
tak terasa sudah dua Minggu berlalu. hari-hari libur sekolah Lova diisi dengan berbagai kesibukan. diantaranya, pergi ke rumah sakit untuk check up dan terapi berjalan. dan jika ada waktu senggang, Rafael akan datang ke rumah Lova untuk belajar bersama. yah, sebenarnya hanya modus sih.
disaat Lova sedang gigih menjalani terapi dalam masa penyembuhan kakinya, Rain justru tidak bisa menemani Lova disaat masa sulitnya itu. alih-alih ingin menemani Lova pergi ke dokter, Rain malah disibukkan dengan pekerjaan.
*****
"aaarrgghhh... kapan semua ini selesai ?!" ucap Rain sangat frustasi.
Rain membanting map yang baru saja Andreas berikan. bukannya membaca isi lembaran kertas didalamnya, Rain malah melemparkan map tersebut hingga isinya berserakan di atas meja kerjanya.
"Rain !!" tegur Andreas yang tidak suka dengan sikap atasannya yang terlihat kekanakan.
"kenapa ?" tanya Rain, ia mendongkakkan kepalanya, menatap Andreas tajam.
"berhenti bertindak kekanakan Rain !! usiamu, dan kedudukanmu itu, saat ini tidak membutuhkan sikapmu yang melankoli" tutur Andreas sembari mengumpulkan kembali berkas-berkas yang berantakan diatas meja.
Rain mendesah dan berdecak kesal. kenapa juga Andreas selalu sok tau, pikirnya.
"maksud kamu apa ? huh ?" tanya Rain dengan sikap provokatifnya. Rain berdiri dari dukuknya dan berkacak pinggang, menatap Andreas dengan sorot mata permusuhan. bukan hanya kali ini, nyatanya~ setiap ada perdebatan diantara mereka, Rain selalu tersulut emosi. ia berpikir bahwa Andreas lebih selalu mengedepankan perusahaan dibandingkan dengan masalah pribadi yang sedang Rain hadapi.
memang kekanakan bukan ??
Andreas mengatur nafasnya, ia mencoba setenang mungkin menghadapi Rain yang masih berjiwa muda. sudah terbiasa baginya dihadapkan dengan situasi seperti ini.
"Rain.........
belum selesai Andreas berucap, Rain sudah menginterupsinya.
"cukup sampai disini, aku mau pulang"
Rain mengambil kunci mobil miliknya, ia bergerak meninggalkan Andreas yang masih berdiri mematung didepan mejanya.
*****
__ADS_1
Raafel yang saat ini sedang di rumah Lova, ia masih setia mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir manis Lova. tak henti-henti ia memuji didalam hatinya akan kebesaran Tuhan yang telah menciptakan bidadari surganya dengan teramat cantik dan indah.
"bidadari surgaku...." ucap Rafael didalam hati, sambil mengumbar senyum yang tak kunjung padam.
saat hening diantara mereka, tiba-tiba Rafael dan Lova dikejutkan dengan suara bariton yang baru saja masuk kedalam ruang baca, yang memang sengaja tidak ditutup pintunya.
"baby..." sapa Rain yang baru saja melewati ambang pintu.
dua manusia yang sedang fokus dengan aktivitasnya masing-masing itu menoleh ke asal suara secara bersamaan.
Lova yang sedang sibuk menerangkan materi belajar, dan Rafael yang sedang sibuk memerhatikan bibir Lova yang bergerak seirama dengan suara lembutnya, kini buyar seketika. menguap bersamaan dengan rasa terkejutnya.
"Rain ?? kapan datang ?" ucap Lova setenang mungkin dengan tersenyum sumringah, agar kekasihnya tidak salah paham.
bukannya menjawab, Rain malah balik bertanya.
"dia siapa ?" tunjuk Rain kepada Rafael.
