
Lala yang merasa masuk ke sekolah terlalu awal kini terkejut melihat Zora datang lebih awal lagi darinya. Bahkan ini adalah hari ke 7 atau dalam kata lain sudah satu minggu Zora datang ke sekolah tak mepetin waktu bell masuk.
"Zor ada angin apa lo?, udah seminggu satang pagi terus"
"emang ga boleh?"
"bukannya gitu, tumben aja lo kan orangnya malesan, nah ini rajin amat"
Seperti kebiasaanya, Zora seperti punya keahlian untuk membuat orang tak banyak bertanya lagi padanya. Zora memutar bola mata malas yang Lala ketahui tandanya iya tak ingin membahas topik itu lagi.
"Zor lu malah ketawa senyam-senyum sendirian. merinding gua liatnya Zora"
"ya uda sih lagian gua ga kenapa-kenapa "
"serah lo deh, gua cuman ngingetin doang, lo kalo orang lain yang liat lo kaya ODGJ tau lo"
tanpa menimpal perkataan lala, Zora hanya tersenyum dengan senyuman mencurigakan.
7 hari yang lalu
entah kenapa hari ini Zora merasa dirinya sedang dilanda rasa bosan. Bakhan untuk sekedar menonton film kesukaannya pun tak mampu melepaskan rasa bosan Zora.
Kini Zora sudah siap dan tinggal berangkat ke sekolah. Dari mulai buku yang iya siapan sampai sarapan pagi yang tak ia lewatkan sudah Zora lakukan. Dan tinggal berangkat menuju sekolah.
Tetapi jika dipikir kembali ini masih terlalu pagi untuknya, ia malas jika nanti disekolah akan disuguhi banyak pertanyaan dari teman sebangkunya itu. Hanya dikarenakan datang ke sekolahnya kepagian.
"bang Time Zora ikut" teriak zora melihat kakanya yang hendak menjalankan motor.
"eh tumben udah siap" kakanya terheran "biasanya jam segini baru bangun" sindir halus Time
"lah adenya rajin malah dikatain"
"bukannya gitu, tumben-tumbenan aja berangkat pagi-pagi biasanya mepetin jam masuk kan" Time menyalakan mesin motornya
"udah ah jangan banyak bicara, cusss ngeng" sambil memukul pelan pundak Time lalu menunjuk arah depan tanda menyuruh Time segera untuk menjalankan sepeda motornya.
__ADS_1
Time hanya bisa menggeleng atas kelakuan adik bungsunya tersebut. Lalu menjalankan mesin motornya.
Selama diperjalanan Time dan Zora membicarakan hal-hal random dari mulai keseharian Zora, mentertawakan hal lucu yang mereka temui di jalan, sampai hal random yang ga jelas mereka tertawakan pula.
"mau abang anterin nyampe salem sekolah?" sesampainya di persimpangan jalan yang dimana untuk mencapai sekolahan masih harus berjalan lumayan jauh, kisaran 5 menit waktu yang diperlukan untuk berjalan.
"ga usah bang, disini aja Zora mau ngulur waktu buat nyampe ke sekolahnya,, hehe" ucap Zora sambil tertawa tak jelas.
"hmm ya udah hati-hati kamu jalannya, awas jangan mampir kemana-mana dulu" perintah Time diangguki Zora, lalu Zora meremberikan tangan kanannya yang dikira Time untuk salam.
"ishh bukan, minta duit"
Time yang mengerti pun membuka dompetnya dan memberinya selembar uang walau sebelum uang diberikan ada drama ocehan terlebih dahulu.
"ya udah abang lanjut jalan ya" menjalankan kembali mesin motornya
"iya hati-hati bang, bye-bye" sambil melambaikan tangan
Zora dan kakanya Time kembali melanjutkan perjalannya masing-masing.
Suara klakson motor terdengar dari arah belakang. Zora yang asalnya fokus pada layar handphone kini pandangannya beralih pada motor yang memberi klakson tersebut. Entah kenapa gambaran orang dan motor tersebut langsung tersimpan di memori otak Zora.
"Zora bareng" teriak Lala dari belakang yang langsung mengalihkan perhatian Zora dari motor.
Lala sedikit berlari menghampiri Zora untuk pergi ke kelas bareng. Sesaat di perjalanan menuju sekolah tiba-tiba Lala berkata "Zor lo tumben pagi" tuh kan benar. Entah yang keberapa pertanyaaan yang sama yang terus terlontar pada Zora.
Lala pun bingung karena Zora tak menjawab pertanyaannya malah menghembuskan nafasnya. Tak ambil pusing Lala membuka handphonenya melihat notifikasi pesan yang ia terima.
