Love Secret

Love Secret
#14 with you today


__ADS_3

" sudah bangun ? " menjadi kata pertama yang diucapkan Rafael saat pertama kali memasuki ruang tempat Lova di rawat.


Lova terkesiap melihat siapa yang masuk dari pintu kamar rawatnya. apakah Rafael yang membawanya ke rumah sakit, atau orang lain ? entahlah.. mungkin Lova akan tahu nanti setelah berbicara dengannya.


perlahan Lova membuka mulutnya. suaranya masih tercekat, bibirnya yang kering membuatnya kesulitan untuk berbicara.


"emmm... halo, Fael" sapanya setelah Rafael mendekat.


Lova biasa memanggil Fael. itulah yang diminta Rafael kepada Lova dulu, saat pertemuan pertamanya di sekolah.


Rafael mendekat, ia mengelus lembut dahi Lova.


"kamu udah baikan ?" tanyanya kepada Lova dengan lembut"


"heemm..." jawab Lova singkat sembari mengangguk pelan.


melihat kondisi Lova yang terlihat lemah, membuat Rafael semakin sayang pada gadis itu. perlahan ia mendekat kemudian meraih pundak Lova.


Rafael memeluknya erat, mengingat kejadian siang tadi Rafael merasa sangat marah dan takut.


marah, karena ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai pujaan hatinya. takut, karena ia benar-benar mencintai Lova, ia takut kehilangan dan takut semuanya akan berakhir.


lebih baik bertepuk sebelah tangan pikirnya, daripada kehilangan untuk selama-lamanya.


Lova merasakan ada sesuatu pada diri Rafael, entah apa itu. namun Lova merasa tubuh Rafael sedikit bergetar.


"apakah Rafael menangis ?" hatinya bertanya.


perlahan Lova membalas pelukan Rafael, ada sedikit ketenangan di hatinya. ia mulai memejamkan mata, merasakan apa yang sebenarnya Rafael pikirkan namun Lova tak menemukan jawaban.


tak berapa lama mereka berpelukan, Lova merasa tidak enak juga dipeluk lama-lama oleh temannya, bukan dipeluk pacarnya.


perlahan ia melepaskan diri dari Rafael, dan menjaga jarak darinya.


"ehhemm.. Fael, aku... haus" dengan gugup Lova mencari alasan, ia mengalihkan pandangan dari tatapan Rafael yang penuh kecemasan.


"kamu mau minum ? disini cuma ada air mineral, apa kamu mau yang lain ?" tanya Rafael dengan sangat perhatian.


"oh.. air mineral aja engga apa-apa, aku cuma haus"


segera Rafael mengambil gelas yang berada di atas meja disamping hospital bed / ranjang pasien, lalu memberikannya pada Lova sambil terus memegangi gelasnya.


*****


sudah delapan jam Lova berada di rumah sakit. sejak pertama kali datang sampai saat ini, Rafael tetap setia menunggu Lova di ruang perawatannya.


Rafael menceritakan awal mula menemukan Lova yang tak sadarkan diri di dalam toilet sekolah, sampai ia membawanya ke rumah sakit ini.


Lova dibawa ke rumah sakit pukul 11:10. Rafael mencari keberadaan Lova setelah melihat seseorang di lantai dua berlari tergesa seperti menghindari sesuatu. pada saat itu Rafael sedang berada di ruang musik, yang mana seluruh ruangannya menggunakan kaca transparan.

__ADS_1


melihat sosok yang mencurigakan, Rafael keluar mengikuti kemana arah orang yang mencurigakan itu berlari. dengan nafas terengah, perlahan Rafael menyusuri koridor sekolah namun masih tak menemukan orang yang ia cari.


awalnya Rafael sempat menyerah, sampai di ujung koridor ia hendak berbalik arah menuju ke ruang musik lagi, tapi terhenti setelah mendengar suara orang sedang bercakap ditelepon.


"ya, nyonya.. saya sudah memberinya pelajaran"


"......................"


"baik..."


"......................"


"baik nyonya...."


"......................."


"baik, saya mengerti. Lova memang pantas menerimanya, ini hanya permainan kecil"


".....….............."


"*tidak, Hanya mengurungnya di dalam toilet tidak berbahaya, bukan ?"


"......................"


"baik, terimakasih banyak atas kebaikan anda, Mrs. yulia*"


*****


selang beberapa menit terdengar suara orang masuk kedalam toilet, seketika itu pula lampu didalam toilet itu padam. Lova yang takut akan gelap pun berteriak meminta tolong kepada orang yang baru saja masuk untuk menghidupkan kembali lampunya, namun tidak ada jawaban apapun, justru yang terdengar adalah suara mengunci pintu.


Lova mencoba untuk membuka pintu pada bilik toilet, tapi terkunci. ia mencoba merogoh saku jaketnya untuk mencari ponsel, tapi tidak ada. nyatanya ponsel ia tinggalkan di marmer wastafel depan cermin.


semakin panik, ia mencoba naik ke atas closet untuk melihat ada siapa dan situasi apa yang terjadi saat itu, namun tak ada seorangpun disana.


tak ingin berlama-lama terkurung didalam kegelapan, Lova mencoba memanjat bilik toilet yang memang hanya sekat demi sekat setinggi dua meter pada setiap bilik dan pintu WC . saat kakinya sudah berada diatas closet Lova terus mencari cara agar bisa mencapai sekat yang harus ia lewati, melompat adalah cara terbaik untuk keluar dari ruang gelap itu.


namun tak berhasil, kakinya tergelincir saat mencari pijakan untuk memanjat. alhasil Lova jatuh dan kakinya terkilir cukup parah sampai ia mengalami syok hingga tak sadarkan diri. pada saat itu pula Rafael menemukan Lova, dan bergegas membawanya ke rumah sakit.


