
senja telah bergulir, langit yang terlihat terang berwarna jingga keunguan kini berubah menjadi kelam. nuansa temaram berganti gemintang, sangat cocok dengan Lova yang saat ini sedang sendirian tiada berkawan.
Lova memandangi kertas jawaban milik Rafael, tentunya sudah penuh dengan coretan tak layak untuk dibaca, namun sungguh tak disangka ternyata hasilnya cukup mencengangkan. Lova sama sekali tidak menyangka jika jawaban yang ditulis Rafael ternyata benar semua, setelah mengoreksi kembali hanya tulisan saja yang menjadi minus dalam penilaiannya.
"ini aku yang kelewat menjiwai sebagai pengajar, atau memang Rafael yang kelewat pintar ?" bermonolog sedari tadi, Lova yang duduk di kursi roda menghadap ke jendela besar di kamarnya ditemani cahaya bulan yang benderang. suasana hatinya begitu tenang, namun ada sedikit keterkejutan di hatinya tentang Rafael yang dengan mudah mengisi semua soal yang ia berikan tanpa mencontek atau melihat rumus sama sekali, bahkan ia langsung mengisi jawaban tanpa melihat dua kali soal yang dibacanya.
"hemmm... kalo bisa sepintar ini, kenapa di kelas selalu Oon ya ?... tau ah, gelap !"
pusing dengan berbagai macam asumsi yang menggelitik di setiap pemikirannya, Lova memilih beristirahat di tempat tidurnya yang empuk, bergelung dengan selimut tebal akan membuatnya lebih rileks.
*****
siang tadi Rain menghabiskan waktu makan siangnya menemani Indira ke rumah sakit menjenguk ayahnya yang terkena serangan jantung.
bukan keinginan Rain, tapi ibu yang meminta. ketika Rain menolak, ada saja alasan ibunya itu untuk memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan anaknya terlebih dulu.
"kamu harus dan gak boleh nolak, titik." ucap sang ibu, teguh dengan pendiriannya. kalau saja bisa diibaratkan, ibu Rain bagaikan mercusuar yang berdiri kokoh menjulang di atas bell rock . jika ibunya sudah berkeinginan dan memutuskan, maka semua dianggap filnal, tidak akan goyah meski tergerus betapapun gelombang tinggi dan badai yang menerpa.
rain menghela nafas, tujuannya ingin menemui Lova, namun sepertinya harus ditunda. tapi ia tetap berusaha sampai tetes keringat mengalir di dahinya.
"aku sibuk banget Bu, ibu kan tau kerjaan aku disini bagaimana " sanggah Rain ketika ibunya berbicara.
"ya terserah kamu, sepintar-pintanya kamu aja bagi waktu. yang jelas harus ya, siang ini di jam istirahat kamu temenin Indira ke rumah sakit" sahut ibunya dengan sewot, mereka duduk di sofa yang bersebrangan didalam ruangan kerja Rain.
"lagian ya, ayahnya Indira kan juga masih kolega bisnis ayah kamu Rain, ibunya Indira juga satu profesi sama ibu kamu ini, kami menjalin kerjasama yang cukup menghasilkan Lho !! apa kamu nggak kasihan ? setidaknya kamu memiliki rasa empati terhadap Indira yang sedang terkena musibah. "
__ADS_1
terus saja ibu Rain berceloteh ria memasang alibi demi memuluskan jalannya. tujuan utamanya bukan menyuruh Rain menjenguk Ayah Indira, tapi untuk mendekatkan kembali hubungan Rain dengan Indira yang sempat terpisah. jika sudah bertemu, diharapkan Rain akan kembali memiliki perasaan seperti dulu, perasaan khusus yang pernah Rain miliki kepada Indira, dan perlahan ia bisa meninggalkan Lova.
Rain menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. sekali lagi, ia ingin membantah tapi suaranya tertahan.
*****
lamunannya buyar ketika suara bariton milik Andreas berkumandang di seisi ruangan.
"sudah selesai, Rain ?" tanya Andreas begitu memasuki ruangan.
"biasakan mengetuk pintu dulu, Dre !!" jawab Rain gusar, ia benar-benar tidak suka ada seseorang yang mengganggu saat pikirannya sedang kalut.
