
Sesuai janjinya Zora ia akan menunggu digerbang selesai dari kegiatan makan siangnya. Kerika disore hari mereka tengah merapihkan barang mereka bersiap untuk pulang. Dan tepat dijam 5 sore mereka pun pulang setelah mendapat sambutan dari kepala sekolah di pesantren itu.
Saat anak-anak lain sudah beranjak pulang Zora setia dengan menunggu didepan gerbang menunggu Yadi yang tak kunjung datang.
"si Yadi bener-bener lama banget, ga nongol-nongol itu anak" Zora yang mulai bosan menunggu di depan gerbang.
"Zor" teriak dari arah dalam
"Yad,..." ternyata bukan Yadi "gua kira Yadi"
"ngapain masih disini?, mau bareng ga?"
"nungguin temen"
"temen?, yang mana orang didalam udah ga ada siapa-siapa, tinggal gua doang soalnya abis ketemu kepala sekolah dulu, trus gua liat udah ga ada siapa-siapa "
"bukan temen kelas ko ka, oh iya takut lama ka Arju duluan aja" ternyata itu Arju.
"lamanya sampai kapan ini udah mau gelap, keburu malem"
"sebentaran doang ko, lo kalo buru-buru duluan aja"
"ga buru-buru ko, ya udah gua tungguin aja"
"terserah, Zora udah ngomong"
"emang siapa yang lagi lo...." ucapannya terpotong karena Yadi keburu teriak dari kejauhan dan mengalihkan fokus Zora.
"Yad lo mana amat anj*g"
"astaghfirullah Zora itu mulut dikontrol dikit Zor, lagian kan lo tahu sendiri jam bebasnya di jam segini" alasan Yadi.
"iya tapi Zora keburu kesel tau ga"
"ya maaf maaf beb jangan marah-marah nanti cantiknya ilang" Yadi berkata seperti itu mendapatkan tatapan dingin dari Arju
Merasa ada hawa ingin membunuh didekatinya, Yadi mendekat ke arah samping muka Zora dan berbisik tepat ditelinganya. "Zora siapa dia?" mendeteksi hawa tersebut berasal dari arah Arju.
"ehhmm" Yadi berdeham sambil sengaja sedikit meninggikan nada suaranya.
"oh jadi ini yang namanya Vian itu Zor?" bertanya pada Zora tapi tatapannya pada Arju
"Yadi apaan sih lo, malu-maluin"
"kan emang konsep gua kaya gitu Zora"
"ya tapi lo salah orang"
"udah gua duga, melihat dari penampilannya dia bukan tipe lo" Yadi meninggikan suaranya sengaja agar didengar oleh Arju
"ka maafin temen Zora yah, dia mah emang kaya gitu rada-rada orangnya" Zora pun menarik Yadi sedikit menjauh dari Arju.
"Yadi lo ngapain?" Zora sedikit kesal, namun kebih ke malu juga.
"biarin Zora" Yadi berbisik kembali ditelinga Zora san membuat Arju semakin menjadi-jadi dengan amarahnya, namun ia tahan.
__ADS_1
"dia yang namanya Arju?" Yadi belum membenarkan posisinya.
"lo bilang lo bingung, sini biar gua bantu" kini Yadi yang menarik lengan Zora mendekat kembali dengan Arju.
Arju ingin marah namun jika marah dia bisa apa? toh dia bukan siapa-siapa Zora. Hanya sekedar kakak kelas.
"kenalin gua Yadi calon imamnya Zora" Yadi memberikan tangannya mengajak kenalan
"kebiasaan lo" ta terima dengan pernyataannya yang mengatakan calon imam
"Arju" hanya membakas singkat dan dingin
Zora merasakan hawa itu tapi sebisa mungkin tenang agar situasinya terkendali.
"sorry gua kira lo yang namanya Vian, bukan toh bagus deh tadinya mau ajak nongkrong buat ngobrol berdua" Yadi mengatakannya dengan sedikit seringaian di sudut bibirnya tapi tak terlihat oleh Zora.
" emang kalo dia Vian lobmau ngajak ngobrol apa?"
"gua cuman mau bilang, kalo ga suka sama lo mending langsung bilang aja, jangan ngasih harepan. Biar gua yang bahagiain lo" tentu saja Zora tahu maksud Yadi
"omongan lo mulai ngelantur Yadi" Zora tak menyangka Yadi akan bertindak seperti itu.
