
"aaah ini udah hampir seminggu,, tapi kenapa iya masih maraaaah"ucap frustasi Zora karena semenjak kepulangannya dari pesantren kilat itu Arju tak pernah mengajak Zora berbicara. Dia bahkan menghindari Zora saat tak sengaja berhadapan.
Kali ini Arju jika tanpa sengaja berpapasan dengan Zora akan memalingkan wajahnya seolah-olah mereka tak saling kenal. Bahkan jika Zora yang terlebih dahulu menyapanya Arju akan mengabaikannya. Dan ketika situasi mengharuskan mereka bersama pun Arju akan bersikap acuh pada Zora, san lebih mengandalkan orang lain.
"apaan ini apa kalian sudah putus makanya ga saling bicara?, kesempatan besar untukku dong kalo gitu" nada bicara risma sengaja ia besarkan volume suaranya agar terdengar oleh Zora dan Arju.
Mereka sedang piket bareng-bareng untuk membersihkan ruang alat.
"kenapa harus hari ini sih piketnya pada berat lagi ini alat-alat, mana dari pagi belum makan" gumam Zora yang rak terdengar oleh orang lain
Karena ini jam latihan tentu saja waktu sudah menunjukan sore hari.
"aww Arju bantuin berat sekali ini barangnya" sengaja membuat nada suaranya seperti orang yang manja
Arju yang biasanya mengabaikan Risma tanpa mengeluh ia langsung membantunya. Tiga perempatnya ruang alat selesai di bereskan, tentusaja oleh Zora dan Arju. Sementara Risma hanya asik tertawa sambil melihat handphonenya.
Karena Zora melewati sarapannya, dan disiang hari dia makan sembarangan. Membuat nyeri di lambungnya kambuh kembali.
"sial kenapa harus kambuh sekarang sih" Zora bergumam sambil memegang sisi perutnya
Zora sekarang menghentikan aktivitasnya berusaha menetralkan ekspresi wajahnya dan menyembunyikan rasa sakitnya. Dan duduk santai dibangku menunggu rasa sakitnya hilang sedikit.
"heh kako mau malas-malasan mending pergi aja dari sini ganggu orang lagi berduaan aja tahu" Risma sedikit mendorong tubuh Zora
Zora yang biasanya tak mudah terdorong kini pertahanan sedikit goyang. Ekspresi wajahnya pun sedikit tak bisa terkontrol karena rasa sakit yang luar biasa. Bakhan untuk berdiri tegak pun Zora hampir kesulitan.
Arju menyadari perubahan dari ekspresi Zora seperti tidak nyaman. "Pulanglah terima kasih untuk hari ini" Ini adalah klimat pertama Arju setelah mendiami Zora selam semingu.
Wajah Arju kembali mendatar seolah mereka tak kenal satu sama lain.
"ko disuruh pulang kan dari tadi dia cuman duduk santai disitu" adu Risma padahal yang dari tadi berleha-leha adalah dirinya sendiri.
"lanjut besok aja udah kesorean, lagian tinggal beresin bagian depan aja" sebenarnya itu hanya alasan aja agar Zora bisa pulang
"ya udah iya" Risma mendekat pada Arju dan berbisik di telinganya "kali ini jangan nolak, kalo ga gua ga bakalan biarin dia nyaman di sekolah ini" sedikit berbisik ditelinga Arju.
"ya ya anterin gua" sedikit menjauh dari Arju lalu merengek minta diantar pulang.
"ya udah ayo,"
"kalo gitu Zora duluan ya, bye" Zora pergi meninggalkan ruang alat
"lihatlah cinta lo bertepuk sebelah tangan, dia keliatannya ga nanggepin lo sama sekali. mending ke gua aja yang jelas-jelas suka sama lo" Risma mengungkapkan isi dipikirannya setelah Zora tak terlihat batang hidungnya.
"berisik mau jadi ga gua anterya?"
"ckk iya iya jdi"
Arju pun mengunci ruangan tersebut dan pergi menuju parkiran untuk mengambil motornya. Dari kejauhan Arju melihat Zora yang berjalan sedikit lambat dari biasanya sambil memegang sisi perutnya dan tangan satunya memegang pada tembok untuk menopang dirinya.
__ADS_1
Motor yang dikendarai Arju berjalan begitu saja melewati Zora yang sedang kesakitan. Tentu saja Zora tak ingin memperlihatkan rasa sakitnya karena tak ingin merepotkan siapapun. Tapi apa dayanya rasa sakitnya kini lebih menguasai tubuhnya.
Karena merasa tak kuat untuk berjalan Zora duduk di sebuah batu pajangan yang ada di dekatnya. Lalu mengeluarkan benda pipih yang berada di saku roknya.
