
pagi ini tak seperti biasanya, awan yang cerah kini berubah menjadi mendung Dan air hujan jatuh tak hentinya dari kemarin.
Seperti biasanya sekolah tetap dilaksanakan oleh para murid walau harus menembus rintikan hujan yang tak kunjung reda.
"Zora" teriak Arju dari kejauhan
merasa ada yang memanggil Zora melihat ke arah sumber suara.
"ko ujan-ujanan?, ntar sakit loh" melihat baju Arju yang sudah basah terkena guyuran air hujan
"cie perhatian"
Perhatian kecil Zora terkadang disalah artikan oleh banyak orang, padahal Zora hanya ingin berbuat baik saja, apa salahnya?
"Zora cuman memperingatkan, tau rasa ntar kalo sakit"
"Zora sendiri ngpain disini?, ga bawa payung?"
"makanya beduh juga"
"nih aku bawa payung kamu pakai aja" , membuka tasnya dan mengeluarkan payung dalam tasnya
"kalo bawa payung napa ga dipakai?" menerima payung yang Arju berikan
"sengaja buat lo"
"haha alesan" tertawa dibuat-buat
Zora pun melebarkan payungnya dan melanjutkan perjalannya menuju sekolah.
"bareng ga?" ajak Zora yang kini sudah berada dibawah guyuran hujan dengan payungnya
situasi apa ini seharusnya Arjulah yang berada diposisi Zora dan memberi ajakan. Arju masih tak percaya dengan ajakan Zora, tetapi tanpa sadar ia ikut kedalam payung yang sudah dibuka Zora tadi.
Arju memang memang sengaja membawa payung. Tapi bukan untuk ia kenakan, Arju membawanya karena perintah dari ayahnya yang mengkhawatirkannya.
Ego yang Arju miliki terbilang tinggi untuk hal sepele karena hujan. Apalah kata temannya nanti jika ia ke sekolah membawa payung, yang ada dia diolok-olok oleh teman kelasnya.
Saat perjalanan ke sekolah Arju melihat zora dari kejauhan dan memanggilnya. Merasa Zora perhatian padanya Arju ingat jika didalam tasnya terdapat payung yang tadi ia susah payah berdebat dengana ayahnya hanya karena masalah payung.
Arju menawarkan payungnya terhadap Zora, dirasa Zora akan menolak. Biasanyakan orang jika ditawari sesuatu akan menolah terlebih dahulu, setelah beberapa kali ditawari barulah mereka akan menerima tawaran baik itu. Tetapi tidak dengan Zora saat Arju menawarkan payung diluar ekspektasi Zora ternyata menerimanya.
Zora mengambil payung tanpa ada penolakan. Ya lumayan dari pada sampai di sekolah basah kuyup. Zora tidak suka dengan kondisi bajunya yang nanti seperti bau tak kering. meskipun pemalas zora termasuk orang yang selalu memperhatikan kebersihannya.
Lanjut pada Arju, dia melihat Zora memakai payungnya lalu handak perjalan. Baru dua langkah Zora berjalan, ia berhenti dan membalik badannya lalu memberikan tawaran pada Arju.
"apa yang salah dengan anak ini?" Arju berbicara dalam hatinya
Pikirannya kalut dengan memikirkan tindakan Zora namun tubuhnya refleks menerima tawaran dari Zora.
Sepanjang perjalanan Arju mencuri pandang terhadap Zora.
"jangan terus mencuri pandangan padaku. mending pegang ini payungnya, pegel tau tinggi mu dan tinggi Zora berbeda tau, tangan Zora harus nginbangi tinggi lo, jadi ga kuat pegel" Zora menyerah gagang payung untuk Arju pegang
__ADS_1
Menyadari maksud Zora Arjupun mengambil alih payung yang dipegang Zora.
"sorry sorry gua sedikit ngelamun barusan"
tanpa balasan dari Zora mereka berdua melanjutkan perjalanan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sampai pada depan gerbang Arju melihat teman sekelasnya Zora yaitu Tri, diotaknya terlintas untuk melihat reaksi Zora jika iya berbincang atau menggoda temannya akan seperti apa?
Arju hanya ingin memastikan sikap baiknya Zora yang jarang orang lain dapatkan dari Zora langsung. Arju berpikir sepertinya Zora menyukai dirinya, melihat dari sikap Zora yang selalu risih namun selalu baik dan perhatian pada Arju. Bahkan itu sering Zora lakukan baik saat sekolah atau saat latihan.
melihat Tri dihadapan yang sama-sama menuju ke kelas, Arju melai melontarkan candaannya pada Tri tentu yang diajak bercanda pun menerimanya, toh mereka memang dekat karena sering bertemu saat latihan dan tak aneh jika melihat Arju sering menggoda para wanita dengan maksud bercanda tentunya.
sesampainya pada kelas Arju, Zora dan Tri melanjutkan kembali perjalanan menuju kelas mereka.
"makasih payungnya, terus bawa yah takut nanti Zora lupa lagi ga bawa, bye" seperti biasa Zora dengan wajah sedikit senyuman namun terkesan dingin jika orang yang belum mengenalnya.
