
Rafael keluar dengan mengendarai mobil sport hitamnya.
ia melaju menyelusuri kilau cahaya lampu hias di sepanjang jalan. pandangannya terpusat ke ujung aspal jalanan, sedangkan pikirannya menerawang jauh, dan berhenti tepat dimana masa-masa kebersamaannya dengan Lova.
sudah sejak lama ia mengenal Lova, pertemuan pertamanya dengan Lova ketika ia masuk kelas TK kecil. disana Rafael menjadi salah satu murid paling imut di kelasnya, karna tubuhnya yang gempal dan pipinya yang gemil sangat menggemaskan.
sangat berbeda dengan penampilannya yang sekarang.
dulu Rafael murid yang pendiam, tapi cerdas. ia selalu mendapat bintang di kelasnya.
sedangkan Lova murid yang sangat aktif dan banyak bicara, tapi kemampuan belajarnya bisa dibilang jauh dibawah Rafael yang selalu mendapat nilai plus di setiap pelajaran.
pernah suatu ketika Lova menangis dikelas TK kecilnya, ia satu kelas dengan Rafael.
saat itu, Lova menangis karna ia sangat kesal karna selalu salah ketika menyebutkan angka dan huruf alphabet, ia juga tidak bisa membaca, dan lebih parahnya lagi, Lova tidak bisa membedakan mana angka Enam dan angka Sembilan. begitupun dengan huruf M dan huruf W. Lova bilang ia bingung dengan huruf yang terbalik.
semenjak saat itu, Rafael selalu terbayang wajah Lova yang sendu dan mata sayu dengan air mata yang membasahi pipinya.
Rafael berjanji akan selalu membuat Lova tersenyum, sebisa mungkin ia akan mengalah didalam kelasnya agar Lova mendapat bintang yang diidam-idamkan.
Rafael juga mengajari banyak hal kepada Lova di kelas. ketika waktu istirahat usai, ia mengajak Lova memakan bekal bersama-sama. setelah menghabiskan makanan, Rafael akan mengajarkan kepada Lova bagaimana cara mewarnai dengan rapi, berhitung, membaca dan menghafal angka 1 sampai 100, sebelum jam istirahat berakhir.
dan sampai saat ini pun, di SMA. Rafael berusaha untuk tidak menunjukkan kamapuan akademiknya di kelas demi Lova, ia ingin Lova yang menjadi bintang di kelasnya.
sayangnya, sekarang Lova tidak mengenali Rafael. karna Rafael kecil dan Rafael sekarang sangat berbeda. fisiknya berubah sejak masuk Sekolah Menengah Pertama.
jika waktu TK dan SD ia berbadan gempal, dan pipinya tembam seperti bakapao, beda dengan yang sekarang, tinggi tegap dan terlihat sangat tampan.
perubahan fisiknya ia dapat setelah kehilangan Lova selama beberapa tahun.
Rafael selalu memilih sekolah dimana tempat Lova juga bersekolah. namun saat kenaikan kelas di SMP, tiba-tiba Lova berhenti dari sekolah membuat Rafael merasa kehilangan.
sejak saat itu nafsu makannya hilang, dan memilih berolah Raga untuk menghilangkan rasa sepinya. Berenang adalah olah raga pavoritnya.
*****
Rafael tiba di tempat tujuan. saat ini ia memarkirkan mobilnya di salah satu tempat hiburan.
ketika memasuki gedung, ia diminta menunjukkan id card oleh petugas keamanan.
alih-alih menunjukkan id cardnya, Rafael malah meninju petugas yang berjaga di pintu masuk utama.
"Lo baru disini ?" pertanyaan itu terlontar setelah memberikan bogem mentah kepada petugas keamanan yang memintanya mengeluarkan kartu identitas .
petugas itu tersungkur di atas lantai, perlahan ia bangkit dan mengusap bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah akibat pukulan keras dari Rafael.
beberapa petugas lain yang berjaga di dalam gedung segera berhambur ke arah pintu, mereka menghampiri Rafael dan bertanya tentang insiden itu.
"ajarkan dia bagaimana cara sopan santun di tempat ini" ujar Rafael kepada staf manager yang baru saja datang setelah mendapat laporan dari divisi keamanan.