"bang Time udah pulang?" tanya Zora setelah menekan tombol panggilan pada kakaknya.
"euy Zora kenapa suaramu kaya gitu" Time terdengar khawatir di sebrang telpon sana.
"bang Time jemput Zora di sekolahan, perut Zora ga kuat sakit, Zora udah ga kuat jalan lagi" Zora hampir menangis pandangannya sudah buram karena genangan air dimatanya yang Zora tahan.
"tunggu bentar abang nyuruh Sky gapapakan?, Abang bentar lagi mau ada rapat di zoom, gapapakan?" Time khawatir tapi dia tak bisa meninggalkan rapatnya.
Time bergegas menelpon Sky untuk menjemput Zora. Berbeda dengan Time. Sky itu memang suka menjili adiknya tapi jika terjadi sesuatu pada Zora Sky lah yang akan menjadi orang pertama yang berada disisi Zora.
Tanpa pikir panjang Sky menjalani motornya dengan kecepatan tinggi. Hingga tak menunggu sampai 3 menit saja Sky sudah sampai di posisi Zora.
"bang sakit" melihat Sky didepannya Zora pun menangis
Inilah Zora jika kesadarannya sedang tak ia kuasai, dia akan merengek manja dan pada Sky pun akan memanggilnya hormat layaknya kepada seorang kaka. Tetapi jika kesadarannya dia kuasai hanya tersisa nama Sky lah yang ada di pikirannya untuk menjadikan panggilan kakaknya.
"ayo naik, kita pulang" Sky sedikit marah karena khawatir. Zora melakukan pintanya Sky dan mereka pun berjalan menggunakan sepeda motor menuju rumahnya.
Sepanjang perjalanan Sky mengomeli Zora karena tak menuruti mamanya tentang sarapan dan lin sebagainya yang menyebabkan maagnya Zora kambuh. Sedangkan Zora jangankan untuk mendengarkan ocehan Sky untuk duduk tegap aja dia kesusahan dan hanya memfokuskan dirinya terhadap rasa sakitnya agar berkurang.
Zora hanya menyembunyikan wajahnya di punggung Sky dan menangis. Sky yang merasa punggungnya basah itu pun menghentikan omelannya dan mempercepat kembali laju kendaraannya.
"turun! gua ga bisa anter ada urusan" perintah Arju pada Risma
"lo mah kebiasaan kalo anterin gua, guanya suka diturunin di tengah jalan. Kenapa ga nyampe rumah aja, kan sekalian kenalan sama camer juga"
"berisik" hanya itu yang diucapkan Arju sebelum menjalankan kembli motornya memutar balik arah.
Risma ditinggal dengan gerutuannya sendirian di oinggir jalan," Arju lo bener-bener ya, cariin gua ojek dulu ke sebelum ninggalin gua, ga ada perasaan banget sih sama gua" melihat Arju yang sudah menjauh dari posisi Risma berdiam diri.
Arju memutar arah kembali menuju sekolahnya berharap bisa menemukan Zora. Ia menusuri sepanjang jalan yang biasa Zora lewati namun tak kunjung bertemu. Hingga sampai di halte biasa Zora menunggu mobilnya datang.
Arju khawatir karena tak kunjung menemukan Zora, biasanya Zora akan diam sebentar di halte selama 5 menitan lalu menaiki angkot yang menuju rumahnya. Entah lah Arju tak tahu isi pikirannya Zora kenapa melakukan itu, namun itu sudah menjadi kebiasaannya.
Dirasa Zora tak asa di sana Arju semakin khawatir, dan bergegas menuju rumahnya Zora sekedar menghilangkan rasa khawatir yang mengganjal dihatinya. Sekaligus berharap agar Zora memang sudah ada di rumahnya. Dan Arju pun kembali melajukan kendaraannya namun kali ini menuju arah rumah Zora.
Saat saampai di rumah Zora Arju bisa bernafas lega mendengan suara tangisan dari arah dalam rumah.
"kan udah mama bilang kalo pagi-pagi itu sarapan dulu kan jadinya gini gara-gara ga nurut, apa susahnya sih diturutin ga berat juga permintaan mamamu ini Zora" teriak ibunya Zora sedikit marah yang terdwngar sampai ke luar rumah
"ya udah maafin Zora, jangan dimarahin orang lgi sakit juga" suara Zora yang bercampur dengan tangisan itu pun terdwngar sampai ditelinga Arju.
Arju merasakan kelegaan dihatinya karena Zora sampai dirumah dengan selamat. Namun entah kenapa hatinya dilanda rasa bersalah pada Zora. Ia kecewa pada dirinya sendiri yang sudah memperlakukan Zora dengan buruk akhir-akhir ini. Padahal jika dipikir kembali semuanya bukan salah Zora. Jika yang disukai Zora adalah lelaki lain memangnya kenapa?, toh Zora pun tak dapat mengendalikan perasaannya sendiri akan terjatuh pada siapa.