"Anak itu benar-benar tak bisa ku tebak" monolog Arju terhadap dirinya
Sedari tadi Arju yang sengaja mengajak bercanda Tri, Zora hanya bereaksi dengan senyuman dan kerjadang mengerutkan alisnya ketika Arju terlalu berlebihan dalam berkata manis. Tetapi melihat reaksi Zora, ia seolah tak terusik melihat kedekatan Arju dengan temannya.
"haaah dia membuatku penasaran" Gumam Arju tanda sadar
.
.
.
Jam kelas pun sudah berhenti dari tadi dan kumpulan OSIS diliburkan hari ini karena banyak yang berhalangan untuk menghindarinya. Karena air hujan yang tak kunjung berhenti Zora berniat menunggunya menjadi sedikit reda.
Zora kini tengah asik duduk dikantin dengan laptopny yang sudaha terhubung pada WiFi sekolah, dari mana ia dapatkan kata sandinya? percayalah Zora punya banyak cara untuk mengetahuinya.
"nunggu reda" jawab Zora sambil melirik Arju
Terkejut Zora melihat wajah Arju yang memucat tak seperti tadi pagi. Dengan refleks Zora mengangkat tangannya dan memegang dahi Arju dengan tangan yang satunya lagi memengang dahi Zora sendiri untuk perbandingan suhu.
"ka mukamu udah kaya zombie mending pulang sana, ganti baju minum air anget teus istirahat, kalo masih demam langsung minum obat" saran Zora yang panjang entah Arju akan ingat atau tidak
"lo bawel juga kalo di liat liat"
"tentu saja lo cuman belum kenal Zora aja" Zora menaik turunkan alisnya
"ya udah gua balik, Lo jangan lama-lama disini, ntar kedinginan" Zora hanya menjawab dengan hormatan tangannya yang menempel pada kepala
"ju ngapain?" tanya Vian dari kejauhan
Vian menghampiri Arju dan Zora yang tengah duduk di kursi kantin
"nongkrong bentaran"
"futsal ga?" Vian ikut duduk di bangku sebrang Zora
Arju melirik Zora sebentar "libur dulu, ada urusan" gengsi Arju mengatakan jika dirinya sedang sakit
Vian bergantian melihat Zora lalu melihat Arju kembali, paham dengan keadaan ia pun pamit undurkan diri dan pergi menuju lapangan yang sudah terkena guyuran hujan dari kemarin.
__ADS_1
"cepat sekali perginya" semangat Zora hilang melihat Vian yang menjauh
Zora baru saja dibuat gugup karena Vian yang duduk di hadapannya. Zora tak bisa fokus pada laptopnya kerna Vian. Tapi kini semangatnya hilang lagi melihat Vian hanya duduk sebentar di bangku dan meninggalkan mereka berdua saja.
Tak kunjung lama semangatnya kembali lagi melihat Vian kini terlihat oleh sudut pandang Zora di lapangan.
Merasa tak ada yang lucu dan pandangan Zora pun bukan pada laptop Arhu memegang pipi Zora dan mengalihkan pandangannya menjadi berhadapan dengan dia.
"ey kenapa ketawa sendiri?, apanya yang lucu"
"gau adau" ucapan Zora tak jelas karena kedua pipinya yang ditekan oleh tangan Arju.
Arju terkekeh melihat Zora terlihat imut saat digoda seperti itu. Arju melepas tangannya yang kini Zora mengadu kesakitan
"ka Arju apaan sih sakit tau" adu zora sambil memegang pipinya
"lagian ngapain senyum ga jelas"
"biarin senyum senyum Zora, udah hus sana pergi pang trus istirahat"
"anterin" rengek Arju
"idih kebalik harusnya Zora yang minta anter, udah hus hus"
"kalo aku pingsan tengah jalan gimana?" tak habis akal Arju menggoda Zora
"hehe" tersenyum paksa "bodo amat" merubah ekspresinya menjadi datar
Arju tak tersinggung dengan ujapan Zora ia tahu Zora hanya bercanda padanya, toh buktinya kalo Zora merasa bodo amat dia takan lanjang kebar memberitahu Arju untuk istirahat.
"ya udah lo juga balik istirahat biar ga ikutan sakit"
"ga ah Zora mau disini dulu liatin ka Vian maen bola"
Entah kenapa Arju tak suka dengan alasan Zora.
"balik balik ntar dicariin bunda"
"siapa bunda?"
"ibumu lah Zora"
"ye mama mah nyantai jarang nyariin Zora, malah kalo dirumah nyuruh Zora main gara-gara Zora diem dirumah mulu"
"ga tau pokonya balik"
"apaan sih Zora masih pengen nonton"
"ZORA" suara Arju menegas
Zora mengabaikannya lagian zora masih betah disekolah.
"ya udah gua juga ga balik" melihat Zora yang ngeyel keras kepala
__ADS_1
"haah" Zora menghembuskan nafas kasar "lo mah ga asik ya udah balik balik"
Zora mengemas barangnya dan sedikit kesal pada Arju. Zora mengabaikan Arju dan pulang terlebih dahulu. Entah kenapa merasa bersalah tapi merasa lega juga, itulah yang dirasakan Arju saat ini. namun sekarang pusingnya kembali kambuh mengingat Zora yang sedikit keras kepala.