Love Secret

Love Secret
#25 kunjungan kerja


__ADS_3

*sebuah nama pernah terukir di hatiku, hanya satu... yaitu kamu, kamayel !!


tapi itu sudah berakhir ketika ku bertemu dengannya, seorang gadis kecil yang mampu mengubah perasaanku hingga berbelok terus mengekor padanya.


dialah... LOVA*.


*****


Rain pergi bersama Andreas ke yayasan milik kakeknya, yaitu sekolah Kebangsaan.


untuk kunjungan rutin setiap tahunnya, biasanya sekolah akan didatangi oleh kakek Rain, namun kali ini berbeda.


kemarin, Andreas mendapat laporan bahwa kakek Rain tidak dapat berkunjung dikarenakan kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk bepergian. oleh sebab itu, kakek mengutus Rain pergi untuk menggantikan posisinya sebagai perwakilan dari ketua yayasan.


"Dre, sumpah gue gak siap datang ke sana. Lo aja bisa kan ?? gue gak mau Dre !!" rengekan Rain didalam mobil saat dalam perjalanan menuju yayasan pendidikan.


"jangan seperti anak kecil Rain. umurmu memangnya berapa ? ha?" tanya Andreas sarkas, Andreas benar-benar pusing dibuatnya. baru kemarin lusa Rain ber-ulah, sekarang sudah kumat lagi, pikirnya sambil terus mengemudi. "kamu harus bersikap profesional" imbuhnya.


Rain mendengus kesal, ia gemas jika Andreas berkata sok bijak saat Rain membutuhkan kerjasamanya (kerjasama untuk kabur dari masalah).


"kalo Lo nggak mau turunin gue disini ya udah nggak usah pake ceramah gitu"


Andreas menggeleng sekilas, terukir senyum miris di wajah bekunya. Andreas sangat kaku dan dingin di wajah, tapi berhati baik dan sangat peka terhadap situasi dan kondisi di sekitarnya.


"kamu nggak mau datang ke yayasan karna enggan bertemu kamayel ? mantan pacarmu ?" tanya Andreas dengan tekanan intonasi di akhir kalimatnya.


"hohh.. jangan mengada-ada Dre !! aku ragu karena....."


"karna ada Lova ?" tanya Andreas memotong perkataan Rain. "Lova akan berada didalam kelas saat kamu datang, jadi jangan khawatir"


Rain mengalihkan perhatiannya ketika mobil telah melewati gapura yang bertuliskan "welcome to KEBANGSAAN global school" gapura itu menjadi penanda bahwa dirinya telah memasuki kawasan pendidikan yang didalamnya berjejer gedung gedung bertingkat. disana terdapat jenjang pendidikan mulai dari usia todler school, hingga tingkat perguruan tinggi. setiap tahunnya akan ada kunjungan dari pemilik yayasan, dan harusnya itu dilakukan kakek Rain kemarin saat hari pertama masuk tahun ajaran baru, namun karna alasan kesehatan - jadilah Rain datang hari ini - dengan syarat, ia hanya akan mengunjungi SMA saja, tidak mau mengunjungi seluruh area pendidikan itu. REPOT, katanya.


*****


Rafael sedang berada di dalam perpustakaan, ia sedang menyalin buku pelajaran sosial dengan tulisan tangan sebagai hukuman atas dirinya karna kemarin membolos.


tapi, bukan Rafael namanya jika ia menuruti kata pak Deden (wali kelas) Rafael . yah, Rafael mendapat kelas IPS I yang letak kelasnya lumayan jauh dengan kelas Lova.


"eh Rafael, Lo yakin tulisan tangan si Johan ini nggak bakal ketahuan sama pak Deden ?" tanya Gerald, teman sekelas Rafael yang sama-sama dihukum karna membolos kemarin.


"biarin aja, ketahuan palingan dihukum yang lain" ucap Rafael santai. ia malah memainkan ponsel. sedangkan Johan yang menyalin tulisan di buku terlihat sedang fokus mengukir tinta diatas kertas.


setelah selesai menyalin sebanyak 10 lembar, kini Rafael beserta siswa-siswa lain yang juga dihukum, mereka pergi ke ruang BK untuk menyerahkan lembaran tugas yang diberikan sebagai penebus poin kesalahan yang akan ditukar dengan Tanda tangan wali kelas masing-masing.


*****

__ADS_1


Rain mendapat sambutan hangat dari seluruh staf beserta dewan guru yang berada di ruang khusus pertemuan.


saat memasuki ruangan, terlihat seluruh jajaran tenaga kependidikan sudah berbaris dengan rapi sehingga Rain mau tidak mau harus berjabat tangan dengan semua orang yang hadir di ruangan pertemuan itu. hingga tiba saatnya ia dihadapkan langsung dengan kamayel, mantan pacarnya dulu- sebelum akhirnya ia memutuskan menjalin hubungan dengan Lova.


pandangan mereka bertemu, Kamayel tersenyum tipis saat Tangannya bersalaman dengan tangan Rain. ada sedikit rasa yang masih menggelitik hatinya, karna Rain memutuskan hubungan secara sepihak. dengan kata lain, Kamayel masih memendam perasaannya terhadap Rain.


