Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 21


__ADS_3

Nadine akhirnya bisa bernafas lega sekarang, Hanasya juga sudah masuk ke dalam kamar dan sedangkan Nadine langsung pula bergegas masuk kamar.


"AAAAAAA.. BIBIIII!"


Teriakan Nadine yang begitu kencang membuat pria yang tidur dikamarnya terbangun, dan bi Imah pun tergopoh-gopoh naik ke atas menuju ke kamar Nadine, Hanasya pun tak luput dari rasa penasarannya apa yang terjadi.


"Kenapa non? Ada apa?" tanya Bi Imah dengan terengah-engah menanyakan apa yang terjadi.


"Dia siapa? Kenapa tidur di kamar aku?!" unjuk Nadine.


Hanasya yang melongok itu melebarkan matanya, dia sangat tau pria itu dan langsung bergegas masuk ke kamar kakaknya.


"Om.. Om kenapa disini?" tanya Hanasya yang membuka suara membuat Nadine heran.


"Kamu kenal pria ini?"


Hanasya mengangguk, "Dia adik bunda, aku sama bunda suka video call." jawabnya.


Nadine menatap tidak percaya pria yang tengah duduk di atas kasur itu, "Kamu kenapa tidur disini?! ini kamar ku!"


"Non, mungkin den David salah kamar dan bi Imah taunya dia masuk ke kamar nona Hanasya, makanya bibi ga cek lagi."


Bibir Nadine berdecak, dia menatap kesal pria yang sedang duduk tak berkutik. Kamar yang semula rapih menjadi berantakan setelah pria itu tiduri. David hanya menunjukkan wajah biasa saja tanpa rasa bersalah, matanya sudah segar kembali dan pria itu merentangkan tangannya. Nadine hanya menatapnya tidak percaya dengan kelakuan pria asing itu.


David berdiri, tubuhnya yang tinggi besar itu mendekati Nadine, dia meneliti dari atas hingga bawah tubuh Nadine. Bi Imah yang melihat itu langsung menyuruh David cepat keluar, David hanya menyunggingkan bibirnya dengan tatapan yang membuat Nadine takut sekali. Ketika menatap Hanasya, dia mengusap puncak kepala anak itu.


Hanasya dan bi Imah pun keluar, sedangkan Nadine duduk di bangku riasnya. Lemas sekali dengan kejadian di hari ini, dan baru kali Nadine ditatap mata yang menurutnya sangat kurang ajar sekali terhadap dirinya. Setelah tenang Nadine akhirnya bergegas untuk mandi, dan pergi bekerja.


Sementara David sedang mengobrol dengan Hanasya diruang keluarga, mereka bercanda gurau hingga tertawaan itu hilang saat Nadine muncul dengan pakaian yang sudah rapih. David yang hanya memperhatikan Nadine dengan tatapan yang tentu membuat Nadine tidak nyaman.


"Kakak mau kerja?" tanya Hanasya.


"Hm, kamu disini jangan kemana-mana ya. Tunggu bunda Sarita pulang." jawab Nadine.


Setelah mendapatkan anggukan dari adiknya, Nadine pun akhirnya pergi dari rumah. Nadine menatap jalanan yang begitu ramai orang berlalu-lalang, kafe tempatnya kerja selalu ramai oleh pengunjung entah dokter, perawat, bahkan staf dan pengunjung rumah sakit pun ikut memesan kopi atau cemilan lainnya.

__ADS_1


"Siang.." sapa Nadine saat memasang apron kafenya.


Hari itu Nadine ditugaskan sebagai kasir, begitu banyak pengunjung yang datang memesan minuman. Hingga dirinya tidak sadar bahwa yang ia layani itu Rangga.


"Eoh.." ucapnya terhenti saat menatap mata laki-laki yang sedang menatapnya begitu serius melayani kasir. Rangga hanya tersenyum tipis, lalu melangkah menuju bangku yang tak jauh dari kasir namun berada di pojok. Matanya terus menatap Nadine, membuat perempuan itu sedikit gugup.


"Oh tuan Rangga yang memesan ternyata." ucap pak Husin yang membawakan nampan berisi pesanan Rangga.


Rangga tetap memperhatikan perempuan itu, perempuan yang sangat sulit sekali ia dekati padahal waktunya sedikit lagi untuk memiliki mobil keluaran terbaru milik Jiko. Kali ini Rangga tidak ingin Nadine lolos lagi, baru kali ini seorang Rangga mengejar wanita yang keras kepala, dan biasanya wanita itu langsung mau dekat bahkan menerimanya dengan lapang dada.


"Nadine.." panggil Husin yang membawa 3 paper bag.


"Ada apa pak?" tanya Nadine.


"Kamu antar ini ke rumah sakit depan, pesanannya untuk Nabila yang seperti biasa."


Nadine akhirnya bergegas untuk keluar membawa paper bag itu, dalam hatinya dia selalu bertanya karena hampir setiap hari wanita itu memesan kue atau minuman di kafenya. Kali ini ingin rasanya Nadine ingin menemuinya secara langsung, namun perawat selalu mencegahnya.


