Love Secret

Love Secret
#23 absurd


__ADS_3

waktu bergulir, setelah Rafael pergi meninggalkan rumah Lova, ia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


"AAARARGHH SIAL !!" erang Rafael sambil memukul stir dengan tangan kanannya. Rafael begitu frustasi atas ketidak berdayaannya menghadapi Rain.


bukan karna tidak berani menghadapi sosok pria yang tengah bersanding di hati Lova, tapi karna ia menghargai pilihan Lova. ia tidak sanggup mengusik jika sekiranya itu yang menjadi kebahagiaan Lova saat ini.


namun, ada sedikit sesal di hatinya. Rafel masih penasaran dengan status hubungan Rain dengan perempuan yang ia lihat di toko bunga tadi.


Rafael menghentikan mobil yang dikemudikannya di depan rumahnya, terlihat seorang pekerja yang mengenakan seragam serba hitam datang menghampirinya.


"BOSS !!" sapa pegawai yang bernama Jono dengan senyum sumringah menyambut kedatangan Rafael.


tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rafael melemparkan kunci mobilnya begitu saja kepada pegawai yang berdiri dihadapannya, "happ" Jono menangkapnya dengan sigap kunci yang dilempar itu.


"Bos kecil sudah datang ? darimana saja bos ? " tanya Jono lagi yang mengekor dibelakang Rafael yang terus berjalan masuk kedalam rumah, tanpa menghiraukan mas Jono.


mendengar jono memanggil dirinya degan sebutan bos kecil, sontak Rafael menghentikan langkah kakinya. ia berbalik dan dan memasang mimik menjengkelkan.


"sekali lagi Lo panggil gue bos kecil, gak akan hidup Lo !!" dengan tersungut Rafael mengancam mas Jono.


sedangkan mas Jono hanya cekikikan mendengar ancaman dari bos kecilnya itu. mas Jono tau kalau Rafael tidak akan sesadis itu hingga melenyapkan nyawa orang, apalagi sudah sejak kecil mas Jono bekerja di rumah keluarga Rafael.


"galak amat bos, ya sudah... saya panggil bos galak saja ya !?"


tak mau meladeni orang yang berada di depannya, Rafael memilih melanjutkan kembali langkahnya. tujuannya adalah kamar, saat ini ia hanya butuh tidur untuk melupakan Lova sesaat, sampai ia terbangun nanti.


"loh ?? bos .. mau kemana ? bos sudah makan belum ? mau makan apa ? biar mas Jono pesankan ke koki dapur !!"


bermacam pertanyaan dilayangkan mas Jono , tapi Rafael terus saja berjalan hingga mencapai anak tangga teratas ia berbelok ke sisi kanan dimana letak kamarnya berada.


ketika Rafael sampai di depan kamarnya, ia berdiri di depan pintu dan berbalik lagi ke arah mas Jono yang masih setia mengekor dibelakangnya.


"ngapain lagi sih mas ?" akhirnya Rafael bersuara, seketika itu pula senyum mengembang diwajah mas Jono .


sudah 5 hari Rafael tidak pulang ke rumah, pantaslah mas Jono girang bisa melihat kembali Rafael dengan selamat dan sehat .


"bos ganteng mau makan sesuatu tidak ? atau mau apa saja lah, biar mas Jono siapkan"


jengah dengan tingkah anak buah ayahnya yang bernama Jono, akhirnya Rafael buka suara dengan nada tinggi.


"ENGGA USAH JONOOOO... GUE BILANG ENGGAK MAU MAKAN DAN ENGGA BUTUH APA-APA !!!"


.....BLAM.....


akhirnya mas Jono bergeming setelah sesaat jantungnya hampir copot ketika mendengar suara pintu yang dibanting sangat keras oleh Rafael.


*****


Lova dan Rain masih berada di ruangan yang sama ketika Rafael pergi meninggalkan mereka berdua. masih betah dengan udara sejuk yang masuk melalui jendela kaca yang terbuka lebar, serta senyapnya suasana ruangan sehingga membuat mereka berdua nyaman berlama-lama didalam ruangan perpustakaan. Rain merebahkan badannya diatas sofa panjang yang berada di dalam ruangan, sementara Lova duduk menyandarkan bahunya dan meluruskan kaki diatas sofa yang memanjang ke depan. mereka berdua sama-sama memejamkan mata, merasakan semilirnya angin yang menerpa permukaan kulit wajah keduanya.