Arju kembali melajukan motornya pulang menuju rumahnya.
__ADS_1
Keesokan harinya sesuai dengan perjanjian kemarin mereka akan lanjut memberesi barang-barang di ruang alat pada hari ini.
Zora tetap memaksa ikut beres-beres walau kini wajahnya sudah terlihat pucat pasi. Dan itu semakin membuat Arju marah pada dirinya.
Risma yang melihat Arju marah pada Zora namun tindaknnya bertolak belakng dengan ekspresi di wajahnya.
"jangan disentuh duduk aja dipojokan" Arju dengan nada kesal lalu mangambil alat yang hendak Zora angkat
Zora hanya bisa menuruti pinta dari Arju, karena setiap dia hendak memegangi barang untuk membantu membereskan Arju akan keburu melarangnya dengan nada marah. Dan Zora yang sedikit kesal pun hanya menuruti keinginannya.
Seharusnya Risma lah yang berada diposisi Zora. Itu pemikiran Risma yang mendapati cemburu pada Zora. Karena rasa cemburunya yang menguasai emosinya Risma ia dengan sengaja mendorong Zora hingga menubruk tumpukan alat yang sudah disusun rapih hingga alat yang di letakan paling atas hampir terjatuh.
"sorry gua ga sengaja" mulutnya bekata maaf tapi hatinya tidak dan itu terdengar dari caranya berbicara.
Tak ingin disalahkan karena melihat tatapan Arju yang begitu marah padanya, Risma pun pergi meninggalkan ruang alat dengan membanting pintu dengan keras, hingga membuat keseimbangan alat yang tadi hampir terjatuh itu jatuh menimpa Zora tepat di kepalanya.
Zora terjatuh lemas setelah melihat banyaknya darah yang ia keluarkan di atas keningnya. Arju yang panik itu pun dengan sergap langsung menarik Zora kepunggungnya untuk dibawa ke UKS. Zora sudah tak kuat lagi sakit maagnya belum sembuh total ditambah dengan darah yang tak berhenti mengalir membuat Zora menjatuhkan kesadarannya dipunggung Arju.
Saat membuka matanya Zora sudah terbangun di UKS. Zora pun terbangun dari posisi tidurnya menjadi duduk di ujung brangkar pasien. Zora terkejut mendapati Arju yang berada dihadapan kini.
"jangan banyak gerak dulu, lukamu masih basah nanti kebuka lagi" melihat Zora memegang kepalanya
"aww" tanggan Zora mendarat tepat dilukanya
Arju yang tadinya mengabaikan Zora kini gerak geriknya terlihat sedang menghawatirkan Zora. Melihat Arju bersikap seperti itu pun Zora akhirnya menangis melampiaskan kekesalannya.
"kanapa nangis?, apa sakitnya parah?, mau ke rumah sakit?"
"hemm hiks sakit hiks" Zora terbata-bata dengan tangisannya
"dimana sakitnya" Arju melihat lihat kepala Zora secara dekat melihat dimana rasa sakit yang dirasakan Zora.
Zora pun mendorong tubuh Arju agar menjauh. "bukan disini" menunjuk kepanya "tapi disini" Zora menunjuk pada dadanya. Arju sedikit kebingungan lalu setelah menyadarinya ia pun tersenyum yang membuat Zora menangis semakin jadi karena merasa kesal.
"jangan ketawa tersenyum, ga ada yang lucu. Zora lagi kesel sama kakak jadi jangan mendekat." Zora dengan nada marahnya sambil menangis
"kesel kenapa?" bukanya menenangkan Zora malh meledeknya.
"pikir aja sendiri, pikirnya enak apa didiemin selama seminggu lebih, Zora pengen ngediemin balik tapialah ga bisa lagi, aaahhh pokonya Zora kesel" Zora menangis sambil mengungkapkan kekesalannya.
"iya maaf maaf" Arju mengelap air mata Zora yang terjatuh dipipinya.
"ga bakalan kaya gitu lagi, sekarang berhenti nangisnya ntar disangka orang diapa-apain coba"
"bodo amat, tapi janji?" Zora mengeluarkan jari kelingkingnya
"hem asal kamu berhenti menangis"
Zora menghentikan tangisannya dan Arju menyambut jari kelingkingnya Zora lalu memepertemukan jari kelingkingnya juga. Mereka berdua pun melemparkan senyuman satu sama lain dengan Zora yang masih terdengar sedikit isakannya.
__ADS_1