
Pagi yang cerah menyambut Zora. Entah apa yang terjadi pada Zora tak seperti biasanya akhir akhir ini iya selalu bersemngat saat bersekolah.
Zora tengah berjalan menuju tempatnya bersekolah dengan sedikit lamunan, namun sedikit senyuman tersirat di bibir Zora.
"Zor" Zora terkaget mendengar suara yang meneriakan namanya
Itu Arju, Arju melihat Zora dari kejauhan dan ia melambaikan tangannya pada Zora lalu memanghilnya. Tetapi Zora tak kunjung merespon. Arju merasa aneh, tatapan Zora seperti melihat Arju yang ada didepannya dengan sedikit senyuman. Namun saat sudah didepan Arju, Zora malah melewatinya begitu saja seolah tak melihat Arju tadi.
Arju mengerti ternyata Zora sedang melamun. Ia pun berencana untuk mengejutkan Zora.
"a***g kaget" Zora kelepasan berkata kasar
"astaghfirullah Zora, cewe ga baik ngomong kasar"
"lagian ngapain ngagetin!" Zora sedikit kesal dengan jantungnya yang masih berdegup sedikit kencang.
"abis dari tadi dipanggil ga nyaut-nyaut"
"gua?, lo manggil gua?" Zora menunjuk dirinya sendiri
Belum sempat Arju berucap Zora sudah berjalan meninggalkan Arju dan menghampiri Lala yang tak sengaja berpapasan saat mengobrol dengan Arju.
"Zora gua belum selesai ngomong, malah belum juga ngomong" teriak Arju dikejauhan tapi Zora hiraukan
"Zor lo deket sama ka Arju?"
"ko Lo tau dia?"
"gua nanya malah balik nanya, ya lagian pasti tahu lah siapa yang ga tau coba dia anaknya pak kepala sekolah, lo deket Zor?"
"emang iya?" maksud Zora bahwa Arju anak dari kepala sekolah
__ADS_1
"lo mah kebiasaan suka ngalahin topik"
"iya iya maaf, iya deket orang dia senior gua di MB sama di OSIS gua bary tau kemaren pas lagi pemilihan calon anggota baru, kenapa emang?"
"oh" hanya itu yang terucap Lala
"oh doang?"
"lo ngerasain yang gua rasainkan sekarang, itu tuh rasanya yang sering lo lakuin ke gua saat lo cuman ngejawab singkat"
Tanpa memperpanjang topik pembicaraan mereka melanjutkan jalan menuju ruangan kelas mereka. Ya begitulah mereka seperti orang lainnya terkadang hal random yang mereka berdua bicarakan.
Sesampainya di depan pintu kelas entah kenapa feeling Zora mengatakan untuk dirinya menengok ke arak kanannya yang matanya langsung tertuju pada ruangan belajar kelas tingkat Zora.
Mata Zora kini tertuju pada pintu kelas yang bertuliskan XI Teknik 1. Lalu teralihkan pada seorang lelaki yang memasuki kelas tersebut.
"apa itu dia" gumam Zora kecil bahkan tak terdengar oleh lala yang berada di sampingnya.
"Zor malah ngelamun ayo masuk" Zora pun tersadar dari lamunannya.
Kelas pun dimulai kini pikiran Zora teralihkan karena gurunya sudah memasuki ruangan. zora dan teman kelasnya kini tengah fokus belajar, keheningan terasa karena guru ini dicap oleh muridnya sebagai salah satu guru killer di sekolahnya. Saat keheningan berlangsung terdengarnya suara speaker kelas yang tandanya akan ada pengumuman.
"jangan berisik dengarkan saja pengumumannya" ucap sang guru karena merasa muridnya kini beralih fokus dari pelajarannya.
"bagi anggota marching sepilang sekolah diharap kumpul di ruang multimedia" isi pengumuman
"kenapa harus barengan pas latihan paskib sih" gumam Zora pelan bahkan hampir tak terdengar saat mendengarkan pengumuman tadi.
