Lucky Star

Lucky Star
DIBALIK SIKAP CUEKNYA ZORA


__ADS_3

Saat menaiki angkutan umun perasaan Zora sudah tak enak melihat Arju yang biasanya menempel pada Zora kini membisu mendiamkan Zora.


"Zora tahu Zora salah, maafin Zora yah,. Maaf kalo kesinggung dengan perkataan Yadi tadi, Zora mewakili dia buat minta maaf" Arju tetap masih diam


"aishh, ada apa dengannya?" gumam Zora pelan namun masih terdengar oleh Arju.


Lima menit perjalanan kepulangan mereka dari tempat pesantren menuju rumah mereka, sampai saat ini mereka tak saling berbicara. Tak lama angkot pun berhenti dan 2 penumpang laki-laki naik ke dalam mobil.


"bang Time... Sky,, akhirnya terasa hidup" teriak Zora saat melihat 2 pria yang beru menaiki mobil angkot yang sama dengan Zora adalah ke dua kakanya.


"Zora ngapain jam segini baru pulang, hayo ngaku abis dari mana?" Tanya curiga Sky


"apaan sih lo ganggu aja, sonoan biar bang Time yang disini" menyuruh Sky menjauh dan Time mendekat.


Posisi Zora dan Arju bersebrangan dan paling ujung. Time duduk di samping Zora dan Sky mengalah duduk diseberangnya dan di smping Arju.


Saat Time dan Sky telah benar-benar duduk Zora langsung menyambar masuk kedalam pelukan Time. Merindukan keluarganya karena hampir 4 hari tak berjumpa.


"kangen" rengek Zora dalam pelukan Time


"kenapa pulang sendirian, ga bareng sama yang lainnya?" membalas pelukan Zora dan mengusap rambutnya.


"tadi dicegat Yadi dulu pas mau pulang" adu Zora pada kakanya


"untung aja papasan dijalan kalo ga gimana, lo pulang sendiri ntar" Sky ngungkapin khawatirnya dengan caranya


"dih Zora ga sendirian ko, ni bareng kakak kelas" Nunjuk Arju


"apa kabar ka?" Sapa Arju sebelum memperkenalkan dirinya


"jadi ini yang namanya Vian?" nadanya sengaja sedikit mengejek


"Vian?, siapa Vian?"


"Sky lo rese anj*g" kesal Zora


"Zora mulut" peringatan Time


"hehe maaf keceplosan" Zora melihat Sky sudah dengan wajah mengejeknya


"bukan, kenalin namanya Binara Aarju, panggilannya Arju" berbicara pada Sky dan Time "dan ka Arju kenalin ini Kakak Zora Time dan ini Sky." bicara pada Arju " udah kan kenalannya jadi udahan jangan manjang" Zora saat memperkenalkan duduk dengan tegap saat beres memperkenalkan kembali ke pelukan Time.


Tubuh Zora jatuh dalam pelukan Time kakanya, tapi matanya tertuju pada Arju.


Tiga menit cukup untuk mereka berbincang dan supir angkot menghentikan mobilnya untukmenarik penumpang. Dan dapat lah kembali dua orang penumpang yang ternyata dikenal oleh Zora, Sky dan Time.


"eh kalian ternyata, kebetulan sekali" ungkap basa-basi seorang ibu-ibu itu.


"Zor lo pernah dengaer kumbang bersekutu?"


"ga napa emang?"

__ADS_1


"sekutunya pecah belah jadi serpihan sampah" Zora dan Sky pun tertawa, seperti saling memahami candaannya begitu pun dengan Time tamu hanya mengeluarkan senyuman dibibir saja.


"aku tahu tingkah absurdnya dari mana sekarang" gumam Arju pelan agar tak ada yang mendengar.


"eh jeng anakmu sekarang udah SMA ya tapi napa kalo anak yang sebelah mah kalo pulang suka malem terus ya" bermaksud pada Zora


"iya juga ya, kalo dilihat-lihat anakmu juga pulang paling telat sore, bukan mau malem"


"namanya anak perempuan harus dirawat kaya berlian biar ga dirusak jeng"


"Sky lo tau?, kalo berlian diumpetin kadang ga ada harganya, karena ga ada hal yang menarik darinya, berlian mahal kan diunjukin dulu biar orang-orang tahu kalo berlian itu mahal, trus kalo udah ada yang nawar harga mahal dia bakal simpen baik-baik berlian itu agar ga dicuri" Zora sedikit meninggikan suara saat berbicara dengan Sky.


