Love Secret

Love Secret
#15 hukuman


__ADS_3

saat Lova melanjutkan kembali tidur malamnya, detik itu juga ia terlelap. sepertinya reaksi obat sangat efektif untuk menjaga kualitas tidurnya agar esok ia kembali sehat dan segar.


Alam bawah sadarnya membawa Lova kedalam sebuah mimpi, saat itu Lova tidak bisa membedakan apakah itu mimpi atau bukan. sungguh terasa begitu nyata baginya.


didalam mimpinya, Lova berada di sebuah ruangan yang mirip dengan ruangan Rawat inap rumah sakit.


disana ia sedang terbaring lemah, pandangannya sedikit berkunang-kunang, dan jari-jari tangannya sangat lemah untuk bergerak.


saat ia mencoba bangun dari tempat tidur, seseorang datang memasuki ruangan dan mendatangi Lova dengan senyum penuh maksud, tapi Lova tak bisa mendeskripsikan apa arti senyuman dari seorang perawat pria itu.


Lova mencoba sekuat tenaga untuk bangkit dari ranjangnya, namun tiba-tiba dengan gerakan cepat si perawat itu menyuntikkan sesuatu.


sampai dimana tak sadarkan diri, Lova mencoba menyelami lebih dalam lagi dimana ia sedang tinggal, dan siapa pria yang memakai seragam perawat rumah sakit itu. namun gagal. saat ia terusik oleh cahaya yang menembus kelopak matanya yang terpejam.


*****


matahari pagi terasa begitu hangat. di balik jendela yang terbuka, udara segar masuk menyentuh kulit.


hembusan angin membuat Lova terbuai dalam tidur lelapnya.


saat ia merasakan silaunya mentari, ada rasa yang menggugah agar dirinya terjaga dari alam bawah sadarnya.


perlahan Lova membuka mata. walau sangat nyaman dengan suasana hening yang tercipta di dalam ruang perawatan rumah sakit itu, tapi Lova tidak bisa berlama-lama lagi untuk tetap tinggal dalam mimpinya. karna menurutnya itu bukanlah sebuah mimpi indah.


sungguh ia ingin mengakhiri itu semua, dan berharap segera membuka matanya.


saat terbangun, pertama kali yang Lova lakukan adalah mencari keberadaan seseorang.


ketika tak mendapati Rafael di atas sofa yang digunakannya tidur semalam, secara otomatis Lova menyelusuri seluruh isi ruangan. namun tetap tak nampak apa yang ia cari.


pandangannya beralih ke arah pintu masuk ruangan, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang di luar sana.


perlahan Lova menegakkan tubuhnya yang terasa sudah lebih membaik, tidak lagi merasa lemas dan pusing, hanya kakinya saja terasa sedikit bengkak dan belum bisa digerakkan.


selang lima menit, lova merasa bosan menunggu. akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamar kecil tapi tidak jadi. belum sempat ia menurunkan kakinya, seseorang masuk dengan seragam perawat.


terasa seperti Dejavu .


bedanya perawat yang saat ini masuk adalah seorang perempuan dengan senyum ramah. ia membawa nampan yang berisi obat dan sebuah buku catatan, tanpa jarum suntik tentu.


saat perawat tersebut meletakkan nampan, Lova meneliti dengan seksama benda apa saja yang ada di atas nampan tersebut, karna ia teringat mimpinya yang semalam. lalu tanpa ia sadari perawat itu mendekat dan memeriksa selang infus dengan memegang tangan Lova .


seketika Lova menegang, ia beringsut dari duduknya dan menjauh dari si perawat.


"apa yang kamu lakukan ?" lova bertanya dengan sikap waspada, ia menyembunyikan tangan ke belakang punggung.


suster pun kebingungan, ia hendak memeriksa jarum infus di tangan Lova yang terlihat memerah di ujung selangnya.

__ADS_1


"maaf, saya akan membetulkan posisi jarum infus di punggung tangan anda. sepertinya sedikit terlepas" terang suster. "lihatlah, ada darah disana" lanjutnya menjelaskan.


