
"pah tak perlu mengaturku aku bukan anak kecil lagi" terdengar teriakan Arju dalam
Karena kondisi sekolah sudah sepi dan para murid sudah pulang, kini Arju tak perlu lagi bersikap formal pada ayahnya.
Memang tak formal, tapi ini terlalu berlebihan. Kini Arju tengah bertengkar dengan ayahnya yang merupakan kepala sekolah di sekolah yang ditempati oleh Zora itu.
pertengkaran terdengar sangat kencang bahkan bisa terdengar sampai ke kantin. Dimana Zora tengah duduk seperti biasanya mengunakan WiFi sekolah untuk menonton.
mendengar suara pertengkaran itu Zora memandangi ke arah sumber dari suara tersebut. Zora mengetahui suara siapa itu, dan ia tak ingin ikut campur. Zora melanjutkan tontonannya walau ia tak fokus kali ini.
Tak lama suara pertengkaran terhenti dan terdengar suara seperti bantingan pintu. Zora terkejut mendengar suara tersebut dan dengan refleks matanya tertuju pada suara tersebut. Tak lama Arju keluar dari arah suara itu, dan Zora semakin terkejut dia tak tahu harus berbuat apa.
Arju pun sama terkejutnya melihat Zora masih ada di sekolah dan belum pulang, itu artinya ia mengetahui semuanya tentang pertengkaran mereka.
Merasa salah tingkah Zora pun kembali memfokuskan pandangannya pada layar laptop. Berharap Arju segera pergi dari tempat iya berdiri sekarang. Zora sedikit melihat dari ujung matanya bahwa Arju tengah pergi. Dan Zora kini bisa bernafas lega sekarang.
Tak berlangsung lama, nafas Zora tertahan kembali saat melihat Arju duduk disampingnya. Mata Zora melirik Arju seolah bertanya kenapa duduk disitu?. Namun Arju tak paham dengan maksud Zora.
"dari kapan disini?" tanya Arju pada Zora
"dari tadi pas pulang kumpulan" Zora tersenyum canggung.
"lo denger semuanya?" Zora mengangguk pelan tanda ia mendengar semuanya
" bahkan dari awal" jawab Zora setelah mengangguk
"aaahhh " Arju sedikit terdiam " apa gua salah?" ia bertanya tentang sikapnya pada ayahnya dan Zora mengerti maksud Arju
"ei, masa muda memang butuh sedikit pemberontakan" jawaban Zora dikuarboenikiran Arju
Selama ini orang yang sering melihat Arju seperti itu akan berakhir dengan membela ayahnya, karena dirasa tak sopan saja bersikap seperti itu oada irang tua.
Zora bukan membenarkan sikap Arju pada ayahnya, namun saat ini apapun pendapat Zora takkan masuk pada telinga Arju. Yang Arju butuhkan sekarang adalah seseorang berada dipihaknya.
"orang lain akan bilang aku anak yang tak sopan tapi ini apa kau malah mendukungku"
"tidak tidak lo emang ga sopan, tapi bukan berarti Zora ngelarang, emosi kaka saat ini mungkin butuh diluapkan. Tapi Zora yakin seiring bertambahnya waktu dan banyak pengalaman Kakak akan bisa mengontrolnya suatu saat"
"umur lo masih kecil tapi omongannya kaya orang dewasa aja bocah" mengacak-acak rambut Zora
"kusut jadinya rambut Zora" merapihkan kembali rambut "lagian itu kata papa Zora, orang Zora juka masih sama suka ngambek sama mama, apalagi sama bang Sky dia mah udah kaya partner berantem aja buat Zora."
"makasih" tiba-tiba kata itulah yang terpikirkan oleh Arju
"buat"
__ADS_1
"kau ada dipihakku"
"sorry Zora ga dipihak lo ka" bercanda Zora
Arju pun tertawa saat Zora melontarkan candaan padanya. Dan tak lama ia merasa lelah tertawa dan menyenderkan kepalanya dibahu Zora sambil tersenyum.
"bentaran aja kaya gini"
"lain kali kalo ada masalah cerita aja, mungkin Zora bisa bantu nyari solusinya"
"iya iya" jawab Arju sambil memejamkan matanya dengan kepalanya masih menyender di bahu Zora. " tapi gua lebih butuh sandaran dibanding saran"
"ehmm Zora tahu" Zora menepuk-nepuk pundaknya "pundak Zora terbuka lebar" Zora kembali melanjutkan tontonannya dengan Arju yang menyenderkan kepalanya pada Zora.