Rain melepaskan pertautan tangan mereka setelah sekian detik waktu terasa terhenti bagi mereka berdua, dan akhirnya Rain tersadar sehingga ia kembali berjalan sampai di ujung barisan para staf dan dewan guru.


"silakan duduk, bapak Rain" ucap pak Slamet selaku kepala sekolah di SMA Kebangsaan.


"oh, terimakasih pak" ucap Rain saraya menyambut kursi yang di sediakan pak Slamet untuknya. Rain mendudukinya perlahan, "tidak usah terlalu formal, Pak Slamet . saya disini hanya mewakili ketua yayasan, tidak lebih dari itu" tuturnya lembut dan bijaksana, yang kemudian ditanggapi dengan senyum oleh semua yang hadir di ruangan.


pak Slamet beserta seluruh jajarannya kini sudah duduk ditempat masing-masing yang sudah ditata rapi membentuk huruf U. di sisi kanan dan kiri terdapat beberapa baris kursi yang diisi oleh dewan guru, dengan meja panjang di tengah sebagai pembatas. sedangkan Rain duduk di kursi paling ujung, sementara ujung satunya yang berseberangan dengan Rain, disana sudah terhubung dengan kamera yang langsung terhubung online ke layar lebar yang terdapat di ruang kerja kakek Rain, yaitu Mr. Arafat.


dengan seksama, kakek Rain memerhatikan tampilan layar di hadapannya yang menampilkan performa cucu kesayangannya. betapa bangga kakek Arafat memiliki Rain, yang ternyata sudah lebih dari mampu untuk menggantikan kedudukannya kelak.


pandangan mata kekek terpaku pada satu titik dimana Rain sedang berbicara dengan para staf di sekolah, sampai akhirnya tayangan meeting itu selesai, dan layar menjadi hitam. dengan mengusap sudut matanya yang berair, perlahan kakek Rain melepas kacamata yang semula dipakai nya. ia tersenyum bangga hingga menitikan air mata.


"saya rasa cukup sampai disini, terimakasih banyak sudah menyambut kedatangan saya dengan hangat. dan atas nama ketua yayasan, saya mohon maaf karena beliau tidak bisa hadir disini"


kata penutup dari Rain menuai tepuk tangan meriah dari para staf dan dewan guru yang hadir di ruangan itu, dan akhirnya satu persatu yang berada di ruangan pergi untuk melanjutkan jadwal bekerja dan mengajar masing-masing.


hari itu pukul 11:30, Rain masih berada di ruangan pertemuan sampai seluruh anggota yang hadir keluar dari ruangan luas itu. Andreas yang masih duduk di sisi kanan Rain melirik ke arah bosnya, dilihatnya Rain yang sedang mengetik sebuah pesan kepada seseorang.


*****


pak Jordan memberikan poin khusus dimana siswa di kelasnya bebas mengekspresikan diri, termasuk bagaimana struktur kelas hingga metode pembelajaran mereka nantinya, semua ditulis di selembaran kertas yang nanti akan menjadi pertimbangan pak Jordan dalam mengajar dan membimbing siswanya di kelas.


saat sudah di meja terakhir, Lova bersiap membereskan lembaran-lembaran kertas yang sudah terkumpul, seketika ia mengambil ponsel di saku almamaternya. terlihat ada satu pesan masuk dari Rain. "sedang apa, baby ??" bunyi pesan dari Rain.


"di kelas" balasan singkat dari Lova. kemudian Lova melanjutkan kegiatannya.


sementara itu disisi lain.....


Rafael barusaja tiba di kelasnya setelah mengunjungi ruang BK. ia duduk sebentar di kursinya, dan tak lama berdiri kembali.


bosan ternyata jauh dari Lova..


Rafael yang kesal karna tidak satu kelas dengan Lova, ia sempat melayangkan protes kepada pihak sekolah, bahkan Rafael juga sempat mendatangi ruang kepala sekolah karena ia meminta dipindah kelaskan agar bisa satu kelas dengan Lova, namun usahanya sia-sia. "kamu lebih cocok jadi siswa saya" itulah alasan yang diberikan pak Deden ketika Rafael meminta wali kelasnya untuk membantu dirinya pindah ke kelas IPA I. "aaaaaaaarrrggghhh" Rafael hanya bisa berteriak didalam hati. bagaimana tidak, ia terancam akan dipindahkan ke sekolah lain jika masih bersikukuh ingin meninggalkan kelasnya yang sekarang.


setelah melewati koridor sekolah yang cukup panjang, melewati beberapa tikungan, dan menaiki anak tangga yang menjulang, akhirnya Rafael tiba di kelas IPA I, dimana Lova berada. namun sayangnya ketika ia memasuki ruang kelas, Lova tidak berada disana.