"maafkan atas kelalaian saya tuan muda" ucap sang manager seraya membungkukkan tubuhnya di depan Rafael.
sedangkan petugas yang terkena pukulan hanya diam dan menundukkan pandangannya, ia tidak tau kalau Rafael putra dari pemilik gedung tempatnya bekerja.
"lain kali akan sangat menyenangkan jika tidak lagi bertemu denganmu" ucap Rafael dengan aura killer nya.
"ampuni saya tuan muda, sungguh... hal ini tidak akan terulang. saya bersumpah"
manager itu memohon agar Rafael tidak memecatnya. ia tau betul, jika Rafael sudah marah, hukuman paling ringan adalah memecat karyawannya. dan jika sedang sial, maka akan dihajar habis habisan sebelum ditendang dari perusahaan.
"kali ini kau beruntung. maka aku anggap ini bukan suatu kesalahan"
hawa dingin yang mencekam di ruangan itu perlahan menghilang seiring kepergian Rafael
yang meninggalkan area loby.
*****
tak..... tak....... . .
bola billiar menggelinding dengan lincahnya.
Doni dijuluki si tangan dewa, sukses membuat bola bertuliskan angka itu masuk kedalam lubang, tepat sasaran.
setelah menang dalam permainan, Doni meninggalkan meja, menghampiri temannya yang sedang berdiam diri tanpa ekspresi di wajahnya.
"Lo kenapa ? suntuk banget keliatannya" ucap Doni, salah satu teman main Rafael.
"putus cinta kali, atau ditolak ?" Ricky
menimpali.
"oh... gue rasa ini soal cewek itu lagi deh, men" Aldo ikutan menggoda.
Rafael sedari tadi hanya duduk di kursi, ia memilih menjadi penonton malam ini.
mata tajamnya hanya tertunduk melihat meja di depannya. sesekali ia meneguk bir kemasan kaleng yang ia pegang.
Doni, Ricky, dan Aldo sudah mengenal betul watak temannya yang satu ini. mereka akan membiarkan apapun yang Rafael lakukan, tapi dengan tetap mengawasi dan menjaga Rafael agar tidak berbuat onar dan apapun yang bisa melukai diri sendiri.
__ADS_1
saat teman-temannya tengah asik bermain, tiba-tiba Rafael bangkit dan mengambil tongkat stik andalannya.
Rafael membungkuk diatas table yang masih kosong, ia membidik dan mencoba beberapa kali sodokan. lalu kembali berdiri tegak dengan stik yang bertumpu di atas meja.
dengan seringai di bibirnya ia menatap ketiga temannya yang saat ini melihat ke arahnya.
"let's bet " ucapnya dengan seringai menghias di bibirnya.
"wooww woow wowww... Lo serius ngajakin taruhan ?" tanya Ricky dengan hebohnya.
"kapan gue pernah bercanda ?"
"terus ?" tanya Ricky lagi dengan bodohnya.
"apanya yang terus terus ? Lo mau ngga' ? kalo ngga' mau biar gue aja sama Doni, dan Aldo" ujar Rafael dengan menunjuk kedua temannya itu.
Ricky berjalan menghampiri Rafael dengan membawa stik billiar ditangannya.
"maksud gue, apa yang jadi taruhannya, huh ?" tanya Ricky.
"yang kalah traktir yang menang sepusnya deh" jawab Rafael asal-asalan.
"hahahaha"
tawa membahana yang keluar dari mulut ketiga sahabat Rafael ketika mendengar apa yang ditawarkannya barusan.
"Lo bercanda ya ?" Aldo bertanya sambil memegang perutnya yang mulas menahan tawa.
"emang ada yang lucu ???" Rafael bertanya, ia bingung melihat ketiga sahabatnya, apa yang sedang ditertawakan menurutnya.
"Lo gila aja, gak berbobot gitu ngasih taruhan" sahut Aldo.
"Lo kira acara ulang tahun pake di traktir segala ?" imbuhnya.
"oke oke, kita anggap ini perayaan buat Lo yang lagi patah hati" ucap Ricky dengan nada meledek dan menyentuh dada Rafael.
Rafael yang disentuh tepat di dadanya refleks menghempaskan tangan Ricky, ia menepuk dan mengibaskan kaos hitam yang dikenakannya.