"kak udah mau megrib, Zora pamit mau pulang" disaat waktu tak terasa begitu cepat dan hari matahari akan berganti menjadi bulan.
"gua anterin ya?, sekalian nyari angin, jangan nolak please kali ini aja"
"ya udah ayo keburu megrib" Zora memang tak berniat menolak ajakan Arju
"tunggu bentar bawa motor dulu"
Tak lama Arju datang dengan sepeda motornya. Zora langsung membereskan barangnya melihat kedatangan Arju. Dan setelah dirasa siap Zora menaiki motor yang dikendarai Arju. Arju menyalakan mesin motornya dan berjalan menuju arah rumah Zora.
Ingin rasanya berlama-lama dengan Zora saat ini, namun Arju paham jika hari mulai gelap dan Zora pasti ingin cepat sampai dirumahnya.
"Zor laper ga?"
"kenapa emang" teriak Zora pada Arju, karena lagi dimotor jadi suara Zora terkadang tak terdengar, begitu pun sebaliknya. Jadi mereka berbincang harus sedikir berteriak.
"gua laper, nyari makan dulu yu"
"lo yang teraktir?"
"iya gua traktir, mau ga?"
"ya udah ayo, sebelum keburu malem"
Arju memarkirkan motornya disebuah restoran ayam yang ternama, dan mulai memesan makanan.
"lo mau pesen apa?"
"samain aja"
"gua mau pesen ayam sama nasi plus cola, lo mau?"
__ADS_1
"iya samain tapi ga pake cola, air putih aja"
"gua pesenin lo nyari tempat buat duduk"
Arju pergi untuk memesan makanan sedangkan Zora mencari tempat duduk untuk mereka makan. mata Zora tertuju pada meja yang dipojok dan terlihat kosong, tak perlu berpikir lama Zora menempati tempat itu.
Tak lama kemudian Arju datang dengan membawa minuman yang mereka pesan tadi.
"lo yakin cuman minum air putih doang?" menyodorkan minuman mineral pesan Zora
"hemm yakin ini udah mau malem ga baik buat tubuh"
"wiih kenalin nih anak kesehatan" terkagum pada Zora
"tuaan dikit aja ntar ngerti omongan Zora"
menyela perbincangan mereka, pesanan oun datang. Tanpa perlu merasa malu Zora pun menyantap makanannya.
"terimakasih traktirannya, selamat makan" Zora tak lupa untuk baca doa
"eehhmm makanlah"
senang dirasa oleh Arju, siapa sangka Zora yang diajak untuk dianter pulang aja selalu menolak, tapi kini liahatlah bahkan mereka makan bersama layaknya pasangan lagi kencan.
Sambil makan, obrolan mereka oun terdengar dan terlihat sangat asik. terbukti dengan melihat mereka tertawa lepas sambil makan. bahkan sesekali Arju tersedak oleh makanannya karena terlalu banyak berbicara.
Acara makan-makan oun selesai. Zora dan Arju melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Zora. tak membutuhkan waktu yang lama dari restoran itu. Hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk sampai dirumah Zora.
Arju menghentikan motornya ketika Zora bilang rumah yang ditunjuk Zora adalah rumah orang tuanya.
"mampir dulu ga?" ajak Zora
Ingin rasanya Arju berkata iya, tapi ia sadar kondisi. Ayahnya tak pernah mengajarkannya tak tahu dalam bertamu.
"ga usah makasih lain waktu aja, udah malem soalnya, ga enak kan dilihatin orang lain juga"
"iya udah, lagian Zora juga ga serius nawarinya, hehe" Zora tersenyum jail
"ya udah gua balik ya, bye" Arju menyalakan mesin motornya dan pergi terburu-buru
Masalahnya jika dia tak langsung pamit, Arju akan merasa semakin betah disitu dengan Zora.
"bye, makasih traktirannya lain kali lagi ya" Zora sedikit berteriak
Melihat motor Arju sudah tak terlihat, zora masuk kedalam rumahnya dan mengistirahatkan dirinya.
__ADS_1
"aahh akhirnya nemu kasur juga"