"Oh mba Nadine, seperti biasa kan ya?" tanya sekretaris yang sudah mengenal Nadine.


Setelah pamit untuk pergi, Nadine menatap ponselnya yang terus menyala karena Iqbal yang menelepon. Dengan malas Nadine akhirnya mengangkat telepon itu masih di kawasan rumah sakit.


"Ada apa? Aku sedang kerja ka, cepat." ucap Nadine dengan singkat.


"Nanti sepulang kerja, aku jemput! Kamu jangan kemana-mana."


Nadine yang mendengar itu hanya mengeryitkan dahi, sepertinya ada hal yang serius atau dia hanya memarahi Nadine saja karena baru kengangkat teleponnya. Tak lama, Nadine langsung berjalan menuju kafe dengan masih ada Rangga di sana yang sudah ditemani oleh laptop.


Selesai bekerja sekitar jam 9 malam, Nadine melihat Iqbal yang sedang di samping motornya tepat di depan kafe tempatnya bekerja. Rambutnya yang acak-acakan membuat Nadine menghembuskan nafasnya secara kasar, dengan langkah gontai dirinya mendekat pada pria itu tanpa ia sadari Rangga menatap keduanya dari jarak yang tidak jauh.


"Ada apa ka?" tanya Nadine dengan pertanyaan yang datar.


"Maaf, malam itu aku ga angkat." jawab Iqbal dengan pelan.


"Iya aku tau, pasti ka Iqbal sibuk kan?" cetus Nadine, "Tenang aja ka, aku bisa mengatasi masalah ku sendiri." lanjutnya.

__ADS_1


Iqbal hanya terdiam, dia menatap wanita yang ada di depannya. Dirinya bahkan rela menemui Nadine saat Chika sudah tidur, dirinya sangat lelah sekali dengan masalah yang di hadapi saat ini.


"Udah kan? Kalau gitu aku mau pulang." kata Nadine.


Tangannya yang dicekal itu sangat kuat sekali, "Sakit.." eluh Nadine.


"Kenapa kamu tidak mengerti, nad? Apa kamu tau masalah ku? Aku sangat pusing sekarang, ditambah kamu yang berulah seperti kekanakan seperti ini."


Nadine menatap tidak percaya laki-laki dihadapannya, dia menatap dalam pria yang mulai marah. Iqbal terus memperkuat cekalan itu, Nadine yang merasakan seketika menitikan air mata. Sakit, hanya itu yang ia rasakan sekarang saat tangan itu di cekal terlalu kuat.


"Chika sakit! Dia kecelakaan! Please Nadine, jangan kekanakan! Ga semuanya hidup gue bergantung dan menuruti semua apa yang lo mau!" sentak Iqbal setelah menghempaskan tangan Nadine dengan kasar.


Nadine hanya menutup matanya, tubuhnya bergetar dan memang Nadine sangat ketakutan dengan bentakan apapun.


Iqbal yang melihat itu mengepalkan tangannya dengan kuat dan merutuki semuanya dari hatinya karena dirinya bisa lepas kontrol seperti itu, saat hendak melangkah untuk menenangkan tiba-tiba Nadine menutup kedua telinganya dan mundur perlahan saat melihat Iqbal melangkah untuk mendekatinya.


Iqbal seketika mencelos dan terdiam mendapat respon sahabat kecilnya, Nadine memilih untuk membuka matanya setelah agak tenang. Tidak membalas apapun, perempuan itu memilih untuk pergi dan berjalan terus dengan menunduk.


Nadine juga menghiraukan suara yang memanggil namanya dari mulut Iqbal. Iqbal baru kali ini membentaknya seperti itu dan membuatnya sangat amat sedih dengan ucapan yang menurut Nadine begitu menyakitkan.


*brukk*


Nadine yang menubruk tubuh seseorang itu akhirnya menatap pria itu, ternyata Rangga. Rangga yang ternyata belum pulang. Rangga yang ternyata memperhatikan dirinya bertengkar dengan Iqbal.


"Ayo.. Gue anter pulang." ajaknya meraih tangan Nadine. Di belakang sana masih saja Iqbal memanggil namanya dengan suara yang semakin dekat, Nadine akhirnya memilih untuk mengikuti arah tangannya yang Rangga bawa untuk menaiki motornya.


Malam yang begitu dingin dirasakan oleh Nadine, punggung Rangga basah karena air matanya mengalir terus. Seandainya Iqbal memberitahunya baik-baik, dirinya pasti mengerti.


"Terimakasih, maaf ngerepotin ka Rangga." ucap Nadine pelan sambil memberikan helm yang sudah terlepas ketika mereka sudah sampai di depan tempat tinggal Nadine.


Rangga hanya menatap lekat perempuan yang masih menunduk itu, entah kenapa rasa kepedualiannya sedikit muncul.


"Gimana kalau kita pacaran?" celetuk Rangga.


~'~

__ADS_1


__ADS_2