******


"jadi benar ya, ada yang sengaja ngunci aku di toilet siang tadi ?" tanya Lova setelah mendengar apa yang diceritakan Rafael, tentunya dengan sensor. Rafael tidak bercerita soal orang yang menelpon Mrs. yulia, yang tak lain adalah ibunya Rain.


"hemm.." jawab Rafael singkat, ia terlihat lelah setelah seharian menjaga Lova di rumah sakit.


waktu menunjukkan pukul 20:30 wib. Lova tidak bisa tidur karna seharian tadi ia sudah beristirahat dengan baik. sementara Rafael masih berada di sampingnya, menunggu sampai keluarga Lova datang.


sesekali Lova melirik ke arah Rafael yang saat ini sedang memainkan ponsel, entah ia sedang main game atau tengah bertukar pesan dengan seseorang, Lova tak tahu.


dengan ragu Lova memanggil Rafael,

__ADS_1


"emm.. Fael.."


"ya ??" jawabnya singkat dengan mengalihkan pandangannya dari layar handphone.


*ada apa ??" imbuhnya dengan mengangkat alis, ketika Lova masih diam memandangi Rafael dengan tatapan uang sulit di artikan.


"ah... itu... apa kamu enggak pulang ? sepertinya... kamu lelah" dengan terbata Lova mengatakannya. ia tidak bermaksud untuk mengusir, tapi merasa tidak enak karna sudah merepotkan Rafael sejak siang ini.


"ngomong apa sih" dengan memasukkan ponsel kedalam saku jins nya, Rafael lebih mendekat kesamping Lova.


"aku kan udah bilang tadi, sebelum ada keluarga kamu yang datang aku ngga akan pergi"


Lova terdiam, "iya, tapi mama sama papa kan datangnya besok"


Rafael tersenyum lembut, saat ini ia terlihat begitu dewasa. tidak seperti laki-laki yang seumuran dengan Lova.


kenapa pesonanya kian nampak, setelah seharian bersama Rafael, Lova jadi lebih akrab dan tahu sifat aslinya. berani, tanggung jawab, penuh perhatian, baik hati tentunya tidak usah ditanyakan, ia benar-benar seperti malaikat jika dihadapkan langsung dengan Lova, tapi sifat tidak bisa dibantahnya tidak akan hilang oleh apapun.


saat Lova merengek ingin makan sesuatu yang menurutnya tidak baik untuk kesehatan Lova saat ini, ia benar-benar bersikap protektif. begitu pula pada waktu minum obat, meski Lova menolak meminumnya, Rafael tetap memaksa. "minum obatnya, atau aku cium jika tidak" kata-kata itu terus terngiang dikepala Lova saat Rafael marah ternyata menakutkan.


"sudah malam, waktunya istirahat" Rafael membetulkan selimut Lova, kemudian membelai lembut puncak kepala, dan tanpa diduga ia mencium dahi Lova.


Lova beringsut agak menjauh, ia sempat menghindar ciuman di dahinya, namun Rafael menahannya seraya meyatukan dahinya disana.


hidung mereka saling bertemu, dahi mereka saling beradu, deru nafas yang terasa panas menjalar di seluruh permukaan kulit wajah.


Lova tak bisa menghindar lagi, Rafael sudah memintanya untuk diam. ia tak ingin ada keributan malam ini di rumah sakit, pikirnya.


"sekali saja, hanya saat ini kita bisa sedekat ini" ucap Rafael dengan suara tertahan.


Lova hanya bisa memejamkan mata, ia sangat takut untuk menatap langsung ke mata tajam Rafael yang begitu dalam menatapnya.


perlahan Rafael menjauh setelah sedetik ia mengecup bibir Lova .


Rafael sadar ia bukanlah siapa-siapa bagi Lova, masih ada Rain, kekasih Lova, dan ia tak mungkin memaksakan perasaan seseorang untuk membalas cintanya.


bagi Rafael, kebahagiaan Lova sangat penting daripada perasaannya sendiri. yang ia harus lakukan adalah memastikan Lova tetap baik-baik saja dan berbahagia dengan pilihan hatinya.


*****


setelah keduanya memutuskan untuk tidur di ruangan yang sama, Rafael tidak bisa meninggalkan Lova di ruangan yang dingin dan sepi, sendirian.


Lova juga tidak meminta Rafael untuk pergi, ia takut jika ditinggalkan di ruangan yang cukup luas itu.


ketika Lova membuka mata, dilihatnya Rafael sedang tertidur pulas di atas sofa putih yang terletak tak jauh darinya.


Lova tersenyum tipis, "kalau tidur seperti malaikat" batinnya.


dilihatnya ke arah jam dinding yang ada di ruangan itu, jam menunjukkan pukul 04:30 wib. Lova kembali memejamkan matanya hingga terbuai ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2