Lucky Star

Lucky Star
PESANTREN KILAT


__ADS_3

Para murid tengah bekumpul dilapangan dengan sebagian murid membawa koper kecil. Dan sisanya membawa tas besar yang isinya baju dan bekal mereka untuk mereka selama 3 hari di pesantren.


Setelah murid tingkat akhir menuntaskan ujian akhir sekolahnya, dan sebelum kelas dua melakukan Praktek Kerja Lapangan dan sebelum kelas satu dihadapkan dengan ujian. Sang kepala sekolah membuat program acara pesantren kilat untuk murid-muridnya.


Setelah mendapati pembukaan dari kepala sekolah. Tak lama datang bus jemputan untuk mereka berangkat menuju ke tempat mereka mengemban ilmu agama.


"duduk sesuai urutan dan untuk pulang seperti yang disepakati oleh para orang tua kalian akan di jemput, atau akan pulang sendiri" ucap guru BK


Para murid pun menepati kursi masing-masing, jaraknya lumayan jauh dari sekolah, namun jika dari rumah Zora jarak menuju tempat pesantrennya hanya setengah perjalanan.


Hanya setengah jam mereka sampai di tempat itu. Teman Zora semuanya terkagum disaat diba dilokasi dengan kondisi lapangan yang luas juga beralaskan rumput hijau yang menyegarkan mata.


Pesantren itu milik rekan sekaligus saudara dari Kepala Sekolah. Jadi beliau menitipkan anak muridnya selama 3 hari disana untuk perkembangan akhlak mereka. Biarlah walaupun sekolah mereka terkenal dengan para muridnya yang sering tawuran, setidaknya mereka telah dibekali ilmu agama yang cukup saat jeluar nanti.


Dan program ini sudah berlangsung selama 7 kali yang dimana setahunnya terjadi satu kali. itu artinya sudah berlangsung selama 7 tahun lamanya.


Asrama putra dan asrama putri dipisah tentunya bahkan saat belajar pun, yang artinya mereka takkan saling vertemu dalam 3 hari.


Dirasa semuanya sudah komplit dan terkumpul di satu titik dan antara laki-laki dan perempuan sudah dipisah pula. Kini wakil ketua pengurus pesantren datang memberi ucapan selamat datang lalu mempersilahkan untuk masuk.


Asrama putri terbagi menjadi 3, per asrama dihuni oleh tiap angkatan. Karena bahan pembelajaran mereka berbeda. Sedangkan dengan para laki di bagi menjadi beberpa kelas karena murid lelaki yang tak terhitung banyaknya.


"masuklah dan bereskan barang kalian, kelas akan dimulai pukul sembilan nanti. Harap patuhu jadwal dan untuk jadwalnya sudah saya cetak dan ditempel dipintu. Dan masakah handphone kalian, kalian bisa bawa kembali nanti sebelum pulang dari sini" penjelasan dari pengawas asrama.


Anak-anak membubarkan diri dan mulai merapikan barang bawaannya di kasur dan lemari masing-masing. mereka terlihat terburu-buru meliahat waktu yang mepet. Pasalnya di kertas jadwal tadi tercantum di bawahnya untuk anak-anak yang tak patuh akan ada konsekuensi yang harus mereka hadapi.


"Zora lo udah selesai?"


"hmm" Zora membalas anggukan


"cepet banget" Lala penasaran dengan barang apa saja yang dibawa Zora. Karena hanya dengan sekejap Zora sudah selesai merapikannya.


"Zora yakin lo cuman bawa ini aja?" melihat dalamnya hanya 2 setel baju tidur 3 kaos panjang dan 3 rok lalu peralatan mandi yang dikemas sekecil mungkin.


Zora tak seperti yang lainnya yang hampir semua yang berada di kamarnya mereka bawa. Berbeda dengan Zora ia hanya berpikir ini hanya untuk 3 hari saja, bukan untuk berbulan-bulan jadi ia mengemasnya seminimalis mungkin. Bahkan Zora datang hanya dengan satu tas yang aga besar sedikit dari biasanya.