"Rain..." Lova bertanya seraya menolehkan wajahnya, menatap Rain yang terpejam di sisi kanannya.


tanpa merubah posisi dan tetap memejamkan mata, Rain menjawab Lova dengan malas karna ia masih setengah sadar dengan tidur-tidur ayamnya.


"hmmmm"


mendengar jawaban itu Lova mengukir senyum diwajahnya,


"Rain..." lagi, Lova hanya memanggil nama kekasihnya itu, tanpa ada niatan untuk bertanya apapun. dan kembali lagi Rain hanya bergumam "hmmmmm".


hening sesaat. Rain terpaksa membuka matanya, ia melirik ke arah Lova menengadahkan sedikit kepalanya demi bisa menatap Lova yang duduk bersandar.


"ada apa ? dari tadi manggil terus"


"engga ada kok, cuma senang aja manggil kamu" jawab Lova. ia mengelus lembut pipi kanan Rain sesaat, dan tersennyum.


Rain meraih tangan Lova yang masih setia mengusap pipinya, kemudian digenggamnya erat. "kamu mau bicara apa ? bicaralah, jangan dipendam".


mendengar perkataan Rain, sejenak Lova berpikir, apakah kedua orang tua Rain tau kalau putra mereka ada disini disaat jam kerja masih berlangsung. jika mereka tau pasti Rain akan mendapatkan hukuman lagi, minimal akan diberikan setumpuk tugas pekerjaan di kantor ayahnya, dan maksimal tidak boleh menemui Lova dalam jangka beberapa waktu. namun hanya didalam benaknya Lova mampu berkata demikian. ia tidak berani menanyakan apapun tentang kedua orang tua Rain, terutama ibu Yulia, ibunya Rain.


"ehmmm... Rain, kenapa kamu bisa suka sama aku ?" mengalihkan pemikirannya sendiri, seperti biasa Lova akan menanyakan hal yang sama.


"sudah berapa ratus kali kamu menanyakan hal itu ?" tanya Rain dengan nada tak suka.


"yah, dan sudah berapa ratus kali juga kamu nggak pernah jawab !?"


bagaikan Boomerang, Rain beranjak dari tidurnya. tadinya ia ingin beristirahat sejenak karna lelah dengan segudang pekerjaan yang tak kunjung usai, ditambah lagi amarahnya yang ia tahan sedari tadi dihadapan Lova ketika mendapati kekasihnya itu berduaan dengan laki-laki lain, meskipun hanya sekedar belajar bersama namun sifat tempramen yang melekat pada dirinya membuat rain kalang kabut tidak terima bila ada laki-laki lain yang mendekati Lova.


Rain memijat perlahan pangkal hidung mancung miliknya. sejurus kemudian ia melepaskan pautan tangannya dari hidung, lalu menatap lekat mata Lova yang sayu dengan bulu mata lentiknya.

__ADS_1


"aku suka kamu, karna kamu cantik... menarik... pintar... dan......"


"dan apa ??" tanya Lova penasaran ketika Rain menghentikan kalimatnya.


"dan kamu memiliki daya pikat yang tinggi"


Lova mengeryitkan dahi, merasa tidak paham dengan kata yang Rain ucapkan. "maksud kamu apa, Rain ?"


diam saja, Rain tidak lagi menanggapi. ia beralih mengambil kunci mobil yang tergeletak diatas meja kaca bundar didepannya.


"kamu Senin depan udah masuk sekolah ya ?" tanya Rain, ia menyeka anak rambut yang menghalangi mata sayu milik Lova, hingga terlihat jelas netra kelam didalamnya.


wajah Lova yang tadinya pucat karna masih dalam fase penyembuhan, seketika berubah merona di pipinya. ditatap sedalam itu oleh Rain, membuatnya gugup dan tersipu.


"emmm... iya. Senin mulai masuk ajaran baru" jawabnya tergagap karena lidahnya menjadi kelu.


"kalau begitu, ikut aku"


"kemana ??" tanya Lova kebingungan, sementara Rain memapahnya agar bisa berjalan bersama.


"ikut aja ayo.. kamu pasti suka"


"tapi papa sama Mama ??"


"bukan masalah. ayo, kita minta ijin untuk pergi"


*****


setelah berkendara di pusat kota sekitar kurang dari satu jam lamanya, akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang terlihat cukup sepi, namun sepertinya itu hanya area parkir saja. tempat tujuannya adalah deretan bangunan dengan seni klasik dan bernuansa Eropa yang berada di ujung jalan sana.