"apaan sih, jangan pegang-pegang. jijay gue" ucapnya saraya menjauh dari Ricky.
Hahahaha, tawa gemuruh dari keempat insan yang tidak jelas suasana hatinya itu berbaur dengan dentuman keras musik didalam ruangan.
akhirnya mereka memulai permainan.
keempat serangkai itu mengambil formasinya masing-masing. dengan lihainya mereka bermain billiar, satu persatu bola masuk menyisakan sedikit diatas permukaan hijau.
siapa yang kalah, dialah yang akan mentraktir sepuasnya sesuai permintaan yang menang.
dan....
disinilah mereka sekarang...
Rafael, Doni, Aldo dan Ricky sedang asik menikmati minuman dan snack yang disuguhkan host di ruang VIP.
mereka duduk di sofa dengan ditemani para host cantik dan berpengalaman dalam hal menggoda pria.
RALAT.. hanya Aldo dan Ricky yang duduk bersama dua gadis cantik di kanan dan kirinya.
jatah Rafael diambil Aldo. sedangkan jatah untuk Doni, Ricky yang ambil.
Rafael dan teman-temannya terpaut usia 3 tahun lebih muda. saat ini ia sudah menginjak usia 18, sementara ketiga sahabatnya 21 tahun.
Rafael bergaul di sekolah seperti pada umumnya siswa biasa. ia miliki teman dekat di kelasnya, dan berbaur dengan kakak dan adik kelas, tapi hanya sebatas di lingkungan sekolah saja. jika menyangkut urusan pergaulan di luar, ia akan selalu bersama Doni, Aldo dan Ricky.
tentunya Rafael tidak mau menjerumuskan teman sekolahnya kepada dunia malam seperti ini.
hingar bingar di luar ruangan VIP saat ini sudah terdengar jelas, suara musik keras terdengar diluar sana, tentunya di lantai dansa .
Rafael sudah tertidur pulas dalam mabuknya, sementara Doni, Aldo, dan Ricky masih dalam posisi santainya .
Doni melihat Rafael yang sudah K.O dengan posisi tengkurap di atas sofa, sejurus kemudian ia meminta para host untuk keluar.
"okay ladies. time to go" ucap Doni dengan menepuk tangannya mengalihkan perhatian para gadis yang sedang mencumbu Ricky dan Aldo.
perlahan keempat gadis itu bangkit dari posisi mereka yang absurd.
setelah itu mereka berpamitan kepada Doni, Aldo dan Ricky dengan memberi kecupan singkat di pipi kanan dan kiri, terakhir berlabuh di bibir. sementara Rafael dibiarkan saja atas perintah Doni, agar tidak mengganggu tidurnya.
*****
saat ini Rafael, Doni, Aldo dan Ricky . mereka sedang berada di kamar hotel yang masih berada didalam gedung yang sama.
"Lo yang ngajak taruhan, Lo juga yang kalah, ga asik Lo" ucap Doni yang sedang berbaring di sebelah Rafael .
Doni, Ricky dan Aldo memutuskan bermalam di kamar yang sama setelah berpesta di area diskot*k, dalam rangka merayakan kekalahan Rafael .
sadis ya, yang kalah harus merayakan kekalahannya .
mereka berada di dalam gedung dengan fasilitas mewah dan lengkap, seperti kamar hotel, disk*tik, bar, sauna, casino, bilyard, karaoke, dan jenis hiburan lainnya .
__ADS_1
pengunjung yang datang hanya orang-orang khusus yang menjadi klub member resmi, setiap member akan memiliki id card sebagai bukti keanggotaannya. dan tidak sembarangan orang bisa mendaftar sebagai member klub, karna segala bentuk peraturan harus sesuai prosedur yang berlaku demi menjaga keamanan dan kenyamanan seluruh anggota member.
nama gedungnya sama dengan nama belakang Rafael, yaitu Stainley. dan Black Roses* sebutan bagi setiap anggota club eksklusif yang terdaftar.
"hey.... gue haus" gumam Rafael dengan mata yang terpejam .