"ah dasar ngerepotin aja" Lala berbicara sendiri sambil melihat layar handphone.
"Zor anter ke parkiran dulu" sedikit memohon
"ngapain?"
"ketemu ayang bentaran ya, ya ,ya y,a" sedikit memaksa
__ADS_1
Karena jam masuk sekolah masih jauh, Zora mengiyakan permintaan dari Lala, itung-itung mengulur waktu. Dan sesampainya di gerbang sekolah mereka langsung berjalan menuju parkiran.
Zora dan Lala sudah sampai di parkiran sekolah, Lala pergi dengan urusannya. Dan Zora tengah mematung dengan handphonenya yang entah dia harus melakukan apa.
suara ricuh piuh terdengar dari dalam parkiran, karena jam masuk belum berbunyi dan banyak anak murid dari jurusan teknik tengah bergerimbun nongkrong di tempat parkir.
Saat obrolan berlangsung antara mereka, Zora sepertinya tahu salah satu dari banyak suara yang terdengar olehnya. Dan sewaktu suara yang Zora kenal itu tertawa yang Zora sendiri tak tahu apa yang sedang mereka tertawakan, Zora oun memastikan siapa orang itu. Dan memang benar itu adalah yang seperti Zora duga, itu adalah suara Vian yang tengah duduk dimotor yang diingat Zora tadi.
"oh" tersentak prlan Zora "bukannya itu motor tadi" melihat vian tengah asik berbincang dengan temannya sambil duduk di motor san memegang helmetnya.
"jadi yang dimotor tadi itu dia?" bertanya pada dirinya sendiri
zora tersenyum saat memutar kembali ingatannya kembali saat berpapasan dengan motor tersebut. Dan membayangkan iya tengah mengetahui itu adalah Vian.
"jangan seneng dulu bisa jadi itu motor temannya" tersadarnya Zora dari lamunan.
"Zor ngapains lo bicara sendiri?" Lala yang beres dengan urusannya, sebelum kembali menuju kelas dari kejauhan Lala melihat Zora yang sedang bergumam sendiri. khawatir dengan temannya, Lala menghampiri Zora.
"eh La, udah beres?" yang ditanya malah balik nanya "ya udah yu lanjut ke kelas" belum sempat menjawab Zora udah jalan duluan.
"Zora tungguin" teriak Lala membuat salah satu gerombolan terdekat dengan mereka melirik sumber suara.
Zora dan Lala memulai kelas seperti biasanya. Keesokan harinya Zora ingin memastikan rasa penasarana dia, dan berniat masuk kebih awal lagi dari sebelumnya kebiasaan Zora yang suka masuk kesiangan.
DIperjalanan menuju ke sekolah, Zora kembali berpapasan dengan motor yang dikira Zora itu adalah milik Vian. Zora mengenal orang itu dari cara berpakaiannya. karena berpenampilan rapi tak seperti anak-anak teknik lainnya yang rata-rata cara berpakaiannya awut-awutan, ya dimaklum nama nya juga anak teknik tak banyak anak murid yang berpakaian rapi.
Zora mulai mengumpulkan bukti, tetapi belum membuat Zora memastikan itu adalah Vian. Dan di hari ke tiga Zora pun kembali masuk pagi hari seperti 2 hari kebelakang. Dan kembali berpapasan dengan orang yang mengendarai sepeda motor yang sudah Zora targetkan, namun bedanya kali ini pengemudi motor tersebut tak memakai helm seperti biasanya.
blusss
Wajah Zora sedikit memerah melihat tebakan terjawab benar. Orang yang tengah mengendarai sepeda motor tersebut adalah Vian. entahlah Zora tak ada kerjaan, tak jelas dengan apa yang terjadi padanya. Zora tak paham dengan apa yang kini sedang iya rasakan. intinya Zora merasa senang dengan hanya melihat Vian yang tak sengaja berpasasan itu.
Zora ingin mendekati Vian dan akrab dengannya, namun sebelumnya Zora ingin memastikan terlebih dahulu perasaan apa yang tengah ia rasakan. Masanya dulu Zora sempat merasakan perasaan itu, tetapi hanya bertahan selama 2 sampai 3 minggu saja dan menyadari jika perasaannya itu adalah rasa kagum layaknya seorang fans terhadap idolanya.
Dan kini selama seminggu Zora terus melakukan hal yang sama di tiap paginya, iya akan mengawasi motor yang melintas melewati dirinya. Dan mengetahui waktu dimana vian akan kembali ke jelasnya. Terkadang saat pembelajaran tengah berlangsung Zora menyempatkan melihat jelas sebrang yang terkadang pula Vian sesekali terlihat di radar penglihatan Zora.
__ADS_1