Love Secret

Love Secret
#26 bertemu mantan


__ADS_3

waktu itu Rafael sedang menuju ruang guru, tepatnya ruangan pak Jordy.


tepat di depan pintu ruangan yang dituju, Rafael hendak mengetuk pintu dimana Lova berada di dalamnya. namun tangannya yang sudah terangkat itu ia turunkan kembali ketika melihat pintu di ruangan sebelah sedikit terbuka.


tidak bermaksud menguping, Rafael hanya penasaran dengan suara percakapan dua orang didalam sana yang terdengar cukup jelas terbawa udara melewati celah pintu yang terbuka.


"jadi, saat ini kamu dengan siapa setelah memutuskan hubungan kita, Rain ?" tanya kamayel yang berada di dalam ruangannya.


sementara Rafael saat ini berada di depan pintu ruangan Miss kamayel, setelah bergeser dari pintu ruangan pak Jordy sebelumnya. dengan menajamkan indera pendengarannya, Rafael berasumsi bahwa Miss kamayel sedang bercakap dengan mantan kekasihnya . tapi yang membuatnya menjadi penasaran ingin menguping adalah ketika gurunya itu menyebutkan nama Rain, nama yang tidak asing baginya .


tidak mungkin Rain yang sama dengan kekasih Lova saat ini kan ?


*****


Rain dan kamayel sedang berbincang di dalam ruang kerja kamayel .


di sana Rain sedang berdiri menyandarkan punggungnya pada dinding ruangan, tepat di sisi kiri meja kerja kamayel. sementara kamayel duduk di kursi tempatnya bekerja.


sudah cukup panjang lebar pembahasan mereka, saking asiknya mengobrol hingga mereka tak sadar jika saat ini ada dua pasang telinga yang sedang mendengarkan percakapan antara keduanya.


Lova sedang merapatkan telinga di dinding sebelahnya, sedangkan Rafael berada tepat di depan pintu ruangan kamayel.


terdengar samar namun masih jelas setiap kata yang diutarakan, sepertinya itu memang suara Rain... Rain kekasihnya Lova.


"maaf... aku telah banyak bersalah padamu. dulu aku menduakan hubungan kita, dan sekarang.... aku malah memutuskanmu secara sepihak, tanpa memberikan penjelasan dan alasan mengapa aku memutuskanmu" Rain menghela nafas seraya mendongkakkan kepalanya hingga menempel di dinding, pandangannya kini tertuju pada langit-langit ruangan itu .


kamayel tersenyum kecut, ia membuang wajah sekilas kemudian menatap Rain.


"aku tau... orang tua kamu tidak setuju dengan hubungan kita. maka dari itu kamu mau menerima Indira-- supaya ibu kamu percaya kalau kita tidak ada hubungan lagi. dengan begitu hubungan kita bisa bertahan"


masih menatap Rain, kamayel menunggu tanggapan Rain atas penuturannya tadi. namun, nampaknya Rain tidak merespon apapun yang diucapkan kamayel, akhirnya ia kembali bersuara.


"apa kamu sudah melupakan semuanya ? apa kamu sudah memiliki kekasih yang baru ?"


mendengar pertanyaan kamayel seketika Rain menoleh ke arah lawan bicaranya yang sempat ia abaikan.


"maksud kamu ?" tanya Rain pura-pura tidak mengerti.


"dulu kamu menerima Indira karna ingin menyamarkan hubungan kita, supaya ibu kamu percaya kalau kita tidak memiliki hubungan apapun. tapi sekarang, kamu berpaling ... kamu memutus hubungan kita, dan kamu juga putus dengan Indira. jadi, apa ada perempuan lain yang membuatmu berapling ?"


"ya..." batin rain berbicara. namun tidak mungkin ia frontal begitu. biar bagaimanapun, Rain masih menghargai perasaan kamayel. jadi, Rain akan menutupi semuanya agar hubungan mereka tidak berubah menjadi buruk, setidaknya mereka masih bisa berteman baik, pikirnya.


"sama sekali tidak. saat ini aku sedang ingin sendiri. belajar dari hubungan kita yang lalu, sepertinya aku harus belajar lebih tegas" ucapnya menjelaskan perlahan. "aku tidak mau ibuku atau siapapun menjadi alasan terjalin, atau bahkan putusnya hubunganku dengan orang yang aku cinta"


"so ???" tanya kamayel dengan mengangkat satu alis


"intinya, aku ingin memperjuangkan apa yang ingin ku miliki" jawab Rain menegaskan .


kamayel tergelak begitu mendengar penjelasan dari Rain, ia masih tidak mengerti mengapa Rain yang selama ini begitu mencintainya kini malah seolah telah melupakannya.