Doni melihat sekeliling, niat nya ingin menyuruh Ricky atau Aldo untuk mengambilkan air didalam lemari pendingin, namun urung jua ketika melihat dua manusia itu sudah tertidur pulas di atas sofa.
dilihatnya jam menunjukkan pukul 03:45 wib.
akhirnya doni bangun dan mengambilkan sebotol air mineral, lalu diberikannya kepada Rafael.
"nih minum"
Doni menempelkan botol dingin itu ke pipi Rafael . sontak Rafael membuka mata, kemudian memukul tangan Doni .
"awww.. " Doni meringis memegangi tangannya yang dipukul tadi.
namun dengan sikap cueknya Rafael meminum air yang diberikan Doni.
"thank's ya, Don" ucap Rafael singkat sembari merebahkan diri dan kembali memejamkan mata. sedangkan botol minumnya ia lemparkan ke arah Doni.
dengan sigap Doni menangkap benda yang melayang ke arahnya.
sekilas doni memandangi wajah Rafael, ada perasaan sedih tersirat di benaknya dengan keadaan Raafael yang sekarang.
dengan memberanikan diri doni bertanya kepada Rafael.
"elo... ada masalah apa ? apa tentang bokap, nyokap lo lagi ? "
Rafael hanya menggelengkan kepalanya singkat.
dengan posisi tidur terlentang, rafael terus menutup matanya dengan menggunakan tangan kiri yang diletakkannya di atas kepala.
Doni meliriknya sekilas, dan kembali bertanya.
"jadi ?? soal Lova lagi ya ?" tanya Doni.
mendengar nama bidadari surganya disebut, sontak membuat Rafael membuka mata.
Rafael beringsut dari posisinya semula, ia memindahkan tangannya ke bawah tengkuk sebagai bantalan kepalanya.
Rafael mendesah, matanya terpusat ke arah langit-langit kamar yang kedap suara itu.
"bener kan tebakan gue !!" seru doni.
"Lova lagi.. Lova lagi. kapan Lo move on ? udah dari TK sampe sekarang masih aja bertepuk sebelah tangan" imbuhnya dengan penuh sindiran dan menatap tajam Rafel.
Rafael yang tak suka diceramahi itu pun memiringkan tubuhnya membalas tatapan Doni.
"sok tau Lo" jawab Rafael sambil menoyor kepala Doni yang berbaring di sebelahnya.
"emang gue selalu tau kan ???"
"iya juga sih" jawab rafael lemas, "Lo lebih tau gue dari pada diri gue sendiri. Lo juga lebih ngerti gue dibanding siapapun, termasuk orang tua gue" ucap Rafael dengan sedih.
Doni tersenyum, ia meninju bahu Rafael
"so, Lo mau kan ceritain semua masalah Lo ?"
Rafael balas tersenyum, ia memeluk Doni erat
"of course.."
*****
pagi hari, empat sekawan itu masih tertidur pulas. padahal matahari sudah meninggi hampir di atas kepala.
kamar yang masih gelap karna tirai tertutup rapat dan sengaja tidak menggunakan pencahayaan apapun, membuat Rafael, Doni, Aldo dan Ricky tertidur pulas.
sampai suara dering ponsel memecah keheningan.
akhirnya Aldo lah yang pertama kali membuka mata.
ia mencari dimana asal suara.
setelah mendapatkan dimana benda pipih itu berada, Aldo memberikan ponsel yang berdering itu kepada Rafael tanpa melihat siapa yang menelpon.
saat menerima ponsel, sontak mata Rafael terbuka lebar, ia melihat dilayar ponsel - satu panggilan dari bidadari surga.
buru-buru Rafael menerima panggilan,
"ya ??" dengan suara masih serak dan kepala masih pusing ia berusaha mendengar apa yang dikatakan Lova.
"apa ???" alisnya mengeryit menahan sakit di kepala efek Hangover .
sepertinya Rafael harus bangun sekarang.
setelah menerima telpon dari Lova, Rafael bergegas mandi, ia membersihkan diri dan pergi meninggalkan ketiga sahabatnya yang masih tertidur pulas.
__ADS_1
tanpa sarapan Rafael pergi ke rumah Lova.
ia menuju area parkir dan masuk kedalam mobil, menyalakan mesin mobil, dan menyetir dengan sangat berhati-hati karna Rasa sakit di kepalanya belum juga reda.