"ngomong-ngomong" Yadi mengalihkan pembicaraan karena tahu posisi Zora "lo punya foto yang namanya Vian itu?" Zora mengangguk
"gua ada tapi wajahnya ga jelas" Zora menunjukan photo Vian yang pernah Zora ambil dari kejauhan
"yang ini?" yadi menunjuk tepat orangnya
"ko lo tau?" Zora terheran temannya ini kenapa bisa tahu padahal belum pernah Zora kasih tahu "jangan-jangan lo kenal dia?"
"gimana?"
"rapi baik cerdas pengertian, dan intinya tahu situsi"
"kalo dipikir-pikir bener juga"
Mereka mulai mengabaikan keberadaan Arju yang ada di sebelahnya.
"udah keburu megrib, gua balik dulu ya"
"ya udah gua anter depan"
mereka mulai melangkahkan kaki menuju pemberhentian angkot. Sambil tertawa dan bercanda Yadi dan Zora sedikit melupakan Arju yang mengikuti dibelakangnya. Zora sadar sebenarnya dan ia ingin meminta maaf pada Arju. Tapi Zora udah peringatin Arju terlebih dahulu dan kini Zora hanya fokus ke Yadi dikarenakan pertemuan mereka hanya singkat yang entah kapan akan bertemu kembali.
"Zora lo mau tahu berita terbaru?"
"apaan?"
"makan oreo itu enaknya diputer dulu baru dijilat terus dicelupin" emang kadang Yadi ga bisa di mengerti
"dicelupinnya ke kolam renang" timpal Zora
"kolam renangnya punya bebek" Yadi ga mau kalah
"tapi bebeknya keburu dipanggang" yang anehnya adalah Zora menimpali semua candaan dari Yadi yang ga dimengerti orang.
__ADS_1
Mereka berdua pun tertawa melihat aksi dan kelakuan diri mereka masing-masing.
"lihatlah cuman Yadi yang bisa ngeluarin sifat absurdnya seorang Zora. Nyampe rumah jangan nangis karena kangen sama gua ya"
"emang gua lo"
"Zor liburan kali ini lo balik kampung ga?"
"kan mama papa asli sini Yadi "
"maksud gua kampung lo yang ada di Korea itu"
"ah kalo itu mah jangan ditanya, kenapa emang?"
"Ancol yuk?"
"lo bawa cewe lo?"
"ya iya lah kan lo cewe gua Zora, makanya gua ngajak lo juga"
"ga ah ntar Zora jadi kamcong lagi"
"ya udah kalo ga mau"
"dih"
"Zora ibu nanyain lo"
"ibu apa sepupu lo?"
"tau aja lo, ya keduanya atuh zor, nanyain kapan kerumah?"
"ga tau males Zora ketemu sepupu lo, lebih absurd dari lo orangnya"
"masih asik ngobrolnya?, angkotnya udah ada" Arju yang memotong obrolah mereka.
Setelah mobil mendekat Zora dan Yadi berpisah dan melepas lambaian tangan. Zora menaiki mobil tersebut diikuti Arju dari belakang.
"hati-hati bro, jaga dia buat gua" Yadi memegang pundak Arju sebelum memasuki mobil
"siapa lo?" jawab dingin Arju
Sebenarnya dari tadi Yadi menguji Arju. Dia akan bersikap seperti apa jika mereka seperti itu. Dan melihat sikap Arju yang bisa menahan emosinya dan tak gegabah dalam bertindak. Yadi merasa lega atas kedewasaan Arju terhadap Zora.
Yang Yadi tahu Zora itu emang cuek dan bodo amat dengan orang lain. Tapi hatinya sensitif jika dengan orang-orang terdekatnya. Atau orang-orang yang udah dia anggap nyaman berada didekatnya. Yadi juga tau, Zora orang yang sangat tahu situasi. Tau apa yang harus dia lakukan agar tak menyakiti orang di sekitarnya.
Namun terkadang Zora lupa dengan dirinya sendiri. Dan itu lah yang membuat orang disekitarnya selalu marah pada Zora. Bukan karena sifat cuek atau masa bodonya, tapi sifat dia yang selalu berbuat baik tanpa orang sadari.
"maaf ya Zora lebih fokus ke Yadi tadi" Zora mengutarakan keresahanya
Arju hanya membalas dengan anggukan ke Zora. Dan itu adalah percakapan mereka hingga tak sengaja Zora bertemu dengan kedua kakaknya dijalan hendak pulang kerumah.
Setelah sampainya didepan gang rumah Zora, ketiga saudara itu pun melangkah keluar mobil.
"Ka Arju hati-hati dijalannya ya!" Arju hanya menatap Zora tanpa bersuara lalu memalingkan kembali wajahnya
__ADS_1
Zora sedikit kepikiran ia juga merasa bersalah pada Arju. Kejadian hari ini pasti menyerang perasaan Arju secara bertubi-tubi.