dulu, hanya kamayel yang berada di dalam dunia Rain. kamayel yang menduduki singgasana hatinya, kamayel pula yang menjadi alasan Rain untuk bertahan ditengah-tengah tekanan keluarga yang ia terima. jangan lupakan bahwa kamayel pula yang telah merubah pribadi Rain menjadi lebih baik seperti sekarang. yang dulunya Rain adalah seorang playboy dan pecinta dunia malam. oh, satu lagi... dulu Rain penggila balapan liar. namun kamayel berhasil membawa perubahan besar di hidupnya.


harusnya ibu dan ayah Rain berterima kasih kepada Kamayel karna telah membawa dampak positif pada anaknya.


kamayel selalu menyemangatinya ketika cita-citanya menjadi musisi harus terpendam karna ibu yang melarangnya, memaksanya menjadi penerus usaha sang kakek.


orang tua Rain berpikir bahwa Indira lah sosok bidadari pembawa aura positif, karna mereka tidak tau bahwa Rain masih berhubungan dengan kamayel. dengan kata lain, mereka berasumsi bahwa Rain berubah saat menjalin hubungan dengan Indira.


tidak adil memang, maka dari itu Rain selalu memprioritaskan kamayel. apapun akan Rain lakukan demi kamayel, tapi sekarang ? semuanya seolah tak berarti apa-apa. itulah yang menjadi alasan kamayel hingga saat ini masih memiliki rasa terhadap Rain, karna Rain adalah yang pertama untuk kamayel.


"boleh aku peluk kamu ?" pinta kamayel lembut.

__ADS_1


Rain menegakkan posisinya berdiri, menghadap ke arah dimana kamayel sedang duduk tanpa menjawab apapun.


"oh... kalau tidak bisa yasudah, maaf" ucap kamayel terbata, ia malu karna Rain bersikap dingin padanya.


"memang sudah berubah, Rain tidak seperti dulu, tatapan hangatnya sudah sirna" benak kamayel berpikir. kamayel bangkit dari duduknya hendak mempersilakan Rain untuk keluar. karna tak sanggup berada lebih lama dalam satu ruangan yang sama dengan mantan kekasihnya itu.


"kemarilah" pinta Rain seraya merentangkan kedua tangannya, seolah menyambut permintaan kamayel. "anggap saja ini salam perpisahan" imbuh Rain.


kamayel pun tersenyum dan berjalan mendekat hingga akhirnya ia bisa memeluk Rain, Rain pun balas memeluknya.


*****


Rafael mengikuti Lova dari belakang, sekarang ia tau bahwa Rain yang berada di dalam ruangan Miss kamayel itu adalah Rain yang menjadi kekasihnya saat ini.


"Lova... kamu mau kemana ?"


ck.. apa Rafael mengajaknya bercanda ? jelas-jelas Lova sedang kesal saat ini. sungguh tidak peka Rafael ini !!


"Lova... jawab dong, aku dari tadi nyariin kamu"


masih membisu, Lova terus berjalan tertatih dengan tongkatnya.


" LOVA !!! "


mendengar bentakan dari Rafael, akhirnya Lova berbalik dan membalas dengan tatapan tajam.


"terus kamu mau apa ? ini udah ketemu sama aku kamu mau ngapain ? haa??" tanya Lova sarkas sekaligus frontal.


udah badmood, ditambah Rafael yang terus mengekor, membuat Lova tambah jengah.


"oke, aku tau kamu marah sama pacar kamu. tapi bukan berarti kamu harus ngediemin semua orang"


"termasuk kamu ? begitu ??" Lova menyeringai, "dasar penguping"


"hohh.. kamu pikir aku peduli sama percakapan dua orang tadi ? dengar.... mau mereka berbuat mesum juga sama sekali bukan urusanku !!" ucap Rafael, kemudian ia berjalan lurus ke depan. dengan langkah angkuh ia melewati Lova yang sedang berdiri mematung di depannya.


*****


Lova sedang berada di dalam toilet khusus siswa putri. ia merasa lebih segar setelah mencuci wajahnya, diambil nya tisu yang terletak di sudut marmer wastafel. perlahan ia menghapus buliran air bening yang tersisa di permukaan kulit wajahnya hingga kering.


menghela nafas perlahan, Lova memandangi wajahnya yang sudah nampak segar dari pantulan cermin besar yang ada di depannya, kemudian mengambil kembali tongkat yang semula ia sandarkan pada sisi marmer wastafel.


setelah mendengar perkataan Rafael tadi, Lova tersadar bahwa memang benar, tidak seharusnya ia mengabaikan teman karna masalah pribadinya dengan Rain. maka dari itu, Lova akan kembali ke kelasnya dengan wajah yang riang sama seperti ketika ia meninggalkan kelasnya tadi.


saat keluar toilet, secara kebetulan ia berpapasan dengan Miss kamayel yang baru saja keluar dari toilet khusus guru wanita. terlihat Miss kamayel berjalan tergesa dengan ponsel di tangan, hampir saja Miss kamayel menabrak Lova yang berpapasan dengannya.