Tak terasa karena asik merapihkan barang sambil mengobrol waktu pun sudah menunjukan pukul 9. Dan para murid pun bergegas memasuki kelas. Dan begitu selanjutnya mereka bergegiatan sesuai jadwal.


Mereka hanya bisa beristirahat saat malam saja, yaitu waktu mereka didur. Dan besoknya akan terulang kembali seperti sebelumnya, hanya saja dengan pelajaran yang berbeda.


Kegiatan mereka hanya berkisar dengan pukul 5 mereka harus bangun lalu mengaji dan mendengarkan kuliah subuh dari ustadz. Dilanjut jam 6 beres kuliah sibuh mereka punya waktu satu jam setengah untuk mandi dan bersiap untuk sarapan.


Di jam 8 nya mereka slesai makan dan lanjut menuju kelas belajar. Selesai adzan dhuhur baru solat dan kembali makan siang setelah makan siang mereka punya waktu setengah jam untuk beristirahat lalu lanjut belajar.


tiba di jam setengah empat mereka beristirahat kembali untuk solat asar dan setelah itu kembali pada pembelajaran. Jam 5 sore pembelajaran selesai dan waktunya mereka untuk istirahat. Sebagian murid ada yang mengisi waktunya dengan bercanda ada yang mandi, makan cemilan dan ada yang menggunakannya untuk tidur.


Terakhir di jam 6 mereka akan melakukan kegitan setelah solat, yaitu makan. Lalu mendengarkan ceramah dan mengaji bersama sampai beres di jam 8 jadwal mereka tidur.


Baru 2 hari terlewati mereka sudah merasakan ketidak berahan disana. Mereka beranggapan 'bagaimana anak-anak santri bisa bertahan selama ini? ' sedangkan mereka yang baru dua hari saja rasanya sudah merindukan rumah mereka masing-masing. Bahkan sampai ada yang menangis merengek minta pulang.


Zora?, dia mah enjoy aja, ya walau sedikit merindukan rumahnya.


Tiba di hari ke tiga sebelum memulai aktivitas seperti biasanya Zora akan berada di balkon dan menatap pemandangan luar.


"shhuttt Zora" terdengar seseorang meneriakan nama Zora dengan berbisik


Zora yang melihat itu melihat kanan san kirinya untuk mencari sumber suara.

__ADS_1


"Zora bawah sini" memberitahukan posisinya


Zora mengikuti instruksi dari suara dan terkejut dia saat melihat siapa yang memanggilnya itu.


"Yadi?"


"iya ini gua,..."


"ko bisa ada disini?"


"gua kan nyantri disini, Zor gua pegel liatvke atas terus. Turun sini"


"iya bentar gua turun"


Zora menghampiri Yadi yang berada diluar gerbang asrama putri. Gerbangnya tak terlalu tinggi hanya sebatas dada Zora. Jadi saat berada disana Zora bisa melihat Yadi dari dalam.


"lo pesantren disini?, deket dong Zora pikir pesantrennya jauh"


"iya kan udah pernah dibilang pesantrennya masih dikota ini, cumn ya namanya juga nyantri ga bisa pulang" Zora mengingat kembali apa Yadi pernah bilang atau tidaknya


"Zor, apa kabar. Gila ga kerasa udah mau setahun aja kita berpisah rasanya baru kemaren kita main bareng"


"itu mah tandanya lo betah disini" kesimpulan Zora


"tapi ngomong-ngomong lo ko bisa disini?, jangan-jangan lo udah sering ya kesini ngecengin cewe disini?, jadi lo tau jalurnya."


