
Lova sedang menunggu Rafael di teras depan rumahnya. gadis itu menelpon Rafael setelah membaca pesan yang Rafael kirimkan padanya pagi tadi.
sebenarnya Lova sedikit ragu saat hendak menghubungi Rafel. tetapi, setelah dipikir-pikir tidak enak juga menolak permintaan teman sekelasnya untuk belajar bersama. setidaknya itulah yang disimpulkan Lova saat setelah mendapat kiriman pesan singkat dari Rafael yang isinya : "hei, Lova. nilai raport ku merah semua, aku butuh pemadam buat menjinakkan api didalamnya. mau kan menjadi guru private ku ? "
sungguh panjang kali lebar pesan yang dikirim Rafael, yang sebenarnya Doni lah si pengirim pesan tersebut .
Rafael yang belum kunjung tiba, membuat Lova mendengus kesal. pasalnya, sudah hampir satu jam lamanya ia menunggu di teras rumah, namun tak kunjung nampak batang hidungnya.
bagaimana tidak lambat, Rafael yang masih merasakan efek hangeover memutuskan singgah sejenak di minimarket untuk membeli air mineral dan obat pereda nyeri di kepalanya.
saat keluar dari minimarket, Rafael melihat toko kue yang letaknya tepat di sebelah minimarket yang ia singgahi saat ini. tak berfikir lama, Rafael memutuskan untuk masuk kedalam toko kue, Rafael mengambil sandwich untuk ia makan. Rafael juga mengambil satu potong spongecake, satu strawberry cheesecake, dan tiramisu.
seolah masih kurang dengan apa yang dibelinya, Rafael beralih ke jejeran pastry yang ditata apik dan menarik. matanya mulai lapar dengan pemandangan didepannya, ia membayangkan betapa senangnya jika Lova mau menerima dan memakan kue pemberian darinya.
tak berpikir dua kali, segera Rafael memilih beberapa diantara banyaknya pastry yang terlihat sangat renyah. diambilnya croissant, kue sus, dan choco strawberry puff. puas dengan pilihannya, Rafael melangkah menuju kasir, kemudian meletakkan nampan yang ia pegang dan membiarkan pegawai toko membungkus belanjaannya .
"dibungkus yang rapi ya mbak" pinta Rafael kepada pegawai toko yang berdiri di sebelah petugas kasir. ia mengambil alih belanjaan Rafael untuk dikemas.
mendengar perintah dari pelanggan yang tampan, kedua pegawai itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala sedikit. "baik mas" jawab mereka kompak.
saat petugas kasir menghitung, mata Rafael tak sengaja melirik kue kering yang berjajar rapi di atas meja kasir. "eh, yang ini deh mba' sekalian" Rafael memberikan satu toples penuh berisi mini sus kering dan bagelen untuk dihitung.
tak ayal, waktu jarak tempuh dari rumah Rafael ke rumah Lova yang biasanya hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit, kini menjadi lebih dari satu jam lamanya.
usai berbelanja , Rafael bergegas menuju area parkir dan masuk kedalam mobilnya.
Rafael menyimpan kantung belanjanya di jok samping kursi kemudi, lalu mengambil sandwich yang ia beli tadi dan memakannya dengan cepat. setelah menghabiskan makanannya, Rafael mengambil air mineral dan meminum obat sakit kepala yang dibeli di minimarket tadi.
setelah meminum obat, Rafael memejamkan mata sejenak. ia mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. merasa sudah lebih baik, segera Rafael menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas untuk melesat menuju ke rumah Lova.
mobil Rafael berhenti di perempatan jalan. Rafael berdecak kesal ketika dihadapkan dengan lampu merah yang menghentikan laju kendaraannya.
"ahhh lampu merah lagi. besok-besok ada yang iseng ganti hijau semua deh.. semoga" racaunya melantur sendirian.
ketika menunggu angka yang terus menghitung di atas sana, tak sengaja matanya dihadapkan dengan satu toko bunga. matanya menilik dengan teliti, namun bukan toko bunga yang menyita perhatiannya, melainkan ada sosok yang ia kenali di sana.
"loh.. bukannya itu pacarnya Lova ya ? sama siapa dia ?" gumamnya sendirian didalam mobil, tangannya tetap pada kemudi.
ketika matanya mengikuti pergerakan dua orang yang keluar dari toko bunga, tiba-tiba Rafael dikejutkan dengan suara klakson mobil di belakangnya.
Tinnn... tinnn... tinnn ..
"ah shitt... mau kemana mereka ?" umpat Rafael memukul stir mobilnya. ia kembali melajukan kendaraannya setelah bunyi klakson saling bersahutan dari belakang mobilnya.
__ADS_1
setelah menghabiskan lebih dari satu jam, akhirnya Rafael tiba di rumah Lova. ia turun dari mobil dan bergegas menghampiri Lova yang sudah menunggunya sejak tadi.
dengan cengiran khasnya Rafael menyapa Lova yang terlihat suram dan menautkan alisnya.
"hehe, udah dari tadi ya, Lova ?"
"menurut kamuuuuuu ?"
bukannya menjawab Lova malah balik bertanya, ia benar-benar kesal sudah menunggu lama.