"kemana Lova ?" tanya Rafael kepada Dea yang sedang mendengarkan musik dengan headset di telinga. Dea terperanjat kaget karna sebelumnya Rafael menggebrak meja di dekatnya.


"ASTAGA !!! RAFAELLL!!" pekik Dea sembari melepaskan headset, "ngapain Lo disini ?" tanya Dea kemudian.

__ADS_1


"Lo nggak denger ya ? MANA LOVA ?"


"nggak sopan Lo teriak-teriak di kelas orang" ucap Dea yang malah mengacuhkan Rafael, Dea berbalik memunggungi Rafael yang semula di hadapannya .


Rafael yang kesal melihat tingkah Dea, ia malah menarik kursi yang tengah Dea duduki hingga menghadap kembali ke arahnya.


kelas yang semula damai dan tenang kini malah riuh para siswa bertepuk tangan karna melihat aksi Rafael yang terlihat seperti sedang membujuk pacarnya yang ngambek.


"cieee..." Nova dan Novi langsung menyambar bagaikan bensin tersulut api.


Rafael melihat sekeliling, malu menggerogoti wajah merah padamnya. bagaimana tidak, semua orang yang ada didalam kelas sedang memerhatikan tingkahnya yang mungkin dianggap konyol. tanpa pikir panjang Rafael kemudian berbalik ketika Dea sudah memberitahukan dimana Lova berada.


"Lova di ruang guru, ruangan pak Jordy. udah sana Lo pergi, bikin malu gue aja !!" pekik Dea , ia mengibaskan tangannya mengusir Rafael.


"dasar cewek barbar !! harusnya gue yang malu, Deket cewek kayak elo !!" sindir Rafael sinis. bagaimana tidak, bayangkan kalau Dea cepat menjawab dimana lova berada pasti tidak akan terjadi hal memalukan seperti ini. pikirnya.


buru-buru Rain meninggalkan kelas terlaknat itu, ia berlari kecil menuju ruang pak jordy.


*****


Lova yang baru saja memasuki ruang pak Jordi celingukan ketika tak mendapati siapapun di dalamnya. pantas saja tak ada suara ketika ia mengetuk pintu beberapa kali tadi sebelum masuk.


disimpannya lembaran kertas yang dibawanya itu ke atas meja kerja pak Jordy . disana meja masih terlihat kosong, hanya ada beberapa map yang tertumpuk tipis dengan buku agenda yang berada di atasnya. serta sebuah kalender kecil di sudut kiri atas meja.


ketika hendak melangkah keluar, tak sengaja Lova mendengarkan percakapan seseorang di balik ruangan pak Jordy.


karena ruangan privasi setiap guru saling menempel dalam satu barisan, dengan luas ruang masing-masing 3x4m-- tanpa kedap suara. jika menempelkan telinga ke dinding yang bersinggungan langsung dengan ruangan satunya, maka akan terdengar suara bila ada seseorang yang sedang bercakap di ruangan sebelahnya.


mulanya Lova bersikap masabodoh dengan percakapan seseorang di ruangan sebelah, tetapi setelah samar mendengar suara perempuan dan laki-laki sedang bercakap sedikit tertarik Lova menghentikan pergerakannya yang sudah menyentuh handle pintu.


"aku kenal suara itu"


Lova mencoba mengingat sejenak, ruangan sisi kanan pak Jordy adalah ruang guru yang di pintu tertera nama KAMAYEL disana.


"tapi... suara laki-laki itu aku kenal"


perlahan ia melangkah menuju sisi dinding dintengah ruangan, tepat di sebelah meja kerja pak Jordy. Lova mencoba mencondongkan kepalanya ke samping hingga telinganya menempel dinding. dengan seksama ia memejamkan mata dan mencoba fokus pada percakapan orang yang ada di sebrang ruangan.


"kamu pergi begitu saja rain...." suara perempuan di ruangan sebelah.


sepertinya benar, itu suara ibu kamayel.


sementara Lova masih menguping, ia memegang erat tongkat yang menjadi tumpuan kakinya sebagai penopang ketika berjalan.


perlahan ia menyandarkan punggungnya ke dinding dan menghela nafas panjang. setelah merasa sedikit tenang, buru-buru Lova merapikan penampilannya, ia mengusap pipinya yang sedikit basah karna air mata yang tak sengaja jatuh membasahi pipi-- kemudian melangkah dengan hati-hati.

__ADS_1


Rafael yang ternyata sedari tadi menunggu di luar ruangan. ia hendak menyusul Lova ke ruang pak jordy kini mengejar Lova yang baru saja keluar dari ruangan guru.


Lova berhenti sejenak ketika berpapasan dengan Rafael, ia mendongkakkan kepalanya menatap Rafel. terlihat sorot mata Rafel yang sulit di artikan, entah itu sedih, kasihan atau apalah Lova tak mengerti. yang jelas, saat ini Lova ingin pergi tanpa mengganggu siapapun.


__ADS_2