Tak ada suara sama sekali setelah pengumuman selesai di sampaikan. Karena saking takutnya jika berisik sedikit saja, mereka takut akan terjadi hal yang menurut mereka mengerikan. Tapi untungnya tak lama kemudian bell istirahat pun berbunyi, kini guru pun meninggalkan kelas.
Seperti rutinitas biasa yang sering Zora lakukan yaitu melamun melihat jendela kelas. Dalam hitungan satu dua tiga sebelum Zora melepas imajinasinya, matanya kini membulat ketika melihat dengan jelas Vian yang keluar dari pintu kelas yang ada di sebrang kelasnya.
__ADS_1
"itu beneran dia" momolognya dengan suara orang yang sedang ditimpa kebahagiaan
"Zora istighfar Zor, makanya jangan ngelamun terus tuh kan jadi bicara sendiri, takut gua lama-lama Zor"
Zora tak membalas keluhan Lala, entahlah mau apa yang Lala katakan sekarang Zora tak peduli yang intinya sekarang adalah ia bahagia mengetahui kelas Vian bersebrangan dengan Zora. Jadi Zora bisa setiap hari nyuri pandang terhadap Vian.
.
.
.
Jam sekolah telah berakhir kini Zora dan para anggota marching tengah berkumpul di ruang multimedia.
Mereka merapatkan untuk pemilihan ketua divisi dan ketua angkatan. Yang dimana Zora terpilih menjadi ketua di divisinya. Dan terpilih juga menjadi ketua angkatan.
Tetapi sebelum keputusan di tetapkan Zora menolak menjadi ketua angkatan iya berkata dengan lantang "ka Zora ga mau, kan masih banyak orang disini kenapa mesti Zora lagi, Zora udah nerima jadi ketua divisi tapi zora ga mau jadi ketua angkatan" tolakan Zora menbuat seisi ruangan kagum terhadapnya, karena dia dengan tegas menolak permintaan ketua dari club musik tersebut. Yang dimana Arju yang terbilang tengil pun sebagai ketua angkatan tak berani menolak mentah-mentah permintaan ketua dari segala ketua tersebut.
Ketuanya hanya bisa menggeleng tak percaya, Zora yang terlihat seperti pendiam karena ga banyak bicara, tapi dia tak malu mengutarakan pendapatnya secara tegas dan lantang. Yang hasilnya ketua mengalah dan menunjuk orang lain sebagai gantinya.
Hal yang tak diketahui oleh orang lain adalah Zora akan bawel atau banyak bicara pada orang yang menurut dia nyaman aja didekatnya. sedangkan sisanya Zora jarang banyak bicara, tetapi bukan berarti Zora penakut atau pemalu. Zora hanyalah seorang pemalas ketika ia harus mengobrol basa-basi yang sebagian besar topik pembicaraannya sudah diketahui.
Perkumpulan pun selesai ketika tujuan mereka sudah tercapai yaitu membentuk organisasi dan membagi perubahan jadwal latihan.
"Zor pulang bareng ga?" tawar Monik dengan sepeda motornya
"eh Mon, duluan aja ada latihan paskib dulu abis ini" tolak Zora, yang sebenarnya iya pun ingin pulang tapi giamana lagi hari ini adalah jadwalnya paskibra latihan
"ya udah duluan ya, bye Zora" Monik meninggalkan Zora melajukan sepeda motornya
Seberapa banyak kegiatan yang diikuti Zora?, entahlah hanya 3 secara garis besarnya, namun hari-hari Zora terisi dengan 3 kegiatan tersebut selain sari sekolah.
__ADS_1
Menjadi rutinitas bagi zora setiap hari senin sampai hari sabtu. Yang ia lakukan sepulang sekolanya dengan menyibukan diri di sekolah. terkadang latihan Marching Band, dilanjut besoknya kumpulan OSIS, lalu latian Paskibra, dan terus diulang sampai da yang latihannya dalam seminggu itu 2 kali pertemuan.
Tak ada jam kosong bagi Zora untuk keluarga saat pulang sekolahnya. iya hanya punya hari minggu itu pun jika tak ada janji ketemu temennya atau janji tuhas kerja kelompok.