Lova melirik ke arah tangannya, memiringkan tangannya sedikit dan mengangkatnya.


"kamu... bukan mau menyuntikku kan, suster ?"


suster itu tersenyum dengan tingkah Lova yang aneh barusan, ternyata penyebabnya karna Lova takut disuntik.


"haha, bukan. Anda saat ini dalam kondisi baik Miss lova. saya kemari untuk memastikan apakah anda sudah bangun dan siap untuk sarapan, lalu memberikan obat ini untuk anda minum" suster itu menjelaskan dengan sedikit gelak tawa agar suasana tak canggung dan menghilangkan rasa takut pada diri Lova.


*****


suster sudah pergi, Lova kembali sendirian. ia lupa menanyakan kepada suster apakah tidak ada orang yang menunggui Lova, teman atau keluarganya di luar sana.


"kemana perginya Rafael ? mana mama dan papa ? kenapa belum ada satupun keluarga yang menjenguknya ? dan bagaimana dengan Rain, apakah kekasihnya itu tau kalau Lova sedang terbaring di rumah sakit".


batin Lova terus bertanya-tanya, pikirannya berkecamuk antara kesal dan sedih. belum lagi tentang mimpinya semalam yang membuatnya merasa gelisah.


ada sesuatu yang janggal dari mimpinya, tapi apakah itu, Lova tak tau.


hari beranjak siang, jam menunjukkan pukul 10:45. dokter barusaja keluar dari ruangan Lova setelah melakukan pemeriksaan. selang beberapa menit pintu rungan terbuka, ternyata ibu Dewi.


ART yang bekerja di rumah Lova datang membawa beberapa keperluan yang Lova butuhkan, ia juga membawakan makanan makanan sehat dari rumah serta beberapa botol jus buah kesukaan lova.


"Bude !!" seru Lova, "sama siapa bude kesini ? mama mana Bu ? apa papa juga ikut ?"


"ibu sama bapak lagi pergi non, katanya sih ke sekolahan non Lova. nanti pulang dari sana katanya akan langsung kemari" jawab Bu Dewi, lalu ia merapikan barang bawaannya ke atas meja yang tersedia.


*****


"sekali lagi kami sangat menyesal atas musibah yang dialami ananda Lova." salah satu dewan guru akhirnya buka suara setelah mama Lova panjang lebar melayangkan protesnya terhadap pihak sekolah yang bertanggung jawab.


Papa Lova terus merangkul istrinya, menenangkan agar bisa menahan emosi.


"kami, selaku dewan guru yang berwenang atas keputusan hukuman apa yang akan diberikan kepada siswa yang bersalah, sudah resmi memberikan surat pemberhentian sebagai siswa di SMA Kebangsaan ini, kepada pelaku. dengan kata lain, siswa itu kami berhentikan secara tidak terhormat" jelas pak Saiful, sebagai guru Bina Konseling.


"APA ITU SAJA CUKUP ? APA KALIAN TAU ANAK SAYA AKAN MENGALAMI TRAUMA YANG MENDALAM NANTINYA ?" mama Lova berteriak, ia menangis tersedu.


"sudah mah, Lova sudah baik-baik saja sekarang"


"APANYA YANG BAIK-BAIK ? PUTRI KITA SEDANG DI RUMAH SAKIT, KAKINYA CEDERA, TIDAK BISA BERJALAN, KATA DOKTER MASA PEMULIHANNYA BUTUH WAKTU PAH !!"


niat hati ingin menenangkan, malah semakin histeris. duh, papa Lova makin pusing menghadapi istrinya yang over sensitif terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Lova.


pihak sekolah juga kebingungan, dewan guru sudah mengambil keputusan yang paling besar dengan mengelurkan siswanya yang lumayan berprestasi, namun terbukti bersalah itu.


"kami benar-benar meminta maaf kepada ibu dan bapak, kami mengerti perasaan ibu yang menyayangi putri ibu, tapi hanya hukuman itu yang bisa sekolah berikan kepada pelaku, Bu." ucap pak Saiful dengan tulus. "jika ibu ingin hukuman yang lebih dari pada ini, mungkin ibu bisa melaporkan kejadian ini kepada pihak uang berwajib" lanjutnya.

