Lucky Star

Lucky Star
JOVIAN


__ADS_3

"wooooww" teriakan teman anggotanya saat seorang wanita memperkenalkan dirinya, entahlah Zora tak mendengar namanya, karena telinganya seperti tertutup oleh rasa gugup yang ia rasakan.


kini riba saatnya Zora memperkenalkan dirinya sebelumnya Riswanti yang seharusnya memperkenalkan diri, dan Zora kebagian paling akhir. Karena Riswanti gugup sampai hampir menangis dia meminta pada Zora untuk bertukar tempat. Zora pun sama gugupnya, tapi tak tega ketika melihat mata Riswanti yang mulai berkaca-kaca.


Setelah bertukar tempat kini Zora berdiri dan mempersiapkan diri untuk berkenalan. Gugup rasanya hingga kata-kata yang sudah terpikirkan mulai berterbangan entah kemana.


belum sempat berucap 3 pria masuk dan membuat Zora bernafas lega, "waah hampir saja jantung ini meledak, aku sangat berterima kasih dengan ketiga orang itu yang baru masuk" ucap Zora pelan bahkan tak terdengar oleh siapapun.


Zora melihat ke 3 orang itu memperkenalkan diri begitupun dengan Arju yang termasuk dalam ke tiga orang itu "kenapa anak itu ada disini?" pertanyaan Zora di dalam hatinya, namun Zora tak ingin tahu jawabannya.


salah satu dari ke tiga pria yang datang tadi memimpin pembicaraan karena hukuman. Zora tak tahu apa yang sedang mereka bisikan yang pasti gugupnya yang tertunda kini datang kembali. Dan tibalah saatnya Zora berkenalan.


"a emm" Zora gugup pikiran dan mulutnya tak bisa diajak berkerja sama.


Zora pun sedikit mendapati surakan dari teman anggotanya. Tersadar Zora kini harusnya menenangkan dirinya terlebih dahulu dengan menarik nafas panjang dan melenasnya lalu Zora menatap pria yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai Vian.


Entah apa yang ada dipikiran mereka seolah ada koneksi tertentu. Saat Zora menatap Vian, Vian membalas tatapan Zora dengan wajah dan matanya yang mengatakan "gapapa jangan gugup lanjutkan kau sudah melakukan yang terbaik" namun tanpa gerakan bibir atau suara yang keluar.


Zora melanjutkan perkenalan sampai di akhir dia selesai Zora kembali mendapatkan surakan kagum dari ruangan. Dan Zora kembali menatap Vian setelahnya, entah kenapa Zora melakukannya namun hatinya sendiri yang ingin melakukannya.


Saat suara sorakan mulai berhenti secara tiba-tiba muka Zora mendadak menjadi merah karena malu, bahkan merahnya sampai ke telinga Zora. Tetapi Zora tersipu bukan karena surakan melainkan saat tadi dia menatap Vian, Vian tersenyum kepadanya dan mengatakan berucap secara pelan sampai yang lain ga tahu "kerja bagus" lalu memejamkan kedua matanya seolah memberikan semangat pada Zora.


Entahlah saat ini Zora ingin pulang tapi ingin masih ada di tempat itu secara bersamaan. Zora ingin pulang karena saat ini ia ingin berjingkrak kegirangan dikamarnya agar tak ada yang mengetahuinya. Namun ia masih betah berada di sekolah karena merasa ingin lebih lama melihat seniornya yang bernama Vian tersebut.


"Vian, Jovian namanya akan ku ingat" ucap Zora dalam hatinya lalu kembali duduk karena sudah dipersilahkan kembali duduk oleh Vian.


Kini giliran Riswanti yang terakhir berkenalan, ia pun menerima perlakuan yang sama seperti zora oleh teman anggotanya. Mungkin karena jarangnya murid perempuan di kelas teknik maka saat melihat perempuan itu seolah baru pertama kali menemuinya. Bukan mengejek atau kagum berlebihan hanya saja mereka terbiasa dengan situasi yang dimana didalamnya hanya seorang pria kebanyakan.

__ADS_1


Tak ingin salah sangka pada Vian mungkin itu hanyalah kebaikannya saja sebagai seorang senior. Dan Zora menyadarkan posisinya yang kini memang siapa saja akan merasa kasihan pada Zora aaat itu karena gugup.