"lo ga berubah ya ke gua ga pernah apa berpikirannya yang baik baik"


"ya kali aja, lo kan gitu orangnya"


"nih lagian ya gua tau dari minggu lalu bakalan kedatengan tamu dari sekolah lo, makanya antusias tiap pagi gua kesini, cuman lo ga nongol-nongol eh untungnya hari ini lo nongol jadi bisa nyempetin ngobrol dulu deh, sebelum kelas dimulai"


"eh eh, gua becanda doang tadi, ngomong-ngomong gimana kabar ?"


"ya Allah ga nyangka Zora nanyain kabar gua" tersanjung Yadi


"kabar gua mah baik terus Zor, lo sendiri?" timpalnya kembali


"ehmm, sedikit stres banyak kegiatan"


"itu mah lo udah biasa dari dulu juga gitu suka nyibukin diri sendiri" Zora tertawa mendengar sindiran Yadi


Zora dan Yadi pun banyak berbincang melepaskan rasa rindu mereka yang setahun ga ketemu, walau masih sering kotekan.


"jadi cewe lo disini?" Yadi mengiyakan dengan anggukan "pantesan lo tau rute jalan ke sini, udah berapa lama?" Zora bertanya karena biasanya Yadi pacaran paling lama nyampe 3 bulan saja.


"udah 6 bulan, " jawab Yadi ragu takut diledek Zora


"akhirnya lo serius juga sama anak orang"


"jangan gitu hati gua tetep punya lo seutuhnya ko"


"lo diajak serius malah becanda"


" ehm ehm gua ga tau yang kali ini ngerasa beda"


"bagus kalo gitu, janagan lobsakiyin tu anak orang "

__ADS_1


"iya Zora iya, lo sendiri gimana?, ada yang deketin lo ga?"


Perbincangan mereka semakin serius, entah mungkin mereka kini tengah beranjak diusia yang mulai melepaskan masa remaja, jadi oembahasan mereka lebih berat dari sebelum-sebelumnya saat di SMP.


"gua ga tau"


"ko ga tau?, tunggu tunggu ap iyu artinya lo selingkuhin gua?"


"lo nih, mau dengerin cerita gua ga?"


Yadi pun setia mendengarkan semua kluh kesah Zora. Juga tentang masalah Vian, bagaimana perasaan Zora terhadapnya. Awal mereka ketemu sampai sekarang Zora menjadi seperti ini. Bahkan saat Zora patah hati dan tak ada yang tahu kecuali Arju.


"jadi kaya gitu"


"trus sekarang lo masih ngerasain sakit?"


"ga, gua emang sempet ngerasain sakit gua juga udah bilang gitu sama ka Arju. Tapi ya mau giman lagi hidupnya dia. Mungkin hanya sedikit kecewa."


"gua ga paham"


"ya intinya lo pernah ga sih mengidolakan seseorang trus idola lo tiba-tiba ngungkapin pacarnya, trus lo kecewa, nah kaya gitu rasanya" Zora mengibaratkan agar dimengerti oleh Arju


"karena itu gua bingung sana hati gua sendiri"


"ko bingung?" curiga Yadi


"ada seseorang yang buat gua bingung"


"Arju?" jawab yadi cepat


Zora hanya mengekspresikan wajah terkejutnya seolah bilang 'ko tahu'.


"jangan terkejut kaya gitu. Lo dari tadi pas cerita nama itu lebih banyak lo sebut dibandingkan nama Vian itu sendiri."


"tumben otak lo encer"


"Zora Zora lo itu peka terhadap orang lain tapi sama diri lo sendiri ambigu"


"lo ada benernya juga"


Percakapan mereka terhenti karena suara dari bell tandanya kegiatan belajar akan dimulai.


"balik gih udah mau masuk kelas"


"lo balik besok kan?"


"iya kenapa emang?"


"tungguin di gerbang depan yah, mau ngobrol sekalian pamitan aja"


Zora mengiyakan permintaan dari Yadi.


"ya udah bye Zora " Yadi melambaikan tangan


"bye" begitu oun Zora membakasnya


Zora kembali pada kegiatannya seperti sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2