
Nadine menghampiri pria yang sudah menunggunya, karena mereka sudah mengubah stattusnya tentu Nadine menjadi sangat canggung sekarang. Secepat itu Rangga menyatakan semuanya, bahkan kami belum terlalu saling kenal.
"Udah lama nunggu, ka?" tanya Nadine yang kini ada dihadapan pria itu.
Rangga menggelengkan kepalanya sambil menerbitkan senyum kecil dibibirnya. Dimatanya Nadine adalah gadis yang biasa saja, bahkan pakaiannya selalu panjang dan tidak minim seperti yang Sarah pakai. Disekolah pun Nadine selalu memakai sweater dari sekolah sampai setiap hari, padahal yang lainnya hanya memakai rompi tanpa lengan.
Rangga memasangkan helm pada Nadine, tentu perempuan itu mengalihkan pandangannya agar tidak bertatapan langsung secara dekat.
"Hari ini ga usah kerja ya." ucap Rangga setelah memasangkan helm.
"Tapi, ka?"
Rangga menatap mata Nadine yang membuat perempuan itu terdiam, detakan jantungnya semakin tidak beraturan saat dirinya dan Rangga bertatapan sedekat itu.
"Aku tau kamu libur hari ini, jadi ga usah alasan gitu." kata Rangga, "Naik, kita mau ke suatu tempat." lanjutnya.
Untung saja jam pelajaran jauh lebih cepat, sekitar habis istirahat dan hanya menempuh satu mata pelajaran mereka semua di pulangkan sekitar jam 10 pagi karena adanya rapat untuk ujian tengah semester yang di adakan 1 minggu lagi. Setelah sudah naik, tangan Nadine hanya memegang ujung jaket Rangga.
"Kenapa ga jalan? Katanya mau ke suatu tempat?" tanya Nadine.
"Pegangan." jawabnya.
Nadine menatap tangannya, kini ia paham maksudnya pegangang yaitu pelukan. Nadine hanya menelan silvanya, ini baru pertama kalinya Nadine memeluk pria setelah Iqbal.
Rangga tanpa sadar tersenyum melihat pingganya sudah melingkar tangan Nadine disana, pria itu langsung menjalankan motornya untuk menuju ke suatu tempat.
Sesampainya di tempat itu, Nadine mengeryitkan dahinya. Ada beberapa mainan laki-laki seperti pistol air, dan ada beberapa mainan perempuan seperti boneka. Nadine hanya diam, dia menatap pria yang sibuk memilih mainan itu.
"Buat anak panti kayaknya." batin Nadine tersenyum samar, lalu lanjut melihat-lihat mainan yang tersusun rapi di toko itu.
Hingga akhirnya Nadine menatap mainan yang membuat dirinya teringat akan bocah yang berada di panti. Karin namanya, bocah berumur 6 tahun sudah menghipnotis dirinya. Bocah yang teringat akan sesuatu jika mengingat wajah Karin, seperti mengingat sesuatu tapi dengan cepat ia hilangkan fikiran itu karena tidak mungkin benar.
Rangga datang membuyarkan lamunan Nadine yang menatap ke arah boneka yang berkuncir dua.
"Nadine.." panggilnya.
Nadine tersentak kaget, lalu menatap Rangga yang memegangi 2 kantong berisi mainan serta beberapa buku gambar dan alat tulis serta pensil warna.
__ADS_1
"I-iya ka, ini buat anak panti ya?"
Rangga mengangguk, "Kita mau kesana, jadi bawa oleh-olehnya ini." jawabnya.
Nadine langsung memegang kantong itu, dan langsung di cegah oleh Rangga. "Ini berat, sayang." celetuknya.
Nadine yang mendengar itu terdiam, dan menjadi salah tingkah membuat Rangga terkekeh melihat wajah Nadine memerah karena malu.
Nadine menatap lurus ke depan jalanan yang begitu tidak terlalu ramai, kali ini perempuan itu tidak memeluk Rangga karena adanya barang yang harus ia pegang. Memang cukup berat, tapi tidak terlalu sih kalau dibawa pakai motor. Nadine tentu sangat rindu dan senang bertemu dengan anak-anak panti lagi, bisa menghibur dirinya sendiri.
Sesampainya di panti asuhan, anak-anak yang bermain itu pun berlari menghampiri kami berdua. Rangga yang sedang memegang 2 kantung kresek itu pun hanya tertawa, Nadine yang sibuk memeluk mereka tentu ikut tertawa. Ah, bahagia sekali Nadine setiap kali kesini.
"Ka Langga, bawa apa?" tanya perempuan yang cadel, ia ketahui namanya Syifa.
"Mainan, buku gambar, sama alat tulis." jawab Rangga.
Anak-anak itu pun tertawa senang, Nadine memperhatikan mereka yang tak luput satu persatu. Tidak ada Karin disana, membuat Nadine meneliti lagi. "Bawa ya, ka Rangga sama ka Nadine mau ke dalam ketemu sama bu Fatimah." ucap Rangga.
Anak-anak itu langsung bergotong royong membawa platik, Rangga menggenggam tangan Nadine yang membuat perempuan itu terkejut.
"Ka, jangan begini. Aku malu banget.." bisik Nadine.