Begitupun dengan Arju walau kata-katanya menyebalkan bahkan mengejek Zora saat iya gugup tadi. Tetapi Zora sadar perkataannya hanya untuk mengalihkan perhatian Zora agar tak gugup.


.


.


.


"aaahh akhirnya sampai di kamar juga" mengeluh kecapean tetapi wajahnya memasang wajah ceria, setelah mengingat kembali moment yang tadi disekolah Zora kegirangan sampai kakinya tak diam seolah menendang-nendang udara.


"wahai jantung berhenti gugupnya aku sudah nyampe di kamar" monolog Zora sambil memegang dadanya. Lalu kembali menendang-nendang udara dengan kedua tangannya yang kini menutupi wajahnya yang tersipu malu.


Ketika Zora tengah asik merasakan hatinya yang sedang berbunga-bunga itu, Sky kakanya masuk kekamar tanpa mengetuk pintu.


"apan lo sku nyari ribut aja kerjaannya lu mah" wajah cerianya kini berubah jadi bad mood


"gua bilangin ma lo tau rasa" ancam sky" tuh dari tadi mama manggil-manggil bukannya nyamperin malah asik-asikan disini" timpal kembali sky


"gua bukannya asik asikan tapi ga denger panggilan mama aja tau" dengan terpaksa Zora turun dari kasurnya dan berjalan menuju lantai bawah menghampiri mamanya yang kini berada di meja makan.


"apa ma?, mama manggil Zora?" Zora duduk di kursi meja makan


"iya dari tadi mama panggil kamu, Zora udah makan?" Zora menggelengkan kepala atas jawaban dari pertanyaan mamanya


"ya udah makan dulu, jangan sampai terlewat jam makan nanti maag mu kambuh lagi" menyodorkan piring untuk makan Zora

__ADS_1


"iya ini juga mau ma" mulai menyendokan nasi dan lauk pauk yang sudah di masak oleh mama


"Zora dari mana saja?, tumben tadi pulangnya telat?"


"ah itu Zora tadi kena apes ma, tapi beruntung juga sih mungkin ini takdir Zora, hehehe" Zora tertawa sambik mengunyah makanannya.


"apes gimana Zora?"


"tadi kan ada perekrutan anggota baru OSIS, temen sekelas Zora pada ga mau, Zora juga awalnya ga mau, tapi Zora lagi apes pas walikelas ngundi nama yang bakalan jadi anggota,, Zora kena deh" jelas Zora secara singkat kejadian tadi.


"bilangnya apes tapi ko kaya yang seneng kepilih?" Sky bertanya dari kejauhan lalu mendekat ke meja makan bareng Time.


Otak Zora mendadak traveling mencari alasan. Dengan otak cerdiknya Zora menemukan banyak alasan secara langsung


"ya abis kalo di pikir-pikir Zora ga dirugiin, malah mungkin nantinya Zora bisa banyak bolos karena banyak kegiatan di OSIS, trus ga perlu dengerin ceramah guru deh" Zora menaik turunkan kedua alisnya pada semua orang yang dimeja makan yang kini sedang menatap Zora.


"hmm kamu ini" tertekun mamanya mendengar alasan Zora " mama ga larang kamu mau ikut kegiatan apa aja, tapi mama cuman mau ngingetin jaga kesehatan, jangan telat telat makannya, lambung kamu bermasalah kalau salah makan sama telat makan sedikit aja" pesan mama yang panjang.


"iya iya Zora tahu makanya tambahin uang jajan Zora biar ga telat makan"


"kamu kan udah abang kasih tiap bulannya buat nambahin uang jajan" timpal Time protes merasa uang pemberiannya tak dianggap, walaupun tahu maksud Zora tak seperti itu. Tapi Time ingin mengajarkan adiknya untuk berhemat.


"hehe iya ada, Zora tabungin bang Time"


"lo memang adik durhaka sama Time aja lo manggil abang lah ke gua manggil nama doang, ga sopan memang" Sky menyela ingin masuk obrolan.


"biarin aku sopan sama mama sapa ayah karena mereka orang tua ku, kalo bang Time itu karena dia sumber uangku, dan untukmu Sky lo cuman nyari ribut doang ke gua"

__ADS_1


perkataan dan alasan Zora kini membuat seisi meja makan penuh dengan gala tawa hangat yang keluar dari bibir mereka. Dan Zora pun kembali tersenyum bukan karena suasana malam ini, melaikan karena Zora mengingat kembali kejadian disekolah dan Vian.


__ADS_2