RAIIIIIIINNNN" teriak Lova dengan wajahnya yang merah padam.


"kiamat" ucap Rain dalam hati sambil meringis dengan wajah memelas.


sementara itu, Zaki dan Haikal hanya bisa kasihan pada Rain tanpa bisa menjauhkannya dari amukan Lova.

__ADS_1


__ADS_2