"Zora kontrol diri" Time tak terima adiknya jadi bahan gosipnya tapi ia masih bisa menahan diri.


"maaf" tapi wajahnya tak menunjukan merasa bersalah.


"eh jeng tunggu aja paling bentar lagi ada kabar bakalan gelar nikahan malem-malem"


Zora tak bisa menahannya lagi selama ini dia diam aja saat mereka berusaha menyindir Zora. Tapi sekarang ia tak terima karena mengusik kedua kakaknya juga. Saat sendiri Zora merasa bodo amat tapi jika dihadapan kedua kakaknya Zora takan terima.


Kedua kakaknya mendidik dan mendampingi Zora dengan nyaman agar Zora tak keluar dari kata tidak hormat. Perjuangan mereka yang melakukan apapun untuk Zora tapi disepelekan hanya oleh orang yang tak tahu apapun Zora tak bisa menerimanya.


Zora berdiri dari kursinya dan bergeser menjadi di tengah-tengah antara Sky dan Arju. melihat Zora yang seperti itu Time tak bisa menghentikan lagi Zora.


"Sky lo mau dengerin cerita ga" Zora ngajak bicara Sky dengan pandangan menuju ke dua ibu-ibu yang dari tadi kerjaannya nyindir Zora.


"dengerin nih kan gua punya temen nih, nah temen Zora kan punya temen sekelas. Nah si temen kelasnya ini izin nyampe 1 bulan lamanya ga masuk sekolah, bilangnya mah sakit typus trus mau operasi usus buntu" Zora tak mengalihkan pandangannya sekalipun


"Zora kapan mama sama papa ngajarin kamu percaya sam gosip?" tanya Sky sedikit kesal


"mama ga pernah ngajarin tapi anehnya kenapa orang-orang nuduh mama terus ga becus jagain anaknya" ungkap kesal Zora


"nih semisal kalo yang ngomong kaya gitu bukan orang tua, udah Zora abisin tuh buat dimalu-maluin orangnya, Zora ungkap semuanya kalo bisa kebusukan anaknya. Berani dia sentuh keluarga Zora, Zora ga bakalan tinggal diam." ancam Zora dengan tatapan tajamnya


"bersiaplah sikap nakalnya akan dimulai" Time memperingatkan Arju, tentu saja Arju tak paham maksudnya.


"Sky inget ga pas malem-malem nyari makan, trus ada suara aneh. Kita berdua tengokin pas diliat, anj*g itu mata Zora dewasa sebelum waktunya, gatel ini tangan buat motret. lagian ngapain malem-malem jam 11 beduaan di deket gudang coba, untung Zora punya buktinya jadi ga bisa disebut pembohong" Zora mengancam secara terang-terangan


"lo juga pasti inget yang kejadian pencurian itu, mana kita punya buktinya juga, kita diem aja masih karena kasian aja ye kan Zor, kalo tau gini mending omongin langsung aja Zor " Sky ikut memanasi keadaan.


mereka berdua terus memojokan ibu-ibu itu secara terang-terangan. Hingga ibu-ibu itu merasa risih dan memilih turun dari angkot.


"Mang kiri disini aja" supir angkot pun menghentikan laju mobilnya membiarkan kedua ibu-ibu itu turun dari angkot.


"gerah kan kalo diem disini terus, lagian Zora dilawan" teriak Sky sengaja agar suaranya terdengar oleh mereka.


Kalian mungkin menyangka Zora pun sedikit keterlaluan, ya biar dia keterlaluan hari ini. Selama ini Zora sudah memendam rasa kesalnya.


Zora saat menduduki bangku SD adalah anak yang periang, nakal dan sedikit jahil. Perubahannya menjadi pendiam dan anak rumahan semenjak menginjakan dirinya di bangku SMP.


Zora dulu dan sekarang tak ada bedanya dia sering menyibukan dirinya dengan kegiatan sekolah, yang mengakibatkan keterlmbatan pulang ke rumah. Tak seperti murid lainnya jika jam 1 siang sudah ada dirumah, Zora baru memulai kegiatan tambahannya disekolah hingga di sore hari dia baru pulang.