Rain memarkirkan mobilnya, kemudian bergegas turun dari kursi kemudi. ia membukakan pintu untuk Lova dan memapahnya keluar dari mobil.


"tongkatnya Rain ?" tanya Lova menghentikan pergerakan mereka.


"udah ngga usah"


mendengar itu Lova menarik tubuhnya menjauh dari Rain.


"aku kesulitan Rain, kaki aku sakit kalau nggak pake tongkat"


"ini kan udah aku bantu, biar aku aja yang jadi tongkat kamu"


menghela nafas dalam-dalam, sangat sulit bagi Rain untuk meyakinkan Lova. "yasudah.. okey okey.. tunggu sebentar, biar ku ambilkan tongkatnya didalam mobil" ucap Rain sembari melepaskan gandengan tangannya di lengan dan pinggang Lova. ia membuka kembali pintu mobil yang baru saja ditutupnya, lalu diambilnya tongkat berwarna putih polos sebagai alat bantu berjalan.


"ini... hati-hati, pelan saja berjalannya"


perlahan tapi pasti, mereka berdua berjalan ke tempat yang dituju. jarak yang harus di tempuh untuk sampai ke tempat tujuan kurang lebih sekitar 100 meter dari titik dimana Rain memarkirkan mobilnya.


Lova yang kesulitan berjalan sudah menahan sakit di kakinya, tapi tidak ia tunjukkan di hadapan Rain. Lova berusaha menutupinya dengan terus tersenyum melihat pemandangan di sekitarnya.


ya, memang. melihat bangunan bergaya klasik, dengan desain yang artistik di sisi kiri kanan jalan membuatnya sedikit lebih bersuka cita. disanalah tempat nongkrong kalangan elit berkumpul. jika diperhatikan, tempat makan dan kedai kopi yang mendominasi di area tersebut.


dilihatnya lampu yang temaram di sepanjang jalan, sambil terus berceloteh kapan sampainya Rain ?, dimana tempatnya ?, tempat makan bukan ?, dan bla.. bla.. bla.." dan akhirnya mulut Lova yang tak mau diam sekarang sudah tak lagi bersuara, karna mereka sudah sampai di sebuah bangunan bergaya khas italia bertingkat dua.


"sudah sampai. ayo masuk" ajak Rain sambil membimbing Lova yang berjalan disampingnya.


Lova melihat di atas pintu masuk terdapat tulisan -es italia-. kemudian ia mengikuti langkah kaki Rain yang berjalan pelan menyesuaikan Lova yang terpincang-pincang.


"kita mau makan es krim ?" tanya Lova yang baru saja melewati pintu masuk. dilihatnya ramai orang didalam kedai tersebut sedang menikmati hidangan yang terlihat seperti es krim di setiap meja, samar-samar terdengar gumaman dari khalayak di dalam kedai itu seperti membicarakan hal-hal penting. mungkin bisnis.


"iya, kita makan es krim. kamu suka ?"


"suka" jawab Lova, tersenyum simpul menatap Rain yang bertanya dengan senyuman pula.


Rain membantu Lova untuk duduk, ia juga meletakkan tongkat milik Lova di sisi dinding dekat tempat duduknya.


"disini ramai sekali ya, Rain ?" tanya Lova sambil celingukan memerhatikan ruangan.


"segini sih biasa aja. biasanya sampai antri tempat duduk, malah banyak yang rela nunggu di luar buat makan es disini" sahut Rain yang mengambil daftar menu yang diberikan waiters. kemudian memberikannya kepada Lova. "ini, kamu mau pesan yang mana ?"


melihat daftar isi di buku menu yang hanya berupa selembar kertas tebal, yang didalamnya Hanya terdapat tulisan nama dari menu es beserta harga. - tanpa adanya gambar - membuat Lova kebingungan saat memilih, bahkan tidak ada cover bergambar eskrim.


"ini eskrim semua mbak ?"


"betul, nona. kami hanya menyediakan eskrim di sini" ucap waiters sangat sopan. "kami menyediakan bermacam varian Rasa, dan semua bahan yang digunakan sangatlah terjamin kemurniannya, dibuat dari susu dan buah organik. kami membuat es di sini sejak 89 tahun silam . dan jika nona mau, kami dapat menambahkan toping sesuai dengan yang nona ingin. misalnya, buah, biskuit, atau apapun sesuai yang nona ingin" imbuhnya panjang lebar menjelaskan.