__ADS_1


mama Lova sudah berhenti menangis, ada gurat kesedihan diwajahnya.


"tidak usah pak" mama Lova menggelengkan kepalanya pelan. "dikeluarkan dari sekolah, adalah hukuman yang paling berat" imbuhnya melemah dan pasrah menerima dengan lapang dada.


*****


setelah membahas masalah yang terjadi di sekolah, Mr. Saif dan Mrs. Rayya (papa & mama Lova) menuju rumah sakit dimana Lova dirawat.


Rafael menghubungi kedua orangtuanya kemarin setelah membawa Lova ke rumah sakit.


ketika ditanyai oleh resepsionis mengenai Wali pasien, Rafael sempat kebingungan karna tak tau nomor yang bisa dihubungi. beruntung ia ingat tas dan ponsel Lova yang ia bawa saat menemukan Lova di toilet.


dan hari ini, Rafael memutuskan untuk pulang kerumahnya setelah memastikan orang tua Lova akan datang.


*****


"mama ..." Lova memekik ketika melihat orang tuanya datang.


mama Lova sangat senang melihat putrinya yang sedang makan dengan disuapi Bu Dewi.


"sayang... kamu baik-baik aja kan ?" tanya mama Lova seraya memeluk.


"enggak !! " Lova mencebik kesal, "mama kemana aja sama papa, kok baru datang ?" hardiknya dengan intonasi tinggi.


rasa kesal masih terasa, Lova berharap papa dan mamanya datang sejak kemarin.


"maafin mama sayang, kemarin mama masih di luar kota. ini juga sebenarnya masih ada hal yang harus di urus, tapi mama batalkan semua jadwal" terangnya dengan rasa bersalah.


Mrs. rayya dikenal publik sebagai sosok yang berjiwa sosial, ia kerap menjadi aktivis lingkungan dan juga banyak meluangkan waktu untuk kegiatan amal dan sosialnya di lingkungan masyarakat.


ia membangun rumah singgah untuk anak-anak yang kurang beruntung, ia juga menjadi donatur tetap di beberapa lembaga sosial. Mrs. rayya juga memiliki galeri seni. disana ia dan teman-teman sosialitanya berbagi ilmu kepada siapa saja yang mau belajar secara cuma-cuma, dengan mengajarkan berbagai macam seni melukis, merajut, merangkai bunga, dan membuat berbagai macam aksesori .


oleh sebab itu terkadang ia harus meninggalkan rumah selama berhari-hari jika ada urusan di luar kota, ia sangat menyesal ketika mendengar berita tentang Lova yang masuk rumah sakit.


"Lova mau pulang mah... Lova nggak betah lama-lama disini" rengekannya terdengar sangat manja.


papa yang sedari tadi duduk di sofa, kini bangkit mendekat ke tempat dimana Lova berbaring, mengelus rambut putrinya dengan sayang.


"sore ini kita pulang, papa sudah ijin untuk rawat jalan di rumah. tinggal menunggu persetujuan dari dokter saja kok"


Setelah berbincang cukup lama, Lova menceritakan semua kejadian yang dialaminya.


mama dan papa Lova hanya mendengarkan saja tak berkomentar apa-apa, apalagi membahas tentang hukuman yang diberikan pihak sekolah kepada orang yang sudah mencelakai putri mereka.


mereka sepakat untuk tidak membahas mengenai siswa yang bernama NANDA, orang yang ditetapkan sebagai tersangka.


awalnya pihak sekolah memintai keterangan dari Rafael, setelah Rafael menceritakan secara rinci, akhirnya sekolah meminta divisi keamanan untuk memeriksa bukti pada cctv.

__ADS_1


setelah semua terungkap dengan jelas, akhirnya seluruh jajaran dewan guru sepakat untuk memutuskan memberikan hukuman yang paling berat kepada Nanda, yaitu dikeluarkan dari sekolah.


__ADS_2