__ADS_1


Tapi tak semua orang mendukung kegiatan yang Zora lakukan. Memang gosip dan mulut tetangga sangat tak bisa dijaga. Sindiran dan tuduhan yang tak terjadi padanya membuat Zora sedikit tak percaya diri untuk keluar. Ibunya pun menyadari perubahan anaknya itu.


Ibunya juga tahu penyebab semuanya, dan disaat Zora melampiaskan kesalnya dengan cara menonton ibunya tak pernah memarahi atau melarangnya. Begitu pun dengan ayahnya yang mengetahui ceritanya dari sang istri. Selama itu mengalihkan Zora dan menjadikannya bahagia dan tak merugikan orang lain, ibunya selalu mendukung keputusan Zora.


"Zora," Time memanggil Zora yang tengah masih asik tertawa dengan Sky masalah yang tadi diangkot.


"hmm?" Zora menghentikan tawanya dan bertanya-tanya pada Time. "kenapa?"


"ga papa, abang cuman udah lama aja ga liat Zora yang seperti ini"


"hmmm" menyadari maksud Time Zora berdeham dan mengendalikan ekspresinya agar tak terlihat terlalu senang.


"tapi Zora" sedikit ada jeda sebelum melanjutkan ucapannya "abang masih penasaran siapa Vian?"


"baaanggg" rengek Zora agar kakanya tak membahasnya


"iya iya tahu, penasaran aja, tunggu tapi ko Sky tahu?"


"tahu tuh," Sky yang jawab


"awas lo ga ga lagi gua curhat sama lo deh" menunjuk dengan telunjuknya


"sopan dikit, gua kaka lo. Ke si Time aja lo manggil abang lah ke gua lo seenaknya manggil nama"


"mau di panggil abang juga?, makanya adenya disayang bukannya dijailin mulu"


"udah udah bakalan manjang kalo udah kaya gini" cegah Time sebelum mereka beradu mulut mempermsalahkan hal kecil.


Arju yang melihatnya iri, bukan karena ia juga ingin seorang kakak yang seperti kakak nya Zora. Melainkan ia pun ingin jadi bagian dari ketawanya Zora atau alasan dari bahagianya Zora.


perbincangan cukup panjang dan kini mobil berhenti tepat di gang menuju rumah Zora. Ketiga bersaudara itupun menginjakan kaki ditanah turun dari mobil.


"ka Arju Zora duluan ya, hati-hati dijalan" Arju hanya mengangguk dan melemparkan. senyuman sebelum angkot yang ditumpangi Arju berjaln kembali.


Setelah mobilnya angkotnya sudah menjauh dan tak terlihat oleh Zora, Zora berlari menghampiri kedua kakanya yang tengah merjalan menuju rumah.


"tungguin Zora" teriak Zora sambil menghampiri.


"oh ya ngomong-ngomong kenapa kalian bisa pulang bareng?, trus dimana motor bang Time?" itu sudah jadi pertanyaan Zora dari tadi. Namun atensinya teralihkan dengan hal lain tadi.


"ada di bengkel kalo motor" jawab Time yang mendapati kekehan dari Sky


Jadi saat Sky berangkat kuliah ia memunjam motor Time lalu mengantarkan Time ke kantornya. Setelah selesai niat mengembalihak namun bannya menginjak sebuah paku yang mendapatinya menjadi sedikit robek. Bukannya menuju bengkel untuk menambalnya, Sky malah terus melanjutk perjalannya ke kantor Time.


Alhasil saat Time dan Sky jalan pulang robekan ban semakin membesar dan mengharuskan dibawa ke bengkel. Setelah dicek ban dalamnya harus diganti. Bengkel itu kehabisan setoknya dan melihat hari yang menjelang petang jam kerja pekerja bengkelnya sudah habis. Jadi motornya disimpan di bengkel untuk diperbaiki besoknya. Dan karena mereka kenal dengan pemilik bengkelnya mereka mempercayainya.


"oh jadi begitu ceritanya" Zora menyimak cerita Time


"Zora sendiri gimana pesantren tiga harinya?"


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumahnya dengan berbagai cerita dari Zora yang menimbulkan banyak tawa disana.

__ADS_1


__ADS_2