Andreas tersenyum kecut, "Rain, kamu harus fokus pada satu titik. jika pikiran mu bercabang, maka kamu tidak akan bisa menyimpulkan benang merah diantara semua kekacauan ini"
Rain mengerutkan dahi tanda ia tidak mengerti. "maksud kamu ?"
"kamu sedang memikirkan ibumu, mantan kekasihmu, dan juga orang yang saat ini tengah menjabat sebagai kekasihmu. benar begitu ?" tanya Andreas . ia menatap kedalam mata Rain dengan intens, pandangannya seolah menekan Rain agar berkata jujur.
"begitu menurutmu ?" tanya Rain sembari memainkan ballpoint di tangan kanannya, seolah ia tak terintimidasi sama sekali. padahal jantungnya berdetak cepat ketika mendapat pertanyaan yang begitu tepat mengenai sasaran.
melihat reaksi Rain, Andreas menghela nafas, ia mendongkakkan kepalanya ke atas lalu mendesah. ditatapnya Rain kembali dengan pandangan yang sedikit melunak.
"hahhhhh.... terserah kamu saja. lain kali aku hanya akan berbicara ketika kamu bertanya"
Andreas memasukkan tangannya kedalam saku celana, lalu balik kanan hendak meninggalkan Rain. "biarlah Rain sendirian saat ini, mungkin pertemuannya dengan Indira membuat hatinya goyah" batin Andreas.
__ADS_1
"tunggu !!!"
ketika hendak membuka pintu, Andreas menghentikan pergerakannya yang akan melangkah keluar dari ruangan Rain.
"menurutmu, bisakah kita menjalin suatu hubungan dengan dua orang diwaktu yang bersamaan ?" tanya Rain dengan menaikkan satu alisnya.
mendengar itu, Andreas berbalik seketika menatap langsung netra coklat milik Rain.
"Rain, semua akan lengkap jika berpasangan. dengan kata lain hanya ada dua. misal, tangan kiri yang melengkapi kanannya, ada dua mata, dua telinga, sepasang sepatu roda, semuanya indah jika terhubung dengan semestinya. berbeda dengan tiga sekaligus" tutur Andreas dengan nada kewibawaannya.
"ingat rain, jika kamu ingin menggenggam pasir, sementara tanganmu masih terisi penuh dengan pasir yang lain, maka kamu harus membuang terlebih dahulu pasir yang ada dalam genggamanmu itu" ucap Andreas kembali penuh penekanan, kemudian berbalik dan keluar.
*****
Rain sudah tiba di rumahnya. jam menunjukkan pukul 22:00 wib. setelah melewati hari yang tak menyenangkan, kembali ia harus merenungkan kata-kata Andreas tadi sebelum ia pulang.
Rain bertanya demikian bukan berarti ia ingin menduakan Lova, tidak sama sekali. ia hanya terbebani dengan sikap ibunya yang terang-terangan menolak hubungannya dengan Lova. sekeras apapun Rain melawan, maka sekeras itu pula ibu Rain berusaha untuk menjauhkan dirinya dengan Lova.
Rain tau siapa dalang dibalik insiden kecelakaan Lova didalam toilet sekolah. ibunya lah yang berperan dibalik layar, Rain tau semuanya karna ia mengenal Nanda, gadis yang satu sekolah dengan Lova itu adalah anak dari salah satu pegawai di restoran milik ibu Rain, dan Nanda menjadi pekerja part time disana.
Rain tidak mau jika Lova harus menanggung beban apapun nanti kedepannya.
rencananya, Rain akan berpura-pura menjalin hubungan kembali dengan Indira, ia akan mengaku sudah putus dengan Lova agar ibunya tidak lagi mengganggu gadis itu .
tapi masalahnya, apakah Lova akan paham dengan permainan seperti ini ? Lova gadis polos nan lugu itu mana bisa menerima penjelasan dari Rain, sekalipun bisa digarisbawahi kata PURA-PURA.
__ADS_1
"aaaarrrrggghhh" Rain mengacak-acak Rambutnya, ia stres memikirkan hubungannya dengan Lova.
lelah setelah berpikir terlalu lama, akhirnya Rain tertidur di atas sofa. tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu, ia sangat tersiksa dengan batinnya yang terus berperang beradu argumen didalam hatinya.