"oh.. maaf, maafkan saya" ucap Miss kamayel seraya menerima panggilan dari ponsel yang berdering sedari tadi.


tanpa menunggu jawaban Lova, ia segera meninggalkan Lova yang terpaku atas kejadian yang baru saja terjadi. perlahan Lova bergeming, namun sejurus kemudian ia membeku di tempat karna mendengar suara Miss kamayel yang sedang berdiri tak jauh darinya ketika menerima panggilan.


"ya, Rain..."


".............."


""oh, baiklah. jika kamu sedang luang"


".............."


"baik, aku menuju halaman parkir"


"............."

__ADS_1


"baik, tunggu aku sebentar lagi. terimakasih"


kamayel tersenyum puas, ia senang jika Rain akan mengantarnya ke toko buku, dan kemudian mengantarkannya pulang ke rumah.


tanpa kamayel sadari, Lova sedang memperhatikannya di belakang sana. tidak marah, tidak kesal, ataupun sedih. Lova hanya tidak mengerti mengapa Rain tidak memberitahukan hubungannya dengan Lova kepada Kamayel.


apakah Rain berniat kembali kepada kamayel, atau... mungkin Rain tidak mau hubungannya dengan Lova diketahui orang lain.


entahlah, yang jelas saat ini Lova hanya ingin menjalani semuanya dengan apa adanya tanpa mau bersikap posesif.


*****


Rafael sedang berada di atap gedung sekolah (roof top), tepatnya di atas gedung kelas-- yang menjadi puncak tertinggi bangunan.


pikirannya kacau, sebatang rokok terselip diantara jemarinya. ia duduk bersandar pada pembatas beton yang berfungsi sebagai pagar pengaman dengan tinggi 1 meter.


perlahan ia menghisapp sebatang rokok di tangan kirinya, lalu mendongkakkan kepala dengan mata terpejam ke arah langit biru seraya meniupkan asap bernikotin itu.


entah apa yang sedang dipikirkannya, yang jelas saat ini Rafael butuh ketenangan.


saat tengah menikmati kesendiriannya, tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan satu panggilan masuk.


mendesis dan mengumpat, siapa pula yang menghubunginya diwaktu yang menyebalkan ini?? dengan terpaksa Rafael merogoh saku celananya.


"halo sayang" suara wanita yang terdengar lemah lembut menyapa di line panggilan.


"ngapain bunda hubungin aku ?" setelah mengangkat telepon yang ternyata dari bundanya itulah Rafel menjawab salam hangat dari bundanya dengan berkata pedas.


"loh - loh - loh... kok tau-tau malah marah-marah sih sama bunda. ada apa hemm?"


ck, sudah dikasari masih saja bersikap santai pada anak durhaka ini.


"bunda ada apa sih ? aku lagi sekolah, ganggu jam belajar tau !!" sentak Rafael namun dengan suara pelan.


mendengar putranya yang sangat galak itu, bunda malah tertawa.


"hahaha... duh, ya ampuuuun. kamu kenapa nak ? jam belajar ? yakin kamu lagi di dalam kelas ??"


mendapati pertanyaan seperti itu sontak membuat Rafael terkejut.


bunda tau aku nggak di kelas ? masa ? what the ****!! hell...


Rafael menegakkan posisinya duduk, ia berdehem sebentar untuk menormalkan suaranya yang semula tenggelam akibat emosinya dan asap rokok yang membuat pita suaranya sedikit tercekat.


"ehem... jadi bunda mau apa ?"


bunda Rafael tersenyum di sebrang sana, ia sedang berada di luar kota. makanya sekarang menelpon Rafael untuk memberi kabar.


"yah... sore ini bunda pulang, mungkin tengah malam atau dini hari nanti bunda sampai di rumah. jadi, bunda harap kamu ada di rumah saat bunda tiba di rumah nanti"


"tumben cepet. biasanya pulang setahun sekali" sahut Rafael sinis.


"kamu lupa bulan ini perayaan ulang tahun kamu ?"


"terserah !!!"


...Tut..


Rafael tersenyum simpul setelah memutus panggilan secara sepihak. ia senang bundanya akan pulang ke rumah setelah lima bulan terakhir pergi karena alasan pekerjaan.


saking senangnya, tanpa memberi salam ia mengabaikan ibunya yang berteriak memanggil namanya berulang kali di seberang sana. sadar panggilan sudah terputus bundanya pun kini mengumpat, menyumpahi Rafael yang berbuat semena-mena terhadap ibunya.

__ADS_1


*****


"RAFAELLL...


__ADS_2