"maaf ya, tadi macet di jalan. dan kebetulan aku lagi ngga' di rumah, jadi rute nya agak jauh dikit"
mendengar penjelasan dari Rafael, Lova sedikit menurunkan tingkat kekesalannya.
"oh iya lupa, ini... aku bawain cake"
mendengar kata cake, secara refleks mata Lova tertuju pada satu bungkusan yang berada di tangan kiri Rafael. tingkat kekesalannya pun menurun lagi, sedikit.
Melihat Lova sedikit luluh, Rafael berucap lagi. "aku nggak tau kamu suka yang mana, jadi aku pilih yang menurutku kamu akan menyukainya. nggak banyak sih aku beli, tapi nggak mungkin juga kan aku beli semua sama toko nya sekalian" ucap Rafael sedikit bercanda.
akhirnya tingkat kekesalan Lova anjlok seketika.
"yaudah ayo masuk" ajak Lova.
*****
Rain sedang berada di rumah sakit, ia berada disana karna permintaan sang ibu yang menyuruhnya datang untuk menjenguk Ayah dari mantan kekasihnya, Indira.
sebenarnya Rain sudah menolak untuk pergi, ia ingin menghabiskan waktu makan siangnya bersama Lova, tapi kenyataannya malah berbeda. ketika Rain sedang bersiap keluar kantor, Rain malah dikejutkan dengan kedatangan Indira yang tanpa sepengetahuan rain sudah berdiri menunggu di depan ruang kerjanya.
akhirnya dengan berat hati Rain pergi ke rumah sakit bersama Indira, mantan kekasihnya terdahulu.
*****
"hei... ngelamun aja" sapa Indira dengan menepuk punggung Rain dari belakang.
gadis itu baru saja kembali dari toilet setelah sebelumnya mereka berdua mengunjungi ruang perawatan pak Hendrik, yang tak lain ayah dari Indira.
Rain yang sedang berdiri menghadap dinding kaca itu pun terkejut dibuatnya..
"oh... udah ?" tanya Rain singkat.
Indira hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum.
__ADS_1
*****
di ruangan yang hampir mirip dengan perpustakaan itu Lova sudah mempersiapkan alat tulis dan beberapa lembar kertas HVS. gunanya untuk dijadikan lembar jawaban Rafael.
Rafael yang sedari tadi tersenyum melihat Lova yang sibuk menjelaskan materi pelajaran fisika, membuat Lova jadi kikuk dibuatnya.
"Fael... kamu dengerin aku ngga' sih ?" tanya Lova sambil menutup spidol yang digunakannya untuk menulis.
Rafael makin melebarkan senyumnya.
"ini aku lagi dengerin" ucapnya santai, dengan tangan kiri sebagai penopang dagu.
Lova menghela nafas, ia merasa konyol sudah mau mengajari Rafael.
malas untuk berdebat, Lova memilih mengerjai Rafael agar fokusnya bisa teralihkan untuk tidak memandangi Lova lagi. Lova mengambil selembar kertas, lalu menuliskan banyak soal di kertas yang ia ambil.
kertas yang semula kosong kini menjadi penuh dengan coretan rumit di atasnya.
"nih" ujarnya singkat, seraya menyodorkan lembar soal kepada Rafael.
"apaan nih ?" tanya Rafael yang nampak kebingungan. ia melihat isi dari tulisan bertinta hitam itu dengan mengeryitkan alisnya. " kok bukan surat cinta sih ?" imbuhnya.
Rafael menyimpan kembali lembar soal itu di atas meja.
"surat cinta apaan Fael... ini tuh soal yang harus kamu isi. kalo kamu tadi beneran dengerin aku, maka kamu harus bisa jawab ini semua"
mendengar Lova marah-marah membuat Rafael tertawa.
"hahaha. kalo aku ngga' bisa ngisi soal ini, bukan berarti aku ngga' dengar semua materi yang kamu jelaskan" ucap Rafael sambil menunjuk lembar soalnya di atas meja. "mungkin aja aku belum paham" imbuhnya, sejurus kemudian Rafael membaca kembali dengan seksama.
"nih" lagi, Lova menyodorkan selembar kertas kepada Rafael.
"apa lagi ini ?" tanya Rafael makin bingung, karna itu hanya selembar kertas kosong.
"itu lembar jawaban buat kamu" jawab Lova jutek.
mendengar itu Rafael cekikikan. ia merasa lucu jika Lova sudah berwajah jengah seperti sekarang ini.
"ngga' sekalian kamu tulis sama jawabannya nih ?" kelakar Rafael dengan mengangkat kedua alis matanya.
"udah ya Fael ... bercandanya"
Lova memukul punggung tangan Rafael dengan ballpoint yang dipegangnya . tidak sekuat tenaga memukulnya, tapi cukup membuat Rafael meringis sambil mengusap bagian yang terasa sakit.
__ADS_1
"masih mau bercanda lagi ? Hem ?" tanya Lova , ia mencoba melotot tapi tidak bisa karna menahan tawa.
akhirnya Rafael mau tidak mau, suka tidak suka, dengan terpaksa dan setengah hati ia menorehkan tinta hitam di lembar jawaban. fokusnya benar-benar teralihkan kepada rumus-rumus rumit yang membuat kepalanya kembali berdenyut, melebihi hangover semalam.