"oh, tidak usah" buru-buru Lova menolak. ia tidak ingin tambah bingung dengan memikirkan toping apa yang sesuai dengan eskrim pesanannya nanti. daripada rasanya berubah aneh, lebih baik pilih yang original saja, pikirnya.


"aku kasih saran, pesan banana split aja. pasti kamu suka" Rain memberi pencerahan. tapi Lova menolak...

__ADS_1


"engga ah. yang ini aja, nougat."


Rain tersenyum. "saya banana split , mbak"


waiters itu pun mencatat pesanan mereka dan kembali menyebutkan menu yang dipesan, kemudian berjalan cepat meninggalkan mereka berdua.


tak lama berselang, waiters yang lain datang ke meja dimana Lova dan Rain berada. waiters itu meletakkan eskrim bersama dua gelas air putih dingin yang yang dibawanya diatas nampan. "selamat menikmati," sambil membungkuk sedikit, lalu berbalik dan meninggalkan mereka berdua.


"waaahh, kelihatannya enak ya" Lova melihat eskrim didepannya dengan mata berbinar. diambilnya dengan semangat eskrim yang tersaji indah diatas meja, terlihat sayang untuk dimakan.


"wait..... itu punya aku baby..." Rain mengambil eskrim miliknya, si banana split. "nah... yang ini punya kamu" imbuhnya seraya menggeser eskrim nougat pesanan Lova.


melihat itu, Lova tidak terima karena eskrim milik Rain tampilannya lebih bagus, isinya lebih banyak, dan warnanya lebih menarik, ada pink, hijau, biru dan kuning. berbeda dengan pesanan miliik Lova. tampilannya biasa saja. hanya ada sedikit taburan kacang diatasnya, isinya hanya satu scoop saja, dan warnanya ? sungguh tidak menarik perhatian, yah.. warna nougat tentunya.


Lova mengerucutkan bibirnya ketika mengambil eskrim yang disodorkan kepadanya. tidak sesuai dengan ekspektasi .


perlahan Lova menyendok eskrim miliknya, satu suapan ia telan dengan susah payah karna memang pada dasarnya Lova tidak begitu menyukai semua jenis kacang-kacangan. setelah sukses menelannya, buru-buru Lova meminum segelas air putih yang tersedia di atas meja.


melihat itu Rain tertawa cekikikan. ia menahan geli di perutnya karna sungguh sangat lucu melihat tingkah Lova yang seperti ini.


"kan aku udah bilang, pesan yang banana split aja. salah sendiri pilih nouu... apa tuh? yang tadi kamu pesan ?" ucap Rain sembari menyuapkan sedikit eskrim kedalam mulutnya.


"ya mana aku tau, namanya juga mau eksplor yang belum pernah aku coba" ucap Lova kesal, ia sungguh tidak pernah menginginkan segala sesuatu yang terbuat dari kacang. tapi nougat ? Lova baru mendengar nama itu, jadi ia tidak tau kalau nougat terbuat dari kacang.


"ini.... buat kamu" Rain menggeser mangkuk eskrim miliknya.


"loh ?? terus kamu mau yang ini ?" tanya Lova, ia menggeser mangkuk eskrim miliknya juga.


Rain menggelengkan kepala. "engga ah, aku ngga begitu suka eskrim" lalu bersandar dengan santainya di kursi rotan model becak yang menjadi tempat duduknya saat ini, kemudian mengambil ponsel didalam saku celananya dan memainkan benda pipih itu.


"kalo engga suka kenapa ngajak kesini ?" tanya Lova sambil meyantap eskrim dengan lahap. ENAK, batinnya berbicara.


"karna disini tempatnya enak, aku suka" jawab Rain dengan santainya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. "dan karna kamu belum pernah kesini, jadi aku ajak biar kamu tau" imbuhnya yang kini menatap penuh ke arah Lova.


mendengar perkataan Rain, seketika Lova mendongkakkan kepalanya, melihat Rain yang berada di sisi kanannya. Lova yang ditatap pun menjadi canggung, "ooh.. iya sih, tempatnya bagus" sejurus kemudian ia menundukkan kepala dan kembali melahap eskrimnya.