Lova terdiam sejenak. ia berpikir, tidak mungkin kan Rain akan cemburu padanya, sedangkan ia duduk berseberangan didepan Rafael dengan meja bundar sebagai pembatas diantara mereka.
belum sempat Lova menjelaskan, dengan cepat Rafael berdiri dari duduknya dan beranjak menghampiri Rain.
"kenalin, gue Rafael. teman sekolah Lova. kami satu kelas" ucapnya dengan mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan.
Rain melihat Lova sekilas, lalu dengan enggan ia menjabat tangan yang Rafael ulurkan kepadanya.
dengan tegas Rain berucap, "gue Rain, PACAR Lova"
mendengar itu, Rafel tersenyum kecut dibuatnya. ia ingat betul kejadian tempo hari yang tidak sengaja melihat Rain dengan seorang perempuan di depan toko bunga.
"dasar brengs*k" batinnya.
setelah berjabat tangan, Rafael kembali ke tempatnya semula dan bergegas membereskan semua barang-barangnya.
__ADS_1
"aku pulang ya, Lova. sampai jumapa di sekolah" ucapnya singkat, kemudian berlalu tanpa menoleh lagi ke arah Rain.
Rain terus saja menatap tajam sosok lelaki yang baru saja berduaan dengan kekasihnya. sampai Rafael keluar melewati ambang pintu, dan setelah Rafael benar-benar menghilang bersama bayangannya, barulah Rain berjalan perlahan ke tempat dimana Lova berada.
Lova yang duduk diatas sofa singlepun berhasil membuat mata tajam Rain menyipit.
"sayang, kamu udah sembuh ?" tanya Rain keheranan.
"oh.... ini, aku udah mulai bisa berjalan normal" jawab Lova sambil mencoba berdiri dengan tumpuan tangannya yang berpegangan erat pada sisi kanan sofa. sedangkan Rain masih berjalan perlahan ke arahnya.
sambil meringis Lova menahan rasa nyeri di pergelangan kakinya yang masih belum sembuh total. ia mencoba sekuat tenaga, memaksakan dirinya berdiri dengan kaki yang gemetar menahan sakit.
sesuai anjuran dokter, Lova harus membiasakan diri untuk berjalan, setidaknya memakai tongkat (kruk) agar otot-otot di kakinya tidak mengalami kelumpuhan permanen .
tapi tidak kali ini, Lova berusaha terlihat sempurna dihadapan Rain, ia meninggalkan tongkatnya dan berjalan terseok-seok hingga akhirnya ia roboh tepat setelah berada dihadapan Rain. dengan sigap Rain menahan bobot tubuh loba agar tak terjatuh.
Rain terlihat cemas, ia memapah Lova dan mendudukkannya kembali di sofa panjang yang sempat diduduki Rafael tadi.
matanya menatap dalam netra kelam milik Lova, seraya memastikan bahwa Lova benar-benar baik-baik saja.
"Rain, aku nggak apa-apa" katanya sambil mengibaskan tangan didepan wajah Rain.
"jangan dulu dipaksakan" ucapnya singkat ketika Lova menyadarkannya dalam lamunan .
*****
"jadi, dimana dia sekarang ?". tanya seorang pria berusia 70 tahunan, yang tak lain adalah kakek Rain, sang pemilik perusahaan.
Andreas membungkuk di sampingnya, "maaf tuan, saya kurang tau. tapi, menurut analisa saya sepertinya Rain pergi mengunjungi kekasihnya" ucap Andreas perlahan .
kakek hanya menganggukkan kepalanya lambat-lambat.
"biarkan saja dia" ucap kakek penuh pengertian terhadap sikap cucu nakalnya.
__ADS_1
"untuk urusan pekerjaan, yang saat ini dirasa mendesak, tolong kamu kerjakan. dan jika itu hal yang berkaitan dengan Rain, maka biarkan saja sampai dia mau kembali bekerja" ucap kakek menambahkan perintah yang disanggupi oleh Andreas.