"Oh ada nak Rangga." ucap Fatimah.
"Assalamualaikum bu, maaf kami kayaknya datang tidak tepat waktu." kata Rangga.
Fatimah hanya tersenyum singkat, lalu melirik tangan Rangga yang menggenggam tangan Nadine.
"Tidak, tidak apa-apa. Saya cuma sedih karena Karin kemarin di adopsi sama seseorang, jadi terbawa sampai saat ini." tuturnya.
"Eoh, Karin di adopsi bu?" tanya Nadine.
Fatimah mengangguk, "Sama keluarga yang alhamdulillah baik dan insyaallah Karin tidak akan kekurangan."
Entah kenapa Nadine menjadi diam, dia menundukkan kepalanya. Setelah tau Rangga membawanya kesini, Nadine berharap akan bertemu dengan Karin. Bocah 6 tahun yang mampu membuatnya tenang, bocah yang menurutnya tidak asing.
"Ngomong-ngomong, nak Rangga sama nak Nadine ada perlu apa ya?" tanya Fatimah.
__ADS_1
"Saya kesini hanya berkunjung aja bu, saya bawa oleh-oleh mainan untuk anak-anak yang sudah mereka buka di depan." jawab Rangga.
Fatimah tersenyum, dia sesekali menatap tangan Rangga dan Nadine yang masih bertaut itu. Stattusnya sudah jelas sekarang, mungkin waktu pertama kali Nadine dibawa oleh Rangga itu hanya teman, dan sekarang sudah berbeda.
"Kalian main aja dulu ya, saya mau siapin makan siang untuk anak-anak."
Rangga mengangguk, dan Nadine masih dengan dunianya sendiri. Rangga akhirnya menyadarkan Nadine.
"Kenapa?" tanya Rangga yang berjalan keluar.
"Tidak ada apa-apa kok, aku cuma kepikiran Karin aja."
Rangga menghentikan jalannya, dia berbalik menatap Nadine. "Setiap anak yang di adopsi pasti akan diselidiki, baik hukum, maupun agamanya, kehidupannya baik atau tidak, terjamin atau tidak. Karin berhasil di adopsi, pasti semuanya akan baik."
Nadine menatap mata Rangga, dan seketika dia menganggukkan kepalanya. "Hm, aku percaya itu. Aku berharap Karin akan baik-baik saja." jawabnya.
Terlalu berlarut-larut bermain dengan anak-anak panti membuat Nadine lupa akan tugasnya, tugas untuk menjemput adiknya. Hingga ia sadar jam tangan yang ia pakai sudah menunjukkan pukul 2 siang yang berarti sudah sedaritadi Hanasya seharusnya sudah pulang, ditambah Gionino sudah kembali dari pekerjaannya di luar kota. Dengan berat hati, Nadine meminta pulang pada Rangga.
"A-aku harus jemput adik, maaf ka Rangga. Maaf banget aku harus pulang." ucap Nadine yang tiba-tiba menjadi panik, bayangan akan pukulan itu hadir dalam kepalanya, ingatannya dalam ketakutan itu hadir di waktu yang tidak tepat. Nadine menjadi berlari kecil untuk menuju ke gerbang panti, berharap ada taksi yang lewat disana.
Nadine menjadi gemetar, dia menjadi menangis tiba-tiba. Sudah 2 hari penderitaannya tidak ia rasakan saat ayahnya pergi, hari ini saat ayahnya pulang Nadine membuat ulah karena kelupaan akan adiknya. Rangga pun menyusul, menatap heran Nadine yang tiba-tiba ketakutan.
"Nad.. Tenang dulu.." ucap Rangga yang memegang pundak Nadine. Wanita menangis, Rangga menatap lebih dalam mencari tahu apa yang terjadi.
Sudah 5 menit Nadine tidak tenang membuat Rangga memeluknya, dia mengusap rambut Nadine.
"Maafin Nadine, ayah.. Hiks.. Nadine lupa jemput adik.." isak Nadine yang memeluk Rangga, dia menutup matanya dengan erat. Rangga yang masih heran itu pun terus mengusap punggung Nadine sampai perempuan itu tenang.
Nadine masih saja tidak tenang, akhirnya Rangga menangkup wajah wanita itu. Dia menatap mata wanita itu yang sudah memerah, "Dengar, kamu tunggu disini. Kita akan pulang, aku ambil motor dulu. Bisa nunggu sebentar?"
Nadine hanya mengangguk, Rangga langsung bergegas mengambil motornya. Nadine langsung memeluk erat tubuh pria itu, tangisannya masih saja tidak berhenti sepanjang jalan. Rangga masih berkutat dalam pikirannya sambil mengendarai motornya itu, dalam benaknya bertanya kenapa Nadine sampai setakut ini? Apa yang terjadi sebenarnya?
Nadine langsung masuk ke rumahnya setelah sampai, dia tidak lupa berterima kasih pada Rangga. Hingga saat pintu terbuka, sepasang mata menatapnya dengan tajam dari ruang tamu. Nadine yang takut itu seketika menunduk melihat langkah kaki itu mendekat.
"Berani sekali kamu membuat anak saya menangis lagi, hah?!"
Nadine memejamkan matanya mendengar teriakan itu.
__ADS_1
~'~