*****


sementara di rumah Rafael...


sudah waktunya makan malam namun Rafael tak kunjung turun dari singgasananya, alias kamar tidur kesayangannya. yah disanalah tempat paling terpavorit bagi Rafael, ia akan menghabiskan hampir seluruh waktunya didalam kamar jika sedang berada di rumah.


mas Jono yang bertugas melayani Rafael di rumah pun menjadi was was. pasalnya, ia mendapati kedatangan Rafael yang sedang badmood, dan sejak tadi Rafael tidak memesan apapun kepadanya -yang biasanya- mas Jono akan mondar mandir kewalahan naik turun singgasana untuk memenuhi keinginan Rafael. mas Jono akan senang jika Rafael membuatnya sibuk seperti hari-hari sebelumnya, seperti : mas Jono.... tolong bawakan makanan, mas Jono.... tolong siapkan air panas untuk mandi, mas Jono.... tolong siapkan pakaian ganti setelah aku mandi, mas jono ini... mas Jono itu... dan jika mas Jono kelupaan maka terdengarlah suara teriakan dewa iblis dari atas singgasana. JONOOOOOOO !!! HANDUK LO TARUH DIMANA ??? INI GUE KELUAR PAKE APA ??


puas melamun di depan meja makan di dalam dapur, akhirnya mas Jono pergi ke atas untuk memanggil anak bosnya.


....tok.... tok... tok ...


"bos... bos mau pesan makan apa ??... koki di dapur sudah kebingungan tuh nggak ada kerjaan"


hening... tidak ada jawaban.


...tok.. tokk tokk.... mas Jono lebih menekan ketukan di pintu.


"bosss... buka pintunya, sudah waktunya makan malam bos"


tak mendapati respon apapun, mas Jono mencoba membuka pintu namun sayangnya dikunci dari dalam.


mendengar suara handle pintu yang dibuka paksa oleh mas Jono, Raafel bangun dan meraba sekeliling tempat tidurnya, ia mencari benda apapun yang bisa dilemparkan langsung ke pintu.


.... brakkkk ...


akhirnya satu lemparan berhasil membuat mas Jono berjingkrak kaget. "duh, apaan tu ?" ucap mas jono sembari mengelus dada.


"BERISIK YA JONOOO, GUE LAGI TIDUR !!"


*****


setelah aksinya gagal total dalam misi mengak makan Rafael, si bos kecil. mas Jono akhirnya pergi ke dapur, ia makan malam bersama rekan sesama pekerja di rumah keluarga Raafel. sedikit banyak mereka berbincang membicarakan bos kecilnya itu.


"kalo gini terus, saya malas bekerja di rumah ini. bos kecil sekarang jarang di rumah, jadi saya nyaris tidak ada kerjaan sama sekali" keluh Jono . ia merasa dirinya telah memakan gaji buta.


"sama mas, saya juga. biasanya saya sibuk membuatkan makanan kesukaan si bos, ini malah si bosnya jarang di rumah. makan di luar tuh pastinya kan ?" ucap koki dapur dengan raut kesedihan yang sedikit agak dibuat-buat. tapi lebih banyak sedihnya sih, karna terhitung sudah lebih dari 15 tahun ia bekerja sebagai koki di rumah Rafal yang tugas utamanya adalah memasak untuk Rafael.


semua yang berada di ruangan itu mengangguk setuju.


"saya juga, karna bos kecil jarang di rumah.... saya jadi tidak bisa melihat ketampanannya yang hakiki " ucap salah seorang pelayan wanita yang bertugas membersihkan kamar Rafael. ia bicara sambil merangkum pipinya yang merona, membayangkan kejadian yang tak terduga. pernah suatu hari ketika pelayan wanita itu hendak membersihkan kamar Rafael, tiba-tiba saja Rafael muncul dibalik pintu kamar mandi saat dirinya sedang mengelap cermin besar yang terletak di sudut ruangan dekat ruang wardrobe. sungguh anugrah baginya yang saat itu melihat tubuh Rafael yang hanya mengenakan lilitan handuk sebatas pinggang.


"hooooooohhh absurd" ada sepuluh orang yang sedang menyantap makan malam diatas meja makan didalam dapur, dan mereka semua menyoraki pelayan wanita yang berkata kurang sopan tentang si bos kecil. sungguh mereka semua sangat menyayangi Rafael karna memang sudah bekerja sejak dari Rafael masih kecil. dan mereka ingin Rafael selalu bahagia.

__ADS_1


__ADS_2